The Last Love

The Last Love
Pengakuan Anggita


__ADS_3

“Eemmm. Mungkin sekarang kamu bilang isinya nggak sesuai dengan isi hati kamu. Tapi bisa aja besok, lusa, atau suatu saat kamu akan membenarkan lagi isi dari tinta pena yang kamu tulis itu,” ucap Galang tidak tersinggung ataupun berkecil hati oleh pengakuan Anggita saat ini.


Anggita menutup rapat bibirnya. ‘Kenapa kamu keras kepala banget sih, Galang. Padahal aku udah berusaha keras buat kamu nggak suka sama aku,’ batin Anggita mendumel.


Bukan tidak bersyukur karena telah dicintai oleh laki-laki sebaik Galang, tetapi ada hati yang harus ia jaga, dan takdir mempertemukan mereka di waktu yang tidak seharusnya. Jika saja mereka dipertemukan sebelum Anggita bertemu dengan Alan, dan ia tidak bekerja di kediaman pak Galih. Mungkin hal ini tidak akan terjadi, dan ia akan membuka lebar pintu hatinya untuk Galang, dan kembali merajut cinta mereka yang terpaksa usai sebelum waktunya.


Apalah daya. Ia hanya manusia biasa, dan tidak dapat mengatur tiap pertemuannya dengan orang lain. Termasuk pertemuannya bersama Galang.


‘Apa kamu nggak kecewa, karena aku milih untuk nerima uang yang papa kamu kasih, ketimbang pertahanin hubungan kita? Itu sama aja dengan aku udah kasih harga untuk cinta kita, dan menominalkannya dalam jumlah uang. Kenapa itu juga nggak bisa buat kamu benci sama aku, Galang?’


“HAAAAAAH!!”


Galang terperanjat saat tiba-tiba Anggita berteriak tepat di sampingnya.


“Kamu kenapa?” tanya Galang memegang kedua pundak Anggita.


“Nggak papa. Cuma tes suara aja,” jawab Anggita asal.


“Tes suara tengah malam gini? Kamu nggak takut kalo suara kamu bangunin orang seisi rumah?” protes Galang saat Anggita begitu santai menjawab pertanyaannya.


Kelopak mata Anggita membola. Tidak sadar jika malam semakin pekat.


“Suara aku bisa kedengeran sampe bawah?” tanya Anggita mulai cemas.


“Ya bisa aja. Orang kamu teriaknya kenceng banget,” jawab Galang semakin membuat Anggita gusar.


“Seriusan Galang. Aku mau kabur aja dari sini,” putus Anggita hendak berlari turun.


Namun Galang dengan sigap menarik Anggita masuk dalam dekapannya. Tidak membiarkan gadis itu pergi begitu saja. kepergian Anggita semakin dekat, dan ia tidak ingin kehilangan moment tersebut. Ia yakin Tuhan sengaja merencanakan ini semua. Termasuk tempat mereka bertemu dan suasana yang telah diatur sedemikian rupa.


“Sebentar aja,” bisik Galang menikmati rasa hangat yang menjalar di tubuhnya.

__ADS_1


Dekapannya yang begitu erat membuat Anggita dapat merasakan detak jantung Galang yang berirama. Ia sangat menikmati suara itu, dan juga tidak ingin Galang menjauh darinya.


“Lepas! Aku udah selesai ngomong sama kamu.” Berontak Anggita mendorong kuat dada Galang, hingga pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang.


“Kamu pergi karena takut mereka tahu kan?” tanya Galang dengan sorot mata penuh akan kerinduan.


Setiap saat ia merindukan gadis di hadapannya. Saat gadis itu kembali, rasa rindu itu semakin menggebu, dan terus menghantuinya, sampai hampir membuatnya lepas kendali.


“Nggak. Aku pergi karena memang udah selesai, dan nggak ada lagi yang perlu diomongin,” bantah Anggita dengan mata menyala.


“Bohong,” sanggah Galang.


“Aku nggak perlu bohong cuma untuk jawab pertanyaan kamu,” balas Anggita tak gentar.


“Oke. Anggap aja kamu nggak bohong. Tapi, aku berharap kamu bisa nikmati beberapa malam yang tersisa di sini,” ujar Galang tidak ingin terus mendebat Anggita yang jelas tidak akan mau mengalah, dan tidak mau mengakui perasaannya sendiri.


“Udah cukup. Aku juga nggak mau ganggu ketenangan kamu,” pungkas Anggita langsung berbalik menuju pintu rooftop.


Anggita berusaha untuk tidak lagi mendengarkan teriakan Galang, dan berjalan cepat menuruni anak tangga.


“Aarrggh!” erang Galang mengacak rambutnya dan memukul tangannya di udara.


Ia sangat kesal. Setiap pertemuannya bersama Anggita selalu berakhir dengan pertengkaran dan perdebatan di antara mereka. Hingga Anggita untuk kesekian kalinya berlari pergi tanpa mendengarkan kata-katanya.


“Kenapa sulit banget bagi kamu untuk paham dengan perasaan kita, Laras,” lirih Galang tertunduk lemah menatap lantai rooftop tempat ia berpijak sekarang.


Embusan angin yang semula begitu ia nikmati, kini tak lagi terasa. Hangat dan aroma tubuh Anggita pun perlahan memudar dan hilang dari indera penciumannya. Akan tetapi rasa itu tetap ada dalam hatinya.


***


Usai sarapan bersama, dengan Galang dan Anggita saling mengabaikan satu sama lain, Anggita pun memberitahu semuanya jika ia akan pulang tiga hari lagi.

__ADS_1


“Apa Ibu dan Bapak setuju?” tanya Anggita pada pak Galih dan bu Ratih.


“Kami ngikut maunya anak-anak kami saja. Kevin sama Ana mau pulang kapan?” tanya bu Ratih beralih menatap putra dan menantunya.


“Ana tergantung kak Galang, Bu. Kalau urusan dia sudah selesai, Ana bisa pulang ke sana,” jujur Ana.


Kini semua keputusan tergantung pada Galang, hingga pria yang tengah menatap layar ponselnya itu terangkat saat Alan membuka suara.


“Kalo gitu Alan sama Anggita pulang tiga hari lagi. Kalau ibu mau barengan sama yang lain nggak papa. Iyakan, Sayang?” ucap Alan tersenyum hangat menatap Anggita.


Gadis itu cukup terkejut, karena ia pikir mereka akan pulang bersama. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika mereka hanya berdua saja. Tidak-tidak! Jihan akan tetap bersama dirinya. Jadi, mereka pulang bertiga.


“Jihan tetap sama aku,” jawab Anggita mengenggam tangan Jihan dengan hangat. Ia tidak akan pernah meninggalkan adiknya dengan siapa pun.


“Ya sudah, nggak papa kalau kalian mau pulang cepat. Jihan juga sebentar lagi mau masuk sekolahkan?” sahut pak Galih menatap adik Anggita yang sejak tadi hanya diam.


Ia mengangguk pelan, dengan senyum polos yang sangat menggemaskan.


Melihat semua orang setuju jika Anggita, Alan, dan Jihan pulang lebih dulu. Galang tidak terima, tetapi ia tidak dapat memperlihatkan dengan jelas ketidaksetujuannya.


Galang melirik adiknya dengan mata memicing, dan menggeleng pelan. Meminta bantuan sang adik agar mereka dapat pulang bersama.


“Gimana kalo kita tetap pulang barengan? Nggak enak kalo pulangnya berpencar. Nanti kita bisa pulang pake bus aja sama-sama. Bolehkan, Kak?” usul Ana menatap Galang dengan tatapan penuh harap.


Kini Galang semakin diberatkan oleh dua pilihan. Disatu sisi adiknya sedang mengandung, dan ia takut jika terjadi guncangan-guncangan sepanjang perjalanan dapat membahayakan janinnya. Di sisi lain, ia juga tidak ingin Anggita begitu dekat dengan kekasihnya. Perjalanan sehari semalam itu, bisa saja membuat sebuah kenangan tak terlupakan, yang dapat membuat dia tersingkir dari hati Anggita dalam sekejap.


Ana mengerlingkan matanya, sengaja memanfaatkan keadaan agar ia dapat menikmati perjalanan yang cukup panjang, dan menghabiskan waktu bersama keluarga barunya.


“Kak Anggita bisa nunggu beberapa hari lagi kan sampai urusan kak Galang selesai? Jihan masuk sekolahnya kapan? Kan hari pertama masuk setelah libur nggak langsung belajar. Iyakan, Jihan?” tanya Ana menatap kakak beradik yang duduk di depannya.


“Atau nggak kak Galang aja yang percepat nyelesaiin urusan di sini,” lanjut Ana menatap kakaknya. Netra wanita itu menyala, memaksa Galang untuk menentukan pilihannya detik ini juga.

__ADS_1


***


__ADS_2