
Hal pertama yang Adel lakukan saat tiba di Jakarta adalah menenangkan Noah yang sejak tadi menangis karena jam tidurnya sudah tiba. Namun karena Noah masih merasa asing berada di rumah orang tua Adel, jadilah sejak tadi anaknya terus rewel bahkan sudah bergantian dengan Mamahnya untuk menggendongnya.
Seharusnya Daniel dan Adel tinggal lebih dulu di rumah keluarga Daniel mulai malam ini saat mereka tiba di Jakarta, namun karena Adel merasa rindu dengan orang tuanya terutama Papahnya yang belum bisa mengunjunginya juga adik lelaki satu-satunya. Jadi mereka berdua memutuskan bermalam di rumah orang tua Adel dan besok baru berangkat ke rumah keluarga Daniel karena acara perayaan ulang tahun papah mertuanya itu akan diadakan besok malam.
Daniel sudah beristirahat lebih dulu di kamar karena lelah menyetir sendiri. Dan Adel masih bersama orang tuanya di ruang tengah sembari mencoba menidurkan Noah yang kini sudah mulai sedikit tenang setelah Adel memberikan botol susu untuknya dan kini ia sudah meminumnya dengan mata mulai terpejam.
“Apa tiap malam suka nangis kayak gini?” tanya Papah Adel menatap cucu pertamanya itu.
“Kadang-kadang kalau lagi kambuh rewelnya suka susah ditidurin.”
Papah Adel sedikit tertawa, ia masih belum menyangka jika putri semata wayangnya itu kini sudah resmi menjadi seorang Ibu dan bahkan berusaha sendirian untuk merawat anaknya di kota yang berbeda dengan mereka.
“Gimana rasanya jadi Ibu sekarang?” tanya Papahnya menatap Adel yang sedang duduk dihadapannya.
Adel dan Papahnya memang tidak begitu dekat. Meskipun ia anak pertama namun keakrabannya dengan sang Papah hanya sebatas mengobrol biasa dan itupun hanya menanyakan beberapa hal, atau terkadang Papahnya juga hanya berbicara padanya untuk memberi wewejang saja.
“Lumayan capek, Pah. Apalagi kalau kebangun malam pas ngompol dan lagi ngantuk berat, untung Mas Daniel suka bantu juga buat nidurin lagi.”
“Ya sekarang mah dinikmatin aja, dulu juga Mamah sama Papah juga gitu waktu kamu lahir cuma dua bulan nenek kamu nemenin jadi seterusnya kita berdua aja yang bagi tugas."
“Berdua apaan, Papah kamu mah sibuk kerja pulang malam. Kalau kamu nangis malam-malam tetap aja Mamah yang bangun.” Cerocos Mamah Adel.
Senyuman Adel mulai mengembang setelah ucapan Papahnya disela oleh Mamahnya sendiri, ia juga merasa perlu banyak belajar dan bersyukur dengan hidupnya saat ini terutama bisa mendapat suami seperti Daniel. Meskipun memiliki sifat dingin di luar, tapi di dalamnya hati pria itu benar-benar hangat pada orang yang tepat.
“Kamu tidur duluan aja pasti capek baru nyampe, biar Mamah aja yang gendong Noah nanti di bawa ke kamar kalau udah aman.”
“Tapi nanti Mamah capek gendong dia terus, pasti nangis kalau susunya udah habis.”
“Mamah kamu bisa atasin, udah tidur aja susul Daniel.” Titah Papahnya.
Adel akhirnya mengangguk setuju, ia memang sedikit lelah malam ini setelah menempuh perjalanan berjam-jam karena terjebak macet dan juga sudah cukup riweuh dengan Noah yang di mobil pun beberapa kali menangis. Beruntung Mamah dan Papah Adel juga mengerti dan mau membantunya menjaga Noah sebentar.
Adel berjalan ke kamarnya yang sudah setahun lebih tak terhuni setelah dirinya menikah. Tadi ia baru sebentar masuk ke kamar lamanya itu untuk menaruh barang-barangnya. Jadi ia belum lihat bagaimana keadaan kamarnya saat ini.
Kamar miliknya itu tidak terlalu besar, kasurnya pun tidak sebesar ukuran kasurnya sekarang dengan Daniel, namun cukup untuk tidur mereka bertiga karena Noah bisa menyempil di tengah-tengah mereka.
Nama Oppa Ji Chang Wook di depan pintu kamarnya juga kini masih terpasang, ia baru menyadarinya saat akan membuka pintu kamarnya sekarang. Rupanya Mamahnya tidak mencopot tempelan nama yang sudah ada seja masa kuliahnya.
Saat knop pintu berhasil ia buka, penampakan berbeda dari kamarnya dulu adalah adanya seorang pria yang sudah mendengkur kecil di kasurnya saat ini. Adel sedikit merasa aneh melihat Daniel yang tertidur di kamar lamanya itu. Ini kali pertama mereka tinggal di rumah keluarganya dan tidur bersama Daniel di kamarnya.
Sebelumnya saat mereka menikah, di malam pertama pernikahannya Daniel sudah membawanya tinggal di apartemen miliknya. Itupun keadaanya sangat berbeda dengan sekarang karena awal pernikahan, pria itu sangat dingin padanya.
Melihat suaminya sudah tertidut lelap, Adel memilih untuk mengganti bajunya. Setelahnya ia menatap rak buku dan meja belajar miliknya yang belum berpindah tempat. Di sinilah masa kuliah hingga kerja Adel dihabiskan karena saat lulus sekolah orang tuanya langsung membawanya pindah ke Jakarta untuk menghilangkan traumanya dan ia pernah meminta pada Mamahnya untuk tidak mengubah bentuk kamarnya agar kenangannya masih terasa.
Adel duduk di meja hiasnya dan mengeluarkan barangnya mengambil skincare rutinnya sebelum tidur. Sejak melahirkan, ia memang jarang skincare malam karena terlalu sibuk tapi jika ada waktu seperti saat ini, ia tetap melakukan perawatan pada wajahnya, bagaimanapun ia tetap harus merawat dirinya.
Suara denyit kasur mulai terdengar, Adel menoleh dan melihat Daniel yang membuka matanya dan menatapnya.
“Noah, mana?” tanyanya setengah sadar.
Adel merapihkan barangnya, ia berjalan ke kasur dan bersiap untuk tidur.
“Mamah yang gendong, dari tadi nangis terus.”
Daniel memijit pelipisnya merasa sedikit pusing, pandangannya kini beralih menatap sekeliling kamar bernuansa ungu yang baru ia sadari. Saat masuk ke kamar tersebut, Daniel langsung membaringkan badannya yang terkantuk dan langsung saja tertidur di sana.
“Jadi kayak gini kamar anak gadis-gadis.” Daniel sudah duduk dan mengamati sekeliling kamar.
__ADS_1
“Dulu kamarnya warna pink, tapi pas mau wisuda Adel minta ganti jadi nuansa ungu.”
Mata Daniel terbelalak menatap tiga stiker berukuran cukup besar yang menempel di dinding dekat pintu kamar.
“Ini?” Daniel menunjuk poster yang tertempel dengan rapih di sana.
“Oh, itu mantan Adel.” Tuturnya yang kini sedang sibuk memakai body lation di tangan dan kakinya.
“Mantan?”
“Iya mantan, Adel kan sudah menikah jadi ya jadi Oppa Ji Chang Wook sekarang mantan Adel.” Katanya dengan enteng.
Suara tawa meledek Daniel mulai terdengar dan membuat Adel menoleh dan mengerutkan alisnya menatap Daniel.
“Kenapa, Mas? Cemburu ya lihat mantan Adel cakep banget?”
“Kenapa nggak sekalian kamu kasih figura itu biar makin awet.” Ledek Daniel.
Adel tak menjawab ucapan suaminya itu yang saat ini sudah berjalan ke arah meja belajarnya dulu. Ia duduk di kursi dan melihat berberapa foto masa sekolahnya bersama Dea dan Aldi yang sudah di cetak dan ditempel di sana juga beberapa foto bersama teman kuliah lainnya juga Adel pajang bersamaan.
Melihat suaminya sedang serius menatap foto-foto yang tertempel di sana, Adel mendekatinya dan juga melihat foto-foto lamanya itu. Mamahnya masih membantunya merapihkan dan membersihkan semua barang-barangnya itu.
“Waktu kita satu sekolah, Adel nggak pernah lihat Mas Daniel ya?”
“Bukannya tidak pernah lihat, tapi kamu saja yang tidak memperhatikan orang-orang di sekitar.”
“Ya gimana kita beda angkatan juga, apalagi angkatan Mas Daniel kan banyak juga.”
Daniel mengambil satu foto dirinya memakai seragam berukuran postcards, Adel masa sekolah dulu memang terlihat sangat manis. Daniel mengingat bagaimana pertemuan pertamanya yang tidak sengaja dengan wanita itu saat pulang sekolah.
“Kamu waktu SMA cantik ya.”
“Sekarang juga makin cantik,” jawab Adel dengan percaya dirinya.
Daniel mengalihkan pandangannya pada Adel dan kemudian mencodongkan badannya ke samping dan mengangkat foto tersebut ke samping Adel.
“Apa ini orang yang sama?” Daniel mencoba mencocokan.
Adel mengambil foto tersebut di tangan Daniel dan menatap sebal pada suaminya yang tampak senang meledek dirinya sejak tadi.
“Mas ngapain sih lihatin foto-foto, Adel?”
“Penasaran, saya baru pertama kali masuk ke sini.”
Penasaran Daniel makin menjadi saat dirinya mengambil beberapa novel yang sudah tersusun di rapih di meja tersebut dan kemudian melihatnya satu persatu.
“Mas jangan diberantakin, itu udah di berisin Mamah.”
Mendengar larangan Adel, kini Daniel menyimpan novel-novel yang berhasil ia keluarkan namun tidak menyusunnya kembali.
“Kamu yang bereskan, saya cuma penasaran takut kamu simpan novel-novel dewasa.” Daniel berjalan kembali ke kasur.
Tak ada bantahan dari Adel, kini wanita itu kembali melihat novel-novel lama miliknya itu, sudah lama ia ingin membacanya kembali, jadi dari enam novel yang Daniel ambil hanya dua yang Adel kembali simpan dan sisanya ia simpan di atas meja dan akan dibawanya ke Bandung nanti.
Rumah milik keluarganya dulu di Bandung sudah dijual oleh Papahnya, jadi semua kenangannya kini hanya ada di Jakarta. Meskipun ada juga rasa trauma yang ia rasakan di kota ini. Dan itu adalah trauma saat menjalin hubungan dengan Bani dulu.
“Kamu nggak simpan foto-foto sama mantan?” tanya Daniel penasaran namun sedikit berhati-hati.
__ADS_1
Ada sedikit keraguan untuk menjawab ucapan Daniel saat ini. Pertanyaan Daniel bukankah itu bisa memicu masalah pada mereka, tapi melihat ekspresinya bertanya saat ini tampak sekali rasa penasaran tinggi dari pria itu.
“Adel cuma sekali pacaran dan itu juga yang buat Adel takut buat jalin hubungan, jadi Adel nggak pernah simpan kenangan apapun.” Katanya berjalan ke kasur.
Seketika Daniel jadi teringat, istrinya dulu hanya berpacaran dengan Bani itupun membuat Adel trauma karena pria itu pernah menjebaknya, Daniel hampir lupa akan hal itu, untung saja saat Adel menjawab ia mengingatnya.
“Mas, kayaknya Adel nggak pernah nanyain tentang masalalu Mas Daniel ya?”
“Kamu mau tau apa?”
Adel yang sudah naik di ranjang mereka dan duduk bersandar disamping Daniel kini sedikit ragu, tapi ia juga memang sudah lama penasaran dan kebetulan Daniel sendiri yang memancing pertanyaan lebih dulu.
“Mas Daniel memang belum pernah pacaran?” ada sedikit keraguan dari pertanyaan yang Adel lontarkan karena takut menyinggung suaminya.
Daniel memberikan ekspresi datar seperti biasa.
“Kenapa memang kalau saya belum pernah pacaran?”
“Hmm, enggak sih cuma nggak percaya aja. Mas Daniel ganteng, pintar pasti banyak yang suka dan kalaupun suka sama cewek ada kemungkinan besar diterimanya.”
Daniel tersenyum mendengar pujian istrinya itu, namun sedetik berikutnya sebisa mungkin ia tahan agar tidak terlihat begitu senang mendengar pujian dirinya yang istrinya lontarkan tanpa menatapnya.
“Ya memang banyak yang suka dengan saya.” Daniel mulai sedikit sombong.
“Terus kenapa nggak ada yang Mas Daniel pilih?” Adel sudah makin penasaran.
Daniel terlihat sedang berpikir beberapa saat dan membuat Adel kini merubah posisi duduknya menghadap pada suaminya.
“Kenapa, Mas?” tanyanya sekali lagi.
“Nggak ada yang saya suka.”
Adel mengerutkan keningnya sedikit bingung, rasa penasarannya cukup tinggi sebenarnya pada suaminya itu tapi ia juga tak mau nanti rasa penasarannya malah membuatnya jadi terluka sendiri.
“Ada orang yang sudah saya suka sejak lama dan dia satu-satunya yang sudah tersematkan dihati saya.” Daniel menatap Adel dan pandangan mereka kita bertemu.
Adel sedikit gugup melihat tatapan intens Daniel saat ini. Adel lebih dulu menghindari tatapan mata Daniel yang selalu berhasil menghipnotisnya dan membuatnya gugup.
“Tapi saya bersyukur karena akhirnya bisa mendapatkannya dan orang itu--,” Daniel menjeda dan dengan cepat Adel menutup mulut Daniel.
“Nggak perlu di kasih tahu, cukup.” Kata Adel yang sudah tahu jawabannya dan ia terlalu gugup untuk mendengarnya sekarang.
“Memang kamu tahu?” Daniel menaikan alisnya.
Adel menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum malu-malu, entah karena dia terlalu percaya diri atau memang karena Daniel pernah mengatakannya dulu, jadi ia tak mau mendengarkannya kali ini karena rasanya ia akan melayang jika Daniel kembali mengatakannya.
Tak mau lagi memperpanjang percakapan mereka, Adel sudah memilih membaringkan badannya bersiap untuk tidur. Tapi satu pergerakan membuat jantung Adel makin berdebar tak karuan.
“Dulu maupun sekarang hati saya selalu sama, dan orang itu selalu kamu.” Daniel menatapnya lekat dengan posisi dirinya sudah berada di atasnya saat ini.
Daniel memotong jarak diantara mereka saat bibir kenyalnya sudah menempel dibibir Adel, cukup lama saat Daniel terus berusaha menuntun ciuman mereka lebih dalam hingga suara ketukan di pintu berbunyi membuat Adel mendorong Daniel pelan.
Ia kemudian bangkit dari kasur dan membuka pintunya di mana sang Mamah sudah berdiri mengantar cucunya yang sudah tertidur digendongannya.
“Udah nyenyak bobonya, biar Mamah pindahin ke kasur.” Kata Mamahnya yang kemudian masuk ke dalam kamar dan mendurkan Noah di kasur.
Setelahnya Mamahnya keluar, Adel dan Daniel kini menatap saling bergantian. Untung saja tadi Mamahnya mengetuk pintu kamar mereka terlebih dahulu, jika tidak mungkin Adel akan malu terciduk Mamahnya yang justru sibuk menjaga anak mereka.
__ADS_1