
“Nggak bisa, Sayang. Tangan kakak lagi kotor ini,” tolak Anggita seraya menunjukkan tangannya yang masih penuh dengan adonan donat.
“Ya udah, kalo gitu biar Jihan yang suapin Kakak. Kan selama ini Kakak sering nyuapin Jihan,” putus Jihan bangkit dari tempat duduknya dan langsung mengambil nasi.
Karena adiknya terus bersikap keras kepala, Anggita pun akhirnya mengalah. Membiarkan Jihan menyuapinya dan ia terus melanjutkan pekerjaannya.
Setelah hampir seharian penuh mereka berkutat di dapur, akhirnya separuh dari pesanan dari orang yang memesan donat dalam jumlah banyak tersebut, sudah terkumpul setengah.
“Sisanya kakak kerjain besok,” kata Anggita sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang tidur.
“Mau Jihan bantuin juga nggak besok, Kak? Kita bisa bangun lebih cepet,” usul Jihan seakan tidak ada merasa lelah.
Sayang, Anggita kembali menolak bantuan adiknya. “Besok, kalo kamu mau bangun lebih pagi, mendingan kamu belajar ya,” saran Anggita sembari mengusap rambut Jihan, kebiasaan Anggita yang membuat Jihan merasa sangat disayangi oleh kakaknya, karena Anggita selalu memperlakukannya dengan lembut.
Meskipun sang kakak sudah kembali bersikap normal padanya, Jihan tetap tidak berani untuk membahas atau menyebut nama Galang sekarang, ditambah kakaknya sudah terlihat sangat kelelahan.
***
Keesokan hari, wanita yang sebelum memesan kue dalam jumlah banyak tersebut pun kembali menghubungi Anggita.
“Oh iya, kuenya sudah selesai, Mbak,” jawab Anggita cepat.
Ia kemudian memberikan nomor rekeningnya lewat pesan teks. Hanya selang beberapa detik, sejumlah uang dengan nominal yang ia sebutkan sudah masuk ke dalam rekeningnya.
“Bagaimana, Mbak? Uangnya sudah terkirim, ‘kan?” tanya wanita itu pada Anggita.
“Iya, sudah, Mbak. Terima kasih, semoga puas dengan makanannya ya,” jawab Anggita dengan wajah sumringah.
Ia kemudian menunggu orang yang dikirimkan oleh pembelinya di depan rumah, hingga sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan kontrakannya.
“Semuanya sudah pas, Pak?” tanya Anggita pada supir mobil tersebut, yang menurutnya merupakan salah satu karyawan dari perusahaan yang menghubungi dirinya.
“Sudah, Buk. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap sang pengemudi hendak berjalan memasuki mobil.
__ADS_1
“Eh, sebentar, Pak,” kata Anggita mengambil sekotak kue yang telah ia siapkan.
“Ini untuk Bapak, mohon diterima ya, Pak,” ujar Anggita memberikan sekotak kue tersebut pada beliau.
“Alhamdulillah, terima kasih, Buk. Semoga jualanannya semakin berkah ya,” jawab sang supir begitu senang mendapat kue gratis dari Anggita.
Anggita pun langsung mengaminkan doa yang beliau ucapkan.
Setelah supir yang menjemput pesanannya pergi, Anggita pun mulai mengemasi beberapa kue yang telah ia buat khusus untuk Ana dan calon buah hatinya.
Gadis itu membuatkan sebuah kue berukuran sedang, dan menghiasnya menjadi sangat indah.
“Semoga aja Ana suka,” harap Anggita sembari memasukkan kue tersebut ke dalam cup kue.
Setelah semua barang yang hendak dibawa telah siap, Anggita pun mulai membuat makan siang untuk dirinya dan Jihan.
“Kita mau ke mana, Kak?” tanya Jihan melihat kakaknya sudah sangat rapi dan wangi.
“Kita mau ke rumahnya Kak Ana. Kamu ikut ya,” ajak Anggita.
Ia pun sudah sangat lama merindukan Ana. Akan tetapi karena kakaknya sedang sangat sibuk dengan bisnis yang baru mereka rintis, Jihan memutuskan untuk memendam rasa rindunya, dan hanya dapat bertukar kabar bersama Ana hanya lewat pesan teks.
“Ayo kita berangkat, Kak,” ajak Jihan sudah siap dengan pakaian terbaiknya.
Setelah mengunci pintu, Anggita dan Jihan berjalan ke luar gang kontrakan mereka, mencari angkot untuk pergi ke kediaman Galang. Saat berada di dalam angkot, sesekali gadis itu melirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya, menghitung berapa lama lagi perjalanan mereka, berapa lama mereka akan berada di sana, dan pukul berapa mereka akan pulang.
Pikiran Anggita terus bekerja dengan keras, sesantai apa pun posisinya sekarang. Meski senyum di bibirnya terus terkembang saat bertatapan dengan sang adik, hatinya sudah gundah gulana, karena takut jika Galang pun berada di rumah.
Namun, setelah mereka sampai di kediaman Galang dan tidak melihat mobil yang biasa dikendarai oleh pria itu, perasaan Anggita pun mulai tenang, karena hari masih cukup siang untuk Galang kembali pulang ke rumahnya.
‘Dia pasti sibuk banget jam segini. Waktu di sana juga dia hampir nggak pulang semalaman,’ batin Anggita berusaha untuk berpikiran positif.
“Ada apa, Kak? Ada yang ketinggalan?” tanya Jihan menyadarkan Anggita dari lamunannya.
__ADS_1
“Ha? Nggak kok,” jawab Anggita kembali melanjutkan langkah mereka.
Dari kejauhan, terlihat seorang wanita dengan tubuh yang terlihat semakin berisi berlari ke arah mereka.
“Eh, jangan lari!” teriak Anggita takut terjadi sesuatu pada Ana yang berlari dari pintu rumah ke arahnya.
Ana yang sudah cukup lama menunggu kedatangan Jihan dan Anggita pun tidak dapat menahan diri. Tidak bertemu mereka selama berminggu-minggu terasa seperti sebulan bagi Ana. Ditambah ia merasa sangat kesepian sejak kembali ke tempat tinggal mereka yang baru.
“Haaa aku kangen banget sama kalian berdua!” ucap Ana langsung mendekap Jihan dan Anggita.
“Jihan juga kangen sama Kak Ana,” jawab Jihan dengan senyum terukir lebar di wajahnya, kedua matanya pun mengecil karena senyumnya yang sangat lebar.
“Kalian naik apa ke sini? Kenapa nggak bilang sama aku? Biar aku bisa minta tolong supir untuk jemput kalian berdua,” celoteh Ana setelah melepaskan dekapannya.
“Naik angkot, Kak,” sahut Jihan.
“Iya, nggak usah repot-repot. Karena saya juga hampir nggak bisa nepatin janji saya hari ini ke kamu,” timpal Anggita.
“Nggak ngerepotin kok, Kak. Kan aku yang minta Kakak sama Jihan untuk datang, nggak ada salahnya kalo aku minta supir untuk jemput kalian,” tutur Ana seraya menggandeng tangan Jihan dan membawanya masuk ke rumah.
“Oh iya, ini untuk Kakak sama calon dedek bayinya,” ujar Jihan memberikan sebuah bingkisan pada Ana.
Wanita yang tengah berbadan dua itu langsung membuka bingkisan yang Jihan berikan padanya saat mereka sudah berada di ruang tengah. Kedua manik mata Ana langsung berbinar melihat kue yang dibawakan oleh Jihan dan Anggita untuk dirinya.
“Kuenya boleh langsung aku potong nggak, Kak?” izin Ana, meskipun kue tersebut terlihat sangat cantik untuk dipotong. Namun, karena penampilannya yang sangat menggugah selera, Ana pun tidak dapat lagi menahan diri untuk segera menyantapnya.
“Boleh. Kan itu kuenya untuk kamu,” jawab Anggita.
“Bik! Tolong bawain pisau, minuman sama makanan ya!” panggil Ana sedikit berteriak.
Tidak lama kemudian, beberapa pelayan datang membawa barang serta makanan dan minuman yang majikannya pesan.
Anggita dan Jihan menghitung beberapa pelayan yang silih berganti menemui mereka di ruang tengah.
__ADS_1
“Semuanya pelayan di rumah ini?” tanya Anggita setelah menghitung ada sekitar tujuh orang pelayan yang ia lihat.
***