
“Mas Daniel!” teriak Adel dari dalam kamar mandi.
Adel sedikit menghentakkan kakinya berjalan keluar dari kamar mandi, ia merasa kesal karena telah dibohongi oleh suaminya sendiri.
“Mas, bangun!” panggilnya sambil menempuk tangan pria yang terlelap di kasur.
Sejak tadi Daniel sudah terbangun saat mendengar teriakan istrinya di kamar mandi, hanya saja karena rasa kantuknya belum hilang jadi ia hiraukan. Ia baru tidur jam dua pagi tadi, jadi jangan salahkan dirinya telat bangun karena semalam ia sudah kelelahan bertempur di kasur.
“Mas bangun dulu, lihat ini!”
Dengan berat hati juga mata, Daniel membuka matanya perlahan dan melihat istrinya yang sudah terlihat siap menerkamnya hidup-hidup di pagi hari ini. Ia sendiri tak mengerti mengapa istrinya terlihat marah padanya, padahal baru tadi malam mereka sayang-sayangan.
“Apaan, Del. Saya masih ngantuk.”
“Lihat ini, Mas Daniel bohongin, Adel!” ucapnya sambil menyodorkan tespack yang ia bawa dari kamar mandi dan menyerahkannya pada Daniel.
Masih setengah sadar, Daniel mengambil tespack yang disodorkan istrinya itu dan melihat dua garis merah sejajar. Kemudian ia kembali memberikannya pada istrinya itu.
“Mas udah lihat, kan?”
“Iya, ada dua garis merah,” katanya dengan santai dan kembali memejamkan matanya.
“Tahu kan artinya apa?” tanya Adel.
“Ya terus kenapa?” jawab Daniel dengan santai seolah menyulut emosi Adel.
“Terus kenapa? Mas, Adel hamil lagi!”
Kali ini Daniel membuka matanya dan menatap istrinya yang masih memasang tanduk. “Ya kamu hamil ya hamil aja, kan Ayahnya tetap saya.”
Adel menarik nafasnya dengan jawaban suaminya itu, “Hamil ya hamil aja? Mas, tahu kan kalau Noah baru masuk 6 bulan dan masih harus dikasih Asi, sekarang Adel udah hamil lagi.”
Ada sedikit kesedihan dari wajah Adel saat ini, bukan karena ia tak bahagia setelah mengetahui kembali hamil anak keduanya, tapi saat ini ia merasa waktunya terlalu cepat karena Noah belum genap setahun dan masih diberi Asi dan itulah yang membuatnya khawatir.
Melihat kegelisahan dari wajah Adel saat ini, ia mengerti jika istrinya belum terlalu siap memiliki anak lagi, ia juga jadi merasa bersalah karenanya.
“Kita pasti bisa besarkan Noah dan jaga kandungan kamu.” kata Daniel menenangkan istrinya.
“Mas bohong ya, nggak pakai pengaman dan katanya mau dikeluarin diluar tapi malah jadi.” Adel mengingat perkataan manis yang keluar dari suaminya itu setiap mereka akan melalukan hubungan.
“Sebenarnya saya memang sudah mau keluarkan di luar. Tapi waktunya selalu kurang pas,” jawab Daniel merasa bersalah.
Adel tak menjawab lagi, ia hanya sedang berpikir bagaimana cara memberitahu orang tua juga mertuanya nanti. Ia hanya takut mereka berkata aneh-aneh atau mungkin meledeknya dan Daniel yang terlalu terburu-buru memiliki anak lagi.
“Mulai minggu depan kita pindah ke Jakarta karena Papah suruh saja teruskan pekerjaannya di kantor. Dan Noah bisa dibantu jaga Mamah kamu atau Mamah saya nanti,” Daniel mengelus kepala Adel menenangkannya.
“Pindah ke Jakarta lagi? Kok nggak bilang-bilang dulu?”
“Barusan kan saya udah bilang.
Adel mendengus sebal, apa-apaan lagi suaminya. Mengapa mereka akan pindah ke Jakarta lagi tapi tidak memberitahunya dari jauh-jauh hari. Rupanya sifat menyebalkan suaminya itu masih saja sama ya dan membuat Adel harus tetap bersabar dengannya.
“Udah jangan kesal-kesal, Nanti siang kita periksa ke Dokter ya, Noah dia pasti senang bakal punya adik.” Daniel mengecup kening Adel dan bibirnya singkat seraya mengelus perut istrinya yang masih datar itu sebelum pergi kamar mandi untuk mencuci mukanya.
...***...
Beberapa Tahun Berlalu ...
Hari masih pagi, tapi emosi Adel sudah mulai meledak-ledak melihat banyaknya pekerjaannya yang akan di mulainya di hari Minggu ini.
Piring kotor dari semalam yang masih berada di westafel, sampah makanan yang belum sempat di sapu masih mengotori lantai, juga tumpukan kain kotor yang saat ini sudah siap ia masukan ke dalam mesin cucinya.
Belum lagi mainan Noah yang berserakan di lantai dan belum dibereskan dan membuat Adel yang terburu-buru melakukan pekerjaan rumah tangganya tak sengaja menginjak lego mainan Noah dan membuatnya sedikit meringis.
“Noah, kenapa mainannya sampai ke ruang makan? Lihat kaki Bunda sakit karena nginjak lego kamu,” omel Adel memberikan lego yang tak sengaja diinjaknya tadi.
“Bunda kenapa ndak liat-liat?” balas Noah dengan ucapan kata yang masih belum tepat.
Adel meredakan amarahnya, anaknya pertama yang kini berusia 3 tahun lebih itu bicaranya masih belum fasih, tapi meski begitu ia selalu saja pandai menjawab ucapan dari Adel bahkan kadang juga menjawabnya sekenanya.
“Mainannya jangan dibawa-bawa ke tempat lain, mainnya di sini aja biar nggak hilang-hilang mainannya,” Adel berlalu meninggalkan anaknya itu yang kini bahkan mengabaikan ucapannya karena fokus menonton kartun favoritnya.
Beruntung saat ini anak keduanya yang sudah lahir dua tahun lalu sedang bersama pengasuhnya, ya anak kedua Adel dan Daniel berjenis kelamin perempuan dan mereka beri nama Aera.
Sejak Adel hamil Aera, mereka memutuskan mencari pengasuh. Dan sebelumnya pengasuh Aera tersebut adalah pengasuh Noah karena kini anaknya sudah berusia 3 tahun, kini pengasuhnya itu membantunya mengasuh Aera.
Untuk pekerjaan rumah tangga, sebelumnya mereka juga telah memakai jasa asisten rumah tangga. Tapi seminggu lalu, asisten rumah tangga mereka memutuskan untuk berhenti karena harus mengurus orang tuanya di kampung dan Adel belum kembali mencari penggantinya dan karena itu seminggu ini ia mulai sibuk dengan pekerjaan rumah.
Setelah selesai menekan tombol mesin cucinya, kini Adel melanjutkan aktivitasnya mencuci piring kotor dulu baru memasak sarapan untuk mereka. Sebelumnya mereka sudah sarapan roti selai untuk menganjal perut.
Urusan bersihkan dapur sudah selesai, masakannya pun sudah terjadi di meja makan dan kali ini ia mencari keberadaan suaminya yang sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya bahkan di saat Adel sudah mengelilingi rumah melakukan pekerjaan.
Pintu kamar sudah dibuka, namun diatas ranjang dengan selimut yang masih berantakan sejak bangun tidur tadi tak ada Daniel di sana. Ia juga sudah masuk ke dalam barangkali suaminya sedang di kamar mandi, tapi pintu kamar mandi di dalam kamarnya itu sudah terbuka dan Daniel juga tidak ada di sana.
“Mbak, lihat bapak nggak?” tanya Adel pada pengasuh Aera di kamar bermainnya.
“Enggak, Bu,” jawabnya yang sedang menyuapi Aera.
Melihat kedatangan Mamahnya, Aera sudah membentangkan tangan tersenyum padanya. Adel mencium pipi anaknya perempuannya sebentar karena pekerjaan masih belum selesai dan ia belum bisa bermain dengan anaknya dan ia pun kembali mencari suaminya.
“Noah, lihat Ayah nggak?” tanya Adel pada anaknya yang masih anteng menonton kartunnya.
“Ndak tau,” jawabanya tanpa menoleh.
Adel melenggang keluar rumah, mungkin suaminya itu sedang berada di teras rumah. Sambil terus memanggil, Adel tak mendapat sahutan apapun.
__ADS_1
“Nda, mau mamam,” Disaat Adel kebingungan mencari suaminya, Noah berjalan ke arahnya.
Noah sudah naik ke kursi, dan Adel mengambil sarapan untuknya dan saat Adel sedang fokus pada anaknya, ia tiba-tiba terkejut saat sebuah kecupan singkat terasa di pipi kanannya dan siapa lagi pelakunya jika bukan Daniel yang kini duduk ikut duduk dengan wajah santainya.
“Pagi, Noah,” sapa Daniel yang duduk disebelahnya.
“Kenapa cuma Nda yang di cium?” protes Noah.
Melihat wajah anaknya yang cemberut, Daniel mencium pipi tembamnya dan mengelus kepalanya. Sekarang Daniel memang harus berhati-hati dalam segala hal karena anaknya itu sudah mulai sedikit mengerti.
“Ayah ke mana aja, dari tadi Bunda cariin nggak ada?” Adel selalu memanggil suaminya itu dengan sebutan Ayah di depan Noah.
“Ada bisnis dulu sebentar."
“Bisnis apa, kenapa di hari libur ini?” tanya Adel mengerutkan alisnya.
Daniel tak menjawab, ia malah menatap Noah sambil mengedipkan matanya dan membuat anaknya itu tersenyum. Adel menyipitkan matanya curiga jika Ayah dan anak itu sedang merencanakan sesuatu.
...***...
Sore hari ini Adel baru menyelesaikan semua pekerjaannya sendirian karena Daniel membantu menjaga Noah saat anaknya itu selesai mandi sore.
Rasanya memang melelahkan bagi Adel beberapa hari belakangan ini, padahal pekerjaannya pun selalu sama tapi entah kenapa badannya terasa penat-penat setelah mengejarkan pekerjaan meski itu hanya menyapu atau pun membersihkan kamar.
Mungkin Adel butuh liburan bersama keluarga kecilnya, karena sudah lama mereka tidak berpergian apalagi Daniel saat ini sibuk bekerja di kantor dan hanya sabtu dan minggu saja berada di rumah.
Setelah asyik rebahan di ruang televisi ditemani Aera yang duduk sambil bermain dengan mainannya yang sudah berserakan, kini pikirannya tertuju pada apa yang dilakukan Ayah dan anaknya saat ini. Meskipun ia percaya pada Daniel menjaga anaknya, tapi tetap saja ia selalu waspada karena dua pria itu terkadang sering membuat hal-hal tak terduga yang justru pada akhirnya Adel pula yang membersihkannya.
“Aera, kita lihat Ayah sama abang Noah ya,” ajak Adel yang langsung menggendong anaknya itu.
Aera sudah pandai berbicara meskipun belum selancar kakaknya yang meskipun lancar tetap kata demi katanya belum tepat.
“Noah, Ayah, kalian di mana?” teriak Adel yang sudah kedua kalinya di hari minggu ini ia mengeluarkan suara kerasnya.
“Ada di belakang, Bun,” suara kencang Adel rupanya tak sia-sia karena Daniel yang berada di halaman belakang pun akhirnya bisa mendengarnya.
“Kenapa di halaman belakang, Noah kan sudah--,oh ya ampun! Ayah apa lagi ini?” kata Adel yang cukup terkejut.
Sebenarnya tidak ada yang aneh saat ini, hanya saja ia cukup terkejut melihat Daniel dan Noah sedang duduk di kursi dengan pancingan di tangan mereka. Ditambah kini Adel cukup bingung melihat tenda yang sudah didirikan di halaman mereka.
“Nda, ayo mancing ikan,” suara cadel dari Noah mulai terdengar.
“Mas, itu pancingan dari mana dan kenapa ikan-ikan di kolam di pancing? Dan kenapa ada tenda juga di sana, siapa yang camping?” seperti halnya emak-emak pada umumnya, jika sudah kesal pasti cerocos tanpa jeda.
“Duduk dulu sini, mau coba mancing?” tawar Daniel.
Spontan Adel menggelengkan kepalanya. Ia masih tak habis pikir, untuk apa Daniel sibuk memancing ikan dan mengajak Noah pula di kolam kecil miliknya. Padahal jika ia ingin mengambilnya tinggal pakai jaring saja.
“Ayah, kenapa ikannya ndak dapet-dapet?” Noah sudah mengangkat pancingan kecil miliknya yang sudah diberi umpan oleh Daniel.
Adel masih berdiri di samping mereka sambil menggendong Aera dan menatap ayah dan anak itu yang terlihat bahagia dengan aktivitasnya saat ini.
“Ayo Bun, jangan dilihat aja. Cobain mancing juga Aera sini, Ayah gendong,” kata Daniel yang sudah berdiri lagi dan langsung mencium pipi mulus anak keduanya yang sudah kegirangan di gendongnya.
Merasa penasaran, Adel akhirnya duduk di kursi Daniel tadi dan mengambil pancingannya. Kini ia juga ikut penasaran apakah pancingannya juga berhasil mendapatkan ikan.
“Nah kan berhasil, lihat Noah dapat ikan besar.” Daniel membantu menarik pancingannya yang sudah berhasil mendapatkan ikan cukup besar.
“Bunda kalah nih, belum dapat.” goda Daniel.
“Bunda kan nggak bisa mancing,” jawab Adel dengan nada sebalnya.
“Ya udah, Ayah, Noah sama aja ya yang mancing biar Bunda yang bakar ikannya?” kata Daniel menatap Noah.
“Iya, Bunda yang masakin ya kan Aera mau?” balas Noah dengan semangat menatap adiknya.
“Mau,” jawab Aera ikut semangat.
Adel lagi-lagi dibuat bingung dengan kelakuan Ayah dan anak itu. Setelah berhasil mendapat ikan hasil pancingan di kolam kecil mereka sekarang memintanya untuk membakarnya, sebenarnya apa yang direncanakan dua pria ini?
“Mas,” panggil Adel minta penjelasan.
Melihat istrinya tampak bingung dan kesal, kini Daniel menatapnya sambil tersenyum.
“Dari kemarin Noah minta diajakin ikut mancing ikan setelah lihat video yang dikirim Dean kemarin. Dari pada jauh-jauh jadi saya ajak dia mancing di sini dan ikan-ikannya saya beli tadi di pasar,” jelas Daniel.
Adel mengerutkan keningnya, jadi ini semua karena adiknya yang menyombongkan pada ponakannya kemarin itu? Astaga, lihat saja nanti kalau bertemu, Adel akan tarik kuping adiknya itu karena sudah sering menjahili dan menggoda Noah.
“Terus, hubungan tenda itu juga karena Dean ikutan camping?” tanya Adel menatap tenda di hamalan belakang rumah mereka.
“Bukan, saya sengaja dirikan tenda untuk liburan kita hari ini. Kita ajak Noah dan Aera liburan sederhana, nanti kita tidur di tenda juga tapi setelah mereka tertidur kita masuk lagi ke dalam.”
Oh jadi ini alasan suaminya tadi pagi menghilang saat dicarinya itu, rupanya pria itu sudah merencanakan liburan kecil di halaman belakang rumah mereka.
“Ya udah Adel siap-siap ambil bakaran dulu untuk ikannya,” pada akhirnya Adel hanya mengikuti keinginan anak dan suaminya itu.
Sebelum masuk ke dalam lagi, Adel kembali menoleh pada suaminya itu, “Awas jagain Noah sama Aera, jangan sampai jatuh!” kata Adel pada suaminya.
...***...
Ikan bakar yang berhasil dibuat Adel sudah matang dan kini keempatnya duduk sambil menikmatinya, Adel menyuapi Noah yang terlihat begitu senang hari ini sedangkan Aera tak begitu suka dengan ikan bakar kini menikmati potongan buah-buahan yang Adel bawa.
“Kenapa nggak ikut makan?” tanya Daniel saat melihat Adel yang hanya sibuk menyuapi Noah tanpa ikut mencicipi makanannya.
“Nggak, Adel ngerasa mual mau makan ikan bakar.”
__ADS_1
Daniel mengerutkan kening, kenapa istrinya harus mual makan ikan bakar buatannya sendiri, padahal rasanya enak dan juga bumbunya meresap. Tapi memang selera Adel akhir-akhir ini sedikit berkurang bahkan pipinya juga sudah terlihat tirus.
“Kamu mau makan apa, mau ayam bakar? Biar saya pesan online?” tawar Daniel.
“Nggak usah, Adel nggak begitu lapar.”
“Tapi akhir-akhir ini kamu kurang makan, saya takut kamu sakit nanti.”
Ya, Adel sendiri menyadari dirinya kehilangan nafsu makannya akhir-akhir ini, apa mungkin karena ia terlalu kelelahan atau memang daya tubuhnya sekarang mulai menurun.
“Adel mau bikin mie intan udah ini.” kata Adel yang diangguki Daniel.
Hari sudah petang mereka sudah berada di dalam tenda yang dibangun Daniel tadi. Pengasuhnya Aera memang tidak ikut tinggal bersama mereka, Adel menyuruhnya untuk datang jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore karena Adel masih ingin memiliki waktu bersama putrinya.
“Aya mau ama Ayah.” kata Aera yang memanggil dirinya sendiri dengan “Aya” karena masih belum bicara dengan tepat.
Daniel yang mendengar suara anak perempuannya itu pun langsung menggendongnya duduk di pangkuannya sedangkan Adel sudah rebahan di dalam tenda dan ikut menonton bersama Noah.
Rasanya ia benar-benar menikmati waktu santai ini, ia juga melihat Noah yang kini duduk dan mengajak Aera menonton. Dan tak sadar karena terlalu kelelahan hari ini, Adel tertidur di dalam tenda besar tersebut dan membiarkan Noah dan Aera dijaga suaminya.
...***...
Waktu sudah mulai malam, Adel kini terbangun dan tersadar jika ia ketiduran karena kelelahan. Tapi dalam tenda tersebut kini hanya ada ia sendirian tanpa kedua anaknya dan suaminya di dalam.
Sambil kembali merapihkan rambutnya yang berantakan, Adel mendengar suara kedua anaknya dari luar. Iapun langsung keluar dari tenda dan melihat Noah dan Aera yang sudah memakai jaket tebal dan berdiri senang menunggu Ayah mereka yang sedang memanggang.
“Bunda udah bangun tuh,” mendengar ucapan Daniel kedua anaknya langsung berlarian ke arahnya.
“Noah, Aera kenapa nggak bangunin Bunda. Kalian tadi nangis nggak?” tanya Adel melihat anaknya.
“Ndak kok, tadi Aya pipis ditemenin Ayah, aku juga tadi ganti baju ama Ayah,” jelas Noah.
“Aya mau cosis,” Aera menunjuk Ayahnya yang sedang memanggang sosis bakar juga jagung.
“Tunggu ya, sosisnya sebentar lagi matang,” kata Daniel.
Adel masih sedikit merasa pusing setelah bangun tidur lagi, kini ia mendekati suaminya itu untuk membantunya.
“Kamu duduk di sana aja sama Noah, Aera di dalam tenda. Dari tadi mereka asik lari-larian aja.”
“Kenapa nggak bangunin, Adel tadi?”
“Saya masih bisa urus mereka berdua sebentar. Sudah kamu ke dalam sama anak-anak, nanti saya bawakan sosis dan jagungnya.”
Adel mengangguk dan mengajak kedua anaknya untuk menunggu di dalam tenda.
Dan tak sampai menunggu berlama-lama, sosis dan jagung bakar yang sudah di buat Daniel pun datang dan mereka langsung menikmatinya bersama.
...***...
Hari sudah makin malam, kedua anak mereka juga sudah tertidur di dalam tenda setelah kekenyangan dan juga kelelahan berlarian. Mereka tampak menikmati berkemah di halaman belakang rumah tersebut.
Tapi, karena takut angin malam membuat anaknya masuk angin. Jadi Adel dan Daniel akan membawa mereka tidur di dalam rumah lagi meskipun di dalam tenda sudah sedia kasur lipat juga selimut tebal.
Adel dan Daniel kini berada di luar tenda menikmati pemandangan malam hari ini. Halaman belakang rumah mereka di Jakarta saat ini memang sedikit lebih luas dari rumah mereka di Bandung dulu. Kolam ikannya pun juga lebih luas karena mereka sudah memilih untuk tetap menetap di Jakarta.
“Ternyata kamping di belakang rumah sambil nikmati udara malam gini enak juga ya,” kata Adel menatap langit malam.
“Saya bersedia temani kamu kalau mau lihat langit setiap malam dari sini.”
Adel tersenyum mendengar jawaban suaminya. Ahh, saat ini rasa penat dan letihnya sudah tidak begitu terasa lagi setelah istirahat sebentar sore tadi dan kini menikmati waktu malam menatapa lngit gelap bersama suaminya ternyata benar-benar membuat moodnya kembali.
“Saya tahu, kamu sedang lelah dan stress seminggu belakangan ini karena asisten rumah tangga kita berhenti dan kamu yang handle semuanya. Saya juga belum ada waktu ajak kamu liburan. Jadi saya cuma bisa ajak kamping sederhana di sini bareng anak-anak,” Daniel mengenggam tangan Adel.
Memang benar kata Daniel, sepertinya seminggu belakangan ini ia terlalu lelah dan sedikit stress mengerjarkan pekerjaan rumah tangga mereka. Belum lagi Daniel yang kadang sering pulang malam karena pekerjaan kantornya sudah lebih berat dari sebelumnya.
“Makasih, Mas. Rasanya sekarang stress dan lelah Adel udah sedikit berkurang. Istirahat sebentar di dalam tenda, nikmati jagung bakar dan sekarang duduk di luar tenda gini cukup menyenangkan.
“Maafkan saya terlalu sibuk bekerja dan tidak bisa menemani kalian.”
Adel mengambil lengan kiri Daniel dan merebahkan kepalanya dan memeluk tangan suaminya itu. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua bersama suaminya itu karena jika pun Daniel libur, anak-anaknya akan lebih dulu mengajaknya bermain.
“Mumpung nggak ada yang marah-marah kalau Ayahnya di peluk gini.” kata Adel.
Daniel ikut menyenderkan kepalanya, momen seperti ini sudah lama tidak pernah mereka rasakan karena kesibukkan mereka menjadi orang tua.
“Apa kamu bahagia menikah dengan saya?” tanya Daniel tanpa merubah posisi mereka.
“Kok, Mas nanya gitu?”
“Saya hanya ingin memastikan.”
Adel kini merubah posisinya dan menatap suaminya. Jarak mereka begitu dekat bahkan hembusan nafas Daniel juga terasa di kulit wajah Adel.
“Adel nggak bisa utarakan kebahagiaan yang sesungguhnya, tapi Adel sekarang merasa bersyukur bisa menikah dengan Mas Daniel dan juga punya Noah dan Aera yang setiap hari selalu aja ada tingkah lucu dari mereka. Ditambah sekarang Mas Daniel juga udah nggak secuek dulu, jadi Adel ngerasa bahagia dengan kehidupan yang dijalani sekarang.”
Daniel tersenyum mendengar jawaban dari istrinya tersebut. Tiga tahun lalu saat pernyataan perasaannya benar-benar telah merubah kehidupan mereka berdua. Segala sikap dingin dan cuek Daniel sudah mulai berbalik, dan Adel juga tak segan jika ingin bermanja-manja pada Daniel karena suaminya benar-benar memperlakukannya dengan baik juga menyayanginya dengan tulus.
“Noah dan Aera sekarang sudah besar, apa waktunya kita tambah adik untuk mereka?” goda Daniel.
“Cariin dulu pengganti asisten rumah tangga yang baru,” jawab Adel sambil tertawa.
Daniel mengangguk tersenyum, ia mengambil dagu Adel dan mendaratkan ciuman pada bibir istrinya. Saat ini kehidupan mereka sudah cukup bahagia, tak ada lagi rahasia yang mereka simpan dari masalalu yang sudah berlalu. Yang ada sekarang adalah masa depan mereka bersama anak-anak, dan Daniel sudah berjanji akan membahagiakan keluarga kecil itu semampunya dan menyayangi Adel dengan setulus hatinya.
...*** T A M A T ***...
__ADS_1