The Last Love

The Last Love
Semua Telah Selesai


__ADS_3

Anggita mendelikkan mata. “Nggak ada yang perlu dibahas,” ucap gadis itu terus berusaha melepaskan genggaman tangan Galang yang semakin kuat.


“Kamu tahu kenapa kita dipertemukan lagi? Itu karena kita belum selesai, Laras,” jawab Galang dengan sorot mata yang begitu dalam.


Ada luka dan bahagia saat melihat Anggita kembali muncul di depan matanya.


“Kalau memang selama ini kamu nggak cinta sama aku, kenapa kamu buat aku ngerasa kalo kamu mencintai aku? Kenapa kamu natap aku dengan penuh perasaan, dan bibir kamu terus tersenyum saat kamu bersama aku? Kenapa kamu nggak langsung nolak aku dari awal?” berondong Galang menanyakan semua pertanyaan yang selama ini menganggunya.


“Apa kamu lupa jawaban aku waktu itu?” tanya Anggita dengan mata nyalang.


“Satu kata pun yang terucap dari bibir kamu, aku nggak lupa, Laras,” jawab Galang mengingat semua kata yang pernah Anggita ucapkan padanya.


Setelah sekian tahun, akhirnya panggilan itu kembali menyapa indera pendengaran Anggita.


“Waktu aku di rumah sakit, kamu jenguk aku?”


“Nggak. Bahkan aku nggak tahu kalo kamu masuk rumah sakit. Aku nggak peduli dengan semua itu.”


Kejam. Anggita pun begitu sakit mendengar kata-katanya sendiri.


“Haha. Ternyata aku yang terlalu berharap lebih sama kamu. Aku benci kamu Laras Anggita. Aku benci sama diriku sendiri, yang sudah tulus dengan perempuan kejam seperti kamu,” ujar Galang dengan sorot mata kecewa.


Ia tidak menyangka, walaupun mereka berpisah bertahun-tahun, jawaban Anggita tetap tidak berubah.


“Berarti aku cuma berhalusinasi aja, dengar suara kamu manggil aku,” ucapnya seraya melepaskan genggaman tangannya pada Anggita.


“Kamu tahu alasan aku bangun? Itu semua karena aku lihat kamu terus manggil dan minta aku untuk buka mata. Tapi ternyata semua itu cuma untuk buat aku lihat, betapa kejamnya dan jahatnya hati perempuan yang aku cinta.”


“Hampir tiap malam aku mimpi kalau aku akan ketemu sama kamu, dan kita bisa kembali sama-sama, dan harapan itu semakin besar setelah orang tua aku meninggal. Kemudian semua itu dipatahkan dengan kedatangan kamu belain laki-laki itu. Aku pikir itu bukan kamu, aku pikir cuma nama kalian yang sama. Tapi ternyata aku salah. Orang itu sama, orang yang sama dengan yang meninggalkan aku, setelah aku kabur dari rumah sakit cuma untuk lihat keadaan dia. Kamu nggak akan pernah tahu gimana beratnya aku jalani hari, tanpa kamu dan Denis,” ungkap Galang perlahan mundur dan berbalik meninggalkan Anggita.


“Iya, aku memang perempuan yang sangat kejam Galang. Jadi, berhenti untuk mencintai aku dengan tulus. Karena aku nggak pantes untuk dapetin ketulusan kamu,” balas Anggita menatap punggung Galang yang semakin jauh dari pandangannya.


‘Kamu juga nggak tahu gimana beratnya aku ngelepasin kamu, dan berjuang untuk kesembuhan Jihan. Aku tersiksa setiap aku harus mengubur dalam-dalam perasaan aku. Aku menderita tiap kali aku cuma bisa nangis dan berdoa untuk kamu saat aku mati-matian menahan rindu ke kamu,’ batin Anggita dengan air mata mengalir membasahi wajahnya.


***


Galang terus melangkahkan kakinya keluar dari butik. Pergi tanpa arah dan tujuan, hingga manik matanya menangkap sosok gadis dengan seragam biru putih berjalan seorang diri.

__ADS_1


“Adik Cantik!” panggil Galang menurun kaca mobilnya.


Manik mata Jihan berbinar, tetapi ada keraguan di dalamnya. Ia ragu untuk menyapa Galang dengan panggilannya dulu.


Galang menghentikan mobilnya, dan berjalan menghampiri Jihan.


“Kamu mau pulang? Biar kakak antar ya,” tawarnya.


“Nggak usah, Kak. Aku jalan aja,” tolak Jihan.


“Kenapa? Kakak kamu ngelarang kamu untuk deket sama kakak?” tanya Galang.


Jihan kembali menggeleng, kemudian mengangkat kepala menatap Galang.


“Kakak masih inget aku?” tanyanya dengan polos.


Mendengar pertanyaan Jihan, Galang tergelak. Sejak tadi ia dirundung sedih, dan sekarang Jihan berhasil menghiburnya dengan satu pertanyaan konyol.


“Hampir,” jujur Galang tersenyum lebar.


“Habisnya kamu beneran tambah cantik. Sama kayak panggilan kakak ke kamu dulu,” jawabnya.


Manik mata Jihan kembali berbinar setelah mengetahui jika Galang tidak melupakan dirinya.


“Mana mungkin kakak lupa sama kamu. Ayo masuk. Di sini panas,” ajak Galang.


Jihan pun mengangguk dan berjalan memasuki mobil Galang. mereka pergi menuju sebuah kafe, karena keduanya sama-sama belum makan siang.


“Gimana sekolah kamu?”


“Alhamdulillah lancar, Kak. Aku aja nggak percaya kalo aku bisa sekolah lagi,” jawab Jihan mengingat perjuangan Anggita untuk meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja, dan tidak akan ada yang menyakitinya.


Laju mobil Galang berubah melambat, ia menoleh ke arah Jihan.


“Maksud kamu?”


“Ceritanya panjang, Kak,” jawab Jihan tidak ingin menganggu konsentrasi Galang saat mengemudi.

__ADS_1


Sesampainya di kafe, seraya menunggu makanan yang mereka pesan tiba, Galang meminta Jihan untuk menjelaskan semuanya.


“Waktu itu aku baru pulang sekolah. Terus tiba-tiba ada orang masuk, dan bawa aku pergi,” ucap Jihan.


Galang menunggu Jihan untuk melanjutkan ceritanya. Namun gadis itu justru tetap diam dalam waktu yang lama.


“Kamu nggak percaya sama kakak? Atau kakak kamu ngelarang kamu untuk ngomong sama kakak?”


“Nggak. Aku sendiri susah untuk mau ceritain ini sama kak Anggita,” jujur Jihan, karena jika ia menceritakan semua yang ia alami selama kurang lebih tiga hari, sama saja dengan membuatnya mengingat hari-hari penuh ketakutan dan kengerian itu.


“Aku disekap. Di siksa, sampe aku denger suara kak Anggita manggilin aku,” ucap Jihan mempersingkat ceritanya.


“Terus apa yang terjadi sama kalian?”


“Kak Anggita berhasil nemuin aku, dia juga luka-luka. Malam itu aku denger suara kakak,” jujur Jihan menatap Galang dengan mata berkaca-kaca.


“Aku mau keluar, tapi aku denger kak Anggita nangis. Itu beneran kakak?” tanya Jihan berusaha untuk mencari tahu semua kebenarannya.


Galang kemudian menyebutkan tanggal dan jam terakhir kali ia bertemu dengan Anggita.


“Iya malam itu. Kakak ribut sama kak Anggita?” tanya Jihan mendekatkan wajahnya.


“Memangnya kakak kamu kenapa malam itu?”


“Kak Anggita nangis semalaman. Tapi aku pura-pura nggak dengar, terus besoknya dia langsung ajak aku pergi. Sebelum itu aku lihat ada kertas di atas meja. Ada nama kakak di sana. Kertas itu aku umpetin di bawah kasur,” jawab Jihan.


“Sekarang kak Anggita sering nangis lagi.”


Galang semakin tercengang mendengar penjelasan Jihan, dan semakin terkejut setelah mengetahui jika Anggita bekerja keras untuk penuhi kehidupan mereka, serta mengobati Jihan yang mengalami trauma pasca kejadian itu.


“Pasti ada sesuatu yang terjadi selama aku nggak sadarkan diri,” lirih Galang.


“Ya udah, sekarang kita makan ya. Habis itu kakak antar kamu pulang. Jangan bilang kalo kamu ketemu sama kakak ya,” pesan Galang.


Ia tidak ingin Anggita kembali pergi darinya, sebelum ia melihat kertas yang Jihan sebutkan ada namanya.


“Aku akan temukan surat itu secepatnya,” janji Galang pada dirinya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2