
Anggita menatap kekasihnya dengan bingung. Ia sendiri tidak tahu dengan apa yang ia rasakan sekarang. Ada rasa sakit dan sedih dalam hatinya, karena ia benar-benar tidak dapat lagi melihat kafe yang menyimpan kenangannya bersama Citra dan Farah.
“Nggak papa. Kirain pohon mangga ini udah ada buahnya, siapa tahu kita boleh ambil,” jawab Anggita berkelit.
“Hahaha! Kamu itu ada-ada aja. Kalo kamu kepengen buah, kita bisa beli disupermarket atau tokoh buah yang ada di sekitar ini.”
Alan sampai menggelengkan kepala mendengar jawaban kekasihnya yang begitu lucu. Ia pikir ada sesuatu dengan pohon mangga tersebut, sehingga ia langsung mendatanginya.
“Ayo Jihan, kamu mau ke mana?” tanya Alan pada Jihan yang berdiri di dekatnya.
“Nggak tahu, Kak. Keliling-keliling aja,” jawab Jihan singkat.
Ia terus memandang orang-orang yang berlalu-lalang. Ada yang mengunjungi taman bersama keluarga, sahabat, serta kekasih mereka. Ada juga beberapa pasangan yang menaiki sepeda untuk mengelilingi taman tersebut.
Taman multifungsi yang mereka kunjungi cukup ramai. Ada yang berolahraga, bermain bersama keluarga kecil mereka, ataupun hanya sekadar menikmati suasana sore hingga senja datang menyapa.
“Di sini ada sewa sepeda ya, Kak?” tanya Jihan saat melihat ada banyak orang yang berkeliling menggunakan sepeda.
“Entahlah. Sebentar kakak coba tanya ya,” ucap Alan berjalan mendekati salah satu pengguna sepeda yang melintas tidak jauh di depan mereka.
Jihan dan Anggita hanya diam memperhatikan interaksi antara Alan dan orang yang ia datangi.
“Katanya memang ada sewa sepeda di dekat sini. Mau ke sana?” tawar Alan menatap kedua gadis di hadapannya.
Jihan mengangguk cepat. Ia sangat berantusias untuk bermain sepeda saat ini.
“Ayo, Kak,” ajak Jihan menarik tangan kakaknya.
Mereka pun berjalan menuju lokasi sewa sepeda yang berada di samping taman. Cukup lama Anggita memilih, akhirnya ia memilih sepeda bonceng tiga yang panjang.
“Beneran kamu mau kita naik sepeda ini?” Alan menatap ragu sepeda pilihan kekasihnya. Biasanya ia hanya memakai sepeda yang memiliki satu dudukan, tapi kini ada tiga. Sudah pasti mereka harus kompak mengayuh sepeda dan menahan stangnya agar tidak oleng dan jatuh.
Anggita mengangguk mantap. Ia yakin bisa mengendarai sepeda tersebut dengan kompak.
__ADS_1
“Ya udah, ayo kita coba,” putus Alan menuruti keinginan Anggita dan Jihan.
Mereka duduk pada dudukan sepeda masing-masing, dengan Alanlah yang memegang kendali, karena ia duduk di bagian paling depan, dan Anggita bagian belakang.
“Satu! Dua! Tiga!”
Usai hitungan ketiga yang dilontarkan oleh Jihan, sepeda yang mereka naiki mulai diayuh dan bergerak perlahan.
Tawa Jihan begitu lepas saat Alan sedikit oleng, mereka saling berteriak memanggil nama satu sama lain, membuat Anggita lupa akan Galang yang sejak tadi terus menghantui pikirannya.
“Huaaaa! Ayooo terus, Kak!” teriak Jihan menyemangati Alan yang begitu tegang dan kaku saat mengendari sepeda tersebut.
“Ini kakak masih dayung sepedanya!” sahut Alan berusaha untuk menahan kestabilan sepeda yang ia naiki.
“Haaah! Akhirnya capek juga,” hela Alan saat mereka sudah mandi keringat dengan wajah memerah.
Kini mereka duduk di bangku taman, dan menikmati es tebu yang dijual di pinggir jalan taman tersebut.
Tawa Jihan berderai melihat raut muka Alan sepanjang mereka naik sepeda tadi. Anggita pun senang mendengar tawa adiknya yang lepas, karena Jihan jarang tertawa jika sedang bersama Alan. Hanya Galanglah yang selalu membuatnya tersenyum saat mereka sedang bersama, padahal tidak banyak yang Galang lakukan pada adiknya itu. Semua begitu natural dan mengalir begitu saja.
“Hai!”
Kepala Anggita terangkat melihat dua perempuan datang menghampiri dirinya dengan pakaian jogging. Sedang Jihan menahan diri untuk tidak melompat ke dalam dekapan Citra dan Farah yang kini berdiri di hadapan mereka.
Anggita langsung mengenggam tangan adiknya, mengingatkan Jihan untuk tidak mengatakan apa pun sekarang.
“Hai,” sapa Anggita dengan senyum ramah.
“Sepertinya kita pernah ketemu ya,” ucap Citra dengan akting yang ia buat setotalitas mungkin.
“Emm, ah iya. Saya ingat. Kalian tamu undangan waktu pernikahan Kevin dan Ana bukan?” tanya Anggita berusaha untuk tidak tertawa.
“Naah! Betul sekali. Kebetulan banget ya kita ketemu di sini,” timpal Farah kemudian beralih menatap Alan.
__ADS_1
“Oh iya, ini cowok yang kemarin nyamperin kamu, ‘kan? kenalin aku Farah, dan ini Citra,” ujar Farah mengulurkan tangannya pada Alan.
“Alan,” jawab Alan seraya menyambut uluran tangan dua wanita di hadapannya.
“Dia pacar saya, Mbak,” seloroh Anggita karena ia tahu jika dua wanita di hadapannya penasaran dengan Alan.
Mendengar pengakuan Anggita di hadapan orang yang baru mereka kenal, Alan merasa jika kekasihnya itu cemburu, sehingga ia tidak banyak bertanya pada perempuan di hadapannya.
“Kalau yang cantik ini siapa?” tanya Citra mengusap lembut pipi Jihan.
Binar di mata Jihan meredup, karena ia berpikir jika Citra dan Farah telah melupakan dirinya, padahal belum lama mereka kembali bertemu dan dua wanita itu masih mengingatnya. Bahkan mereka terlihat begitu senang dalam pertemuan singkat itu.
Jihan melirik Anggita lebih dulu, sampai Anggita mengangguk pelan dan tersenyum barulah Jihan menjawab pertanyaan Citra.
“Jihan,” jawab Jihan singkat.
Raut kekecewaan terlihat jelas di mata gadis kecil itu, membuat Farah yang mudah tersentuh ingin langsung mendekapnya, dan mengucapkan maaf. Sayang, kata-kata itu hanya terucap dalam hatinya, karena butuh waktu untuk mereka kembali dekat.
“Kita pindah tempat yuk. Di sini berisik banget. Siapa tahu kita bisa jadi teman dekat. Benarkan, Cit?” tawar Farah pada sahabatnya.
“Iya. Kalian mau, ‘kan?” tanya Citra menatap Anggita, Jihan, dan Alan.
“Boleh. Kita juga udah capek tadi main sepeda. Nggak papa, ‘kan?” tanya Anggita pada kekasihnya.
“Ya, kalo kamu mau aku ayo aja,” jawab Alan menyerahkan semuanya pada Anggita. Karena mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama, dan ia juga butuh tempat sejuk untuk mendinginkan tubuhnya.
“Oke. Kalo gitu kita balikin sepeda dulu ya, Mbak,” pamit Anggita beranjak dari duduknya diiringi dengan Alan dan Jihan.
“Aku nggak tega liat Jihan,” lirih Farah dengan mata berkaca-kaca.
Citra menyenggol lengan sahabatnya. “Nggak usah aneh-aneh, deh. Ini baru permulaan lho, Far,” jawab Citra pura-pura tegar, meskipun hatinya sangat amat merindukan dua perempuan yang sudah ia anggap adik sendiri itu. Apa lagi Jihan dulu sangat dekat dengan mereka, terutama saat Anggita sedang sibuk di sekolah dan pulang menjelang malam.
“Anggita kayaknya nggak kasih tahu dia deh,” terka Citra karena kekecewaan Jihan terlihat jelas dari wajahnya yang berubah murung.
__ADS_1
Gadis kecil itu sama periangnya dengan Anggita. Tanpa tahu semuanya telah berubah sejak mereka tidak lagi bertemu.
***