
Selama dua hari kebelakang, Galang memutuskan untuk lembur dan mengurangi waktu tidurnya. Demi menuruti keinginan Anggita yang ingin pulang dalam waktu tiga hari setelah pembicaraan mereka.
“Akhirnya janji kita terpenuhi hari ini,” ucap Galang mengulas senyum lebar setelah menutup panggilannya bersama Citra dan Farah.
Meskipun terasa berat, ia berusaha untuk tidak menuruti keegoisannya sendiri, yang kemungkinan besar akan membuat Anggita mendapat masalah bersama kekasih dan keluarga kekasihnya.
Ia pun semakin mempercepat segala urusannya. Beberapa file dokumen yang belum sempat ia presentasikan, ia kirim pada orang kepercayaannya. Karena ia masih terus berusaha untuk mengembangkan perusahaannya dalam berbagai bidang.
Setelah matanya terasa lelah, Galang memutuskan untuk istirahat sejenak. Jemari tangannya membuka laci meja dan mengeluarkan selembar kertas yang ia simpan dengan rapi. Dibukanya lagi surat pengakuan Anggita yang telah sekian tahun gadis itu buat.
“Berapa lama pun waktu yang kamu buat untuk memastikan jika ini cuma sekadar surat masa lalu, yang kamu anggap cinta pertama yang sudah kandas dan habis tidak tersisa, selama itu juga aku akan tetap percaya dengan tulisan kamu ini, Anggita,” ujar Galang mengusap lembut kertas tersebut.
Kertas itulah yang membuat ia kembali bersemangat, dan tetap fokus dalam menjalankan semua rutinitas yang ia lakukan sekarang. Kertas yang menjadi obat dan pelipur laranya ketika lelah dengan pekerjaan dan kehidupan yang sekarang mereka jalani.
***
Setelah kembali ke rumah, Anggita menunggu Galang pulang. Namun pria itu tidak kunjung datang saat jam yang ada di ruang santai telah menunjukkan pukul delapan malam.
“Apa dia lagi banyak kerjaan?” tanya Anggita berusaha untuk tetap menunggu Galang pulang.
“Tumben Kakak belum tidur,” ujar Ana berjalan ke arah Anggita.
“Nggak papa. Kamu udah mau tidur?” tanya Anggita menatap Ana dan menggeser duduknya.
“Tadinya sih iya. Sebelum lihat kakak duduk di sini sendirian,” jujur Ana.
“Kalau kamu mau tidur, tidur aja,” kata Anggita tidak ingin menganggu Ana, ditambah ia tidak ingin wanita di hadapannya kelelahan.
“Kakak belum jawab pertanyaan aku, lho,” ucap Ana mengabaikan perkataan Anggita sebelumnya.
“Kakak nunggu Kak Galang?” terka wanita itu.
“Aku nebak aja lho. Soalnyakan kak Alan ada di kamarnya. Cuma kak Galang aja yang belum pulang,” jelas gadis itu.
Anggita mengangguk pelan. “Ada yang mau saya bicarain sama dia,” jujur Anggita dengan suara pelan.
Ana mengulas senyum hangat, ia senang karena Anggita masih berkenan untuk dekat dengan kakaknya, meskipun status mereka sudah menjadi mantan.
“Dia nggak usah Kak Anggita tungguin. Yang ada nanti Kakak tidur di sini,” suruh Ana diiringi tawa lirih.
“Memangnya kenapa? Apa dia nggak pulang?” tanya Anggita penasaran.
__ADS_1
“Eng, sebentar. Aku coba hubungi dia ya,” ucap Ana mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Galang.
“Eh, nggak usah.” Anggita menahan tangan Ana, mencegah gadis itu untuk menghubungi kakaknya.
“Nggak papa. Aku cuma nanya aja dia pulang jam berapa, biar Kakak nggak kelamaan nunggu,” lontarnya menurunkan tangan Anggita dengan lembut.
Anggita mengangguk pelan. Membiarkan Ana menghubungi Galang.
“Halo,” sapa Ana setelah panggilannya terhubung.
“Kak Galang pulang jam berapa?” tanya gadis itu langsung.
“Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Atau perut kamu sakit? Mau kakak hubungi dokter untuk ke rumah?” berondong Galang membuat Ana memutar bola matanya.
Anggita hanya diam menyimak, mendengarkan percakapan antara Ana dan Galang.
“Aku nanya kakak pulang jam berapa, kok jadi panjang ngomongnya,” gerutu gadis itu.
“Karena kamu tanya kakak pulangnya kapan itu, yang buat kakak mikir kamu kenapa-kenapa,” papar Galang.
“Aku nggak kenapa-kenapa. Aku baik-baik aja, kok,” jujur Ana.
“Besok pagi. Kamu tidur aja, nggak usah nunggu kakak. Barang-barang kamu sudah beres semuakan? Besok kita berangkat sekitar jam sembilan,” urai Galang.
“Oh, oke deh. Kakak jangan sampe drop ya. Aku nggak mau kakak kenapa-kenapa,” peringat Ana justru disambut derai tawa oleh Galang.
Setelah mengakhiri perbincangannya, Ana menatap Anggita dengan tatapan rasa bersalah.
“Kakak istirahat aja ya. Kak Galang nggak pulang hari ini,” pintanya.
“Dia lagi sibuk banget ya?”
Ana hanya mengangguk pelan. “Besok kita bisa berangkat. Sekitar jam sembilan kata Kak Galang tadi,” ungkap Ana.
“Kalo gitu aku naik dulu ya, Kak,” pamit Ana mengusap lembut pundak Anggita sebelum berjalan menaiki tangga.
Sesekali ia berhenti melangkah, menoleh ke belakang melihat Anggita yang masih bergeming di tempatnya.
Anggita masih termanggu, sedikit kecewa karena ia tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Galang sekarang.
‘Apa dia ngehindar dari aku ya?’ tanyanya dalam hati.
__ADS_1
“Tapi kenapa? Harusnya aku biasa aja. Kan memang harusnya kami begitu,” sanggahnya lagi.
Karena tahu penantiannya akan sia-sia, Anggita beranjak dari sofa dan pergi menuju kamarnya. Namun ia tetap tidak dapat istirahat, sampai Jihan terbangun dan mendapati dirinya masih terjaga.
“Kakak kenapa belum tidur?” tanya Jihan beranjak mendekati kakaknya.
“Nggak papa, kamu kok bangun?” jawab Anggita dengan wajah teduh.
“Nggak papa juga, Kak,” jujur Jihan menyengir lebar karena ia mengikuti jawaban kakaknya.
“Kamu nggak marah lagikan sama kakak?” tanya Anggita.
Setelah ia menjelaskan semuanya pada Jihan, adiknya tampak menjadi pendiam dan tidak terlalu banyak merespon ucapannya.
Jihan menggeleng pelan. “Tapi Kak Galang baik-baik aja, Kak?”
Gadis itu terlalu mencemaskan Galang. Ia tidak ingin kembali jauh dengan Galang setelah bertahun-tahun merindukan pria itu.
‘Ternyata kamu mikirin dia ya?’ batin Anggita.
“Ya, dia baik-baik aja,” jawab Anggita sekadar untuk menenangkan Jihan. Kendatipun Anggita mengatakan jika Galang baik-baik saja, Jihan yakin semua itu bohong. Galang hanya berusaha terlihat baik-baik saja.
“Besok kita berangkat,” ucap Anggita.
“Beneran, Kak? Jadi Jihan masuk sekolahnya tepat waktu, dong?” Raut muka gadis itu kembali sumringah.
“Iya, Sayang. Sekarang kamu tidur lagi ya, biar besok bangunnya nggak kesiangan,” ajak Anggita menuntun Jihan untuk kembali berbaring.
Ia mendekap adiknya dengan erat, berharap mereka dapat kembali terlelap.
***
Pukul lima pagi, Galang benar-benar baru selesai memeriksa semua laporan yang ada di atas mejanya. Keuntungan perusahaan terus meningkat, dan ia memutuskan untuk melebihkan gaji karyawan perusahaan bulan ini, dan meminta orang kepercayaannya untuk menaikkan gaji karyawan yang rajin dan berdedikasi besar dalam hal mengembangkan perusahaan, terutama bagian divisi pemasaran yang sudah bekerja keras untuk memasarkan produk buatan mereka sampai ke mancanegara.
“Akhirnya selesai juga,” hela Galang.
Ia memutuskan untuk segera pulang. Jalan raya masih cukup lenggang saat ia pulang, sehingga tidak butuh waktu lama untuk tiba di rumah. Karena sudah dipastikan ia akan pulang larut, Galang telah membawa kunci pintu utama agar tidak menganggu orang rumah dengan membangunkan mereka.
“Kamu beneran baru pulang?”
***
__ADS_1