
Mendengar titah dari ibunya, Alan tidak dapat tetap berdiam diri saja. Ia langsung berdiri dan berbalik menatap bu Ratih.
“Jangan dong, Bu! Kevin juga nanti mau makan,” ucap Alan cepat.
“Sejak kapan adik kamu itu doyan makan pedas? Kamu lupa itu?” tanya pak Galih begitu paham dengan kedua putranya. Ia pun tahu jika Alan tidak rela jika sambal terlezat itu dibawa pulang oleh Anggita.
“Bu—bukan gitu, Pak. Siapa tahu nanti kalo Liam nyicip sambal buatan dia, dia jadi mau makan sambal,” kelit Alan membuat kedua orang tuanya menahan tawa. Sedang Anggita hanya diam menyimak dan mendengarkan saja.
“Walah-walah. Mau gimanapun nikmatnya sambal buatan Anggita, kalo yang makan orang yang nggak doyan pedas, ya tetap nggak mau. Betul kan, Pak?” ujar bu Ratih meminta persetujuan suaminya.
“Hm! Bener itu!” timpal pak Galih sependapat dengan istrinya.
“Ah! Ya sudah! Terserah kalian saja,” pungkas Alan kemudian beralih menatap Anggita.
“Bawa aja semuanya pulang,” suruh laki-laki itu dengan gaya sok coolnya.
Anggita hanya mengangguk, dan membawa semua makanan ke dapur. Hanya beberapa menit, meja makan yang sebelumnya penuh oleh banyak makanan, kini sudah bersih dengan seluruh kursi sudah masuk ke bawah kolong meja.
***
Malam hari, bu Ratih berjalan menuju kamar putranya sulungnya.
“Nak, boleh ibu masuk?” izin beliau menyembulkan kepala dari balik pintu.
Alan menoleh ke arahnya, dan mengangguk pelan.
“Masuk aja, Bu,” jawab Alan mematikan ponselnya.
“Ada apa, Bu?”
Bu Ratih mendudukkan diri di samping ranjang tempat putranya berada. Ia mengusap pahanya perlahan, kemudian memperhatikan putranya yang sudah tumbuh semakin dewasa dan tampan.
“Gimana menurut kamu?” tanya bu Ratih.
__ADS_1
“Apanya, Bu?” Alan masih tidak mengerti dengan pertanyaan ibunya.
“Anggita. Dia gimana menurut kamu?” jelas bu Ratih menatap putranya dengan dalam.
Mendengar pertanyaan ibunya, Alan mengusap pelan tengkuknya dan mengedikkan bahu.
“Ya gitu. Kan Ibu yang lebih lama kenal sama dia,” jawab Alan.
“Iya, ibu tahu. Selama kamu di rumah, penilaian kamu ke dia gimana? Kamu itu udah gede, Nak. Beberapa tahun lagi kamu udah kepala tiga,” ujar bu Ratih dengan sejuta harapan terselip di dalamnya.
Alan menghela napas, dan menatap ibunya. Ia tahu jika ibunya ingin dia segera menikah, atau paling tidak sudah memiliki calon istri. Namun, melihat kisah cinta para sahabatnya serta sifat-sifat wanita yang kerap ia temui, sering membuat dirinya berpikir berulang kali untuk mengenal cinta dan mendekati wanita.
“Bu, nanti juga kalo udah waktunya aku akan nikah kok,” jawab Alan dengan tenang.
“Kapan, Nak? Ibu sama bapak makin lama juga makin tua. Ibu juga nggak pengen maksa kamu. Ibu nggak mau kamu buru-buru nikah karena permintaan kami berdua. Ibu pengen itu, istri kamu bisa gantiin peran ibu. Nyiapin makanan kamu, perhatian dan peduli sama kamu, ngerawat kamu dengan baik. Dan ibu nemuin itu dalam diri Anggita.”
Terungkaplah niat terpendam bu Ratih selama ini membuat ia dekat dengan pembantu di rumahnya.
Alan kembali termenung dalam bilik tidurnya. Memikirkan harapan dan permintaan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya.
Selama kurang lebih satu minggu, ia memperhatikan Anggita. Memang gadis itu terlihat berbeda dari kebanyakan wanita lain yang ia temui. Anggita tidak manja, dan selalu berusaha melakukan semua hal seorang diri. Bahkan ia kerap menolak bantuan yang dirinya tawarkan. Seperti memperbaiki keran air yang bermasalah di dapur, saat orang tuanya tidak ada. Gadis itu bersikukuh ingin memperbaikinya sendiri meskipun membutuhkan waktu lama, dan berakhir dengan baju serta wajahnya basah.
Anggita tidak pernah menolak masakan apa saja yang ia pinta, tanpa peduli ia pernah memasaknya ataupun tidak. Namun, gadis itu tetap mencobanya dengan yakin pada dirinya sendiri.
Dia pendiam, pembawaannya tenang hingga Alan terkadang kesal sendiri karena tidak dapat membuat pembantunya kesal. Akan tetapi, satu pembahasan yang selalu Anggita hindari adalah soal percintaan dan keluarga, gadis itu tetap menjawab tetapi jawabannya terlalu singkat, dan langsung membungkam mulut lawan bicaranya.
“Masa iya, aku harus nikah sama dia?” tanya Alan pada dirinya sendiri.
Ia pun tidak peduli dengan status Anggita, serta batas pendidikan yang gadis itu enyam. Tetapi sudah dasarnya Alan belum ada kepikiran untuk menikah, ia memutuskannya matang-matang.
“Kamu benar-benar mau pergi lagi, Nak?” tanya bu Ratih dengan raut muka sendu, terselimuti rasa sedih.
“Iya, Bu. Ada yang masih harus aku urus. Mungkin dua atau tiga bulan lagi aku udah pulang,” jawab Alan berusaha meyakinkan ibunya.
__ADS_1
Alan langsung mendekap ibunya, membuat tatapannya bertemu dengan Anggita yang berdiri di belakang ibunya. Setelah melerai dekapan ibunya, Alan berjalan menghampiri Anggita.
Gadis itu hanya diam, dan tersenyum tipis.
“Boleh saya tanya sesuatu?” izin Anggita tetap bicara dengan formal, karena menghormati Alan.
“Tanya aja. Nggak perlu izin dulu,” jawab Alan tersenyum hangat.
“Kamu pergi karena masakan saya kurang enak?” tanya Anggita mengutarakan kegelisahannya.
“Aha! Nggak kok. Memang masih ada yang harus diurus di kampus. Masakan kamu itu enak, banget malah. Sayangnya aku memang harus pergi. Yaa, mungkin nanti cari restoran atau rumah makan yang masakannya mirip sama kamu,” jujur Alan setelah sekian lama ia berpura-pura tidak menyukai masakan terlezat buatan Anggita.
“Nggak ada, kecuali masaknya pakai bumbu cinta,” balas Anggita mengatakan rahasia masakannya.
“Masakan yang dibuat dengan sepenuh hati, dan ketulusan, pasti rasanya akan beda sama yang lain,” lanjutnya tersenyum singkat.
“Apa lagi kalo yang makan orang yang dicinta,” sahut Alan begitu pelan.
“Apa?” tanya Anggita kurang mendengar suara Alan, karena tertutup oleh suara bising orang-orang di sekitar bandara.
“Kalo aku pulang, masaknya yang lebih enak,” jawab Alan dengan jelas.
Anggita hanya mengangguk pelan dan terus mengurai senyum.
“Ayo, Nak. Nanti kamu terlambat,” ajak pak Galih begitu berat untuk mengantar putranya ke dalam bandara.
Ia pun kembali berpamitan pada kedua orang tuanya, dan berpesan pada bu Ratih untuk tidak memecat Anggita karena ia kembali pergi.
Bu Ratih mengangguk. Ia tahu jika masakan Anggita sudah memikat putranya sejak awal. Namun, rasa gengsi Alan yang begitu tinggi, membuatnya hanya dapat mengelus dada, dan terus mendoakan yang terbaik untuk putranya.
Anggita terus menatap punggung Alan yang kian menjauh dari pandangannya, kemudian ia berjalan mendekati bu Ratih.
***
__ADS_1