The Last Love

The Last Love
Bunuh Aku, Kak!


__ADS_3

Melihat keadaan Kevin yang begitu lemah, akhirnya ia pun terpaksa dirawat dan baru diizinkan pulang apa bila keadaannya sudah cukup membaik.


Di lain tempat, seorang gadis tengah menangis tersedu di hadapan sang kakak.


“Kenapa kakak ngelakuin itu sama dia?” tanya gadis itu dengan keras.


“Kenapa kamu bilang? Kamu lihat! Dia itu bukan laki-laki yang baik untuk kamu! Kalau memang benar dia pria sejati, dia akan tanggung jawab dengan semua yang dia lakukan ke kamu,” jawab sang kakak dengan suara yang sama keras.


Dibalik amarahnya, ia menyimpan sejuta rasa penyesalan pada dirinya sendiri, karena tidak dapat menjaga adiknya dengan baik.


“Kakak udah bilang sama kamu, semua yang terjadi dalam hari-hari kamu, cerita sama kakak! Apa susahnya kamu cerita aja?” tanya pria itu dengan rasa frustrasi.


Ia bahkan tidak tahu jika selama ini adik kesayangannya mempunyai kekasih. Dan tambah parahnya lagi pria yang dipacari justru menghancurkan hidup perempuan kesayangannya.


“Aku udah gede, Kak! Aku bisa jaga diri sendiri. Aku berusaha untuk nyelesaiin masalah aku sama dia,” jawab gadis itu membela diri.


“Bisa sendiri kamu bilang? Kamu tahu dia nggak mau tanggung jawab! Terus sekarang untuk apa lagi kamu mau ketemu sama dia?”


Gadis itu tidak lagi menjawab, hanya isakannya saja yang terdengar, karena ia tidak tahu apa yang akan kekasihnya itu bicarakan.


“Sekarang lihat. Siapa yang ada di samping kamu? Pacar? Sahabat? Nggak ada! Cuma kakak yang tetap di samping kamu, dan kamu masih berharap sama orang-orang itu?” cecar sang kakak.


“Satu hal lagi. Kamu tahu? Orang tua kita pasti kecewa banget, terutama sama kakak. Karena kakak nggak bisa jaga adik kakak satu-satunya,” ucap lelaki itu tertunduk lemah.


“Kalo gitu kakak bunuh aku aja. Bunuh aku, Kak! Biarin aku pergi dan ketemu sama papa dan mama!” tangkas gadis itu mengangkat tangan kakaknya, agar menyakiti dirinya.


“Nggak! Cuma kamu yang kakak punya, jangan tinggalin kakak. Bagaimanapun persepsi semua orang di sana, kamu tetap adik kesayangan kakak, dan kakak akan terus jaga kamu,” tolak pria itu mendekap adiknya.


“Aku cinta sama dia, Kak. Kakak mukulin dia itu sama aja dengan kakak mukulin aku, nyakitin hati adik kakak,” ucap gadis itu dalam dekapan kakaknya.


Pria itu memejamkan mata erat. Ia tahu bagaimana sakitnya hati adiknya itu, karena ia pernah mengalaminya.


“Apa kakak jadi seposesif ini sama aku, karena kakak nggak bisa bersama dengan perempuan itu? Kakak nggak mau aku bahagia sama orang yang aku cinta. Karena itu kakak ngelakuin hal yang sama dengan yang papa dan mama lakuin ke kakak. Iya?” cela gadis itu melepas dekapan kakaknya, dan menatapnya dengan penuh rasa benci.


“Nggak! Kakak nggak akan lakuin hal yang sama dengan yang mereka lakuin ke kakak. Tapi, laki-laki yang kamu pilih itu pengecut. Ada nyawa lain dalam janin kamu, dan dia ke mana? Mau ajak kamu untuk aborsi? Atau mau bawa kamu mati sama janin itu?” balas sang kakak agar gadis di hadapannya dapat membuka matanya dengan lebar.

__ADS_1


“Nggak mungkin. Bisa aja dia mau ajak aku kawin lari?”


Tidak tahu dari mana pikiran gila itu terlintas dalam benak gadis remaja yang tengah berbadan dua itu. Padahal sudah jelas jika beberapa hari lalu kekasihnya itu mengatakan jika dia tidak siap untuk menikah dan menjadi seorang ayah.


“Persetan dengan semua itu! Kakak nggak peduli dengan semua rencana dia. Yang kakak mau sekarang, kamu berhenti mikirin dia, berhenti untuk hubungi atau ketemu sama dia. Fokus sama kandungan dan kesehatan kamu. Kakak akan jaga dan urus kamu,” pungkas laki-laki itu kemudian berlalu dari kamar adiknya.


Pria itu berjalan menuju kamarnya dan menghempaskan tubuh ke atas ranjang. Bertahun-tahun semuanya sudah berlalu, dan bertahun-tahun pula ia tidak bertemu dengan mantan kekasihnya. Namun, semua kenangan itu tetap melekat kuat dalam ingatannya.


***


Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Kevin diizinkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan guna mengantisipasi jika terjadi sesuatu pada tubuh laki-laki itu.


“Kak, aku mau didorong sama Kak Anggita aja,” pinta Kevin mendongak, menatap Alan yang mendorong kursi rodanya.


Laki-laki itu kemudian menatap kekasihnya yang berdiri di dekat mereka. Melihat anggukkan serta senyum di wajah Anggita, akhirnya Alan pun membiarkan mereka berjalan berdua. Sedang ia membawa barang-barang sang adik menuju mobil.


“Aku siap untuk nikahin dia, Kak,” ucap Kevin membuat Anggita menghentikan langkahnya. Gadis itu merundukkan tubuhnya dan menatap Kevin dari samping.


“Kamu serius?”


Kini ia hanya percaya pada Anggita. Karena hanya dialah yang selalu bicara dengan lemah lembut, tanpa menghakimi dirinya. Semalaman penuh ia memikirkan kata-kata Anggita dan ia mencoba untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah ia lakukan.


“Ya udah, nanti saya coba bicarakan sama kakak kamu ya,” jawab Anggita.


“Makasih, Kak,” ucap Kevin dengan senyum tipis.


Setelah membantu Kevin memasuki mobil, Anggita dan Alan pergi menuju taksi online yang sudah mereka pesan.


“Ada apa sama Kevin? Kayaknya dia makin dekat sama kamu,” tanya Alan begitu penasaran.


Anggita menoleh, menatap kekasihnya yang kini menanti jawaban darinya.


“Memangnya kenapa? Kamu nggak suka?” tanya Anggita balik.


“Bukannya gitu. Aku malah seneng banget kalo kamu bisa dekat sama dia,” jawab Alan tanpa mengungkapkan rasa khawatirnya. Ia takut jika sewaktu-waktu Kevin akan menghina dirinya karena status pendidikan mereka yang berbeda.

__ADS_1


Namun, melihat tidak ada gurat kesedihan di mata Anggita tiap kali selesai menemui Kevin, hati laki-laki sedikit lega. Hanya sedikit! Karena sisanya ia takut jika Anggita hanya berpura-pura baik-baik saja, agar ia tidak khawatir.


“Rahasia. Nanti kalo udah di rumah aku kasih tahu kamu,” jawab Anggita seraya menahan senyum melihat Alan yang mengerucutkan bibirnya.


“Serius. Aku akan kasih tahu kamu semuanya,” tukas Anggita.


“Aku tunggu ya. Kalo kamu lupa, langsung aku tagih,” peringat Alan dengan raut muka dibuat seserius mungkin.


“Haha, iya-iya.”


Sesampainya di kediaman keluarga pak Galih, Anggita pun menarik Alan ke taman belakang. Untuk memberitahu keinginan Kevin, sebelum laki-laki itu memberitahu kedua orang tuanya.


“Tapi itu untuk pernikahan kita, Anggita,” kata Alan tidak setuju dengan pendapat kekasihnya.


“Alan, kita bisa nabung lagi. Aku juga punya tabungan kok. Dia udah siap untuk tanggung jawab, jangan bebani dia untuk biaya pernikahan. Perut perempuan itu semakin lama pasti akan membesar. Kalau kita semakin menunda waktu, dia akan semakin malu. Pliisss….” Anggita mengatupkan kedua telapak tangannya.


“Tapi kamu beneran nggak papa pernikahan kita ditunda? Aku bahkan udah mau bilang sama orang tua aku,” jujur Alan.


“Iya, nggak papa,” jawab Anggita cepat. Wajah gadis itu kembali berseri setelah kekasihnya setuju untuk membantu pernikahan Kevin.


Kevin tidak ingin semakin membebani kedua orang tuanya, karena itulah ia lebih memilih untuk meminjam uang sang kakak, tentu setelah Alan dan Anggita menyetujuinya.


Melihat Anggita dan Alan menemuinya dengan raut muka sumringah, Kevin pun yakin jika kakaknya mau membantunya.


“Eumm, aku buat makan siang dulu ya,” ujar Anggita membiarkan mereka bicara empat mata.


Setelah Anggita menghilang dari pandangan mereka, Alan menatap adiknya dengan serius.


“Kakak udah dengar semuanya. Kakak akan bantu kamu, tapi dengan dua syarat,” kata Alan mengangkat jari telunjuknya.


“Nggak berat kok syaratnya. Ringan dan menguntungkan kamu,” lanjutnya berusaha untuk meyakinkan Kevin.


“Kak, aku janji aku akan kerja keras untuk ganti uang itu,” jawab Kevin dengan raut muka memelas.


Belum menikah saja, kakaknya sudah meminta dua syarat. Bagaimana kedepannya?

__ADS_1


***


__ADS_2