The Last Love

The Last Love
Salah Kamar


__ADS_3

“Kamu lupa ini rumah siapa?” tanya Galang dengan wajah jenaka.


“Nyebelin!” putus Anggita berlalu dari hadapan Galang dengan wajah geram.


Ia kemudian mengajak Jihan menuju lantai dua. Menuju kamar yang Galang beritahu padanya.


“Sayang, sekarang kamu istirahat ya,” ujar Anggita membaringkan tubuh Jihan ke atas ranjang dan mengusap lembut puncak kepalanya.


Semakin lama kelopak mata gadis itu semakin berat, hingga ia ikut tertidur di samping adiknya.


Galang yang baru selesai berdiskusi dengan delapan pria yang membuat Jihan menangis, berjalan menuju kamarnya. Tubuhnya sudah terasa sangat lengket dan ia ingin segera mandi.


Baru saja pria itu menutup pintu kamarnya dari dalam, ia begitu terkejut saat melihat dua orang gadis tertidur di sampingnya.


“Kamu kok bisa tidur di sini,” lirih Galang berjalan mengendap-endap mendekati ranjang tidurnya. Kemudian berdiri di sisi ranjang sebelah kiri, dan menatap wajah Anggita yang begitu tenang.


“Cantik. Tapi kalo kamu udah buka mata dan lihat aku, kamu itu berubah jadi macan betina Laras,” ujar Galang terus menatap wajah gadisnya.


Tangannya terangkat hendak menyentuh rambut dan wajah Anggita, tetapi melihat Anggita bergerak, ia membatalkan niatnya.


“Tidur yang nyenyak calon istri,” ucap Galang terkekeh sendiri mendengar panggilannya pada Anggita.


Tidak ingin menganggu ketenangan Anggita dan Jihan, Galang diam-diam mengambil pakaiannya dari lemari, dan pergi menuju kamar mandi yang ada di kamar tamu.


Tidur Anggita semakin lelap, saat hidungnya menghirup aroma maskulin yang begitu menenangkan di sekitarnya, hingga perlahan matanya terbuka saat merasakan ada yang aneh dengan aroma tersebut.


“Kok kayak parfum laki-laki,” gumam Anggita beranjak dari tidurnya.


“Haa! Kamu ngapain di sini?” teriak Anggita saat melihat Galang tengah berdiri di depan cermin.


“Ini kamar aku, Laras,” jawab Galang dengan santai, seraya meletakkan parfum yang baru selesai ia semprotkan ke bajunya.


“Ha?”


Gadis itu kemudian mengedarkan pandangannya. Cat putih abu-abu, dan jas yang tergantung di dekat lemari membuat ia semakin yakin jika dirinya salah memasuki kamar.


“Bodohnya aku,” cicit Anggita menutup wajahnya dengan satu tangan, sedang tangannya yang lain menepuk pelan lengan Jihan agar adiknya itu segera bangun.


“Biarin dia tidur, jangan diganggu,” larang Galang saat mendapati Anggita berusaha untuk membangunkan adiknya.

__ADS_1


“Nggak. Aku sama dia harus pindah kamar,” tolak Anggita tetap berusaha membangunkan adiknya, hingga perlahan mata Jihan terbuka.


“Ada apa, Kak?” tanya Jihan dengan suara serak khas bangun tidur, dan mengucek matanya.


“Ayo kita pindah kamar, Sayang,” ajak Anggita membantu Jihan duduk.


“Pindah?” ulang Jihan karena nyawanya masih belum terkumpul.


Melihat Jihan yang masih mengantuk, Galang meminta Anggita untuk tetap membiarkan Jihan di kamar tersebut, sampai tidurnya cukup.


“Nggak. Aku nggak mau dia semalaman tidur di kamar yang salah,” tolak Anggita berusaha untuk menyadarkan adiknya.


“Malam ini aja. Aku bisa tidur di kamar tamu. Oke?” ucap Galang berjanji tidak akan menganggu dua kakak beradik tersebut di kamarnya.


“Jihan masih ngantuk, Kak,” adu Jihan dengan mata ingin kembali terpejam.


Tubuhnya sudah begitu lelah, sehingga kini ia hanya ingin memejamkan mata dan tidur.


Melihat kepala Jihan bolak-balik tertunduk, akhirnya Anggita pun membiarkan adiknya kembali tidur.


“Kalo gitu kamu ngapain di sini?” tanya Anggita masih dengan nada ketus.


“Euum, maksud aku … kamu tahu aku sama Jihan ketiduran di sini,” lanjut Anggita takut jika ia kembali salah bicara.


“Kamu mandi aja dulu. Habis itu kita makan malam bareng,” pesan Galang sebelum berlalu meninggalkan Anggita.


Gadis itu terus menatap punggung Galang yang menjauh lewat ekor matanya. Baru menyadari jika aroma harum tersebut berasal dari parfum yang dia pakai.


Ia kemudian mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling kamar Galang yang rapi. Tetapi kamar tersebut terasa begitu hampa. Tidak terlihat ada foto keluarga di kamar. Yang ada hanya ….


Anggita tertarik untuk melihat foto yang berada di meja belajar Galang. Ah bukan! Meja kerja, karena pria itu sudah bekerja sekarang.


“Denis,” lirih Anggita menatap foto Galang dan Denis saat mereka masih sekolah.


Seutas senyum terbit di bibir tipisnya, mengenang bagaimana baiknya Denis kepadanya dan Galang.


“Ya ampun. Aku sampe lupa kabarin Alan,” ujar Anggita baru teringat jika ia belum memberi kabar sama sekali pada kekasihnya.


Ia pun langsung mencari ponselnya, dan mengirim pesan singkat pada Alan, agar kekasihnya itu tidak khawatir. Usai mengirim pesan, Anggita pun bergegas membersihkan diri dan bertukar pakaian. Kemudian bergantian dengan Jihan yang juga sudah terbangun saat ia selesai mandi.

__ADS_1


“Ayo kita turun, Sayang,” ajak Anggita mengangkat telapak tangannya.


“Ayo, Kak!” sahut Jihan menautkan tangan mereka dan jalan dengan bergandengan tangan menuju meja makan.


“Kak Anggita! Tunggu!”


Anggita menoleh ke arah tangga, melihat Ana yang berjalan tergesa-gesa menghampirinya.


“Eh, pelan-pelan aja jalannya. Nanti kamu jatuh,” tegur Anggita saat gadis itu menuruni tangga dengan lincah.


Melihat raut muka khawatir Anggita, Ana hanya tergelak, karena ekspresi gadis itu begitu lucu.


“Hai, Jihan,” sapa Ana tersenyum hangat pada Jihan.


“Hai, Kak Ana,” balas Jihan terpana dengan wajah Ana yang tampak sangat berseri.


Ketiganya berjalan bersama menuju meja makan, yang sudah ditunggu oleh Galang dan Kevin.


“Ayo kita mulai makan malamnya,” ujar Galang tersenyum hangat pada tamu-tamunya, dan mempersilakan mereka untuk makan.


Semuanya terlihat sangat menikmati makan malam tersebut, termasuk Anggita. Karena gadis itu sudah kelaparan sejak siang. Sesekali ia menyuapi Jihan, membuat adiknya itu sangat senang.


“Aku mau juga dong disuapin sama kakak ipar,” seloroh Ana membuat Galang langsung tersedak makanannya sendiri.


“Minum, Kak. Minum,” ucap gadis itu menatap mata kakaknya yang memerah. Sedang Anggita membeku saat Ana memanggilnya dengan sebutan kakak ipar.


“Kenapa? Kan memang bener nanti Kak Anggita jadi kakak ipar aku. Betulkan Jihan?” tanya gadis itu menatap Jihan yang kini tersenyum lebar.


“Iya, Kak,” sahut gadis itu dengan muka polos.


Akhirnya Anggita pun menyuapi Ana saat gadis itu mendekatkan wajahnya dengan mulut terbuka.


“Manja banget,” ejek Galang melihat adiknya yang sangat manja pada Anggita.


“Biarin. Kan selama ini juga aku makan sendiri. Nggak pernah tuh disuapin sama mama,” balas Ana dengan nada sewot, tetapi membuat Anggita merasa miris, karena Ana pun ternyata tidak mendapat kasih sayang penuh dari orang tuanya.


“Mau aku suapin juga nggak?” tawar Kevin menaikkan alisnya bergantian.


Mendengar tawaran itu, Galang langsung berdeham dengan kuat, dan melayangkan tatapan membunuh pada calon adik iparnya.

__ADS_1


“Ingat ya, kalian itu belum halal dan belum sah,” peringat Galang membuat Kevin takut akan tatapan galaknya.


***


__ADS_2