
Setelah mendapat izin dari Galang, Anggita pun berkata ingin mengajak Alan beserta orang tuanya, karena ia mendengar dari kekasihnya itu jika mereka juga tidak terlalu sering berkunjung ke kediaman Galang.
“Kalau begitu, berarti kamu nggak keberatan, ‘kan orang tua Kevin dan kakaknya ikut datang ke sini?” tanya Anggita meminta pendapat Galang.
Karena Ana mengatakan jika ia merasa kesepian di rumah besar tersebut, Anggita pun memiliki inisiatif lain agar wanita itu merasa rumahnya ramai.
Mau tidak mau, akhirnya Galang pun menyetujui permintaan Anggita, karena ia sudah terlanjur memberikan izin pada wanita itu. Ditambah ia juga mengatakan jika banyak kamar tamu yang tidak tempati, maka tidak ada alasan untuk Galang menolaknya.
Kedua kakak beradik itu saling bertukar pandang, padahal Galang sedang mencari waktu yang tepat untuk meyakinkan Anggita perihal cinta mereka. Ana pun hanya dapat memejamkan mata dan tertunduk dalam.
“Gimana nanti kalo sama mereka aku nggak boleh tidur sama Kak Anggita?” cicitnya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kevin saat tiba-tiba kepala istrinya menunduk.
Cepat-cepat Ana mengangkat kepala dan tersenyum ke arah suaminya.
“Nggak papa. Ayo kita makan lagi,” ajak Ana mengakhiri topik pembicaraan mereka.
Usai makan malam, di hadapan Galang dan keluarganya, Anggita menghubungi Alan.
“Iya, Ana minta aku menginap di sini. Kamu sama orang tua kamu mau nginep di sini juga? Ana kangen suasana di rumah lamanya yang waktu itu,” jujur Anggita.
“Sebentar, aku tanya Ibu sama Bapak dulu ya. Kalo mereka nggak bisa, aku aja yang ke sana,” jawab Alan.
“Ya udah, nanti kamu kabarin aku aja ya,” balas Anggita sembari mengakhiri panggilan mereka.
“Gimana, Kak?” tanya Ana menatap Anggita.
Anggita pun menjelaskan jawaban yang diberikan Alan padanya.
“Jadi, kalo mereka nggak bisa, Kak Alan yang bakalan ke sini?” tanya Kevin.
“Iya, mungkin dia juga kangen sama adik dia,” jawab Anggita tersenyum hangat.
Meskipun perhatian Alan pada Kevin tidak terlihat jelas, ia sangat yakin jika pria itu juga mengkhawatirkan keadaan adiknya, dan ingin tahu perkembangannya selama tinggal bersama Galang.
Rencana yang telah Ana susun untuk sang kakak, gagal total ketika Alan memberi kabar jika dia sekeluarga akan ikut menginap di kediaman Galang.
“Kak, sorry. Aku nggak tau kalo endingnya bakalan gini,” ujar Ana merasa bersalah.
Galang yang tengah menatap layar monitor di hadapannya mengalihkan pandangan pada wanita hamil yang kini berdiri di seberang meja kerja.
__ADS_1
“Duduk, nanti kamu capek kalo berdiri lama-lama,” suruh Galang melirik kursi tak berpenghuni di depan Ana.
Ana menggeleng. Sedih karena telah membuat kakaknya kecewa atas rencana yang dia buat.
Melihat adiknya bergeming, dengan tangan saling bertautan serta kepala tertunduk. Ana terlihat seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan besar hingga membuat orang tuanya marah.
Galang menghela napas panjang. Ia lalu beranjak dari kursi kerjanya hingga menimbulkan suara decitan dari roda yang bergerakan dengan lantai keramik di bawahnya. Ragu-ragu, Ana sedikit mengangkat kepala dan menatap gugup sang kakak yang berjalan mendekat.
Galang mengenggam kedua pundak Ana dan menuntun adiknya untuk duduk di kursi, sedang dirinya setengah berjongkok tepat di hadapan Ana.
“Kamu nggak perlu ngerasa bersalah gitu. Wajar, karena dia memang jaga jarak sama kakak. Jadi, mungkin usaha kakak harus lebih maksimal. Satu hal yang nggak kalah penting adalah kamu nggak ngerasa kesepian karena suasananya rame dan sama seperti di rumah lama kita,” urai Galang seraya mengusap punggung tangan Ana.
Wanita yang tengah hamil muda tidak dapat menahan cairan yang ini menggenang di pelupuk matanya. Namun, Galang yang melihatnya langsung menyuruh dia agar tidak menangis.
“Sekarang kamu istirahat. Kevin juga tadi udah izinin kamu untuk tidur bareng Anggita, Jihan, sama Tante Ratih. Jangan bikin mereka nunggu, nanti mereka mikir yang nggak-nggak,” ajak Galang lalu bangkit dan mengacak rambut Ana.
Hal itu sukses merubah raut muka bersalah Ana menjadi marah. “Rambut aku jadi acak-acakan, Kak!” geram Ana kesal.
Bukan minta maaf, Galang justru tergelak dan menarik pelan kedua pipi Ana yang semakin tembam.
“Aku habis pake skincare, Kak,” ejeknya sebelum Ana bicara.
***
Denting suara jam dinding yang terus berdetak menemani Anggita yang masih terjaga, saat ketiga perempuan di sisinya mulai menyelami alam mimpi.
Ia menatap Bu Ratih yang tidur di sisi kanan ranjang, lalu Ana dan Jihan berada di tengah. Sedang dirinya berada di sisi kiri. Ranjang tidur king size itu terisi penuh oleh mereka berempat.
Pikiran Anggita kembali berkelana pada perbincangannya bersama Bu Ratih beberapa jam lalu. Ketika Ana dan Jihan pergi untuk mengambil camilan ke dapur.
“Jangan lama-lama ya, Nak baru kamu dan Alan menikah,” ujar Bu Ratih hanya mampu Anggita balas dengan seutas senyum.
Tidak ingin memberi harapan dengan menyebut berapa lama lagi mereka akan menikah, Anggita hanya menjawab, “Kami usahakan secepatnya, Bu.”
Semakin lama, pikiran untuk menikah kian menjauh dari ingin dan tujuannya. Seiring bertambahnya waktu, rasa itu tidak lagi menggebu seperti dulu.
***
Keesokan hari Anggita memutuskan untuk kembali. Membiarkan Alan beserta keluarganya tetap menginap di sana dengan waktu yang mereka tentukan sendiri.
“Kenapa kita cepet banget pulangnya, Kak?” tanya Jihan saat mereka tiba di kontrakan.
__ADS_1
“Karena kamu besok harus sekolah, terus kakak juga harus jualan,” jawab Anggita seadanya.
Bagi Anggita tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, dan usahanya baru saja dirintis. Pesanan seratus kotak donat pun tidaklah langsung membuatnya berbangga hati, sebab pencapaian yang ingin ia raih belum tergapai.
“Nanti pelanggan kita lari kalau kakak banyak libur,” kata Anggita saat Jihan merasa jika kakaknya terlalu memaksakan diri.
“Nggak papa kita sekarang capek dan susah, semoga nanti kita bisa punya toko sendiri, dan bisa bantu orang lain untuk cari pekerjaan,” lanjut Anggita.
Jihan mengangguk polos. Berjanji dalam hati kecilnya jika dia akan menjadi sosok yang penuh semangat dan pantang menyerah seperti yang kerap Anggita lakukan.
Semakin hari, pesanan kue yang Anggita terima kian meningkat. Uang pemberian mendiang papa Galang pun sudah terlunasi, dan kini Anggita mulai menabung untuk membuat toko sendiri.
Di samping itu, Anggita tak langsung merasa puas dengan hasil yang ia dapat. Seolah tidak ada waktu untuk berleha-leha, wanita yang mulai beranjak dewasa itu mencoba untuk mengembangkan bakat menulisnya.
“Kakak ngapain? Fokus banget,” ujar Jihan saat mendapati kakaknya begitu serius mengetik di ponsel dan hampir tidak berkedip.
Anggita terkesiap, baru sadar jika Jihan sudah berada di sisinya dengan tangan memegang sebungkus tepung terigu.
Alih-alih terkejut, Anggita justru mengulas senyum dengan raut muka jenaka. Membuat Jihan yang berada di dekatnya semakin heran dan bertanya-tanya.
‘Kenapa Kak Anggita senyumnya aneh gitu?’ tanya Jihan membatin.
“Kamu tunggu di rumah sebentar ya. Kakak ada urusan di luar. Bentar aja, kok,” izin Anggita memegang kedua pundak adiknya.
Tidak lagi menunggu jawaban sang adik, Anggita lebih dulu bangkit dan menyambar cardigan juga tas selempang yang tergantung di balik pintu.
“Pintunya jangan lupa dikunci ya, Sayang!” seru Anggita sebelum benar-benar pergi dari kontrakan dengan langkah ringan.
Tak perlu menaiki angkutan umum. Cukup berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit, Anggita telah tiba di sebuah warnet yang biasa dikunjungi oleh para pelajar untuk mengerjakan tugas, atau sebatas main game saja.
“Pak, masih ada komputer yang kosong nggak?” tanya Anggita pada penjaga warnet.
Pria bertopi terbalik itu mengangkat kepala dan menunjuk komputer bagian ujung kanan yang tidak berpenghuni.
Dengan wajah berseri, Anggita mulai berkutat dengan ponsel yang ia hubungkan pada monitor di hadapannya.
“Bismillah, semoga semua lancar,” rapal Anggita lirih.
Dengan senyum merekah, sebuah kisah indah mulai ia susun dan rapikan membentuk sebuah cerita yang apik dan menggugah hati.
Sebuah kisah berjudul “Arti Penantian dan Sebuah Penerimaan” Anggita salin dan cetak hingga membentuk lembaran tebal hampir menyentuh seratus halaman
__ADS_1