The Last Love

The Last Love
Kembali ke Kota Sejuta Kenangan


__ADS_3

“Iya, Anggita. Kan kamu calon menantu juga di keluarga ini,” jawab bu Ratih semakin membuat hati Galang panas. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang, agar tidak ada yang curiga padanya.


Anggita pun melirik Galang lewat ekor matanya. Melihat rahang mantan kekasihnya itu mengeras.


‘Apa dia marah ya?’ tanya Anggita dalam hati.


Akan tetapi ia tidak ingin terlalu memikirkan perasaan Galang saat ini, karena ia mengingat statusnya dengan orang-orang yang ada di hadapannnya sekarang.


Galang hanyalah masa lalu, dan Alan adalah masa depannya.


Kalimat itulah yang ia tancapkan dalam hati dan kepalanya, saat ia tiba-tiba oleng pada mantan kekasihnya itu.


Akhirnya Anggita pun menurut dan ikut bergabung di ruang tamu. Pembahasan yang sama dengan apa yang Alan katakan kembali berlanjut. Hingga akhirnya Anggita tidak lagi memiliki alasan untuk menolak.


“Alhamdulillah. Jadi nanti malam kamu bisa berkemas ya sama Jihan. Besok kita bisa langsung berangkat. Benar begitu Nak Galang?” tanya pak Galih pada Galang.


“Benar, Om. Biar semuanya juga bisa istirahat dulu di sana,” jawab Galang.


“Om dan Tante mau perginya naik apa?” tanya Galang kemudian.


“Ya naik mobil toh, Nak. Mau naik apa lagi,” jawab bu Ratih berpikir jika Galang hanya bercanda.


“Kalau Om dan Tante ingin mempersingkat perjalanan, kita bisa pergi menggunakan pesawat,” jawab Galang memberikan penawaran.


“Nggak usah, Nak. Naik mobil saja,” tolak pak Galih tidak ingin semakin merepotkan Galang.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Galang.


***


Sepulangnya dari kediaman pak Galih, Galang langsung pulang mencari adiknya.


“Kakak butuh bantuan kamu,” ucap Galang setelah ia berhasil menemui Ana berada dalam bilik tidurnya.


“Bantuan apa, Kak?” tanya Ana menatap Galang yang berjalan begitu cepat ke arahnya.


“Bantuan untuk perjuangin cinta kakak,” jujur Galang.


Tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan dari adiknya. Kehamilan Ana dapat membantu melancarkan rencananya dalam memperjuangkan Anggita.


Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika mantan kekasihnya itu berdekatan cukup lama dalam mobil, dalam perjalanan sehari semalam. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana pria itu mencoba untuk bersikap romantis pada Anggita.


“Ha? Memangnya Kakak udah punya pacar lagi?” tanya Ana dengan mata melebar.

__ADS_1


“Pacar lama,” celetuk Galang membuat dahi adiknya mengernyit.


“Maksudnya, Kakak ketemu sama cinta lama Kakak? Sama perempuan yang bikin Kakak galau bertahun-tahun?” berondong gadis itu semakin mencondongkan tubuhnya.


Ia tidak menyangka menjelang hari bahagianya, Galang justru kembali bertemu dengan cinta lamanya.


“Iya. Pokoknya kamu harus bantu kakak,” paksa Galang dengan mata berbinar.


“Tapi bantu apa?” tanya Ana bingung.


“Besok kita kembali ke rumah utama orang tua kita. Barengan sama keluarganya Kevin. Kamu ada kontaknya Laras?” tanya Galang.


“Hah? Laras siapa, Kak? Laras anaknya penjaga kantin di sekolah aku?” tanya Ana bingung.


“Bukan. itu, maksud kakak kontaknya Anggita,” koreksi Galang.


Gadis itu mengangguk kaku. Bagaimana ia tidak memiliki kontak Anggita, karena gadis itulah yang sering ia recoki dan hubungi setelah kekasihnya.


“Kamu hubungi dia, bujuk dia untuk ikut sama kamu pergi naik jet pribadi kita,” pinta Galang.


“Memangnya kenapa? Kenapa Kakak tiba-tiba mau dia naik jet pribadi kita?”


Ana menatap kakaknya penuh rasa curiga, hingga seketika mata gadis itu membola.


“Kak Anggita mantan Kakak?” tanyanya menutup mulutnya sendiri.


Ana menarik tubuhnya menjauh.


“Dia pacarnya kak Alan, Kak,” ucap Ana tidak menyangka jika kakaknya akan menjadi perusak hubungan calon iparnya.


“Mereka baru pacaran, bukan suami istri, Ana. Kakak yakin dia masih cinta sama kakak, walaupun dia punya pacar,” jawab Galang penuh percaya diri.


“Oh ya? Kenapa Kakak jadi kepedan sih?” protes gadis itu geli sendiri melihat sikap kakaknya yang sangat aneh.


“Ini bukan kepedean. Kakak nggak merebut siapa dari siapa. Tapi kakak cuma mau perjuangin cinta kakak yang dipaksa kandas karena orang tua kita,” tegas Galang yakin jika keputusannya kali ini tidak salah.


“Kakak nggak pernah kasih tahu aku tentang kalian berdua,” kata Ana sangat penasaran dengan kisah cinta kakaknya.


Galang pun mulai menceritakan tentang perjalanan hubungan mereka yang begitu singkat, namun berhasil membuat Ana begitu kagum dengan perjuangan mereka berdua.


“Dia terpaksa, karena cuma Jihan yang dia punya,” ucap Galang mengakhiri ceritanya.


Tanpa sadar Ana sudah menangis mendengar kisah akhir hubungan kakaknya.

__ADS_1


“Kalo misalnya Kakak ada di posisi kak Anggita, apa yang Kakak lakuin?” tanya Ana dengan suara serak.


“Kakak akan ngelakuin hal yang sama. Tapi kalo kakak tahu, kakak akan bawa dia lari sejauh mungkin. Sayangnya kakak baru sadar malam sebelum dia pergi, dan dia cuma bilang putus aja,” ungkap Galang mengingat malam terakhir pertemuan mereka enam tahun silam.


“Aku pastiin besok Kakak bisa deket sama kak Anggita,” ucap Ana mendukung keputusan sang kakak. Karena Galang dan Anggita sudah begitu banyak membantu hubungannya bersama Kevin.


Tepat saat malam hari, Ana menghubungi Anggita dan membujuk gadis itu untuk pergi bersamanya menggunakan jet pribadi keluarganya.


“Kayaknya bawaan dari bayinya, Kak. Aku juga butuh bantuan kakak di sana. Kalau naik mobil pasti lebih lama,” bujuk Ana dengan suara dibuat semelas yang ia bisa.


“Tapi saya nggak bisa biarin adik saya sendirian, Ana,” jujur Anggita.


Ana kemudian menatap Galang yang sibuk menulis di sebuah kertas.


“Ajak aja, Kak. Bangkunya cukup kok,” jawab Ana cepat.


“Memang rasanya naik pesawat gimana, Kak? Ngeri nggak?”


Ana berusaha menahan tawanya saat mendengar suara Jihan yang bertanya pada Anggita.


“Nggak tahu, Sayang. Kan biasanya kita yang nerbangin pesawat,” jawab Anggita membuat kakak beradik di balik telepon berusaha untuk menahan tawa mereka agar tidak pecah.


Galang memejamkan erat matanya, dan menggigit bibirnya. Satu jawaban polos Anggita membuatnya begitu terhibur.


“Nggak ngeri kok, Kak. Anggap aja ini pengalaman pertama kakak sama Jihan,” jawab Ana langsung diacungi dua jempol oleh Galang.


Jawaban adiknya benar-benar bijak, hingga membuat Anggita akhirnya setuju. Tetapi ia meminta Ana untuk memberitahu keluarga pak Galih lebih dulu.


“Oke, kakak. Besok aku jemput ya,” ucap Ana sebelum menutup panggilan mereka.


Kini tugas Ana sudah selesai, sekarang merupakan tugas Galang untuk memberitahu keluarga pak Galih, dan meminta Kevin untuk ikut pergi menggunakan jet pribadi, agar adiknya tidak merasa kesepian.


“Kalau memang harus ada yang diurus, ya sudah nggak papa Kevin pergi sama kamu,” jawab bu Ratih memberi izin.


“Terima kasih, Bu.”


Galang baru memberitahu jika Anggita akan pergi bersamanya menggunakan jet pribadi keluarga mereka, tentu menuai pertentangan dari Alan.


“Aku nggak papa. Ada Jihan sama Kevin juga di sana,” ujar Anggita berusaha untuk menenangkan kekasihnya.


“Kamu beneran nggak papa? Atau aku ikut sama kamu aja?” tawar Alan mendadak lupa diri jika jet yang akan dinaiki kekasihnya itu milik Galang.


“Bangkunya sudah penuh. Saya akan menjaga mereka dengan baik. Saya harap kamu juga menjaga keluarga kamu dengan baik,” sela Galang tidak ingin rencananya gagal.

__ADS_1


“Udah, kamu tenang aja ya. Kalo udah sampe, aku langsung hubungi kamu,” ucap Anggita sebelum beranjak memasuki mobil Galang.


***


__ADS_2