The Last Love

The Last Love
Belum Cukup Matang


__ADS_3

Baru saja Anggita keluar dari kamar Kevin, ia terkejut saat tiba-tiba Alan menarik tangannya.


“Kamu ngomong sama dia?” tanya Alan.


Anggita menunduk melihat tangan Alan yang mengenggam pergelangan tangannya. Sadar jika ia masih mengenggam tangan wanita yang belum sah menjadi istrinya, Alan pun melepaskan genggamannya.


“Iya, tadi aku bicara sama dia. Semoga aja dia renungin kata-kata aku tadi. Tolong kamu jangan marahin atau mukul dia lagi ya,” jawab Anggita dengan tatapan penuh harap.


Meskipun mereka sesama laki-laki, dan baku hantam itu lumrah untuk mereka, Anggita tidak dapat menerima itu semua. Apa lagi mereka kakak beradik, dan ia tahu jika perbuatan kekasihnya itu tidaklah benar.


“Respon dia dengar kamu bicara tadi gimana?”


Alan benar-benar takut jika sikap adiknya pada Anggita jauh dari kata ramah. Mengingat adiknya itu sempat bicara tanpa berpikir, ketika menyuruh dia menikahi pacarnya tanpa memikirkan perasaan Anggita yang akan menjadi kakak iparnya.


Gadis itu mengangguk pelan, dengan senyum terkembang di bibirnya.


“Dia pasti sekarang sangat takut, Alan. Kita aja yang udah dewasa dari dia, masih belum memikirkan pernikahan. Apa lagi dia yang masih remaja? Itu semua buat dia nggak bisa berpikir jernih, dan bicara sama hati kecil dia sendiri,” terang Anggita memberitahu kegundahan Kevin pada kakaknya.


“Tapi tetap aja dia itu salah, Anggita,” ujar Alan terus mengatakan hal yang sama.


“Iya, aku tahu. Tapi, apa dengan kamu dan keluarga kamu nyalahin dan nyudutin dia, masalah ini akan selesai? Nggak, Alan. Dan satu lagi, kenapa kamu nggak cerita sama aku?” tanya Anggita membuat Alan diam seribu bahasa.


“Jawab aku Alan. Kamu nggak percaya sama aku?” tuntut Anggita karena ia tidak mendengar kabar ini dari awal.


“Maaf, aku baru tahu semalam. Aku malu dan bingung gimana mau jelasin ini semua ke kamu, Anggita,” jawab Alan. Tatapannya penuh rasa bersalah, sedang Anggita sebenarnya tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena ia juga sudah mengetahuinya. Yang membuatnya sedikit kecewa hanyalah bagaimana sikap Alan sebagai kakak menangani ini semua.


“Ya udah, setelah ini biarin dia sendirian dulu. Nanti kalo dia udah memutuskan semuanya, aku yakin dia pasti ngomong sama keluarganya,” tukas Anggita seraya mengusap pundak Alan agar kekasihnya lebih tenang.


“Makasih ya kamu udah perhatian, dan pengertian banget sama aku dan keluarga aku,” kata Alan begitu bersyukur memiliki Anggita sebagai kekasihnya.


Ibunya memang tidak salah dalam memilih perempuan untuk dijadikan seorang menantu. Meskipun pendidikan Anggita tidak tinggi, tetapi attitude serta cara dia dalam menyikapi masalah sangatlah dewasa.

__ADS_1


Beberapa hari ke belakang, Anggita merasa jika suasana di tempat ia bekerja semakin sunyi, hingga ia mendapat kabar dari Alan jika Kevin berada di rumah sakit.


“I—iya, aku akan ajak ibu ke sana,” jawab Anggita terbata.


“Ada apa, Anggita? Kenapa muka kamu tegang begitu?" tanya bu Ratih saat mendapati Anggita menerima panggilan dari seseorang.


“Kevin, Bu. Kevin masuk rumah sakit,” jawab Anggita.


“Innalillahi.” Bu Ratih seketika kehilangan keseimbangan tubuhnya, jika Anggita tidak dengan cepat menahan bobot tubuh wanita itu, dan memintanya agar tetap sadar.


“Alan sama pak Galih udah bawa dia ke rumah sakit, Bu. Dia minta kita untuk nyusul ke sana,” ujar Anggita berharap bu Ratih tetap sadarkan diri, meskipun mereka sama-sama terkejut mendengar kabar tersebut.


Bagaimana tidak! Beberapa hari yang lalu anak itu terlihat sangat murung, dengan luka yang masih menghiasi tubuhnya, dan kini mereka mendapat kabar yang semakin memilukan.


“Apa yang terjadi sama Kevin, Anggita? Bagaimana bisa dia ada di rumah sakit?” tanya bu Ratih sudah berurai air mata.


Anggita yang tidak tahu kronologi kejadiannya, hanya dapat menggelengkan kepala dan meminta supir pribadi keluarga tersebut mempercepat laju mobil, agar segera tiba di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Anggita langsung bertanya pada bagian resepsionis tentang keberadaan Kevin. Setelah mengetahui jika laki-laki itu masih berada di IGD, mereka pun bergegas menuju ke sana.


“Alaaan!” panggil bu Ratih terdengar begitu pilu.


Alan langsung mendekap ibunya yang menangis tersedu. Hatinya begitu perih melihat belakangan wanita yang sangat dia cintai terus meneteskan air mata, karena adiknya yang kini terbaring tak sadarkan diri di dalam sana.


“Bagaimana keadaan adik kamu? Kenapa dia bisa ada di sini Alan? Harusnya adik kamu itu masih di sekolah,” berondong bu Ratih terus mendesak putra sulungnya agar menjelaskan semua yang terjadi.


Pak Galih yang tidak tega melihat istrinya terus menangis, menuntun wanita itu untuk duduk di atas kursi tunggu yang berada di dekat ruang IGD.


“Kita nggak tahu apa yang terjadi sama Kevin. Kita doakan saja tidak ada hal buruk yang terjadi dengan dia,” ujar pak Galih berusaha untuk menenangkan istrinya.


Tidak berselang lama, dokter yang menangani Kevin pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” tanya Alan lebih dulu.


“Alhamdulillah luka yang dialami pasien tidak terlalu parah, dan tidak ada benda tajam yang melukai tubuh pasien. Pasien juga sudah sadarkan diri, tapi jangan dulu diajak banyak bicara,” jawab dokter tersebut.


“Boleh saya masuk, Dok?” izin Alan tidak sabar ingin melihat keadaan adiknya secara langsung.


“Boleh, tapi dua orang saja, agar tidak menggangu kenyamanan pasien,” ujar sang dokter mempersilakan mereka masuk.


Akhirnya Alan dan bu Ratih yang lebih dulu masuk menemui Kevin. Tangis wanita itu kembali pecah melihat wajah putranya yang dipenuhi luka. Luka akibat tamparan dan pukulan Alan saja belum mengering, dan kini ia sudah mendapat luka baru.


Mata Kevin yang bengkak, hanya terbuka sedikit dan itu sangat susah baginya untuk melihat. Namun, ia masih bersyukur karena dapat melihat keluarganya walaupun sedikit dan tampak buram.


“Ibu,” panggil Kevin mengangkat tangannya.


Bu Ratih langsung mengenggam tangan Kevin dan mengecupnya.


“Iya, ini ibu, Nak,” jawab bu Ratih mengusap lembut pipi putranya.


“Maafin Kevin, Bu,” ucap Kevin penuh penyesalan sudah membuat ibunya menangis.


Ia tidak lagi menyalahkan Alan atau marah pada kakaknya, karena kini ia sendiri merasa terluka melihat air mata wanita yang telah melahirkan dirinya.


“Kak, maafin aku,” kata Kevin menatap Alan yang berdiri di samping ranjang rumah sakit yang ia tiduri.


“Kakak yang minta maaf sama kamu,” jawab Alan.


Meskipun ia marah pada Kevin, tetapi Alan tetap tidak terima melihat adiknya terluka.


Ia ingin langsung bertanya pada Kevin, siapa dan bagaimana dia bisa terluka sampai separah ini. Melihat adiknya yang semula bermandikan darah, Alan begitu takut jika nyawa dia tidak dapat terselamatkan..


‘Gue pikir tadi gue mati,’ batin Kevin dengan mata terpejam.

__ADS_1


***


__ADS_2