
Setelah Ana pergi dari kamarnya, Anggita duduk termenung. Bertanya pada hatinya, siapa yang sebenarnya bertahta dalam hatinya. Saat awal ia memutuskan untuk menerima cinta Alan, ia memang berharap dapat melupakan cinta pertamanya. Namun, setelah ia kembali melihat pria itu datang dalam hidupnya, ia sendiri mulai ragu dengan cintanya.
“Aku harus gimana? Mereka sudah baik banget sama aku,” ujar Anggita mengingat wajah bu Ratih yang begitu mengharapkan dia menjadi menantunya, serta Alan yang selalu memperlakukannya dengan baik.
Ia pun begitu senang karena hubungannya kali ini tidak ditentang oleh orang tua Alan. Namun, perjuangannya bersama Galang begitu terasa. Bahkan meskipun air mata dan luka terus mengiringi hubungan mereka, ia dapat merasakan cinta Galang yang begitu besar padanya.
Tidak hanya sebatas itu. Bahkan Jihan pun begitu menyayangi Galang, dan mengenang baik pria itu dalam hatinya.
“Nggak! Aku nggak boleh goyah. Aku harus tetap jalani hubungan aku dan Alan. Ingat Anggita! Galang itu cuma orang yang datang dari masa lalu, dan cuma jadi ujian cintaku dan Alan,” ujar Anggita terus mengingat hal tersebut dalam hatinya.
***
Keesokan hari keluarga pak Galih pun tiba di kediaman Galang. Reaksi mereka kurang lebih sama dengan Anggita, Jihan, dan Kevin saat baru mendatangi rumah tersebut.
“Dia orang kaya ternyata,” gumam Alan.
“Mari silakan masuk, Tuan, Nyonya,” ujar seorang pelayan menggiring para tamu Galang untuk masuk.
Ornamen rumah yang begitu mewah dan dipenuhi oleh warna gold and white, serta furniture yang terlihat sangat mahal, membuat sepasang suami istri dari kota kecil tersebut semakin terpesona oleh keindahan rumah Galang.
Tidak lama kemudian semua penghuni rumah menghampiri mereka. Kevin dan Ana langsung menyalami tangan bu Ratih dan pak Galih.
“Mari, silakan duduk Om, Tante,” ujar Galang mempersilakan.
Dekorasi dalam kediaman Galang kini sudah setengah rampung, sehingga nuansa pernikahan mulai terasa di antara mereka.
“Bawa semua barang-barangnya ke kamar tamu, dan siapkan makanan untuk mereka,” ujar Galang pada beberapa pelayan di hadapannya.
“Baik, Tuan.”
Mereka kemudian kembali melakukan tugas masing-masing.
Galang dan calon keluarganya mulai berbincang ringan, saling bertukar cerita tentang perjalanan mereka satu sama lain.
“Mari silakan diminum,” ujar Galang saat para pelayan sudah menghidangkan camilan serta minuman hangat untuk pak Galih sekeluarga.
__ADS_1
Anggita terus menatap Alan. Tidak tahu kenapa, gadis itu hampir tidak memikirkan kekasihnya, sampai mereka sudah saling berhadapan pun, Anggita semakin ragu dengan perasaannya sendiri.
“Gimana keadaan kamu? Kamu baik-baik aja?” tanya Alan menatap Anggita.
“Iya, aku baik-baik aja,” jawab Anggita seadanya.
Gadis itu berusaha untuk terlihat santai dan tenang seperti biasa, meskipun pikirannya semakin bekerja keras. Perasaan takut jika akan terjadi sesuatu pada hubungan mereka, begitu menganggunya. Ia takut jika sewaktu-waktu Galang akan mengungkap hubungan mereka dulu, dan membuat Alan tidak lagi percaya padanya.
“Aku harus mencegah hal ini, sebelum semuanya berantakan,” batin Anggita.
Setelah keluarga pak Galih memasuki kamar tamu, Anggita memanggil Galang.
“Kenapa? Kamu kangen sama aku?” tanya Galang terus menggoda Anggita seakan mereka masih sepasang kekasih.
“Nggak usah kepedean. Aku mau bicara sesuatu sama kamu,” jawab Anggita berjalan ke depan rumah, agar tidak ada yang menganggu perbincangan mereka.
“Kenapa jauh banget? Katanya mau ngomong aja,” ledek Galang tahu jika Anggita semakin waspada.
“Pertama, aku nggak mau kita deket-deket, anggap aja kita sama-sama orang asing, dan nggak usah bahas-bahas tentang masa lalu kita. Aku nggak mau Alan jadi salah paham,” terang Anggita dengan tatapan begitu dalam. Ia sangat berharap kali ini Galang akan bekerja sama dengan dirinya.
“Kedua, setelah resepsi pernikahan Kevin sama Ana, Jihan dan aku siap untuk ketemu sama orang-orang itu,” jawab Anggita.
“Beneran? Kamu mau maafin mereka?” tanya Galang masih tidak percaya jika Anggita memberi keputusan begitu cepat.
“Bukan aku. Tapi Jihan,” sanggah Anggita dengan mata menyala.
Tidak semudah itu baginya untuk memaafkan orang-orang yang hampir merenggut nyawa adiknya dan memisahkan mereka. Bahkan tragedi hari itu, menjadi malam yang tidak pernah Anggita lupakan sedikitpun.
“Ya udah, nanti aku kasih tahu mereka,” tukas Galang cukup senang karena hati Jihan tidak sekeras kakaknya.
“Tapi sebelum itu ada satu syarat yang harus kamu penuhi,” ucap Galang tidak akan membiarkan Anggita tenang begitu saja.
“Syarat?”
“Iya. Kalo kamu nggak mau ya udah, aku akan terus kejar kamu bahkan terang-terangan ungkapin perasaan aku di depan pacar kamu itu,” ancam Galang.
__ADS_1
“Apa syaratnya?” tanya Anggita terlihat tidak sabar. Ia tidak ingin jika mereka terlalu lama berbincang, akan ada yang curiga pada mereka.
“Kamu harus habisin malam kamu hari ini dengan aku,” jawab Galang dengan tegas.
“Gila ya kamu.” Anggita mengepalkan tangannya, ingin memukul wajah tengil Galang yang kini begitu santai setelah mengatakan syarat gila tersebut.
“Kalo kamu nggak mau ya terserah kamu. Tapi jangan salahin aku kalo dia tahu---.”
“Oke. Aku setuju,” sela Anggita sudah tidak tahan mendengar ocehan Galang.
“Aku tunggu kamu di ruang kerja yang kamu masuki waktu itu. Jam sepuluh malam. Kamu tenang aja, aku pastiin nggak ada yang tahu,” ujar Galang kemudian tersenyum lebar, sebelum meninggalkan Anggita yang sudah begitu emosi padanya.
“Keterlaluan. Awas aja kalo dia macam-macam,” desis Anggita dengan mata menyipit melihat Galang yang berjalan dengan riang setelah berbicara dengannya.
Seharian Anggita memilih untuk mengurung diri di kamar, dan membiarkan Jihan menemani Ana serta melihat-lihat proses dekorasi di rumah tersebut.
“Kak, ayo kita makan,” ajak Jihan berjalan mendekati kakaknya.
“Kakak nggak laper, Sayang,” tolak Anggita tidak ingin bertemu dengan Galang.
“Kalo kakak nggak mau makan ya udah, aku nggak makan juga,” putus Jihan ikut duduk di samping Anggita.
“Eh, jangan. Kamu makan aja, nanti kalo udah makan, kamu istirahat,” ujar Anggita tidak ingin adiknya kelaparan karena mengikuti dia mogok makan.
“Jihan maunya makan sama kakak,” jawab Jihan.
Mendengar suara perut Jihan yang keroncongan, Anggita pun tidak tega mengabaikan adiknya begitu saja.
“Ya udah kita makan,” ucap Anggita mengalah.
Wajah Jihan kembali berbinar. Dengan penuh semangat ia dan Anggita mendatangi meja makan yang semakin ramai. Baru saja sampai, lirikan mata Anggita sudah lebih dulu tertuju pada Galang yang terlihat sangat santai. Seolah memang tidak terjadi apa-apa pada mereka.
“Ayo Jihan, duduk,” ajak Galang menarik kursi kosong yang tidak jauh darinya.
Akan tetapi Jihan justru duduk di kursi lain, dan terpaksa Anggita menduduki satu kursi kosong yang tersisa.
__ADS_1
***