
Di sela perbincangannya bersama Alan, kepala Galang sesekali terangkat, hingga pada satu keberuntungan, ia melihat gadis yang sejak tadi ia tunggu, menyibak gorden yang menatap ke luar jendela.
“Kamu mau lihat Anggita?” tanya Galang mengalihkan pandangannya menatap Alan.
“Ya, tapi tadi kata Ana dia masih tidur,” jawab Alan dengan senyum terpaksa.
“Sepertinya dia sudah bangun. Kalau belum bangunkan saja agar dia bisa segera makan,” saran Galang.
“Iya ya, dia tadi cuma makan sedikit. Kalau gitu aku masuk dulu,” pamit Alan langsung beranjak meninggalkan Galang masuk.
Saat Alan pergi, Galang kembali melihat ke arah jendela kamar Anggita. Gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya.
Galang yang ingin menghibur hatinya sendiri, membentuk fingers love dan mengarahkannya pada Anggita. Sontak Anggita langsung menutup tirai, dan menjauh dari jendela.
Anggita begitu malu karena Galang memergoki dirinya, dan menggodanya dari kejauhan.
“Dasar nyebelin, apa sih buat-buat tanda hati begitu,” gerutu Anggita berjalan menuju ranjang. Tidak lagi mengintip Galang. Kendatipun ia tidak lagi bersitatap dengan Galang, rasa hangat yang menjalar di pipinya kini kian terasa. Bukan demamnya yang kembali, tetapi ia blushing. Hal yang jarang bahkan hampir tidak pernah ia rasakan ketika bersama Alan.
Belum usai dia menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang, pintu kamarnya sudah lebih dulu diketuk, membuat tidur Jihan terganggu.
“Kakak udah bangun? Gimana keadaan Kakak?” tanya Jihan dengan suara sedikit serak, netra gadis kecil itu menyipit sebelum ia usap dengan telapak tangannya.
“Udah, kakak mau buka pintu dulu,” jawab Anggita hendak beranjak dari ranjang.
“Biar Jihan aja, Kak,” sela Jihan langsung turun dari tempat tidur dan berjalan membuka pintu kamar.
“Kak Alan?”
“Gimana keadaan kakak kamu? Apa dia udah mendingan?” tanya Alan pada Jihan.
“Kayaknya udah, Kak. Kakak baru pulang?” tanyanya lagi.
“Nggak, udah dari tadi. Kakak kepikiran kakak kamu terus soalnya,” jujur Alan.
Mendengar suara kekasihnya, Anggita pun berjalan perlahan untuk menemui Alan. Seiring dengan Jihan yang menjauh dari pintu.
“Sayang, kamu baik-baik aja?” tanya Alan menyentuh dahi Anggita, merasakan suhu tubuh kekasihnya yang normal.
“Iya udah baik-baik aja. Gimana jalan-jalannya?” jawab Anggita dengan senyum merekah.
__ADS_1
“Aku mau ketemu sama yang lain,” pinta Anggita.
Dengan sigap, Alan menuntun langkah Anggita, sedang Jihan mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di lantai pertama, Anggita melihat Galang berjalan masuk. Lelaki itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya, dan justru berjalan ke arah lain entah ke mana.
“Dia kenapa? Marah?” lirih Anggita nyaris tidak terdengar oleh telinganya sendiri.
Ekspresi Galang yang mendadak berubah, membuat Anggita justru memikirkan mantan kekasihnya itu, padahal jelas-jelas sang kekasih berada di sampingnya.
Bu Ratih yang melihat calon menantunya, langsung menghampiri Anggita dan membantunya duduk.
“Anggita, kalo kamu masih nggak enak badan, kamu istirahat aja. Jangan maksain diri,” ujar bu Ratih tidak ingin Anggita kelelahan karena berjalan di rumah Galang yang begitu luas.
“Nggak papa, Bu. Badan saya juga sudah enakan,” jawab Anggita.
Bibir ranumnya yang sedikit pucat dan kering itu melengkung ke atas. Senang melihat raut muka sumringah orang di sekelilingnya.
Tiba-tiba ponsel Ana yang berada dalam tasnya bergetar.
‘Nanti malam dokter kandungannya akan datang,’ batin Ana membaca pesan dari kakaknya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Kevin berbisik.
“Nggak papa,” jawab Ana dengan senyum tertahan, membuat Kevin semakin ingin mengetahui apa yang membuat istrinya begitu senang.
“Pasti ada apa-apanya. Masa sama suami sendiri main rahasia-rahasiaan,” desak Kevin lirih. Ia masih malu jika berbincang mesra dengan istrinya di hadapan banyak orang, terutama di hadapan orang tuanya, mereka sama-sama berusaha untuk menjaga sikap dan kata.
“Nanti malam dokter kandungan aku mau datang. Untuk periksa calon buah hati kita,” tutur Ana.
“Kalau semuanya aman dan baik-baik aja, ada kemungkinan Kak Galang izinin kita untuk pulang naik mobil sama-sama,” lanjutnya dengan wajah cerah.
“Kamu kenapa maksa banget pengen pulang pake mobil sih Sayang?” protes Kevin karena ia sangat mengkhawatirkan calon buah hati dan juga istrinya. Jika terjadi sesuatu, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hidupnya.
“Kan sekali-sekali. Kamu juga naik pesawat takutnya nggak ketolongan,” balas Ana dengan raut muka mengejek.
“Ekhem! Pengantin baru kayaknya lagi asyik banget ya berdua,” sindir Alan menatap adiknya.
“Ya elah, Kak. Kita nggak ngomong apa-apa dari tadi. Iyakan, Sayang?” tanya Kevin meminta dukungan istrinya.
__ADS_1
“Iya, Kak. Kita cuma ngomongin tentang kepulangan kita lusa,” timpal Ana kemudian menatap Anggita.
“Itu pun kalau keadaan Kak Anggita sudah sangat baik,” ucapnya.
Anggita merasa menjadi beban di antara keluarga kecil tersebut. “Saya sudah baik-baik saja, Ana,” jujur Anggita.
Obat yang Galang berikan sangat manjur untuknya, kepalanya pun tidak lagi terasa berat dan pusing seperti sebelumnya. Pria itu dan Jihan merawatnya dengan sangat baik tadi. Bahkan ia belum sempat mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah Galang berikan padanya. Dia selalu datang di saat yang tepat, selalu ada saat ia terluka.
***
Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter pun mengizinkan mereka untuk pergi menggunakan mobil. Tetapi Ana harus tetap menjaga calon buah hatinya sebaik mungkin, karena selama perjalanan sudah pasti akan terjadi guncangan, dan tidak semua jalanan yang mereka lalui mulus tanpa lubang.
“Terima kasih, Dok,” ucap Ana dengan mata berbinar.
Ia menatap Galang, mengedipkan mata karena keinginannya akan terwujud.
“Apa perlu saya membawa dokter untuk mendampingi adik saya, Dok?” tanya Galang masih sangat berat untuk memberi izin pada adiknya.
“Kak,” desis Ana tidak suka. Menurutnya Galang terlalu berlebihan sampai ingin membawa dokter dalam perjalanan mereka.
Galang mengacuhkan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Ana.
“Boleh, Tuan. Untuk berjaga-jaga selama perjalanan,” jawab sang dokter.
“Kalau begitu dokter lusa ikut pergi bersama saya,” putus Galang tak terbantah.
“Baik, Tuan,” patuhnya. Karena dokter tersebut bekerja di rumah sakit milik rekan kerja Galang.
Setelah memberikan vitamin untuk Ana, dokter yang menangani dirinya pun berpamitan pulang.
“Mari saya antar, Dok,” ujar Galang sengaja menjauh dari adiknya, sebelum kedua tanduk abstrak Ana muncul.
“Kak, Kakak dengarkan kalo tadi aku baik-baik aja. Kenapa Kak Galang malah bawa dokter untuk dampingi aku?” adu Ana pada Anggita, seakan perempuan di sampingnya itu memahami apa yang ia rasakan sekarang.
“Iya Ana. Saya tahu. Tapi kita nggak pernah tahu ada apa di perjalanan nanti. Itu semua dia lakukan karena dia menyayangi kamu dan calon anak kamu,” tutur Anggita dengan lembut.
“Iya, bener banget yang Kak Anggita bilang. Aku setuju kok sama Kak Galang,” timpal Kevin mengabaikan lirikan tajam istrinya.
***
__ADS_1