
Tidak ingin kekasihnya berpikir yang tidak-tidak, Anggita menawarkan Alan untuk pindah duduk ke samping Galang.
“Nggak papa. Kamu duduk aja di situ,” tolak Alan tanpa ada rasa curiga karena ia begitu percaya pada kekasihnya.
Karena kekasihnya yang memberi izin, Anggita pun akhirnya tetap duduk di samping Galang. Berada di samping pria masa lalunya, membuat Anggita canggung dan gugup. Ditambah waktu untuk menemui Galang di ruang kerjanya semakin dekat, hanya tinggal menghitung jam dan ia harus memenuhi persyaratan itu.
Usai makan malam, para pelayan menghidangkan jus untuk semua orang yang berada di meja makan, termasuk Anggita dan Galang. Tidak berselang lama, satu per satu di antara mereka berpamitan menuju kamar karena sudah sangat mengantuk.
“Sayang, aku ke kamar dulu ya. Good night cintaku,” ujar Alan pada Anggita saat orang tuanya sudah lebih dulu memasuki kamar.
Anggita pun berjalan menuju kamarnya yang berlawanan arah dengan Alan.
Tepat pukul sepuluh malam, Galang sudah berada di ruang kerjanya menunggu kedatangan Anggita. Sedang gadis yang ia nanti-nantikan gelisah dalam kamarnya, memikirkan apa yang akan Galang lakukan. Dalam saku celananya yang besar, Anggita sudah menyiapkan sebotol kecil semprotan berisi cairan cabai sebagai senjata, jika sewaktu-waktu Galang melakukan hal yang tidak senonoh padanya.
Setelah mengatur napasnya dan menenangkan hati, Anggita berjalan mengendap-endap memasuki ruang kerja Galang.
“Nggak usah ngendap-ngendap gitu. Mereka semua sudah tidur,” ucap Galang mengagetkan Anggita.
Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Galang dengan galak.
“Memangnya kamu tahu dari mana?” tanya Anggita menantang.
“Dari jus yang mereka minum,” jawab Galang seraya terus berjalan mendekati Anggita, hingga punggung gadis itu membentur pintu.
“Kleek!”
Kelopak mata Anggita melebar saat Galang mengunci pintu tersebut.
“Kamu mau apa? Jangan macam-macam ya,” ancam Anggita memelototkan matanya.
Galang hanya terkekeh melihat ekspresi Anggita yang begitu lucu. Tatapan yang ia berikan sama seperti saat awal ia mengenal gadis tersebut.
“Apa aku harus berjuang dari awal lagi, untuk ambil hati kamu?” tanya Galang semakin mendekatkan wajahnya.
“Maksud kamu?” tubuh Anggita menegang. Ia takut, tetapi ia tetap membalas tatapan Galang.
__ADS_1
Hidung mereka saling bersentuhan, hingga Anggita dapat merasakan aroma napas Galang yang begitu segar.
“Haah!”
“Aku habis makan jengkol tadi,” seloroh Anggita membuat Galang sontak menjauhkan wajahnya.
“Hahaha! Kamu itu ada-ada aja. Kamu makan buatan pelayan di rumahku, Laras. Mereka nggak masak ataupun nyetok jengkol,” ujar Galang disela tawanya.
“Lagian, siapa suruh deket-deket,” gerutu Anggita memajukan bibirnya.
“Cuma mastiin aja kalo kamu nggak berubah,” balas Galang kembali menatap mantan kekasihnya.
“Berapa banyak aku harus ngomong maaf, biar kamu maafin aku?” tanya Galang membuat Anggita jengah.
Gadis itu selalu terbawa emosi tiap kali Galang mengucap maaf padanya. Padahal jelas-jelas dialah yang salah, dan dia yang seharusnya meminta maaf telah menyakiti hati pria di hadapannya.
“Jawab aku, Laras,” bujuk Galang penuh kelembutan.
“Kamu bisa berhenti ngomong itu nggak? Kamu itu nggak salah! Kenapa kamu terus-terusan minta maaf?” cecar Anggita terlontar begitu saja dari bibirnya.
“Aku yang salah,” ucap Anggita dengan suara serak.
“Harusnya aku yang minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa! Aku tahu kamu nggak nyerah sama hubungan kita,” ucap Anggita mengungkapkan rasa bersalah yang selama ini ia pendam.
“Laras, aku….”
“Stop! Aku belum selesai,” sela Anggita merentangkan lima jari tangannya. Mencegah Galang untuk berbicara.
“Aku cinta sama kamu. Kamu nggak tahu gimana kacaunya aku dapat kabar kamu di rumah sakit. Lihat kamu terbaring dan nggak sadarkan diri di ruangan itu. Kamu tahu? Waktu itu aku masih ketemu sama Denis,” urai Anggita dengan dada terasa sesak.
Air mata sudah mengalir membasahi pipinya, tetapi ia seka dengan cepat. Ia ingin menuntaskan semuanya malam ini.
“Aku pikir dia akan terus temenin kamu. Waktu aku mau nunggu kamu sampe sadar, aku dapat kabar kalo Jihan hilang, dan dia diculik sama orang suruhan papa kamu.” bibir Anggita bergetar hebat. Begitu sakit rasanya mengingat kenangan pahit tersebut.
“Sampai akhirnya aku dibawa sama orang-orang papa kamu, dan ketemu sama papa kamu. Aku lihat sendiri gimana takutnya Jihan dan suara dia yang hampir nggak bisa aku denger. Aku nggak punya pilihan lain, selain nurutin permintaan papa kamu,” ungkap Anggita terduduk di lantai ruang kerja Galang.
__ADS_1
Ia menekan dadanya sekuat mungkin, menahan rasa sesak yang teramat sangat di sana. Galang yang tidak tega melihat wanita yang ia cinta menangis, langsung menarik Anggita ke dalam dekapannya.
“Aku mohon, jangan dilepas,” pinta Galang saat Anggita memberontak dalam dekapannya.
“Kamu boleh ngomong sepuas kamu. Kamu boleh ungkapin semua rasa sakit yang kamu pendam selama ini, aku siap dengerin semuanya,” ujar Galang semakin mengeratkan dekapannya.
“Aku pikir kalo aku ngelepasin kamu, mereka akan bersikap baik sama kamu,” ucap Anggita dengan secercah harapan.
“Malam itu aku nggak tahu kalo kamu udah sadar, dan aku langsung putusin pergi pagi itu setelah aku bilang aku nggak cinta sama kamu,” adu Anggita.
Ia terus mengungkapkan bagaimana beratnya ia harus melepaskan Galang demi keselamatan adiknya.
“Orang tua kamu kasih aku uang untuk biaya aku sama Jihan. Tapi berapa pun yang aku pake, aku ganti, dan akhirnya uang itu nggak kepake sama sekali,” jujur Anggita.
Galang hanya diam. Tanpa bertanya nominal yang dikasih oleh orang tuanya. Tidak tahu itu cukup atau tidak untuk menghidupi Anggita dan adiknya.
“Jihan ngalamin trauma yang parah waktu itu. Dia nggak mau sekolah, dia nggak mau aku tinggal, sampe akhirnya perlahan aku bisa yakinin dia. Makanya aku marah waktu kamu bawa orang-orang itu,” jelasnya lagi.
“Maaf.” Hanya satu kata itu yang dapat Galang ucap.
“Aku takut trauma dia balik lagi, Galang. Aku nggak kuat,” ujar Anggita dengan tangis semakin pecah.
Galang menyeka matanya yang basah, dan mengusap rambut Anggita.
“Aku akan jaga kamu sama Jihan. Aku janji nggak akan buat trauma dia balik lagi,” balas Galang berusaha untuk menenangkan Anggita.
“Kenapa setelah bertahun-tahun Tuhan mempertemukan kita lagi?” tanya Anggita dengan suara parau.
“Karena aku percaya kalo kamu takdir aku, Tuhan akan pertemukan kita lagi. Tapi kita nggak tahu keadaan dan situasi seperti apa yang pertemuin kita,” jawab Galang.
“Waktu kamu pergi, aku berusaha untuk nyari kamu dan Denis. Tapi aku nggak tahu kamu sama dia ke mana dan di mana. Bahkan aku nggak tahu kabar Denis,” ujar Galang mulai bercerita.
“Semua itu berat banget untuk aku terima, awalnya aku memang sakit hati karena kamu bohongin aku. Tapi setelah tahu kamu sama Denis nggak sekolah, aku yakin terjadi sesuatu sama kamu,” terang Galang.
***
__ADS_1