
Setelah Galang dapat menguasai diri, ia kemudian menghubungi orang kepercayaan almarhum papanya.
“Ya, bawa orang-orang yang pernah berhubungan dengan kekasihku dulu,” titah Galang.
“Memangnya ada apa, Tuan? Semua itu sudah berlalu cukup lama,” ujar sang asisten yang kini beralih menjadi orang kepercayaan Galang.
Laki-laki itu seakan memang dilahirkan untuk mengabdikan diri pada keluarga tersebut, dan mengikuti semua yang tuannya perintahkan, tanpa peduli sifat tuannya seperti iblis ataupun malaikat berhati baik.
“Ada yang ingin kutanyakan pada mereka. Aku hanya ingin bicara pada mereka saja,” jawab Galang cepat. Ia tidak sabar untuk mengetahui semuanya, sebelum ia kembali berhadapan dengan Anggita.
“Baik, Tuan. Saya akan memanggil mereka ke rumah Tuan sekarang,” ucap sang orang kepercayaan sebelum Galang mengakhiri panggilan mereka.
Hampir satu jam Galang menunggu, akhirnya mereka pun tiba dengan satu mobil yang terisi penuh oleh sepuluh orang.
Ia cukup terkejut mengetahui jika orang-orang yang terlibat dalam hubungannya bersama Anggita sebanyak ini.
“Apa saja yang mereka lakukan?” tanya Galang saat orang-orang bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam itu berjalan ke arahnya dan memberi hormat.
“Masuklah. Ada yang ingin kutanyakan pada kalian semua,” ucap Galang mempersilakan mereka untuk masuk dan duduk dalam sebuah ruangan yang ada di rumahnya.
“Maaf, Tuan. Apa ada yang bisa kami bantu, atau ada urusan mendesak sampai Tuan memanggil kami malam-malam begini,” ujar salah satu pria yang duduk paling ujung kanan mewakili semua rekan kerjanya.
“Ya. Sangat penting,” jawab Galang melipat kedua tangan di depan dada. Memperhatikan setiap wajah mereka.
“Siapa di antara kalian yang diperintahkan untuk menabrak sahabat saya malam itu?” tanya Galang menatap mereka satu per satu.
Semuanya saling bertukar pandang. Tidak ada yang berani bersuara atau hanya sekadar mengangkat tangan.
Brak!
Galang mengebrak di hadapannya dengan kuat.
“Aku hanya bertanya pada kalian! Cukup kalian akui saja, dan tidak perlu saling berdiskusi!” tegas Galang dengan tatapan tajam.
Kini wajahnya mirip dengan alharhum papanya saat sedang marah, membuat mereka takut walaupun usia Galang jauh lebih muda dari mereka.
“Saya Tuan,” ucap salah satu di antara mereka, kemudian disusul dua orang lainnya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi setelah kecelakaan itu?” tanya Galang berharap mendapat titik terang atas kejadian enam tahun silam.
“Kami tidak tahu, Tuan,” jawab dua orang terakhir yang mengangkat tangan.
Jemari tangan Galang terkepal kuat, ingin rasanya ia menghajar semua wajah yang ikut andil dalam kehancuran hubungan percintaan dan persahabatannya bersama Denis. Namun, ia tidak akan bertindak gegabah, sebelum mengetahui semua ceritanya dengan rinci.
“Baik. Aku akan mengubah pertanyaanku,” ucap Galang terus memperhatikan raut mereka yang begitu tegang sekarang.
“Sebutkan semua tugas yang pernah papaku berikan pada kalian, yang berhubungan dengan perempuan itu, orang terdekat dia, serta Denis,” ucap Galang.
“Jangan coba-coba membohongiku, atau keluarga kalian akan berada dalam bahaya.”
Ancaman Galang sukses membuat sepuluh dia di hadapannya takut. Semuanya meminta dan memohon kebaikan hati Galang untuk tidak melibatkan keluarga mereka.
Satu per satu di antara mereka bergantian masuk ke ruang kerja Galang. Mereka menceritakan semua yang diperintahkan pada mereka, serta semua yang mereka lakukan. Hingga akhirnya Galang mengetahui salah satu di antara mereka, ada yang bertugas untuk menjaga ruang rawatnya selama ia tidak sadarkan diri.
“Jadi dia datang hari itu?” tanya Galang mendekatkan wajahnya.
“Benar, Tuan. Tapi hanya sekali itu saja. Saya tidak tahu ke mana perempuan itu pergi,” jawab pesuruh keluarga Agra yang kini berhadapan dengan Galang.
“Baiklah. Panggil yang lainnya,” titah Galang mempersilakan pria berambut cepak di hadapannya keluar.
Semakin banyak ia mengetahui apa yang mereka lakukan pada Anggita, semakin yakin pula ia tidak salah mencintai gadis itu.
Akhirnya Galang pun berhadapan dengan pria yang menjadi pemimpin dalam aksi penculikan Jihan, tepat saat ia masih berada di rumah sakit.
“Biadab! Beraninya kau menyakiti Jihan!” murka Galang menarik kuat kerah baju pria di hadapannya hingga laki-laki itu langsung berdiri karena ia kesulitan untuk bernapas.
“Ma—maaf, Tuan. Tu—tuan A—gra y-yang mem-merintah-kan ka-mi.”
“Ahhh!”
Pria itu menghela napas lega saat Galang melepaskan cengkeramannya, meskipun ia harus terhempas setidaknya ia dapat kembali bernapas dengan baik.
“Kau tahu? Kau membuat gadis itu trauma selama bertahun-tahun!” sergah Galang meluapkan kekesalannya.
Ia tidak menyangka jika papanya melakukan hal keji itu pada anak SD, yang masih sangat kecil dan polos.
__ADS_1
“Tapi Tuan Agra memberikan uang pada perempuan itu, Tuan,” ucapnya setelah dapat kembali berbicara.
“Uang?”
“Benar, Tuan,” jawabnya mengangguk pelan.
Galang yang terbakar amarah, melepas kasar dasi yang masih melekat di tubuhnya, dan membuka dua kancing atas kemejanya.
“Bagaimana dengan Denis? Apa yang kau dan yang lainnya lakukan pada dia?” tanya Galang mendekatkan wajahnya pada pria yang wajahnya masih memerah tersebut.
“Tuan Agra memerintahkan mereka untuk memukulinya, agar dia berhenti membantu Tuan,” jawabnya pelan.
“Kurang ajar!” geram Galang.
Ia kemudian menyuruh semua orang berpakaian serba hitam itu untuk pergi dan menjauh dari ruangannya.
“Haaaa!” teriak Galang menghempaskan susunan guci yang berada di atas rak susun yang berada di dekatnya.
“Kurang ajar! Kalian bener-bener keterlaluan!”
Teriakan Galang dari dalam ruang kerjanya, terdengar sampai ke bawah tangga. Membuat sepuluh orang yang ikut andil dalam melukai hatinya menyesal telah menuruti semua perintah bos pertama mereka.
“Dia tidak ada bedanya dengan Tuan Agra,” ucap salah satu di antara mereka saat sedang menuruni tangga.
“Dari mananya?”
“Dia mengancam akan menyakiti keluarga kita,” jawab pria itu.
“Itu untuk mengetahui semuanya. Entah bagaimana nasib kita setelah ini,” ujar yang lain merasa bersalah.
Kini, mereka tidak dapat membayangkan bagaimana beratnya menjadi seorang Galang. Anak yang lahir dari keluarga yang begitu kejam pada keluarganya sendiri.
Tidak kuat mendengar teriakan Galang diiringi barang-barang yang pecah, mereka pun memilih untuk pulang.
Ruangan yang semula begitu rapi dengan barang-barang yang tersusun sesuai tempatnya, kini sudah hancur lebur, berserakan di lantai. Galang terduduk di atas lantai marmer yang begitu dingin. Air matanya terus meleleh, membayangkan bagaimana menderitanya Anggita, Jihan, dan Denis karena ulah papanya.
“Maafkan aku. Maaf telan membuat fisik dan mental kalian terluka,” sesal Galang menatap foto Denis dan foto Anggita yang dia ambil secara diam-diam.
__ADS_1
“Makasih udah bertahan sampai saat ini, agar aku bisa nebus semua kesalahan yang udah orang tua aku buat ke kamu dan Jihan,” ujar Galang terus mengusap layar ponselnya yang menampilkan wajah Anggita.
***