
Galang melambaikan tangan. Meminta Anggita untuk mendekat ke arahnya.
“Apa?” tanya Anggita ikut berbisik.
“Bukan Ana. Tapi adikku yang lain,” bisik Galang semakin membuat Anggita gelisah.
“Kamu punya adik selain Ana?” tanya gadis itu dengan polos.
Galang mengangguk pelan. Kemudian menunjuk adik kecilnya yang berada di bawah selimut.
“Ha?”
“Dia yang kesakitan, Laras,” adu Galang semakin membuat wajah Anggita semerah kepiting rebus.
“Iiih Galang!” Anggita memekik tertahan, karena ulah mantan kekasihnya.
Masih pagi buta gadis itu sudah dibuat geregetan oleh Galang sang pemilik rumah.
“Huffh! Ya udah, kamu pergi aja,” suruh Galang mengeluarkan kunci pintu yang berada dalam saku belakang celana, dan memberikannya pada Anggita.
Dengan cepat gadis itu merampas kunci yang Galang berikan. Membukanya dan langsung berlalu dari hadapan Galang.
“Dia beneran gila. Bisa-bisanya dia bilang itu adik dia,” gerutu Anggita sudah sangat malu untuk muncul di hadapan Galang. Di sisi lain ia juga tidak tega membiarkan Galang menahan seorang diri di ruangan sana. Tetapi ia juga tidak dapat menawarkan bantuan. Takut jika permintaan Galang akan lebih gila dari semalam.
Karena tidak bisa tidur lagi, Anggita akhirnya memutuskan untuk mandi, dan turun ke dapur. Membantu para pelayan yang terlihat sudah sibuk memasak.
“Permisi, boleh saya bantu?” tanya Anggita pada salah satu di antara mereka.
“Eh, nggak usah repot-repot, Non. Nanti tangannya kotor lho,” ujar sang pelayan karena berpikir jika Anggita sangat pembersih, karena tangan gadis itu terlihat sangat mulus.
“Nggak papa, Bik. Saya udah biasa masak kok,” jawab Anggita tetap ingin membantu pelayan tersebut.
Karena Anggita memaksa, akhirnya mereka pun mengizinkan Anggita untuk membantu di dapur.
“Euum, aromanya kecium nggak, Bik?” tanya Anggita saat ia sedang mengaduk sop di dalam panci.
“Iya, Non. Wanginya enak banget. Wah, Non Anggita ternyata jago masak ya,” puji para pelayan setelah mencicipi sop buatan Anggita.
“Haha, biasa aja, Bik,” jawab Anggita tersipu malu.
Galang yang baru selesai mandi, turun ke dapur dengan menenteng dua mug bekas minumannya dan Anggita semalam.
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa kalian berisik sekali?” tanya Galang karena biasanya para pelayan memasak dengan hening, dan tidak terlalu banyak bicara.
“Maaf, Tuan,” jawab para pelayan karena berpikir jika majikannya marah karena mereka terlalu berisik.
Pandangan Galang pun jatuh pada seorang gadis dengan pakaian yang berbeda dari para pelayan, sedang memegang centong dan melayangkan tatapan tajam padanya.
“Ada apa, Pak Galang?” tanya gadis itu.
“Siapa yang menyuruh kamu masak?”
“Siapa yang mengizinkan dia masak?” tanya Galang menatap para pelayan.
Melihat para pelayan yang dimarahi, akhirnya Anggita pun menyerahkan masakannya pada pelayan yang berdiri di depannya, dan menarik Galang agar menjauh dari dapur.
“Kenapa sih? Cuma bantu mereka masak aja nggak boleh. Kayak cewek lagi PMS aja pagi-pagi udah marah-marah,” omel Anggita memarahi sang pemilik rumah.
“Kamu?”
“Apa?” balas Anggita melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kamu yang bikin mood aku pagi-pagi berantakan,” desis Galang.
“Aku?” Anggita menunjuk dirinya sendiri.
“Lagian kamu itu tamu di sini. Jadi kamu nggak perlu repot-repot masak atau bersih-bersih, Laras. Kalo tangan kamu kena pisau, atau kena ciprat minyak gimana? Kamu mau aku diomelin pacar kamu, huh?” celoteh Galang terus memarahi Anggita.
“Huh! Kamu pikir aku baru meninjakkan kaki di dapur? Ingat ya Galang Putra Bimantara, aku udah dari kecil kerjaannya memang di dapur kalo pagi. Jadi, nggak usah khawatir atau takut aku kenapa-kenapa,” jawab Anggita tanpa rasa takut sedikitpun.
“Iya, aku khawatir sama kamu. Karena aku nggak mau kamu terluka seujung kuku pun. Ingat itu,” tegas Galang kemudian kembali ke dapur, dan mengingatkan para pelayan untuk tidak mengizinkan Anggita membantu pekerjaan mereka.
“Iiiih! Dasar nyebelin. Aku bosen tahu nggak, nggak ngapa-ngapain di sini,” protes Anggita mengungkapkan kekesalannya.
“Terserah kamu mau ngapain. Tapi jangan dekat-dekat sama benda tajam,” jawab Galang dengan enteng, kemudian meninggalkan Anggita yang sudah mencak-mencak bak orang kerasukan di belakangnya.
“Hufffh!” gadis itu meniup anak rambutnya yang jatuh menutupi mata.
“Bik, saya bantu cicip aja gimana?” pinta Anggita masih enggan untuk beranjak dari dapur Galang yang begitu mewah dan besar. Jiwa kokinya, meronta-meronta melihat peralatan masak Galang yang sangat lengkap, serta bahan masakan mulai dari sayur mayur sampai bahan membuat kue pun sangat lengkap.
“Duh, mending jangan, Non. Nanti Tuan Galang makin marah sama kita,” tolak kepala pelayan.
“Yaah. Ya udah, kalo gitu saya tinggal ke depan ya, Bik,” pamit Anggita dengan berat hati.
__ADS_1
“Pagi, Sayang,” sapa Alan yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Eh, kamu tumben cepet banget bangunnya?” tanya Anggita karena tidak biasanya Alan bangun sepagi ini.
“Mungkin karena aku tidur cepat. Nggak enak juga tamu bangun siang,” jawab Alan.
Anggita mengangguk setuju. Akhirnya ia pun mengajak Alan untuk melihat orang-orang dekorasi yang mulai bekerja.
“Kamu kenapa tidurnya di lantai dua?” tanya Alan saat mereka sedang berdiri di dekat tangga.
“Ha? Oh itu, Ana yang minta,” kilah Anggita tidak ingin mengatakan jika Galang lah yang mengatur semuanya.
“Memangnya dia kenapa?”
“Biar terpisah, dan menghindari hal yang tidak diinginkan. Lagi pula Jihan sama Ana tidur di kamar atas,” jawab Galang mewakili Anggita.
Gadis itu hanya diam. Menurutnya biarlah Galang menjelaskan sendiri kenapa kamar mereka dibedakan.
“Kalau mau khilaf juga orang waras pasti pilih-pilih tempat,” celetuk Alan merasa jika Galang mengawasi dirinya.
“Kamu tahu? Belum sah saja, mereka sering berusaha curi-curi kesempatan,” bisik Galang yang kerap memergoki Kevin dan adiknya berusaha untuk berduaan.
“Serius kamu?” tanya Alan menatap Galang.
Galang menatap Anggita dan memberi kode agar gadis itu menghilang dari pandangannya.
“Apa?”
“Ini pembahasan khusus laki-laki. Perempuan nggak boleh ikutan,” lontar Galang terang-terangan mengusir Anggita.
“Sayang, kamu panggil Jihan sama Ana aja dulu ya. Aku mau ngomong berdua sama Galang,” ujar Alandengan lembut.
“Ya udah. Jangan ngomong aneh-aneh lho,” pesan Anggita pada kekasihnya dan mendelikkan mata pada Galang.
Sedang pria itu hanya mengedipkan sebelah matanya. Mengoda Anggita yang cemas jika Galang akan menceritakan, apa yang terjadi semalam pada mereka berdua.
“Waktu dalam perjalanan ke sini. Saya biarkan mereka duduk bersampingan, biar Ana bisa tenangin dia. Tapi sekalinya sudah sampai mereka sengaja ingin umbar kemesraan,” terang Galang.
“Bener-bener tuh anak. Harus dikasih pelajaran lagi,” geram Alan setelah mengetahui sifat adiknya yang bar-bar.
“Eitss! Jangan. Udah biarin aja. Besok sudah mau hari H. Jangan buat wajah dia memar-memar,” larang Galang saat Alan hendak menghampiri adiknya.
__ADS_1
“Mereka nggak sampai kebablasan lagi, ‘kan?”
***