
Jihan tersenyum tipis melihat kakaknya masih begitu jutek pada Galang, padahal Galang berniat baik hendak menolong dirinya.
“Tangan Kakak pasti nggak kuat untuk peras kainnya. Biar Kak Galang aja ya. Nanti biar Jihan yang suapin Kakak makan,” ujar Jihan dengan senyum hangat terukir di bibirnya.
Bola mata Anggita berotasi. Jengah melihat tingkah dua makhluk di dekatnya saat ini.
“Kakak cuma nggak enak badan aja, Jihan. Palingan cuma demam dikit, bukannya lagi terbaring lemah nggak bisa ngapa-ngapain,” kritik Anggita tidak terima. Meskipun tenaganya tidak sekuat saat ia sedang sehat, setidaknya ia masih cukup kuat untuk makan sendiri.
“Karena itu Jihan nggak mau Kakak kenapa-kenapa. Jadi, Kakak diem aja ya. Oke!” tukas Jihan kembali ke dapur untuk memeriksa bubur yang sedang dibuat oleh pelayan.
“Biar Jihan aja yang bawa ke depan, Bi,” ucap Jihan pada sang pelayan seraya mengambil semangkuk bubur di tangan pelayan tersebut.
“Ayo makan, Kak,” ucap Jihan siap untuk menyuapi kakaknya.
“Kamu kompres kakak aja, kakak bisa makan sendiri,” pinta Anggita hendak mengambil mangkuk di tangan Jihan. Namun adiknya justru menggeleng kuat, menolak permintaan sang kakak, membuat Galang merasa di atas awan karena Jihan mendukungnya sekarang.
“Gimana, Kak? Udah mulai turun nggak panas Kak Anggita?” tanya Jihan menatap Galang yang masih sibuk dengan air dan kain.
“Belum, panasnya masih lumayan tinggi. Kita ke rumah sakit aja ya,” tawar Galang.
“Nggak usah! Aku nggak mau. Kamu jangan bikin repot ya,” protes Anggita seakan Galanglah yang sedang sakit.
Jihan dan Galang serentak melongo mendengar protesan Anggita. Padahal sejak tadi sudah jelas jika mereka yang kerepotan, sedang dia hanya duduk diam.
“Ekhem! Maksudnya aku nggak papa. Nggak separah dugaan kamu sampe harus ke dokter. Kamu punya obat penurun panas nggak? Aku minum itu aja,” ucap Anggita sedikit gugup karena kini sepasang insan yang sejak tadi merecokinya terdiam bagai patung.
“Ha? Oh obat penurun panas. Sebentar aku cari dulu,” jawab Galang bergegas mencari pelayan.
“Huffh! Akhirnya dia pergi juga,” hela Anggita.
Manik mata gadis itu terasa berkaca-kaca dan sedikit memerah karena suhu tubuhnya yang cukup panas.
“Kita ke kamar aja yuk,” ajak Anggita karena ia merasa mual duduk terlalu lama dengan punggung tegap seperti sekarang. Ia ingin setengah berbaring, sembari menikmati bubur yang telah dihidangkan.
__ADS_1
“Tapi buburnya, Kak?”
“Kamu bawa aja,” jawab Anggita beranjak dari kursi dan berjalan perlahan menuju tangga.
Pandangannya terasa berkunang-kunang, dengan tubuh sampai kaki sedikit gemetar tiap kali menaiki anak tangga.
Sesampainya di kamar, Anggita langsung terbaring dengan kepala bersandar pada kepala ranjang. Jihan semakin khawatir saat suhu tubuh kakaknya kembali meningkat.
“Badan Kakak panas banget,” ujar Jihan mengusap dahi Anggita, dan mengenggam tangan kakaknya.
“Kakak nggak papa, Sayang. Nanti kalo udah makan bubur yang kamu suapin juga panasnya turun,” jawab Anggita berusaha untuk membuat adiknya tidak khawatir.
Tidak berselang lama, Galang menemui mereka dan melakukan hal yang sama pada Anggita. setelah Anggita menghabiskan makanannya, Jihan langsung memberikan obat yang Galang bawa.
“Jihan, kamu tunggu kakak kamu ya. Kalau ada apa-apa, kamu ke kamar kakak aja,” ujar Galang saat Anggita terlihat lebih baik dari sebelumnya.
“Iya, Kak. Makasih ya, Kak udah bantuin Jihan,” jawab Jihan mengulas senyum pada Galang.
“Gimana aku nggak khawatir kalo wajah kamu pucat gitu,” lirih Galang sebelum benar-benar meninggalkan Anggita dan Jihan.
Galang lalu menghubungi orang kepercayaannya untuk mengantarkan berkas-berkas penting, yang harus ia tanda tangani atau dia cek agar diantar ke rumah.
Ia tidak akan meninggalkan Anggita begitu saja, meskipun keadaannya terlihat mulai membaik.
Saat pak Galih sekeluarga kembali pulang, Anggita masih terlelap di kamarnya bersama Jihan. Melihat keduanya yang masih begitu nyenyak, Ana pun tidak jadi membangunkan keduanya.
“Kakak tumben pulangnya cepet,” ujar Ana menoleh ke arah Galang.
“Kalo tahu dia nggak enak badan, kakak justru nggak akan ke kantor hari ini,” jujur Galang karena pagi tadi Anggita terlihat baik-baik saja.
“Ekheem!” Ana berdeham panjang karena ia dapat melihat dengan jelas sorot mata penuh cinta di mata kakaknya pada Anggita.
“Ayo keluar, nanti mereka keganggu,” ajak Ana menggandeng tangan Galang untuk menghampiri Kevin dan keluarganya.
__ADS_1
Pertanyaan yang sama diajukan oleh pak Galih, tetapi Galang jelas memberi jawaban berbeda di hadapan mereka. Karena ia menjaga perasaan Alan sama seperti yang Anggita lakukan saat ini.
Saat Alan hendak menemui Anggita untuk memastikan keadaan kekasihnya, Galang justru menahan langkahnya dan mengajak dia untuk berbincang di halaman rumah, guna melancarkan rencana yang telah dia, Citra, Farah, dan Anggita telah susun bersama.
“Ya, saya memberitahu kamu rutenya sekarang agar kamu bisa mengajak Anggita dan Jihan jalan bersama setelah dia sembuh,” terang Galang.
“Ah, atau mau saya siapkan supir saja?” tawar Galang jika Alan takut tersesat.
“Nggak usah, Gal. Aku bisa nyetir sendiri. Kan ada maps juga, walaupun jalannya ya … kamu tahu sendirikan?” tolak Alan.
Galang tergelak mendengar kalimat terakhir Alan. Ia tahu jika kebanyakan jalannya menyesatkan. Karena itu, saat ia akan pergi ke suatu tempat yang tidak pernah dia kunjungi, ia akan meminta supir untuk mengantarnya.
Namun, aplikasi tersebut tidak berguna saat ia mencari keberadaan Anggita dan Denis. Semua jalan asing, ia lalui tanpa takut akan tersasar, karena rasa takut kehilangan mereka berdua mengalahkan rasa takut pada jalan asing yang baru ia lalui.
“Nanti saya akan buatkan rute untuk kamu. Jadi kamu dan Anggita cukup berpatokan dengan tempat-tempat yang saya tulis sebagai petunjuk jalan,” ujar Galang memberi saran yang lebih baik.
Alan pun langsung menyetujuinya. “Terima kasih, Galang. Maaf, karena waktu kita baru kenal, kupikir kamu orang yang sombong dan kasar, karena sudah memukuli adikku. Padahal aku sudah menghajarnya lebih dulu,” ucap Alan sedikit malu mengungkapkan isi pikirannya.
Mereka kembali berbincang hingga senja pun menyapa datang.
Di dalam sebuah bilik, terlihat seorang gadis terbangun dan memegangi kain yang menempel di atas kepalanya.
“Alhamdulillah, panasku sudah turun,” ujar Anggita pelan.
Ia kemudian melirik ke samping kirinya. Terlihat Jihan masih terlelap di sana. Dengan perlahan, Anggita bangkit dari tidurnya dan berjalan melihat langit kota yang kini berubah warna menjadi jingga.
Saat matanya bergerak turun, ia mendapati pria yang memenuhi kepalanya beberapa waktu ke belakang tengah asyik bercengkrama.
“Mereka ngomongin apa?” tanya Anggita pada dirinya sendiri.
Tanpa sengaja tatapannya dan Galang saling bertemu, mengantarkan debaran berbeda di hatinya. Bukannya menutup tirai, Anggita justru terpaku di tempatnya berdiri.
***
__ADS_1