The Last Love

The Last Love
BAB 35


__ADS_3

Adel sedang menunggu Daniel dan Sofia sejak tadi, keduanya masih juga belum pulang dan berkabar dan hal itu membuat Adel cemas tak karuan.


Bukan, dirinya bukan sedang cemburu atau menduga-duga dengan keduanya pergi bersama. Tapi ia hanya khawatir karena sebelum pergi keduanya tampak dengan ekspresi terlihat cemas dan tegang.


Kekhawatiran dari Adel juga tampaknya dirasakan oleh anaknya Noah yang mulai rewel dan menangis karena mengantuk. Tapi anaknya itu sejak tadi tampak tak mau tidur meski sudah diberi ASI dan timang-timang Adel.


Pintu rumah mereka akhirnya terbuka dan Daniel yang lebih dulu masuk ke dalam dan menghampiri Adel dan anaknya.


Melihat kedatangan Daniel, kini anaknya kembali terdiam dan menatap ke arah Ayahnya itu.


“Cuci tangan dan ganti baju dulu, baru boleh cium dan gendong Noah,” cegah Adel saat Daniel mendekati anaknya.


Daniel menuruti kata Adel dan berjalan ke dalam untuk mengganti bajunya dan juga mencuci tangannya.


“Mbak Sofia ke mana, Mas?” tanya Adel saat Sofia tak ikut pulang dengannya.


“Mampir ke warung dulu katanya ada yang mau di beli.” Daniel sudah menggendong Noah yang kini sudah berhenti menangis.


“Masalahnya udah kelar?”


Daniel baru mau bercerita pada Adel, namun kini Sofia sudah kembali dan menghampiri mereka.


“Maaf, Del tadi lama.” Kata Sofia dengan wajah tak enaknya.


“Nggak apa-apa, Mbak.”


“Eh boleh gendong Noah nggak?” tanyanya tampak antusias melihat anak mereka.


“Ganti baju, cuci tangan baru boleh gendong.” Kata Daniel mengulang perkataan istrinya tadi.


“Oke nggak masalah. Noah tungguin Aunty ya.” Katanya pada Noah.


Adel menepuk bahu suaminya karena mengulang perkataannya tadi untuk Sofia.


...***...


Sesuai dengan permintaan Sofia, kini anak mereka sudah digendong dan bermain dengan sahabat Daniel itu sedangkan orang tuanya kini berada di kamar membiarkan Sofia menjadi pengasuh sementara anak mereka.

__ADS_1


“Kasihan Mbak Sofia jagain Noah, dia juga pasti mau istirahat.” Kata Adel yang sedang mencari pakaian yang akan ia kenakan setelah mandi.


“Biarkan, dia yang minta sendiri. Lagi pula Noah nggak nangis.” Katanya cuek.


“Ya tapi, kan--,” ucapan Adel terpotong karena Daniel sudah berjalan ke arahnya dan menarik tangannya.


“Ayo mandi sebelum Noah nangis.” Daniel mengatarkan Adel sampai ke kamar mandi di dalam kamar mereka.


“Iya ini Adel mau mandi, Mas Danielnya keluar dulu.” Kata Adel bersiap untuk mandi.


Adel sudah berjalan ke dalam kamar mandi dan mendengar suara pintu sudah tertutup, ia pun bersiap untuk membuka bajunya namun saat ia menengok kebelakang sudah ada Daniel yang berdiri dan membuka baju lebih dulu.


“Ih, Mas mau ngapain, Adel duluan yang mandi.” Adel terkejut melihat Daniel yang rupanya tidak keluar dari kamar mandi.


“Saya juga mau mandi.” Katanya dengan wajar datar.


“Iya nanti gantian, Adel dulu yang mandi. Ehh itu kenapa dibuka?” pekik Adel yang langsung menutup matanya saat melihat Daniel sudah mengambil membuka seluruh pakaiannya begitu saja.


“Nggak usah tutup mata, kamu juga sudah pernah coba.” Daniel berkata enteng dan berjalan ke Bathtub mengisi air dan mendudukan dirinya.


“Ya udah, Mas dulu yang mandi.” Adel berjalan keluar.


“Kita mandi bersama biar tidak lama.”


“Enggak, Mas Daniel duluan aja.”


“Mandi sekarang atau mau saya mandikan?” kata Daniel yang membuat nyali Adel menciut.


“Mandi sendiri-sendiri juga bisa, kenapa nggak nunggu giliran aja?” Adel yang akhirnya menurutkan kata Daniel.


Adel masih merasa malu dengan Daniel jika berduaan dalam keadaan seperti saat ini. Adel mengingat saat dirinya hamil beberapa bulan dan dengan tanpa rasa malu mengikuti Daniel ke kamar mandi dam mereka mandi bersama tapi kenapa sekarang saat keadaan berbalik ia malah malu sendiri.


“Nanti kalau Noah nangis dan mbak Sofia manggil kita gimana?” tanya Adel khawatir.


“Saya sudah bilang Sofia dan minta dia jaga Noah.”


“Ya tapikan nanti kalau Noah rewel gimana, Mas?”

__ADS_1


“Sofia lebih tahu cara nenangin anak bayi.”


Adel tak bisa menjawab ucapan suaminya itu yang tampaknya sudah memiliki rencana matang-matang sejak tadi.


“Janji ya cuma mandi aja.”


“Memangnya kamu berharap apa?” kata Daniel mendekatkan wajahnya ke arah Adel.


...***...


Adel masih kesal karena kelakuan Daniel sore tadi, tapi suaminya yang memang tipikal cuek dan dingin justru makin acuh saja dengan kemarahannya.


Kalau saja tidak ada Sofia di rumah ini, mungkin saja ia sudah mengomel sejak tadi. Adel terlalu keliru, ia kira pengakuan cinta Daniel saat ia lahiran dulu akan membuat berubah menjadi pria manis untuknya, kenyataannya Daniel tetaplah Daniel si muka datar dan dingin.


“Gimana, Mbak udah erat.” Kata Adel.


“Udah cukup gini, yang penting udah pas gendongannya.”


Adel sedang belajar cara menggendong dengan kain jarik dengan Sofia. Ia sempat terkejut melihat Sofia yang pandai menggendong Noah dengan kain tersebut dan ia yang masih belum bisa mulai belajar pada Sofia dan wanita itu benar-benar pandai mengajarinya.


“Kalau menurut aku sih lebih enak gendong pakai kain gini.”


“Waktu itu Adel mau coba bejalar tapi Mamah nggak bisa ngajarinnya jadi biasanya suka langsung Mamah yang pasangin ke Adel.”


“Iya sih banyak yang bisa gendong gini tapi pas ngajarinnya susah.”


Hari sudah malam dan Noah juga sudah menangis karena waktu jam tidurnya telah tiba. Dan kini Adel sudah bersiap menidurkannya sedangkan Sofia kini keluar kamar membawa map coklat dan berbicara bersama Daniel di taman belakang.


Noah sudah tertidur lelap masih di gendongan Adel. Rencananya ia akan meminta tolong suaminya itu untuk membantunya membuka gendongan agar dirinya bisa menidurkan Noah di ranjangnya.


Adel mengacingkan kembali bajunya dan menghampiri Daniel dan Sofia yang berbincang di sana. Saat hendak memanggil Daniel dari pintu, ia sedikit terkejut melihat Sofia kini tengah meniup asap rokoknya dan menatap langit-langit dengan mata memerah di taman belakang.


“Kalau aja dulu gue sama lo, mungkin nggak kayak gini nasib gue, Niel.”


Perkataan dari Sofia terdengar oleh Adel dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk memanggil suaminya itu. Daniel tak merespon ucapan wanita itu karena sibuk dengan berkas yang ia masukan lagi ke map coklat.


Adel masih bingung dengan perkataan Sofia, apa maksudnya ia berbicara begitu, apakah mereka dulu memiliki hubungan lebih dari sahabat? Oh apakah ada rahasia dari Daniel yang belum ia ketahui.

__ADS_1


__ADS_2