The Last Love

The Last Love
Anak Memalukan


__ADS_3

Dua atau tiga tahun bukanlah waktu yang lama untuk Anggita. Dia juga masih ingin fokus menjaga Jihan, dan memperbaiki hidup mereka. Selama bekerja di tempat beliau pun, Anggita berusaha menyisihkan gajiannya untuk ditabung, meskipun jumlahnya tidak banyak.


Sejak ia menerima cintanya Alan. Laki-laki itu terlihat sangat rajin. Bahkan ia ikut melihat perkebunan karet milik orang tuanya.


“Jadi kamu beneran mau kerja di sini?” tanya pak Galih setelah berkeliling bersama putra sulungnya.


“Iya, Pak. Sekalian belajar juga. Biar tahu juga apa yang dikerjain mereka di sini,” jawab Alan begitu yakin untuk mulai bekerja dan mengumpulkan uang.


“Nggak coba cari kerja di kantoran?” tawar pak Galih.


“Ya coba satu-satu dulu, Pak. Tapi jangan bilang kalo aku anak bapak ya. Nanti aku mereka jadi ngerasa dibedain, atau nggak enakan,” pinta Alan.


Ia ingin mendekatkan diri dengan para pekerja bapaknya. Berbaur dengan mereka layaknya pekerja biasa.


“Ya sudah, kalo gajinya nggak gede, kamu nggak boleh marah sama bapak,” seloroh pak Galih sengaja ingin menguji kesabaran putranya.


Alan mengangguk patuh. Ia akan menerima gaji sesuai dengan kerja kerasnya di perkebunan ini.


Tak terasa, satu tahun telah berlalu. Pundi-pundi uang itu sudah mulai terkumpul dalam celengan Alan. Ia pun menghitung tabungannya yang ada di ATM. Hanya sedikit lagi, ia rasa sudah cukup untuk memulai hidup baru bersama Anggita.


Malam ini ia hendak berbincang bersama orang tuanya. Membicarakan niat baiknya untuk melamar Anggita dalam waktu dekat. Namun, langkahnya terhenti saat melintasi kamar adiknya.


Pintu kamar Kevin tidak tertutup rapat. Terdengar suara adiknya tengah marah-marah.


“Gugurin aja. Kita pergi ke dukun.”


Kelopak mata laki-laki itu melebar, mendengar ucapan adiknya. Tanpa pikir panjang, Alan langsung membuka pintu tersebut, dan berjalan mendekati adiknya.


“Apa yang kamu bilang tadi?” tanya Alan dengan wajah memerah.


Kevin yang terkejut melihat kakaknya masuk tiba-tiba langsung menyimpan ponselnya.


“Jawab kakak Kevin!” desak Alan mencengkeram kedua bahu Kevin.


“A—ampun, Kak. Sakit, Kak,” rintih Kevin semakin merendahkan tubuhnya.


“Nggak. Jawab kakak. Kenapa kamu bisa ngomong begitu? Kamu nyembunyiin sesuatu kan?” tanya Alan dengan tatapan semakin tajam.


Kevin terus bergerak mundur ke arah pintu kamarnya, hingga pintu tersebut langsung tertutup rapat dari dalam.


“Gugurin apa yang kamu maksud?” tanya Alan terus menatap tajam adiknya.


Sedang kedua mata Kevin langsung terbelalak mendengar ucapan kakaknya. Ia tidak menyangka jika kalimat itu yang kakaknya dengar.


“Jangan bilang kalo kamu….”


Alan sudah kehabisan kata-kata, ia sendiri takut untuk mengatakannya.

__ADS_1


“Iya! Gugurin apa yang ada dalam pikiran kakak itu,” jawab Kevin langsung menghempaskan cengkeraman tangan Alan yang mengendur.


Laki-laki itu tertunduk dalam, tidak menyangka dengan perbuatan adiknya.


“Kurang ajar kamu!” bentak Alan bersamaan dengan satu tamparan keras mengenai pipi adiknya.


“Kamu hamilin anak orang? Terus kamu nyuruh dia untuk gugurin kandungannya?” tuntut Alan masih syok mengetahui apa yang adiknya lakukan.


“Iya! Aku masih sekolah, Kak! Nggak mungkin aku jadi bapak!” jawab Kevin menaikkan nada suaranya.


“Kalo kamu sadar kamu masih sekolah. Kenapa kamu ngelakuin itu hah?” sergah Alan mengguncang kuat tubuh Kevin yang sedikit lebih kecil darinya.


“Aku nggak sengaja. Aku nggak tahu kalo dia bakalan hamil,” adu Kevin dengan kepala tertunduk dalam.


“Nggak sengaja kamu bilang?”


Alan terus mengulang jawaban adiknya. Ia masih tidak percaya dengan fakta di hadapannya.


“Gila ya kamu! Seenaknya kamu jawab kalo kamu nggak sengaja dan nggak tahu? Di mana akal kamu Kevin?” berang Alan memegangi kepala Kevin dan mengangkat kepala adiknya.


“Kamu pikir dengan gugurin janin yang ada dalam perut dia akan nyelesaiin semuanya? Nggak Kevin! Rasa bersalah itu akan terus hantuin kamu dan dia. Kamu nggak akan tenang,” nasihat Alan berusaha untuk menyadarkan adiknya.


“Kamu harus tanggung jawab,” pungkas Alan langsung berdiri dan membuka pintu kamar adiknya.


“Nggak, Kak! Aku nggak mau! Aku nggak mau jadi ayah, Kak!” tolak Kevin ketakutan melihat wajah kakaknya yang merah padam, netra Alan memerah serta rahangnya mengeras.


“Nggak mau! Jangan bilang ibu sama bapak, Kak!” teriak Kevin terus memberontak dan berusaha melepaskan genggaman tangan Alan.


Bu Ratih dan pak Galih yang sedang berada di kamar, langsung bergegas keluar mendengar teriakan putranya.


“Alan, ada apa ini? Kenapa kamu narik-narik adik kamu?” tanya bu Ratih langsung menghampiri putranya.


Saat tiba di hadapan kedua orang tuanya, barulah Alan melepaskan Kevin yang sudah menangis dan gemetar ketakutan.


“Ibu tanya sama anak ibu. Apa yang buat aku sampe semarah itu sama dia,” jawab Alan tanpa melepas tatapannya dari Kevin.


“Ampun, Bu. Ampun! Kevin nggak sengaja, Kevin ngaku salah,” adu Kevin terus merengkuh kaki bu Ratih.


Wanita itu merunduk dan menyibak rambut Kevin yang menutupi wajahnya. Terlihat wajah putra bungsunya itu memerah dan basah.


“Alan! Kamu apain adik kamu?” tanya bu Ratih mendongak. Menatap putranya yang dikuasai amarah.


“Jelasin semuanya Kevin. Atau kakak yang bilang sama ibu dan bapak,” suruh Alan semakin membuat Kevin tersudutkan.


“Apa yang terjadi sama adik kamu, Nak? Kenapa kamu semarah itu sama dia?” tanya pak Galih berusaha untuk bicara baik-baik dengan Alan.


“Oke, kalo gitu kakak yang bakal jelasin semuanya,” putus Alan.

__ADS_1


Seketika Kevin langsung menghambur, memohon pada Alan agar tidak memberitahu orang tuanya.


“Aku mohon jangan, Kak,” pinta Kevin terus mengiba.


Dada Alan terus bergerak naik turun, karena dadanya terasa sangat sesak, dan sulit untuk bernapas. Ia kemudian merunduk dan menangkup kedua pipi adiknya.


“Kamu pikir dengan kamu memohon ke kakak akan ngerubah semuanya? Nggak Kevin. Kakak nggak bisa tinggal diam,” jawab Alan.


“Kevin ngehamilin seseorang Bu, Pak. Alan denger sendiri kalo dia mau nyuruh perempuan itu untuk gugurin kandungannya, atau mereka akan pergi ke dukun.”


Raut muka pak Galih dan bu Ratih langsung menegang. Cepat-cepat pak Galih menahan tubuh istrinya yang mendadak limbung.


“Pak, anak kita,” lirih bu Ratih tidak dapat membendung air matanya.


Ia begitu kecewa mendengar pernyataan putranya. Sedang Kevin yang menjadi tersangka, hanya tertunduk lemah dan bahu merosot.


“Benar itu, Kevin?” tanya pak Galih menatap putranya.


“Jawab pertanyaan bapak, Kevin. Apa benar yang kakak kamu bilang?”


Pak Galih yang selama ini selalu bicara dengan nada lembut dan penuh kasih sayang, membuat Kevin takut hanya untuk membalas tatapan dari bapaknya.


Dengan gerakan kaku, ia akhirnya mengangguk. Tubuhnya bergetar takut.


“Astaghfirullah,” ucap bu Ratih dan pak Galih bersamaan.


Suara isak bu Ratih terdengar begitu memilukan, membuat Alan yang tidak tega melihat wanita yang telah melahirkan dirinya menangis, meminta pak Galih untuk membawanya ke kamar.


“Kamu lihat? Tindakan kamu udah buat orang tua kita kecewa, Kevin. Kenapa kamu nggak mikir ke sana sebelum berbuat?” tanya Alan duduk tepat di hadapan adiknya yang lesehan di lantai.


“Aku tahu! Makanya itu aku mau dia gugurin bayinya!” sergah Kevin langsung mengangkat kepala, dan tamparan itu kembali dilayangkan oleh Alan.


“Berhenti berpikir untuk gugurin janin nggak bersalah itu Kevin!” bentak Alan kembali tersulut emosi mendengar ucapan adiknya.


Bu Ratih yang mendengar suara itu, semakin gelisah dan hendak kembali menemui putranya.


“Sudah, Buk. Biar Alan kasih pelajaran untuk anak kita itu,” ujar pak Galih menahan istrinya agar tidak kembali keluar.


“Tapi, Kevin juga anak kita, Pak,” ucap bu Ratih dengan suara parau.


“Tapi dia juga buat kita kecewa. Kita gagal ngedidik dia. Ibu di sini saja. Biar bapak sama Alan yang ngomong sama dia,” tukas pak Galih kembali membaringkan istrinya, dan meminta beliau untuk menenangkan diri lebih dulu.


Setelah memastikan istrinya istirahat, pak Galih kembali ke ruang keluarga. Tempat di mana Alan dan Kevin masih berada.


“Siapa perempuan yang kamu hamili itu, Kevin?” tanya pak Galih kembali mengintrogasi putra bungsunya.


“Aku nggak mau nikah, Pak!” putus Kevin sudah menebak apa yang akan bapaknya perintahkan.

__ADS_1


***


__ADS_2