
“Tapi cokelat aku kalah manisnya dari kamu,” ucap Galang dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.
“Galang nyebelin banget sih!” geram Anggita menghadiahi Galang dengan banyak cubitan hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
“Iya ampun! Sakit, Ras!” mohonnya dengan raut muka memelas.
Karena Anggita yang tak kunjung menghentikan cubitannya, Galang langsung menyambar kedua tangan Anggita dan mendorong tubuh Anggita hingga kepala gadis itu bersandar pada lengan sofa.
Tubuhnya mendadak membeku, saat jarak mereka begitu dekat. Jantungnya berdegup kencang, saat ia mengikuti pandangan Galang yang perlahan turun. Bibir ranum Anggita yang merah merona, sedikit terbuka membuat Galang tidak dapat menahan diri untuk mencicipinya.
Melihat Galang yang semakin mendekat, tanpa sadar Anggita memejamkan mata. Deru napas pria itu terdengar semakin berat, hingga ia takut hanya untuk sekedar mengintip apa yang akan Galang lakukan.
Sadar jika Anggita belum menjadi miliknya, Galang pun kembali menegakkan tubuhnya ke belakang dan melepaskan genggamannya.
“Maaf. Habisnya aku udah minta ampun kamu masih nyubitin aku,” ujar Galang perlahan membuat Anggita membuka kelopak matanya.
First kiss nya nyaris diambil oleh Galang. Anggita terus merutuki kebodohan dan pikirannya yang mendadak kotor, karena berpikir Galang akan melakukan hal itu.
“Kamu tidur aja, aku ada kerjaan,” ucap Galang berjalan ke arah meja kerjanya yang tidak terlalu jauh dari sofa.
“Nggak mau,” tolak Anggita cepat.
“Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Temenin aku sampe aku selesai urus kerjaan aku,” putus Galang tidak ingin mendengar bantahan dari Anggita.
“Bohong. Tadi aja hampir,” oceh gadis itu dengan sebal.
“Hampir, Laras. Belum terjadi,” koreksi Galang.
Ia kemudian mengambil bantal dan selimut untuk Anggita.
“Kalo kamu ngantuk, tidur aja. Asal tetap di sini,” tegas Galang tidak membiarkan Anggita hilang dari pandangannya sedetikpun.
“Aku belum ngantuk,” jawab Anggita melepas selimut yang menutupi tubuhnya dan kembali duduk.
“Minuman aku belum habis,” lanjutnya menunjuk minuman cokelatnya yang hampir dingin.
Akhirnya Galang membiarkan Anggita mencari kesibukan seorang diri dalam ruang kerjanya yang tidak terlalu besar tersebut. Karena bosan, Anggita berjalan ke arah tirai. Menyibaknya dan menatap kegelapan malam dari balik jendela. Pikirannya perlahan mulai melalang buana, mengingat semua yang baru saja terjadi pada dirinya dan Galang.
__ADS_1
‘Andai hubungan kita nggak serumit ini. Kalau aku bukan pacar Aditya, mungkin kita nggak akan ketemu sekarang,’ batin Anggita membayangkan jika ia hanya sebatas pembantu di keluarga Alan, dan pria itu memiliki pacar lain.
“Kamu lihatin apa?” tanya Galang berdiri tepat di hadapan Anggita.
“Nggak ada. Cuma bosen aja,” jawab Anggita kemudian meneguk minumannya hingga bersih tak tersisa.
“Enak ya? Mau aku buatin lagi?”
“Nggak ah. Yang ada perut aku kembung,” tolak Anggita kemudian menatap Galang.
“Udah ya? Aku mau balik ke kamar. Jihan sendirian di sana. Kalo dia nyariin aku gimana?”
“Semalaman. Kamu tahu artinya, ‘kan?”
“Ya tapi kan nggak mungkin kalo kita tidur berdua di sini. Kamu jangan aneh-aneh deh,” protes Anggita karena Galang benar-benar ingin mereka bermalam di ruangan tersebut.
“Nggak aneh. Kan kesepakatannya gitu,” balas Galang dengan santai. Tidak peduli dengan Anggita yang sudah sangat kesal padanya.
“Terserah, deh.”
Anggita yang sudah kepalang kesal, langsung berjalan ke arah sofa, dan membaringkan tubuhnya.
Galang hanya mengangguk, dan berusaha menahan tawanya agar tidak pecah.
Dari kursi kerjanya, ia terus memperhatikan Anggita. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari, dan ia masih belum memejamkan matanya.
Perlahan Galang berjalan mendekati Anggita, menatap wajah tenang gadis itu dengan deru napas yang teratur. Baru saja Galang hendak merapikan selimut Anggita yang turun, ia menatap sebuah botol kecil yang berada dalam genggaman gadis yang tengah terlelap tersebut.
Seutas senyum tipis terbit di wajah Galang, saat mengetahui jika Anggita sangat waspada dan menyimpan senjata rahasia di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
“Gadis pintar,” puji Galang mengusap puncak kepala Anggita, dan merapikan anak rambutnya yang jatuh menutupi wajah.
Galang kemudian menjauhkan meja di hadapannya dan berbaring di bawah Anggita. Satu kenikmatan terindah baginya karena sebelum tidur, ia dapat melihat wajah Anggita sampai matanya tertutup.
***
Perlahan tubuh Anggita mulai mengeliat, dan kelopak matanya mulai mengerjap. Meskipun hanya tidur di sofa, tidurnya terasa begitu nyenyak, hingga ia merasakan tangan kanannya tersangkut.
__ADS_1
“Eh, kok nggak bisa ditarik?” gumam gadis itu memiringkan tubuhnya, dan melihat tangannya dan Galang saling menggenggam.
“Ya ampun. Bisa-bisanya aku tidur sambil pegangan tangan,” cicit gadis itu perlahan melepaskan jemari tangannya yang tertaut dengan Galang, dan hendak beranjak turun.
Namun, nasib sial sudah menghampirinya pagi-pagi buta. Saat akan turun, tanpa sengaja kakinya menginjak sebuah botol membuat kakinya tergelincir, dan ia jatuh tepat di atas milik Galang.
“Aaaaah!” erang Galang sontak langsung membuka mata, dan terkejut melihat Anggita berada di atasnya.
“Laras, kamu ngapain?” tanya Galang dengan suara serak, membuat bulu roma Anggita meremang.
“A—aku nggak sengaja. Tadi kepeleset,” jawab Anggita langsung menarik selimut di atas sofa untuk menutupi tubuh bagian bawah Galang.
Dengan susah payah Galang berusaha bangkit, karena adik kecilnya terasa berdenyut akibat diduduki oleh Anggita tanpa penuh kelembutan.
“Aasshhh.” Galang kembali meringis.
“Maaf, aku beneran nggak tahu kalo tadi nginjek botol.”
Anggita langsung menoleh ke arah senjata yang ia sembunyikan semalam, ternyata benda itulah yang membuatnya tergelincir.
“Kok botol ini ada di dekat kamu?” tanya Anggita menunjukkan botol berisi cairan air cabai ke hadapan Galang.
“Ya mana aku tahu, kan itu punya kamu. Padahal aku nggak ngapa-ngapain, masih aja kamu siksa aku,” gerutu Galang berusaha bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke atas sofa.
“Udah pagi, aku balik ke kamar dulu,” pamit Anggita bergegas menghilang dari pandangan Galang. Baru saja ia menekan handle pintu, pintu di hadapannya tidak kunjung terbuka.
“Galang, kuncinya,” pinta Anggita dengan raut muka memelas.
Netranya bergerak gelisah karena jam di ruangan tersebut menunjukkan pukul setengah lima pagi. Takut jika akan ada yang melihat dia keluar dari ruangan tersebut.
“Tega ya kamu. Adik aku kesakitan kamu malah kabur,” gerutu Galang terus memegangi adik kecilnya dari balik selimut.
“Adik kamu pasti masih tidur, Galang,” jawab Anggita berpikir jika yang Galang maksud adalah Kana.
“Dia bangun Laras. Dia udah bangun,” terang Galang membuat kedua mata Anggita membola.
“Beneran? Terus aku harus gimana? Ayo bantuin aku, Galang. Kalo dia nanya kenapa aku bisa ada di ruang kerja kamu gimana? Aku harus jawab apa?”
__ADS_1
***