
Saat Ana masih terus menangis di dalam kamar tidurnya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Terlihat panggilan dari kekasihnya.
“Halo, Kevin. Gimana keadaan kamu?” tanya Ana setelah berhari-hari tidak mendengar kabar kekasihnya.
“Aku baik-baik aja. Ada yang mau aku kasih tahu sama kamu. Maaf, mungkin aku telat, tapi aku harap aku nggak terlambat,” jawab Kevin.
“Memangnya kamu mau ngomong apa? Kamu nggak nyuruh aku untuk gugurin kandungan ini, ‘kan?” terka Ana, karena jika itu yang ingin Kevin bahas, maka ia putuskan untuk pergi dari kehidupan kekasihnya itu.
“Aku memang mau bahas kandungan kamu, tapi bukan untuk minta kamu gugurin. Aku siap untuk nikahin kamu.”
Tubuh Ana membeku, matanya terbuka lebar, dengan rahang bawahnya yang ikut turun. Rasa kesalnya pada Galang hilang begitu saja, setelah mendengar kekasihnya itu siap untuk bertanggung jawab.
“Ka—kamu nggak bohong, ‘kan?”
“Enggak, Ana. Atau mau video call biar kamu lihat kalo aku bener-bener serius?” balas Kevin begitu gemas saat kekasihnya tidak percaya.
“Ha? Enggak usah,” tolak gadis itu cepat. Ia tidak ingin kekasihnya melihat keadaannya yang begitu buruk, bahkan kini wajahnya masih sembab karena terlalu banyak menangis.
Terdengar tawa lirih Kevin.
“Aku juga nggak mau kamu lihat aku luka-luka gini,” lontar Kevin tidak ingin pacarnya khawatir.
“Maaf, aku nggak tahu kalo Kak Galang yang ngelakuin itu semua,” sesal Ana karena ia terlambat untuk mengetahui semuanya.
Tidak terdengar balasan dari Kevin. Dalam diamnya, laki-laki itu juga ingin meminta maaf karena kakaknya telah membalas rasa sakit yang ia terima, meskipun ia tidak ingin melakukan hal itu.
“Besok malam aku ke rumah kamu sama keluarga aku ya,” ucap Kevin semakin membuat hati Ana berbunga-bunga.
“Aku tunggu kamu di rumah,” jawab Ana langsung memutuskan panggilan mereka.
Ia begitu bahagia, hingga tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
“Aku harus nemuin Kak Galang,” putus gadis itu berjalan dengan riang menuju kamar kakaknya.
“Kak! Kak Galang!” panggil Ana seraya mengetuk pintu kamar kakaknya.
Galang yang hanyut dalam kenangannya bersama Anggita, langsung terperanjat mendengar teriakan serta gedoran pintu yang begitu kuat.
“Ada apa?” sahut Galang tanpa membuka pintu.
__ADS_1
“Aku mau ngomong sesuatu sama kakak,” jawab Ana dengan wajah sumringah.
“Apa?”
“Iiih! Buka dulu pintunya, masa aku dianggurin,” protes gadis itu.
Mendengar nada suara adiknya yang berbeda, Galang akhirnya membukakan pintu dan membiarkan adiknya masuk.
Hatinya menghangat saat melihat senyuman yang kembali terpancar di wajah adik satu-satunya.
“Kenapa?”
“Dia besok mau datang sama keluarganya. Dia mau nikahin aku, Kak,” ujar Ana mengamit tangan Galang dan melompat kegirangan.
“Eh, kamu jangan loncat-loncat gitu, ingat kandungan kamu,” tegur Galang langsung membuat kedua kaki Ana diam berpijak di atas lantai marmer kamar kakaknya.
“Hehehe, habisnya aku seneng banget. Akhirnya dia mau tanggung jawab. Tapi Kakak jangan marah-marah lagi ya kalo dia datang,” pinta Ana berharap sang kakak merestui hubungan mereka.
Galang hanya mengangguk pelan. Karena ia sudah lebih dulu mengetahui jika sebenarnya Kevin akan datang menemui adiknya itu dengan niat baik.
“Kakak nggak seneng ya? Kakak nggak suka kalo dia mau tanggung jawab?” selidik Ana saat raut muka kakaknya tidak sumringah, hanya datar dan biasa-biasa saja, seakan hal yang ia beritahu bukanlah hal penting.
“Kakak nggak habis mukulin Kevin lagi, habis itu maksa dia untuk nikahin aku, ‘kan?” desak gadis itu saat Galang hanya diam.
“Jawab aku, Kak!”
“Nggak! Pikiran kamu itu jelek banget sih sama abang sendiri,” protes Galang menurunkan tangan Ana dan mengenggamnya.
“Besok kita tunggu aja dia dateng,” ucap Galang menuntun adiknya untuk keluar dari kamarnya.
“Tidur. Besok mau dilamar,” suruh Galang menutup pintu kamar Ana dan ia kembali ke kamarnya.
“Kak Galang kenapa sih? Kok lempeng gitu aja mukanya.”
Ana masih heran melihat reaksi Galang yang jauh di luar ekspektasinya. Bahkan tadi laki-laki itu mengatakan jika ia sudah mengetahuinya.
“Siapa yang ngasih tahu?” gumamnya.
Karena terlalu penasaran, akhirnya Ana memberanikan diri untuk menghubungi kekasihnya. Namun, berulang kali ia menghubungi laki-laki itu, tak ada satu pun panggilannya yang diangkat.
__ADS_1
“Udahlah, pasti dia lagi siap-siap untuk besok,” terkanya memilih untuk beristirahat.
Di sisi lain, Kevin menghubungi Anggita, dan meminta bantuan calon kakak iparnya untuk merealisasikan niat baiknya besok malam.
“Iya, besok saya bantu bicara sama keluarga kamu. Sekarang kamu istirahat ya,” jawab Anggita karena ia terlalu lelah, dan tidak ingin bicara banyak malam ini.
Keesokan harinya, seluruh keluarga pak Galih berkumpul di ruang keluarga.
“Ada apa, Anggita?” tanya bu Ratih karena tidak biasanya gadis itu meminta mereka untuk kumpul bersama.
“Euum, sebelumnya saya minta maaf karena sudah mencampuri urusan keluarga ibu dan bapak, tetapi saya harap setelah Kevin mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, semuanya akan membaik,” ujar Anggita mengalihkan pandangannya pada Kevin yang duduk tepat di samping Alan.
“Ada apa, Kevin?” tanya pak Galih menatap kedua putranya.
Setelah berusaha untuk menetralkan degup jantungnya, Kevin pun siap untuk berbicara.
“Sekali lagi Kevin minta maaf sama Ibu dan Bapak, karena udah buat kalian berdua kecewa. Tapi, Kevin nggak mau buat Ibu dan Bapak semakin kecewa sama Kevin. Karena itu, Kevin siap untuk menikahi Ana—perempuan yang Kevin hamili. Jadi, Kevin mau ajak Ibu, Bapak, Kak Alan, sama Kak Anggita untuk antar Kevin ketemu sama keluarga dia,” ungkap Kevin kini menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di ruang keluarga tersebut.
Terutama Anggita. Ia tidak menyangka jika Kevin akan mengajak dirinya.
“Tapi Kevin, saya bukan bagian keluarga ini,” lontar Anggita.
“Kakak udah bagian dari keluarga ini. Kakak juga yang udah buat aku sadar, dan nggak hadapin masalah ini dengan egois,” jawab Kevin dengan penuh rasa yakin.
Anggota keluarga yang lain pun menimpalinya dengan anggukkan kepala.
“Benar Anggita. Kamu dan Jihan harus ikut andil dalam semua ini, karena kamu sudah jadi bagian dari keluarga ini,” ujar bu Ratih.
“Terima kasih, Nak. Kamu sudah membuka hati putra bungsu kami,” tanggap pak Galih begitu bangga pada Anggita. Meskipun ia tidak tahu apa yang sudah Anggita lakukan.
“Untuk biaya pernikahannya, biar Alan aja yang urus. Anggap aja ini sebagai hadiah dari Alan untuk Kevin, dengan syarat dia nggak boleh nyakitin hati istrinya nanti,” kata Alan dengan seutas senyum bangga.
Mendengar ucapan tersebut, Anggita pun turut bahagia.
“Terus kalian berdua gimana?” tanya bu Ratih karena sejak awal ia ingin mereka segera menikah.
“Pernikahan kami masih bisa ditunda, Bu,” jawab Anggita dengan tenang.
***
__ADS_1