The Last Love

The Last Love
Surat Rahasia


__ADS_3

Tak lupa Galang memesan makanan untuk dibawa pulang oleh Jihan, agar dia dan Anggita dapat menikmati makanan tersebut bersama jika kakaknya sudah pulang.


***


“Lho, Kak Galang mana, Kak?” tanya Ana saat melihat Anggita kembali seorang diri.


“Nggak tahu. Bukannya tadi dia ada di sini?” ujar Anggita menatap sofa yang semula diduduki oleh Galang.


Baru saja Ana hendak menjawab, ponsel dalam genggamannya sudah lebih dulu bergetar. Sebuah pesan dari Galang yang mengatakan jika ia ada urusan mendadak, sehingga tidak semapat untuk berpamitan.


“Oh, dia lagi ada urusan, Kak,” ujar Ana dengan perasaan lega.


Akhirnya Kevin dibantu oleh pegawai butik untuk memilih jas yang cocok dan serasi dengan gaun pengantin yang Ana kenakan. Semua ada tiga macam gaun dan jas. Karena Anggita khawatir jika terlalu banyak bertukar pakaian, Ana akan kelelahan dan dapat membayakan janin yang ada dalam kandungan gadis itu.


Usai memilih pakaian pengantin untuk kedua mempelai, mereka pun kembali ke rumah masing-masing menggunakan taksi.


“Aku itu heran sama Kak Galang. Banyak cewek yang mau sama dia, tapi dia kayak nggak ada tertarik-tertariknya sama cewek,” ujar Ana mulai bercerita pada Anggita.


“Nggak tahu deh, seistimewa apa perempuan yang udah buat dia jatuh cinta, sampe nutup hati dia selama ini,” lanjutnya lagi.


Anggita hanya diam mendengarkan. Namun, hatinya justru bertalu-talu, seakan ada genderang di dalamnya.


“Memangnya dia pernah jatuh cinta?” tanya Anggita dengan suara rendah.


“Pernah, waktu dia sekolah dulu. Karena itu aku disuruh pulang untuk temenin dia, biar dia nggak kesepian,” ungkap Ana semakin membuat hati Anggita terasa pilu. Ia tidak tahu bagaimana beratnya Galang menjalani hari-harinya itu. Karena ia pikir kehidupan laki-laki itu akan lebih baik setelah ia pergi.


Ia bahkan tidak tahu kalau Galang memiliki seorang adik perempuan. Mungkin karena hubungan mereka masih belum terlalu lama, kurangnya waktu untuk bersama, serta keberadaan Ana yang jauh darinya.


“Lalu, bagaimana kalian bisa sampai di kota ini?”


“Setelah papa dan mama meninggal karena kecelakaan itu, kak Galang mutusin untuk pindah ke sini, dan urus cabang perusahaan yang baru buka di kota ini,” jawab Ana.


Perlahan raut muka gadis itu berubah sumringah setelah sejak tadi ia bercerita dengan wajah murung.


“Kevin datang dalam hidup aku, dan buat aku nggak ngerasa kesepian,” ucapnya membuat Kevin yang sejak tadi diam di bangku depan, langsung menoleh ke belakang.

__ADS_1


“Kalian ngomongin aku ya?” tanyanya dengan galak.


“Kepedean. Memangnya nggak boleh?” balas Ana meraup muka Kevin.


“Nggak. Kamu pasti jelek-jelekin aku ya?” tuduh Kevin sebatas bercanda.


“Memang wajah kamu jelek kok,” jawab Ana menjulurkan lidah mengecek calon suaminya.


Melihat perdebatan kecil di antara mereka, tanpa sadar membuat Anggita tersenyum saat mengingat bagaimana hubungannya bersama Galang dulu mirip dengan mereka.


“Udah-udah, nggak boleh berisik, nanti pak supirnya nggak konsentrasi,” tegur Anggita melerai keduanya.


“Kevin, sudah,” ucap Anggita dengan tegas.


“Dia duluan, Kak,” tudingnya pada sang calon istri.


“Eeeh, kamu aja yang kegeeran,” balas Ana tak mau kalah.


“Sudah-sudah, nanti aja lanjutinnya, kalo udah di rumah,” tukas Anggita memegangi kedua tangan Ana yang hendak memukul kepala Kevin.


“Ana, ingat kandungan kamu,” bisik Anggita mengingatkan.


Sesampainya di kediaman Ana, mereka berujung saling mengucapkan salam perpisahan dan saling meminta maaf.


“Aku pulang dulu ya. Kamu hati-hati di rumah. Kalo aku udah di rumah, aku hubungi kamu,” pesan Kevin sebelum kembali masuk ke mobil.


“Iya, aku tunggu kamu hubungi aku,” jawab Ana kemudian melambaikan tangannya.


Baru saja ia sampai di rumah, tidak lama kemudian kakaknya pulang.


“Ana, kakak ada urusan penting di kota tempat kita tinggal dulu. Kamu hati-hati di rumah ya. Kakak juga udah panggil beberapa orang untuk jagain kamu,” ujar Galang menatap adiknya.


“Memangnya urusan apa, Kak? Aku nggak boleh ikut?”


“Nggak. Kamu di sini aja dulu. Nanti sekalian kakak urus acara pernikahan kamu sama Kevin di sana. Acaranya kan sebentar lagi,” jawab Galang terus meyakinkan adiknya.

__ADS_1


“Kalo aku tinggal di rumah mereka gimana?” usul Ana agar ia bisa terus berdekatan dengan calon suaminya.


“Mau nakal lagi? Sebentar lagi juga kalian mau nikah. Jadi jangan aneh-aneh,” ancam Galang melebarkan kelopak matanya.


“Huffh! Ya udah iya. Tapi Kakak jemput aku ya,” pinta Ana.


“Iya. Kakak pergi dulu,” pamit Galang setelah memberi kecupan singkat pada puncak kepala adiknya.


Ana mengantar Galang sampai di depan pintu rumah, dengan ditemani beberapa penjaga serta pelayan yang akan menemani dirinya di rumah.


Galang melajukan mobilnya menuju bandara, kembali ke kota kelahirannnya menggunakan jet pribadi yang keluarganya miliki. Saat ini ia sangat bersyukur setidaknya harta yang ia miliki dapat mempercepat kepulangannya menuju kota yang penuh dengan sejuta kenangan tersembunyinya bersama Anggita.


Setelah melakukan perjalanan, akhirnya sedikit lagi ia sampai di kediaman Anggita. Ya! Kini Galang dalam perjalanan menuju kediaman Anggita untuk mencari surat yang Jihannsimpan diam-diam.


“Lewat mana biar aku bisa masuk,” gumam Galang terus mengelilingi rumah sepetak yang ada di hadapannya. Hingga manik matanya menangkap sebuah jendela tanpa teralis. Jendela kamar.


“Lewat sini aja,” putusnya.


Setelah berusaha keras untuk mencongkel jendela kamar tersebut, akhirnya ia berhasil masuk. Semua sisi ruangan sangat berdebu, dan juga banyak sawang dan sarang laba-laba. Wajar saja karena sudah bertahun-tahun rumah ini ditinggali dan tidak pernah dibersihkan.


Dengan menggunakan penerangan dari lampu senter ponselnya, Galang berjalan ke arah ranjang, dan mengangkat kasur tersebut. Akhirnya ia menemukan sebuah surat yang dilapisi plastik.


“Apa ini ya suratnya?” tanya Galang mengeluarkan kertas tersebut dan mencari namanya.


Setelah melihat ada namanya di sana, Galang langsung keluar dan pergi menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan. Ia melajukan mobilnya menuju rumah utama keluarganya yang hanya tinggali oleh para pelayan.


“Selamat datang, Tuan,” sapa satpam yang menjaga kediaman tersebut.


“Saya hanya tinggal di sini malam ini saja. Besok saya akan kembali ke luar kota,” ujar Galang memberitahu satpam agar menyampaikan hal tersebut pada para pelayan agar tidak repot-repot mengurus dirinya.


Galang berjalan cepat menuju kamarnya, dan mengeluarkan surat yang baru ia baca sekilas. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, dan membaca surat tersebut. Meskipun hanya satu lembar, isi surat tersebut membuat matanya basah.


“Maafin aku, Anggita. Maaf aku nggak tahu apa yang kamu alami selama ini,” sesal Galang saat mengetahui jika Anggita terpaksa mengakhiri hubungan mereka.


Ia mendekap surat tersebut dengan erat, dan membayangkan bagaimana beratnya gadis itu untuk bersikap jika ia tidak memiliki perasaan apa pun padanya.

__ADS_1


“Aku harus cari tahu semua yang terjadi. Aku harus tahu semua yang dia alami selama aku di rumah sakit,” tekad Galang ingin menebus sebuah kejahatan yang orang tuanya, yang telah memisahkan ia dari Anggita.


***


__ADS_2