
“Nggak, Ana. Kita berdua nggak ada apa-apa. Udah, kamu nggak usah mikirin orang lain, cukup pikirin kesehatan kamu dan janin kamu aja,” jawab Galang.
Kelopak mata Ana kian melebar saat Galang menyebut dia adalah orang lain.
“Orang lain?” tanyanya tidak percaya “Kakak itu, kakak aku! bukan orang lain!” bantah Ana menyilangkan kedua tangannya.
Galang mengalihkan pandangannya, menatap ke arah jendela. Terlihat semuanya sudah mulai berjalan masuk ke mobil.
“Udah yaa. Mobilnya udah mau berangkat, lebih baik kita keluar sekarang,” bujuk Galang merangkul Ana.
“Nggak! Kakak harus jelasin semuanya ke aku,” tolak Ana mempertahankan keras kepalanya.
“Nggak ada apa-apa. Sumpah! Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa langsung tanya dia,” jawab Galang mulai jengah.
“Untuk apa aku nanya Kak Anggita? Orang kelihatan jelas kok kalo dia juga nggak tahu kenapa Kakak nyuekin dia,” gerutu Ana.
Bibirnya melengkung ke bawah. Kesal karena Galang tidak terbuka pada dirinya sendiri, padahal mereka hanya tinggal berdua selama ini, dan mereka saling berbagi cerita keluh kesah mereka.
“Jangan keras kepala. Suami kamu udah nunggu lama di luar,” kata Galang menekankan kata suami, agar adiknya paham statusnya sekarang.
“Ana kenapa, Kak?” tanya Kevin saat melihat raut muka istrinya yang murung. Padahal tadi pagi istrinya itu tampak sangat ceria.
“Cokelat kesukaan dia saya habisin kemarin,” jawab Galang asal.
“Bener, Yang?” tanya Kevin pada Ana.
Ana hanya berdeham dan mengangguk pelan. Ia juga tidak ingin jika masa lalu kakaknya terbongkar, urusannya pasti akan semakin panjang, dan mereka tidak dapat menikmati perjalanan kali ini.
Dengan dibantu oleh Kevin, Ana mulai bergerak masuk ke mobil dan duduk di kursi bagian kedua. Bangku pertama sisi kiri mobil ditempati oleh kedua orang tua Kevin, Ana dan Kevin duduk di sisi kanan, di mana Anggita dan Jihan duduk di belakang mereka. Di samping Anggita, Alan duduk seorang diri.
Gadis itu mengangkat kepalanya saat menjadi orang terakhir yang memasuki mobil. Jantungnya terus berdegup kencang, saat Galang melintas tepat di sampingnya.
“Biar di situ saja,” ucap Galang pada Alan yang tampak menggeser tas sandang yang ia letakkan pada bangku di sampingnya.
“Oke,” jawab Alan kembali meletakkan tasnya ke posisi semula.
Galang memilih untuk menduduki bangku yang ada di belakang Alan seorang diri. Tanpa ada siapa pun di sekitarnya.
Sang supir mulai melajukan mobilnya, masing-masing mereka mengucap doa dalam hati, berharap Yang Kuasa melindungi mereka selama di dalam perjalanan, hingga mereka dapat tiba di tujuan.
Anggita menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, dengan tangan senantiasa mengenggam tangan kecil Jihan. Mereka terus menatap jalanan yang mereka lalui, seperti saat mereka pergi bersama Alan.
__ADS_1
“Kak,” panggil Jihan lirih.
“Iya, Sayang?” sahut Anggita tak kalah pelan.
“Kakak waktu itu nyariin aku di mana aja?” tanya Jihan.
Anggita menatap Jihan yang terus menoleh ke samping Anannya.
“Ke sini pernah?” tanyanya lagi.
“Semua jalanan yang kakak lihat, kakak tempuh waktu itu. Jangan diingat lagi ya. Kakak nggak mau kamu sakit lagi,” pinta Anggita mengusap lembut puncak kepala adiknya.
Jihan menggeleng pelan. “Jihan udah nggak papa,” jawab Jihan tenang.
Mereka terus berbisik, bercerita tentang tiap jalan raya yang menyimpan kenangan dalam memori mereka. Semua seakan berhenti pada tempat ini. Sejauh apa pun mereka melangkah, tetap tidak dapat mengikis semua kisah yang terukir di sini.
“Itu tempat kita main dulu, kan?” tebak Jihan menatap supermarket yang dulu pernah ia datangi bersama Galang.
Anggita hanya mengangguk pelan. Ia lalu menatap Alan yang begitu tenang di bangkunya. Menikmati embusan angin dari jendela mobil yang sedikit terbuka.
Tidak lama kemudian, mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah rumah. terdapat plang bertuliskan nama seseorang dengan gelar dokter di sana. Hanya selang beberapa menit, seorang wanita cantik dengan koper kecil, serta sebuah tas tangan yang tergantung pada lengannya, berjalan mendekati mobil mereka.
Galang menegapkan duduknya saat mendengar derap langkah seseorang di dekatnya.
“Selamat pagi, Pak Galang,” sapa dokter Melinda. Dokter kandungan yang beberapa hari lalu memeriksa keadaan Ana.
“Pagi, Dok,” balas Galang.
“Dokter mau duduk di dekat mana?” tanya Galang ramah.
“Tentunya di bangku yang kosong,” jawab dokter Melinda sedikit bercanda.
Galang beranjak dari duduknya, mendekati bangku yang ditempati oleh Anggita.
“Kamu sama Jihan mabuk perjalanan?” tanya Galang pada keduanya.
Anggita menggeleng pelan. “Jihan juga nggak mabuk kalo naik mobil,” jawabnya.
“Sayang, ayo kita pindah tempat duduk. Bu dokternya mau duduk di sini, biar nggak jauh-jauh dari Kak Ana,” ajak Anggita menggandeng tangan Jihan keluar dari bangku mereka.
“Silakan duduk, Dok,” ujar Galang mempersilakan wanita cantik di dekatnya menduduki tempat Anggita.
__ADS_1
“Duh, ini beneran nggak papa, Pak? Saya bisa duduk di belakang,” jawab dokter Melinda sedikit tidak enak karena telah menganggu kenyamanan dua penumpang di mobil tersebut.
“Tidak apa-apa. Mereka juga tidak keberatan,” tutur Galang menoleh pada Anggita.
“Iya, duduk aja, Dok,” timpal Anggita.
Alan menoleh ke arah kekasihnya yang dipindah tempat duduknya.
“Kamu mau duduk di sini? Biar aku aja yang di belakang,” tawar Alan membawa tas sandangnya, dan meminta Anggita untuk menempati tempat duduknya.
“Beneran nggak papa?” tanya Anggita.
“Iya, nggak papa. Udah, kamu sama Jihan di sini aja,” jawab Alan menuntun Anggita dan Jihan agar duduk di kursi deret kedua.
Saat Anggita lewat tepat di samping Galang, yang tengah sibuk dengan dokter cantik di hadapannya, pria itu bersikap seakan dirinya tidak ada dan tidak terlihat. Namun, sebisa mungkin Anggita berusaha biasa-biasa saja, meskipun hatinya terus berkata lain.
“Kak, ini aku beneran diawasi dokter?” protes Ana terang-terangan.
“Sayang, udah. Itu juga untuk kebaikan kamu,” tutur Kevin berusaha untuk menenangkan istrinya yang meradang.
Belum hilang rasa kesalnya pada sikap Galang, kini pria itu semakin memancing amarahnya.
“Tuh dengerin. Suami kamu aja paham, masa kamu nggak,” seloroh Galang, membuat perasaan Kevin terbang melambung tinggi.
“Kamu sih,” gerutu Ana pada suaminya.
“Kan kemarin dokter udah bilang kalo aku sama dia baik-baik saja,” kata Ana menunjuk perutnya.
“Ana, perjalanan kita itu panjang. Nggak setiap jalan yang kita lewati itu ada tempat akses kesehatan. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” jelas Galang.
Tanpa mempedulikan Ana dengan tatapan menyalanya, Galang kembali ke tempat duduknya yang kini berada tepat di belakang Anggita.
“Jalan, Pak,” ujar Galang memberi perintah.
Mobil pun kembali melaju perlahan sesuai perintah Galang, untuk mengurangi guncangan selama perjalanan. Tidak apa lama baru sampai, asalkan semuanya selamat dan baik-baik saja. Sejujurnya permintaan Ana kali ini sangat membuat hatinya was-was dan tidak dapat tenang.
Meskipun rasa kantuk begitu besar menyerang kedua matanya, pria itu berusaha untuk tidak terpejam. Ditambah ia seakan dapat melihat punggung wanita yang ia cintai tepat di depan matanya, meskipun ada sandaran kursi yang menghalanginya.
‘Apa kamu benar-benar tulang rusukku?’
***
__ADS_1