
“Apa kandungan kamu baik-baik saja?” tanya Galang dengan raut muka serius.
Gantian. Kini Ana lah yang menjadi pusat perhatian. Namun, gadis itu justru tersenyum lebar dengan raut muka sumringah. Ia mengangguk cepat.
“Kan ada Kevin yang selalu di samping aku,” jawabnya dengan senyum merekah kepada suami tercintanya.
Jika sudah seperti ini, maka dunia seperti milik mereka berdua. Membuat orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi iri, sekaligus bahagia.
“Walaupun dia di samping kamu, dia bukan dokter kandungan,” tukas Galang tanpa mengubah raut muka seriusnya.
“Jadi gimana, Kak?” tanya Ana sekali lagi.
“Lusa akan saya berikan jawaban pastinya,” pungkas Galang bangkit dari duduknya siap untuk pergi ke kantor setelah berpamitan pada semua orang yang ada di ruang keluarga.
“Aku nyamperin Kak Galang sebentar ya,” ucap Ana pada Kevin sebelum kakaknya pergi semakin jauh.
“Iya, tapi kamu jangan lari-larian,” jawab Kevin mengizinkan.
Ana berjalan dengan cepat dan terus memanggil kakaknya.
“Ada apa?” tanya Galang setelah Ana berhenti tepat di sampingnya.
“Kakak tuh jalannya cepet banget,” gerutu gadis itu karena ia berjalan dengan tergesa-gesa, tepatnya lari kecil agar dapat menghampiri kakaknya.
“Semalem gimana sama kak Anggita?” tanya gadis itu setengah berbisik.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Galang balik dengan penuh waspada.
“Orang aku yang ngasih tahu kak Anggita, kok,” ucap Ana dengan gaya tengilnya tiap kali berhadapan dengan sang kakak.
“Oh, nggak gimana-gimana,” jawab Galang asal. Karena memang tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
“Pasti ada sesuatu,” terka Ana dengan mata menyelidiki tiap perubahan ekspresi wajah kakaknya, membuat Galang merasa terintimidasi oleh tatapan adiknya itu.
“Anak kecil nggak perlu tahu,” ucap Galang mengacak-acak rambut adiknya, hingga raut muka Ana berubah kesal, karena kini rambutnya sudah berantakan.
“Iiiih kak Galang nyebelin ah,” gerutu Ana menutupi rambutnya dengan kedua tangan.
“Lagian kamu sih, kakak mau berangkat kerja ada aja yang ditanya,” sahut Galang tanpa rasa bersalah.
“Terus gimana? Kita balik ke sana pake mobil, ‘kan?”
__ADS_1
Ana terus mendesak Galang agar memberi jawaban pasti sekarang juga di hadapannya.
“Kita ke dokter dulu,” jawab Galang dengan jelas.
“Kalo kata dokternya nggak boleh gimana?”
Binar di mata Ana perlahan memudar, ia ingin merasakan suasana ramai di dalam mobil, dan sekarang adalah kesempatan dirinya untuk merasakan hal tersebut.
“Ya sudah nurut kata dokter aja.”
“Ingat Ana. Sekarang ada nyawa lain yang hidup dalam rahim kamu. Kamu nggak sendirian, tapi berdua. Kandungan kamu juga masih trimester pertama, jadi masih rentan akan keguguran. Kakak sayang sama kalian berdua. Masa kamu nggak sayang sama dia,” tutur Galang perlahan melunakkan kekeraskepalaan Ana, dan meruntuhkan keegoisan adiknya.
“Aku juga sayang sama dia,” jawab Ana menatap perutnya.
“Ya udah, kalo gitu nanti kakak panggil dokter ke rumah untuk periksa keadaan kamu. Kakak ke kantor dulu,” ucap Galang mengusap lembut puncak kepala Ana dan berlalu meninggalkan adiknya yang berbalik ke dalam dengan langkah gontai.
Sepanjang jalan menuju kantor, Galang memikirkan cara untuk membuat Citra dan Farah dapat bertemu dengan Anggita, tanpa membuat Alan curiga. Ia tidak ingin dua wanita baik itu ikut terseret dalam rencana Anggita yang kukuh ingin menyembunyikan seluruh masa lalunya.
Sesampainya di kantor, Galang berpesan pada sekretarisnya untuk memanggil Citra dan Farah apa bila mereka sudah datang.
“Selamat pagi, Pak. Bu Citra dan Bu Farah sudah ada di depan,” ucap sekretaris Galang dari ambang pintu.
“Kalau begitu suruh mereka masuk sekarang,” jawab Galang seraya menurunkan layar laptopnya, agar perbincangan mereka tidak terhalang.
“Iya. Silakan duduk,” ucap Galang mempersilakan keduanya.
Citra dan Farah kemudian duduk berdampingan, dan siap menunggu apa yang akan Galang katakan.
“Saya tidak akan membahas tentang kantor saat ini. Saya ingin membahas tentang Laras,” mula Galang menatap dua wanita di hadapannya.
"Laras siapa, Pak?" tanya Farah.
Galang mengibaskan tangan. "Maksud saya Anggita," koreksinya.
“Anggita kenapa, Galang?” tanya Farah langsung khawatir tiap kali Galang menyebut nama gadis itu.
“Dia nggak kenapa-kenapa, Mbak. Kemungkinan tiga hari lagi dia akan pergi ke luar kota, ke tempat tinggal dia beberapa tahun ke belakang. Saya sudah berjanji kalau saya akan mempertemukan kalian berdua. Jadi, karena itu saya memanggil kalian berdua,” terang Galang sebelum menjelaskan apa yang telah ia rencanakan.
“Jadi kamu mau kami pergi ke sana lusa?” tanya Citra setelah Galang menjelaskan rencananya.
“Iya. Tempat itu cukup ramai. Besok Mbak Citra sama Mbak Farah bisa pulang lebih cepat. Saya akan memberitahu Anggita dan kekasihnya juga,” jawab Galang.
__ADS_1
“Kamu nggak ikut?” tanya Citra.
Galang menggeleng pelan dan tetap memaksakan senyumnya. “Saya masih ada urusan, Mbak,” jawab Galang.
Setelah mereka sepakat untuk menjalankan rencana dadakan yang Galang buat, Citra dan Farah pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaan mereka, dan Galang bersiap untuk melanjutkan meeting yang kemarin belum selesai.
***
Karena mereka akan pulang, Galang berinisiatif untuk mengajak pak Galih sekeluarga mengelilingi kota dengan menyediakan sebuah mobil sekaligus seorang supir yang akan memandu perjalanan mereka kali ini.
Saat akan pergi, Anggita merasa suhu tubuhnya melebihi batas normal. Ditambah ia kurang tidur selama berada di rumah ini.
“Kamu beneran nggak papa kalo aku tinggal?” tanya Alan enggan untuk meninggalkan kekasihnya seorang diri.
“Iya. Kamu pergi aja, aku nggak papa kok,” jawab Anggita tersenyum hangat melihat Alan yang mencemaskan dirinya.
“Kalo kamu kenapa-kenapa gimana? Aku nggak papa nggak ikut sama mereka,” kukuh Alan.
“Nggak enak, Alan. Kamu pergi aja. Udah ada Jihan juga yang temenin aku,” ujar Anggita menatap Jihan yang duduk di samping ranjang.
“Kalo ada apa-apa, kamu langsung hubungi aku ya,” pesan Alan sebelum meninggalkan kamar tidur Anggita.
“Iya. Jihan juga pasti kasih kamu kabar,” patuh Anggita.
Setelah Alan pergi, Anggita beranjak dari ranjang ke arah jendela kamar. Melihat mobil yang mereka naiki perlahan menjauh dari pandangannya.
Ia kemudian menatap Jihan. “Kamu mau ketemu mereka sekarang?” tanya Anggita pada adiknya.
“Iya, Kak. Jihan udah siap,” jawab Jihan dengan yakin.
“Jihan ambilin minum dulu untuk Kakak ya,” ucap Jihan setelah membantu Anggita kembali berbaring.
Ia berjalan ke luar kamar, dan mengabari Galang. Meminta sang pemilik rumah untuk segera pulang. Hanya butuh waktu setengah jam, Galang sudah tiba di kediamannya.
Lelaki itu berjalan dengan tergesa menaiki anak tangga menuju lantai dua setelah mendengar kabar jika Anggita demam.
“Beneran kakak kamu nggak papa? Mau kakak panggilin dokter? Atau mau ke rumah sakit?” tanya Galang saat Jihan menghampirinya.
“Nggak usah, Kak. Panas badannya kak Anggita udah turun,” tolak Jihan.
“Eemm, Jihan sama kak Anggita mau ketemu sama mereka, Kak,” ucap Jihan memberanikan diri.
__ADS_1
***