The Last Love

The Last Love
Masa Sunyi Galang


__ADS_3

“Nggak ada. Makasih kakak selalu ada untuk Jihan,” jawab Jihan mendekap Anggita. Menyembunyikan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


“Karena cuma kamu yang kakak punya. Kakak nggak mau kehilangan kamu,” jujur Anggita membalas dekapan sang adik.


Tidak berselang lama, terdengar suara klakson mobil dari depan kontrakan mereka. Suara yang membuat keduanya melerai pelukan mereka, dan bergegas ke depan rumah dengan membawa flat shoes yang mereka punya.


“Assalamualaikum,” sapa Bu Ratih seraya mengetuk pintu.


“Wa’alaikumsalam,” sahut keduanya serentak dan pintu di hadapan mereka sudah terbuka.


“Waah, ternyata kalian sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang saja,” ajak Bu Ratih menggandeng tangan Anggita dan Jihan.


Ketiga perempuan itu duduk di bangku deret kedua. Sedang di depan mereka ada Pak Galih yang mengemudi, serta putra bungsu mereka Kevin—adik dari Alan.


***


Lima tahun sebelumnya.


Tepat satu hari setelah Anggita memutuskan hubungannya bersama Galang. Dunia laki-laki itu terasa sangat hampa, kedua orang tuanya kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan Galang tidak dapat menghubungi sahabatnya, walau hanya sebatas untuk mengetahui di mana keberadaan dia sekarang.


“Ma, Pa, besok Galang mau sekolah,” ucap Galang setelah seminggu ia libur sekolah diluar perawatan pihak rumah sakit.


Satu minggu tanpa melakukan apa pun, dan hanya berdiam diri di kamar, membuat kepala Galang semakin penuh oleh bayang-bayang Anggita dan Denis.


Tentang betapa gilanya ia dulu, memilih untuk kabur dari rumah lewat jendela, hanya menggunakan kain panjang seadanya yang berada di lemari. Betapa bodohnya ia menunggu kabar dari wanita yang sama sekali tidak mencintai dirinya.


“Kalau kamu memang terpaksa, kenapa kamu buat kenangan yang sangat manis selama hubungan kita? Kenapa kamu jahat banget sama aku, Anggita?” tanya Galang menatap langit cerah dari balik jendela kamarnya.


Langit yang mengingatkan ia saat dirinya mengawasi Anggita dari mobil dalam perjalanan pulang sekolah. Galang terus melihat fotonya bersama Denis. Ia sangat merindukan sahabatnya itu, saat ia sedang sendiri Denislah yang selalu ada dan menemani dirinya.


“Kamu masih belum pulih Galang. Jangan buat orang tua kamu semakin khawatir,” ucap Agra terselubung larangan dibaliknya.


“Kalau memang Mama sama Papa khawatirin Galang. Harusnya kalian temani Galang. Percuma juga kalo Galang di rumah, kalian juga sibuk sendiri. Papa dengan perusahaan dan kolega-kolega papa, dan Mama yang sibuk dengan teman-teman sosialita mama itu,” terang Galang tidak peduli jika orang tuanya akan kembali marah seperti saat ia bersama Anggita dulu.


Genggaman Agra pada sendok dan garpu di tangannya mengeras. Rosa yang tahu jika suaminya akan marah, langsung mengenggam tangan suaminya itu dan mengusapnya lembut.

__ADS_1


“Galang, Papa bekerja keras itu untuk kamu, dan mama sibuk juga karena kita harus dekat dengan banyak orang, mama juga nggak sebatas kumpul-kumpul aja, itu salah satu cara untuk membantu papa kamu,” urai Rosa berharap putra mereka akan mengerti.


“Apa semua ini belum buat Mama sama Papa cukup?” tanya Galang menatap sekeliling rumah besar mereka yang megah. Baginya semua harta orang tuanya sudah lebih dari cukup untuk hidup mereka sampai menua. Galang pun akan bekerja, jika waktunya telah tiba. Tidak ada sedikitpun terbersit dalam pikirannya ingin menghabiskan harta kedua orang tuanya untuk hal-hal yang tidak pantas.


Yang Galang inginkan hanyalah waktu luang kedua orang tuanya, agar mereka bisa bersama. Namun, bukan kebersamaan seperti saat ini. Bukan kebersamaan yang hanya menimbulkan kegaduhan di rumah mereka.


“Galang, jangan buat mood papa kamu rusak pagi-pagi,” tegur Rosa menatap Galang dengan tajam.


Lagi-lagi yang dapat Galang lakukan hanya meminta maaf, menundukkan kepala, dan kembali ke kamarnya dengan alasan ingin istirahat.


Akhirnya ia baru dapat kembali sekolah, setelah hampir satu bulan ia libur. Segala macam tugas, sudah menumpuk dalam sebuah catatan kecil yang ia gunakan untuk mencatat semua ketertinggalan dirinya.


Satu hal yang membuat kepala Galang semakin pusing, adalah di hari pertama ia bersekolah, begitu banyak siswi yang memberikannya kado dan ucapan selamat karena Galang sudah pulih. Namun, tidak dengan luka di hatinya. Luka itu masih basah dan mengangga lebar.


Jam istirahat, Galang memutuskan untuk mencari Denis ke kelasnya.


“Lo nggak tahu Lang, kalo Denis udah pindah?” tanya teman sekelas Denis yang berpikir jika sahabat dekat Denis sudah mengetahui hal tersebut.


“Pindah?” ulang Galang dengan kedua alis tertarik ke dalam.


“Iya, udah lama. Ya waktu lo libur karena kecelakaan itulah,” jawab pria berambut ikal di hadapan Galang.


“Kenapa gue nggak tahu?” lirih Galang.


“Thanks ya infonya,” ucap Galang berbalik dan berjalan menjauh dari kelas Denis.


Ia terus berjalan, hingga melewati kelasnya, kemudian kelas Anggita.


Lelaki itu terus menatap meja yang dulu Anggita tempati. Namun gadis itu tidak kunjung terlihat.


“Dia ke mana?” tanya Galang.


Semua orang terdekatnya hilang begitu saja.


“Hai,” sapa Rania yang berdiri di depan kelas, dan mendapati Galang terus menatap ke dalam kelasnya.

__ADS_1


“Anggita udah lama nggak masuk,” ujar Rania menerka isi kepala Galang.


Ingin rasanya Galang bertanya ke mana gadis itu pergi, tetapi bibirnya justru tertutup rapat, dan berakhir dengan anggukkan lambat.


Sepekan berlalu, dan Anggita masih belum menampakkan batang hidungnya. Galang yang mulai lelah menerka-nerka semuanya seorang diri, memutuskan untuk pergi menuju kafe tempat di mana Anggita bekerja.


Nihil.


Gadis itu tidak ada di sana, dan teman sekerjanya tidak ada yang tahu.


“Aku pikir kamu tahu, kan kamu pacar dia,” lontar Citra masih tidak menyangka jika Anggita tidak memberitahu siapa pun.


Ia dan Farah sudah bertanya ke mana-mana, hingga akhirnya kabar yang ia dapat Anggita sudah pindah.


Galang hanya menggeleng pelan, tanpa menceritakan apa yang terjadi di antara mereka berdua pada malam kelam itu.


“Kalo jodoh pasti nggak ke mana,” ujar Farah menepuk pelan pundak Galang yang turun.


“Aku yakin dia baik-baik aja. Mungkin ada terlalu banyak luka di tempat ini, jadi dia milih untuk pergi,” jawab Farah setelah mengetahui jika Anggita pindah ke luar kota, tetapi tidak tahu pasti ada di kota mana.


“Saya permisi dulu, Mbak,” pamit Galang berbalik dan pergi.


“Nggak mau pesan minum atau makan dulu gitu?” tawar Farah karena wajah Galang terlihat sangat sendu.


“Nggak, Mbak. Makasih,” tolak Galang berjalan ke arah motornya dan memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah, tidak ada yang menyambut kepulangannya, hingga Galang langsung berjalan menuju kamar, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.


Ia mengerjap beberapa saat, ketika melihat pintu lemari pakaiannya bergerak sendiri.


Matanya memicing, dan Galang berjalan mendekati lemari tersebut.


“Welcome my brother!”


***

__ADS_1


__ADS_2