
Alan mengerang tertahan, mendengar ucapan adiknya. Namun, Kevin tidak lagi takut jika sang kakak kembali menghajarnya tepat di hadapan ayah mereka. Pak Galih yang mendengar deru napas Alan yang begitu cepat, langsung menahan putranya agar tetap di tempat duduknya.
Ia kemudian kembali menatap putra bungsunya.
“Kamu pikir bapak mau kamu menikah di usia kamu sekarang? Nggak, Nak. Justru bapak berharap kakak kamu yang lebih dulu menikah,” ujar pak Galih.
Alan membisu, ia pun sudah ingin membicarakan hal tersebut pada orang tuanya. Namun, semua itu menjadi berantakan karena ulah sang adik yang berbuat tanpa berpikir.
“Kalo gitu Kak Alan aja yang nikah sama dia. Daripada nikah sama pembantu kita,” seloroh Kevin dengan senyum miring, di wajahnya yang sudah berdarah.
“Jaga ucapan kamu Kevin!” sergah Alan tidak terima dengan kata-kata adiknya.
“Nggak usah bawa-bawa Anggita. Sekarang kamu yang salah! Jangan semakin memperkeruh keadaan Kevin!” tegur pak Galih berusaha untuk tetap bicara dengan kepala dingin pada anaknya.
“Kamu nyuruh dia menikah dengan kakak kamu? Kamu nggak merasa bersalah dengan semua yang sudah kamu lakukan? Kamu nggak merasa bersalah lihat ibu dan bapakmu kecewa? Kami pikir kami sudah mendidik kalian berdua dengan baik. Tapi ternyata tidak. Bapak gagal mendidik kamu, Kevin,” ungkap pak Galih dengan tatapan nanar.
“Sekarang kamu harus siap untuk bertanggung jawab,” pungkas pak Galih tanpa berniat untuk mendengar sanggahan dari putranya.
“Tapi aku masih kecil, Pak!” teriak Kevin langsung berdiri hendak menghampiri ayahnya.
“Masih kecil kamu bilang?! Badan kamu kecil! Tapi pikiran kamu sudah dewasa! Kalau kamu masih kecil, kamu nggak akan melecehkan wanita Kevin!” bantah pak Galih sudah tidak kuat menahan rasa sakit di dadanya.
“Bapak kasih waktu tiga hari untuk kamu bawa perempuan itu ke hadapan bapak,” putus beliau langsung berlalu dari hadapannya.
Alan pun turut pergi meninggalkan Kevin agar adiknya itu dapat merenungi kesalahan yang sudah ia perbuat.
Keesokan hari, Anggita yang tidak tahu telah terjadi keributan semalam di rumah calon mertuanya, tetap bekerja seperti biasa. Suasana rumah cukup sepi, karena bu Ratih dan pak Galih sedang pergi.
Ia pun tidak melihat Alan. Sedang Kevin, ia berpikir jika putra bungsu dalam keluarga itu sedang sekolah. Hingga Anggita yang sedang mencuci piring, langsung terkejut saat mendengar suara pintu yang dibanting dari dalam.
Tanpa pikir panjang gadis itu langsung berlari menuju kamar di mana terdengar suara keributan di sana.
“Alan! Sudah!” teriak Anggita berusaha melerai pertengkaran antara Alan dan Kevin.
“Jangan gila kamu Kevin! Apa semalam masih belum cukup untuk buat kamu sadar sama kesalahan kamu!” cecar Alan terus menunjuk adiknya yang tersungkur di lantai.
__ADS_1
Anggita begitu kaget melihat darah yang tercecer di lantai, yang ia yakini darah tersebut berasal dari luka Kevin.
“Kamu apain adik kamu Alan? Kenapa kamu mukulin dia?” tanya Anggita terus mendorong kekasihnya agar menjauh dari Kevin.
Anggita yang tidak tahan melihat calon adik iparnya berdarah-darah, langsung mencari kotak P3K dan mengobati luka Kevin.
“Aku bisa sendiri, Kak,” tolak Kevin dengan suara dingin, rendah, dan lemah.
“Sudah, jangan bandel,” ucap Anggita tetap mengobati luka di dahi serta tangan Kevin. Terlihat pergelangan tangan laki-laki itu tergores.
“Kamu kenapa ngelukain tangan kamu?” tanya Anggita mencoba untuk mencari tahu apa yang telah terjadi di rumah ini.
Namun Kevin hanya diam. Bukan karena ia tidak menyukai Anggita. Akan tetapi ia malu, dan bingung harus dari mana menceritakan semuanya.
“Kakak nggak takut liat Kak Alan tadi?” tanyanya membuat gerakan tangan Anggita terhenti.
Sejujurnya Anggita sangat takut. Ia bahkan melihat dengan jelas bagaimana Alan memukul adik kandungnya sendiri. Sedang ia hanya sekadar memarahi Jihan jika berbuat salah saja ia tidak tega.
“Pasti ada sebab dia sampai mukul kamu begitu. Boleh saya tahu alasannya?”
“Kevin, setiap masalah pasti ada solusinya. Coba kamu cerita, siapa tahu nanti saya bisa buat hati kakak kamu luluh dan nggak marah lagi,” bujuk Anggita seperti saat dulu ia berbicara pada Jihan.
“Aku pacaran, Kak,” jujur Kevin.
“Pacaran?”
Pria dengan rambut yang kusut, serta mata panda yang terlihat jelas di wajahnya itu mengangguk pelan.
Manik mata Anggita memicing. Menurutnya tidak mungkin Alan semarah itu hanya karena adiknya pacaran, toh dia dulu juga saat sekolah pacaran, meskipun harus dipaksa kandas.
“Lalu?”
“Dia hamil, Kak. Bapak, Ibu, sama Kak Alan maksa aku untuk nikahin dia,” jawab Kevin dengan suara parau.
“Kakak pasti kecewa juga kan sama aku? Tapi aku nggak mau nikah muda, Kak. Aku belum siap. Jangankan untuk hidupin anak orang lain, kebutuhanku sendiri aja, aku masih minta sama ibu dan bapak,” terang Kevin mengutarakan alasan penolakannya.
__ADS_1
Anggita mengembuskan napas kuat, dan memilih untuk membereskan peralatan obat, setelah mengobati luka Kevin. Tentu ia juga sambil berpikir, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Kevin, tanpa harus membuat dia merasa tersudutkan.
“Kamu cinta sama dia?” tanya Anggita kini berpindah duduk ke samping Kevin.
Mereka duduk bersandar di tepi ranjang, dengan Anggita yang terus memperhatikan raut muka Kevin yang sendiri.
“Cinta, Kak. Tapi aku belum ada kepikiran untuk nikah,” ucapnya berpikir jika Anggita akan memberikan saran yang sama.
“Kevin, saya cuma nanya kamu cinta apa nggak sama dia,” sela Anggita tanpa menaikkan nada suaranya.
Melihat keadaan Kevin yang sekacau sekarang, Anggita seperti melihat adiknya beberapa tahun lalu. Meskipun kasus mereka berbeda, tetap saja ia tidak dapat berbicara dengan keras, apa lagi sampai menghakimi dan semakin menyudutkan dirinya.
“Iya, cinta.” Kevin hanya menjawab pertanyaan Anggita.
“Dia juga pasti cinta sama kamu, Kevin. Kamu berpikir saat ini dia baik-baik aja? Nggak,” tutur Anggita.
“Dia bahkan mungkin lebih terluka dan kecewa dari ini. Kamu tahu kenapa? Pertama dia berbadan dua di usianya yang masih remaja. Semakin hari, perutnya akan semakin membesar. Dia kehilangan sahabat dan dijauhi teman-teman dia. Dia menanggung malu karena semua yang sudah terjadi. Tapi dia pasti masih berpikir kalau kamu nggak akan ninggalin dia,” urai Anggita membayangkan apa yang gadis itu rasakan saat ini.
“Karena itu aku minta dia untuk gugurin kandungannya, Kak,” kata Kevin.
Syok! Anggita begitu terkejut mendengar apa yang akan Kevin lakukan.
“Kakak dan orang tua kamu tahu?”
Untuk kesekian kali, Kevin pun menganggukkan kepala. Hingga akhirnya Anggita pun mengerti, kenapa Alan sampai semarah itu.
“Kevin, mungkin ini memang belum waktunya kamu memikirkan semua. Termasuk tentang pernikahan dan rumah tangga. Tapi, kamu mau tahu satu hal? Dengan kamu bertanggung jawab, dan tetap berada di samping dia. Itu semua jadi salah satu bukti kalau kamu benar-benar nerima dia, dan dia akan sangat mensyukuri itu. Terlepas dari semua itu terjadi karena kesalahan atau kenikmatan kalian semata,” urai Anggita berharap nasihatnya dapat mengetuk hati kecil Kevin.
“Mungkin semua akan terasa berat. Tapi saya yakin kakak dan orang tua kamu, pasti akan membantu dan membimbing kamu, Kevin. Lambat laun mereka akan menerima semuanya. masalah biaya, nanti saya coba bicarakan sama kakak kamu.”
“Apa kamu berpikir dengan membunuh janin tidak bersalah itu, atau mengakhiri hidup kamu seperti ini.” Menunjuk luka di pergelangan tangan Kevin yang kini tertutup kain kasa.
“Apa semua akan lebih baik? Nggak. Semua justru lebih buruk dari keputusan kamu menemani dia, dan membiarkan janin itu tumbuh dan berkembang,” putus Anggita.
Kevin mendengarkan dengan baik semua kata yang terucap dari bibir Anggita. Menenangkan, tetapi masih ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
“Kamu mungkin akan kehilangan sesuatu, tetapi kamu juga akan mendapatkan sesuatu yang Insya Allah lebih indah,” pesan Anggita sebelum berlalu dari kamar Kevin, dan menutupnya dari luar.
***