The Last Love

The Last Love
Galang Semakin Panas


__ADS_3

“Mungkin menurut kamu berlebihan, tapi menurut kakak kamu dan yang lain itu perhatian yang sempurna,” tutur bu Ratih langsung ditimpali anggukkan kepala oleh semua orang yang duduk satu meja bersama mereka.


Kevin mengusap punggung tangan Ana dan tersenyum lebar menatap wajah istrinya yang memberengut.


“Jangan ditekuk gitu dong, nanti anak kita sedih,” bujuknya.


Seketika dua pria lajang di antara mereka langsung berdeham kuat, menyadarkan Kevin dan Ana jika saat ini mereka tidak sedang berdua.


“Romantis-romantisannya nanti aja, kalo udah sampe rumah,” seloroh Alan.


“Kelamaan, Kak. Nanti ngambeknya makin panjang,” sahut Kevin langsung meringis saat Ana mencubit pinggang dengan cubitan yang sangat kecil.


Akhirnya aksi Ana tidak berlanjut lama karena makanan, yang mereka pesan satu per satu mulai terhidang di atas meja.


Mereka pun mulai sibuk menyantap makanan mereka masing-masing. Galang terus memperhatikan interaksi antara Anggita dan Alan, saat sesekali mereka bertukar makanan. Rasa cemburu itu mulai menyelinap memenuhi relung hatinya. Tanpa sadar tangannya yang berada di atas meja terkepal kuat.


‘Semua itu tetap nggak akan bunuh perasaan aku ke kamu, Anggita,’ batin Galang perlahan meradakan bara api dalam hatinya sendiri.


Ia mengambil sirup jeruk yang berada di hadapannya, menyesapnya hingga tersisa setengah.


“Kakak mau nambah minumannya?” tanya Jihan membuat beberapa pasang mata menatap mereka. Padahal cuaca di luar cukup dingin.


“Nggak. Ini aja cukup,” jawab Galang memaksakan senyum di bibirnya.


Anggita hanya diam menduduk, setelah beberapa saat lalu ia melihat Galang yang mengepalkan tangannya, tahu jika pria itu berusaha untuk menahan amarahnya.


‘Apa dia nggak suka ya aku ngomong sama Alan?’ tanya Anggita dalam hati.


Namun, satu ide gila terlintas dalam benak Anggita, agar Galang tidak lagi memiliki perasaan pada dirinya.


“Kamu mau cicip lagi nggak makanan aku?” tanya Anggita bertingkah biasa saja.


Alan yang baru hendak menyuap makanannya, langsung menghentikan gerakan tangannya dan menatap Anggita, lalu kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Boleh,” jawab Alan seraya mendekatkan kepalanya pada Anggita.


“Gimana? Enak nggak? Mau tukeran sama aku?” tawar Anggita lagi.


“Enak. Tapi kamu aja yang makan. Dihabisin ya,” tolak Alan dengan senyum merekah di bibirnya.


Melihat interaksi di antara keduanya, Galang hanya mampu diam dan menahan semua gejolak yang ada dalam hatinya.


Galang semakin mempercepat acara makannya, dan berjalan menuju kasir untuk membayar lebih dulu makanan yang masih disantap oleh keluarga Alan dan yang lain.


“Om, Tante, saya permisi ke mobil dulu. Nanti kalau semuanya sudah selesai makan, bisa menyusul saja,” pamit Galang sebelum berlalu keluar dari tempat makan yang mereka kunjungi.


Ia meminta kunci dan langsung pergi menuju mobil yang mereka naiki. Menghempaskan tubuhnya ke atas bangku, dan memejamkan mata.


Terdengar suara pintu mobil yang terbuka dan kembali ditutup.


“Pak Galang baik-baik saja?” tanya dokter Melinda menduduki bangkunya.


“Ya, saya hanya kurang tidur,” jawab Galang singkat.


“Pak Galang mau ke mana?” tanya dokter Melinda saat Galang hendak lewat di depannya.


“Keluar,” ucap Galang.


“Eh, kalau Bapak nggak nyaman saya di sini, saya bisa keluar kok, Pak,” cegah dokter Melinda karena merasa sudah menganggu ketenangan Galang.


“Tidak perlu. Saya saja,” tolak Galang berlalu dari hadapan dokter Melinda dan keluar dari mobil.


Ia memilih untuk duduk di samping semen yang menjadi pembatas taman pinggir tembok yang menggelilingi rest area tersebut. Menjulurkan kakinya dan bermain ponsel.


Bukan memeriksa hal penting tentang perusahaannya, melainkan membaca surat Anggita yang telah ia foto, agar lebih mudah saat ingin membacanya. Setiap kata dan untaian kalimat yang Anggita tuliskan, membuat rasa percaya Galang kembali timbul jika perasaan mereka masih sama.


Dari kejauhan Anggita berjalan ke arah mobil dengan perasaan campur aduk. Karena ia berpikir jika Galang sedang berduaan dengan dokter cantik yang ikut serta bersama mereka.

__ADS_1


‘Masuk apa nggak ya,’ gumam Anggita ragu untuk memasuki mobil. Ia memperlambat langkahnya, hingga satu per satu dari mereka mengikuti Anggita dari belakang, membuat gadis itu tidak lagi berpikir dirinya akan menjadi pengganggu.


“Lho, Kakak saya mana, Dok?” tanya Ana lebih dulu menyembulkan kepala ke dalam mobil.


“Maaf, Nona. Tadi Pak Galang pergi keluar, waktu saya masuk ke sini,” jujur dokter Melinda.


Ana mengangguk paham, dan mengedarkan pandangan mencari kakaknya yang ternyata berada cukup jauh dari mobil mereka.


“Kak!” teriak Ana melambaikan tangan ketika Galang mengedarkan pandangan.


Melihat Ana dan yang lainnya sudah keluar dari tempat makan, Galang pun melangkah menyusul mereka. Jarak dirinya dan Anggita semakin dekat, tetapi mereka terus saling diam, layaknya tidak saling kenal dan asing.


Kini mereka sudah kembali berada di mobil dan mulai melanjutkan perjalanan. Anggita terus mengingat hoddie yang Galang gunakan, hingga ia memutuskan untuk tidak memejamkan mata saat malam memulai menemani perjalanan mereka.


Setelah suasana di mobil sunyi, perlahan Anggita mulai berpura-pura tidur dan menyandarkan kepalanya ke jendela. Hal yang sama pun kembali terjadi. Ia melirik tangan hangat Galang menahan kepalanya agar tidak terbentur jendela mobil.


‘Jadi, tadi itu aku nggak mimpi?’ batin Anggita. Ia tidak tahu harus sedih atau bahagia merasakan ketulusan Galang saat ini.


Bagaimanapun ia berusaha membuat Galang membenci dirinya, pria di belakangnya terus saja memperlakukannya dengan lembut.


“Tidur aja kalo memang udah ngantuk,” bisik Galang membuat tubuh Anggita menegang.


“Kamu nggak lagi mimpi, Larasku. Tenang aja, besok kamu lebih banyak habisin waktu sama dia,” lanjut Galang yakin jika Anggita mendengar suaranya.


Perih. Begitu sakit rasanya mendengar Galang sendiri yang mengucapkan kalimat tersebut, padahal dia pula yang meminta pria itu untuk menjauh darinya karena kini ia bersama Alan.


Anggita tidak dapat menampik semua rasa yang ada dalam hatinya, ia pun tetap menyandarkan kepalanya pada kepala tangan Galang, dan mulai memejamkan mata.


Dalam diam, Galang merasakan telapak tangannya sedikit basah, yang ia yakini jika itu semua adalah air mata Anggita, karena gadis itu langsung mengangkat kepalanya.


Hatinya pun ikut terasa sakit saat bibirnya terpaksa mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan hatinya. Semakin sedih pula saat tahu jika gadis yang ia cinta kembali meneteskan air mata karena dirinya.


‘Kamu itu sebenarnya sudah ikhlas atau belum Laras? Masih pacaran aja kamu sudah kuat ini menghindar dari aku, gimana kalau ternyata kita baru ketemu setelah kamu sah jadi istri orang lain?’ tanya Galang membatin.

__ADS_1


Namun, perasaan sedihnya meluap saat melihat Anggita yang menunjukkan ponselnya dengan beberapa kata yang tertulis pada layar ponsel tersebut.


***


__ADS_2