
Anggita tahu itu semua. Tidak ada yang dapat menggantikan posisi Galang dalam hidup mereka, hingga saat ini ia pun ragu akan cinta dalam hatinya. Tidak tahu ia benar-benar sudah lupa atau hanya sebatas pura-pura.
Semula ia berpikir jika ia benar-benar sudah melupakan Galang, dan tidak lagi memiliki rasa padanya. Namun, setelah pertemuannya, dan mengingat sentuhan mereka senja itu, tembok pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dan hancur begitu saja.
Jangankan untuk menguatkan adiknya, untuk menegarkan hatinya saja ia sangat susah.
“Kenapa takdir kejam banget sama aku? Kenapa aku harus benci lagi sama kamu Galang?” tanya Anggita.
Ia kembali membuka buku diary yang baru kembali ia buka setelah sekian lama tersimpan rapi dalam lemarinya. Buku itu seakan memang dibuat khusus untuknya, karena sejak bersama Alan ia tidak pernah terpikirkan untuk menuang kata-kata ke dalam lembaran bergaris tersebut.
Dear cinta yang bertahun-tahun berusaha tidak lagi kurasa.
Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk saling melupa dan mengobati luka hati kita?
Dari balik tatapan kebencianku, diam-diam ada banyak luka yang tak ingin kuungkap padamu.
Aku tidak tahu takdir seperti apa yang sedang mempermainkan kita? Ingin kusudahi saja, tetapi semuanya bahkan belum di mulai.
Tetaplah menjadi asing, agar aku tetap dapat menyimpan rasa ini dengan rapat. Tak akan kubiarkan kamu atau siapa pun melihatnya walau hanya setitik saja.
Keputusan Anggita untuk menjadi orang asing yang baru masuk ke dalam kehidupan Galang, benar-benar membuat mereka kembali dipertemukan dengan cara berbeda dan tidak pernah terduga.
***
Setelah pertemuan keluarga itu, Galang langsung bertanya tentang seluk-beluk keluarga calon suami adiknya.
“Aku nggak tahu, Kak. Nanti deh aku tanya sama Kevin,” jawab Ana langsung berlalu dari hadapan kakaknya.
“Kakak tunggu penjelasan dari kamu besok,” ucap Galang tidak dapat menahan diri untuk mengetahui bagaimana Anggita menjadi keluarga Kevin.
Sepanjang malam ia tidak dapat tidur karena terus memikirkan Anggita, hingga malam itu juga Ana mengunjungi kamarnya.
“Kamu kenapa belum tidur?” tanya Galang melihat jam di kamarnya hampir menunjukkan tengah malam.
“Nggak bisa tidur, Kak. Tadi habis nelpon Kevin juga, dan dia udah jelasin semuanya ke aku,” ujar Ana membuat Galang tidak jadi mengusirnya.
Ia justru menarik tangan Ana agar duduk di atas sofa yang terdapat di kamar tidurnya, dan meminta adiknya itu untuk menceritakan semua yang dikatakan oleh Kevin.
“Jadi, kakaknya batal nikah?”
“Iya. Kakak tahu nggak? Yang bujuk dan luluhin hati dia itu pacar kakaknya itu. Jadi kalo apa-apa Kevin lebih milih untuk cerita sama dia dulu, baru nanti dia yang jelasin ke kakaknya. Baik banget ya, Kak,” celoteh Ana.
Ia pun teringat pertanyaan Anggita sebelum mereka berpisah.
“Dia nanya makam orang tua kita?” tanya Galang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adiknya.
__ADS_1
“Iya. Kita kasih tahu mereka juga. Walaupun mereka udah nggak ada,” jawab Ana cepat.
“Kalo gitu resepsinya di sana aja,” putus Galang.
Ia begitu penasaran kenapa Anggita sampai melakukan itu semua. Bahkan ia memilih untuk menunda pernikahannya.
“Biar kamu nggak bolak-balik,” lanjut Galang tetap mengkhawatirkan keadaan adiknya.
“Kakak bilang aja nanti sama mereka,” sahut Ana tidak terlalu ambil pusing tentang lokasi pernikahan mereka. Namun, dalam hati kecilnya ia pun menginginkan hal yang sama.
***
“Kak, bisa temenin aku pergi ketemu Ana, nggak?” tanya Kevin berdiri di ambang pintu dapur.
“Memangnya kamu mau ke mana?”
“Mau cari baju. Dia minta kakak bantuin,” jawab Kevin dengan tampang memelas.
Ia tidak tahu calon istrinya sedang ngidam atau apa, karena ia terus memaksa agar saat mereka bertemu, Kevin harus membawa Anggita.
“Tapi saya masih ada kerjaan, Kevin,” jujur Anggita.
“Sudah, biar saya saja yang beresin sisanya. Kamu pergi aja sama Kevin ya,” ujar bu Ratih turut muncul di antara mereka.
“Beneran nggak papa, Bu?” tanya Anggita tidak enak jika memberikan tugasnya pada sang majikan.
Akhirnya Anggita pun ikut pergi bersama Kevin menggunakan taksi. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah butik, tempat mereka memesan baju pernikahan.
“Kak Anggita!” sapa Ana begitu riang melihat kedatangan Anggita.
“Ekhem! Akunya nggak dipeluk,” sindir Kevin.
“Eeeh, kamu belum halal,” tegur Anggita.
Meskipun mereka telah melakukan hal yang berlebihan, Anggita berusaha untuk membuat mereka tetap menjaga jarak, sampai sah menjadi suami istri.
“Apa sih, Sayang. Masa aku pelukan sama Kak Anggita aja kamu cemburu,” gerutu Ana.
“Nggak kok. Oh iya, orang tua aku udah setuju untuk adain resepsi di kota lama kamu,” ujar Kevin membuat Anggita langsung menoleh ke arahnya.
“Maksud kamu?”
“Iya, Kak. Jadi kemarin itu Ana minta adain resepsinya di kota tempat dia tinggal dia dulu. Sekalian mau ziarah ke makam orang tuanya,” jelas Kevin.
“Terus nanti kamu sekeluarga tinggal di sana?”
__ADS_1
Ana mengangguk cepat. “Kak Anggita juga ya,” bujuk Ana dengan tatapan penuh harap.
“Nanti saya pikir-pikir dulu ya. Ayo, tadi katanya kamu mau cari gaun pengantin,” ajak Anggita tidak ingin memperpanjang pembahasan ini.
Anggita membantu Ana mencari gaun pengantin yang sedikit lebih longgar agar tidak membuat perutnya sesak. Hingga pilihan mereka jatuh pada gaun berwarna putih gading, dengan bagian bawah yang mengembang lebar.
“Sayang, gimana?” tanya Ana menghampiri Kevin.
“Jelek, kamu tenggelem,” celetuk Galang langsung membuat Ana menoleh ke arahnya.
“Lho! Kak Galang ngapain di sini?” tanya Ana dengan mata melotot.
“Nemenin suami kamu. Dia ngenes banget sendirian di sini,” jawab Galang dengan santai.
“Gimana Kevin? Cocok nggak untuk Ana?”
Galang langsung menoleh ke sumber suara.
“Bagus, Kak. Dia pake apa aja cantik, yang penting dia nyaman pakenya,” jawab Kevin lebih tepat dibandingkan Galang.
“Ahh, pilihan Kak Anggita nggak main-main,” ujar Ana memuji Anggita.
“Dia yang pilihin bajunya?” tanya Galang.
Bukan hanya Ana yang menoleh, tetapi juga Anggita. Gadis itu baru menyadari jika Galang juga berada di ruangan yang sama dengannya.
“Mau sekalian? Untuk pernikahan kamu dan pacar kamu. Saya yang beliin,” ujar Galang tersenyum miring menatap Anggita.
“Nggak usah. Makasih,” tolak Anggita.
“Euum, saya permisi ke toilet sebentar ya,” pamit Anggita tidak tahan berada dalam satu ruangan dengan Galang.
“Saya angkat telepon dulu,” pamit Galang tidak lama setelah Anggita pergi.
Ia bergegas mencari Anggita menuju toilet yang berada di lantai dua butik tersebut.
Di dalam toilet, air mata Anggita meluruh begitu saja. Ada rasa sakit, mendengar kalimat itu terlontar dari bibir laki-laki yang ia cintai, bahkan sempat ia harapkan untuk menjadi imamnya.
“Kenapa harus nangis sih Anggita. Kan dia niatnya baik, kenapa malah sedih,” gerutu Anggita pada dirinya sendiri. Setelah berhasil menguasai diri, Anggita membasuh wajahnya agar tidak terlihat habis menangis.
Baru beberapa langkah dia keluar dari toilet. Tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang.
“Lepas!”
“Nggak, sebelum kamu jawab semua pertanyaan aku,” tegas Galang.
__ADS_1
***