The Last Love

The Last Love
Rute Perjalanan Cinta


__ADS_3

Sepanjang malam, Ana menekuk wajahnya dan tidak membiarkan Kevin mendekati dirinya, karena sang suami sepemikiran dengan kakaknya. Padahal ia ingin bersenang-senang sepanjang perjalanan pulang lusa.


Sedang Galang sang pelaku, tengah sibuk menggambar denah perjalanan untuk Alan dan Anggita. Sangat berat baginya untuk membiarkan sepasang kekasih itu saling berdekatan, akan tetapi Galang tidak ingin egois, hingga akhirnya ia pun membuat gambar sebagus dan semudah mungkin untuk di pahami.


Beberapa rute jalan telah Galang buat. Sebagian besar jalan tersebut merupakan jalan yang dulu sering mereka lalui. Meskipun terdapat beberapa bangunan baru, dan bangunan yang telah hilang dalam kurun waktu enam tahun kebelakang, tetapi ia yakin semua itu tidak akan membuat Anggita lupa akan segala kenangan mereka dulu.


“Semoga besok kamu bahagia,” harap Galang setelah hasil karya tangannya telah selesai.


Malam itu juga Galang memberikan rute jalan tersebut pada Alan. Mengantarnya langsung ke kamar pria itu, membuat Alan merasa tersanjung.


“Thanks ya, Gal,” ucap Alan dengan wajah sumringah.


“Santai saja, semoga besok semuanya lancar ya,” balas Galang memberikan beberapa tepukan di pundak Alan, seolah mereka merupakan sahabat sohib.


***


Hari ini tubuh Anggita sudah kembali segar seperti biasa. Wajahnya pun tidak lagi terlihat pucat. Melihat kekasihnya yang sudah baik-baik saja, Alan pun mengutarakan keinginannya untuk mengajak Anggita berkeliling.


“Aku mau ajak kamu sama Jihan jalan-jalan,” ujar Alan setelah mereka memiliki waktu untuk berdua.


“Jalan-jalan ke mana?” tanya Anggita penasaran.


“Ya keliling-keliling aja. Aku pastiin kita nggak akan kesasar,” jawab Alan dengan senyum terkembang.


Ia berharap Alan tidak akan menolak ajakannya.


‘Apa ini rencana Galang? Jadi kemarin mereka ngomongin ini?’ batin Anggita dengan pikiran melesat pada apa yang ia lihat kemarin sore.


“Ya udah, aku mau,” jawab Anggita mengangguk cepat.


“Nanti aku telepon kamu ya. Kita bisa pergi jam duaan,” ucap Alan.


Anggita yang yakin jika hari ini ia akan bertemu dengan Farah dan Citra, tidak sabar menunggu jarum jam di kamar yang ia tempati menunjukkan pukul dua siang. Tak lupa ia memberitahu adiknya jika mereka akan pergi.

__ADS_1


“Kan kemarin kamu nggak ikutan jalan-jalan. Jadi, kita bisa pergi sekarang,” jawab Anggita saat Jihan menanyakan alasannya.


Setelah mereka bersiap, sepasang kakak beradik tersebut turun menemui Alan yang telah menunggu di halaman rumah Galang.


“Kita berangkat sekarang?”


“Ayo,” jawab Anggita dengan raut muka sumringah.


“Sayang, nanti kalo kita ketemu sama orang yang kita kenal, kamu diem dulu ya, jangan langsung nyapa mereka, kecuali mereka duluan yang nyapa kamu,” pesan Anggita agar rencananya kali ini berjalan sempurna.


Jihan menatap ragu kakaknya. Selama ini Anggita selalu mengajarkan hal baik padanya, tetapi kini kakaknya terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Ingin rasanya ia bertanya kenapa mereka harus melakukan itu? Bukankah siapa yang lebih dulu menyapa, itu sama saja? pikir Jihan menahan banyak tanya yang ingin ia ajukan pada kakaknya.


“Ini apa?” tanya Anggita saat melihat Alan mengeluarkan beberapa lembar kertas putih, yang terdapat gambar di sana.


“Ini namanya denah perjalanan cinta,” jawab Alan membentang denah tersebut.


Jihan yang penasaran, menyembulkan kepalanya di antara dua bangku mobil yang ada di depannya.


Alan menggeleng pelan. “Rahasia,” jawabnya tersenyum lebar pada Jihan.


“Ayo kita mulai perjalanannya!” sorak Alan siap untuk memulai perjalanan mereka.


Beberapa menit awal, Anggita masih merasa asing dengan jalanan yang Alan tempuh. Namun, semakin lama kenangan enam tahun silam melintas dalam benaknya. Berlarian seiring samanya jalan yang mereka lalui sekarang.


‘Pasti Galang yang buat rute perjalanan ini,’ batin Anggita menaruh rasa curiga, karena jalan yang mereka lalui, adalah jalan yang penuh dengan kenangan mereka.


Bahkan mereka melintasi SMA tempat ia bersekolah dulu. Tidak banyak yang berubah dari bangunan sekolah terfavorit di kota tersebut.


Rindu. Anggita sangat merindukan masa-masa indahnya yang fokus belajar untuk mempertahankan beasiswa yang ia dapatkan, tanpa ada kisah percintaan remaja yang menghiasinya.


‘Andai aku bisa memutar waktu, aku lebih milih untuk nggak pernah ketemu dan kenal sama kamu, Lang,’ batin Anggita menyadari jika semua yang terjadi di masa lalu hanya tinggal kenangan.


Mereka pergi menuju beberapa pusat perbelanjaan untuk membeli buah tangan, dan beberapa perlengkapan sekolah Jihan.

__ADS_1


“Udah semua? Masih ada yang mau kamu cari?” tanya Alan saat mereka berjalan menuju kasir.


“Udah,” jawab Anggita dengan wajah sumringah.


Alan beralih menatap Jihan yang kini menenteng sebuah tas sekolah dan bertanya, “Kalau Jihan? Masih ada yang kurang nggak perlengkapan sekolahnya?”


“Nggak, Kak. Ini aja,” jawabnya pelan.


Mereka pun langsung menuju kasir dan tidak lagi berkeliling.


Kini Alan pergi menuju sebuah kafe, memesan beberapa makanan sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Betapa senangnya hati laki-laki itu saat dapat begitu dekat dengan kekasih serta calon adik iparnya.


Jihan pun tidak sekaku sebelumnya, karena Alan juga berusaha untuk memperbanyak berinteraksi dengan Jihan si gadis pendiam.


Kini mereka siap untuk pergi menuju lokasi terakhir. Jalanan yang membuat Anggita membisu sepanjang jalan, dan Alan fokus dengan denah yang ada di hadapannya.


Insiden kecelakaan yang membuat Anggita merasakan jatuh cinta pertama kali. Membuat gadis itu terus menatap spion mobil yang dikendarai Alan. Pandangannya tidak lepas saat ia melewati jalanan yang masih ia ingat dengan sangat jelas.


‘Dari awal kamu itu memang nyebelin. Tapi aku malah suka, dan terus kebayang sama sifat nyebelin kamu,’ ucap Anggita dalam hati, hingga ia tidak dapat lagi memandang jalan tersebut.


Tidak berselang lama mobil yang Alan kendarai berhenti di sebuah taman bunga yang banyak dikunjungi oleh orang-orang sekitar.


“Kita udah sampe,” ucap Alan sebelum membuka pintu mobil.


Anggita terus menatap lokasi terakhir yang Alan tuju. Manik mata cokelatnya mengedar, merasa tidak asing dengan tanah yang ia pijaki saat ini. Ia lalu memutar tubuh ke arah samping. Sebuah pohon mangga berdiri kokoh di ujung jalan.


Perlahan Anggita mendekati pohon mangga besar tersebut. Memastikan jika tebakannya kali ini tidak salah. Ia mengelilingi pohon mangga di hadapannya. Mencari sebuah tanda goresan yang dulu sempat ia di batang pohon tersebut.


Kelopak matanya melebar saat dirinya berhasil menemukan tanda tersebut. Anggita kembali mengedarkan pandangannya. Tidak percaya jika kafe tempat dulu ia bekerja telah berubah menjadi taman yang cukup luas. Jika kafe tersebut masih berdiri, posisinya sudah dipastikan ada di bagian tengah depan taman.


“Kamu kenapa, Anggita?” tanya Alan mendekati kekasihnya yang tampak linglung.


***

__ADS_1


__ADS_2