
Di tengah teriknya panas matahari pukul 10 pagi ini, Anggita tampak sibuk berlari panas-panasan di sepanjang trotoar yang dipenuhi dengan bangunan, mulai dari pertokoan sampai dengan usaha seperti percetakan dan penerbitan.
“Huh! Huh! Bentar lagi sampai! Ayo kuat, Anggita!” ucap Anggita pada dirinya, menyemangati dirinya yang hampir pingsan mengejar waktu yang semakin mepet!
Sambil terus menyempatkan diri guna mengecek layar ponsel di tangan kirinya, yang mana di layar tersebut menampilkan Gmaps dengan rute menuju alamat sebuah gedung penerbit, Anggita juga menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari di mana sebenarnya lokasi alamat itu berada.
“Duh! Gedungnya yang mana, sih?!”
Anggita kesal setengah mati.
Dia benar-benar merasa bahwa dia sangat sial pagi ini. Padahal hari ini adalah hari penting yang paling dia tunggu belakangan ini!
Andai dia semalam begadang karena secangkir kopi yang tak sengaja dia minum beberapa jam sebelum jam tidur seharusnya, dia pasti tidak akan kerepotan seperti ini!
Dan memang, sebenarnya Anggita hari ini harus datang ke sebuah penerbit untuk mengirimkan naskahnya secara offline atas kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sebelumnya.
Kesepakatan itu menerangkan kalau Anggita harus datang ke alamat penerbit paling lambat pukul 10.30 siang.
Lalu, karena Anggita tidak benar-benar tahu di mana lokasi tepat dari alamat sang penerbit, dia berinisiatif untuk pergi lebih pagi supaya tidak terlambat datang dan membuat kesan yang buruk bagi pihak penerbit.
Akan tetapi, yang terjadi adalah hal sebaliknya. Tidak hanya tidak bisa berangkat lebih pagi, dia bahkan mendapat banyak kesialan pagi ini!
“Ke depan lurus 100 meter dan kanan jalan?!?!” pekik Anggita setelah dia mengecek kembali alamat si penerbit dari Gmaps yang ada di ponselnya.
Dengan keringat mengucur deras di tengkuk dan pelipisnya, Anggita mengangkat pandangannya lurus ke depan.
“Seratus meter?!!”
Kedua kaki Anggita hampir lemas dibuatnya.
Tapi demi harapan naskahnya akan dicetak, diterbitkan, dan laris manis di pasaran, dia menguatkan tekadnya sekali lagi dan mulai berlari!
Baru setelah nafasnya benar-benar hampir habis, dan dia sendiri sangat ngos-ngosan, Anggita berhenti.
Dia kini hanya perlu menyeberangi jalan raya yang cukup lengang ini untuk benar-benar sampai di gedung penerbit.
“Huh! Jangan sampai aku sudah susah payah dan menderita seperti ini, lalu aku salah alamat atau terkena alamat palsu!”
Setelah mengatur nafasnya dengan baik dan menunggu sampai kendaraan yang hendak lewat itu melewatinya semua, Anggita akhirnya berjalan menyebrangi jalan raya.
“Harusnya gedung putih kecil itu 'kan tempatnya?” gumam Anggita sembari menengok kembali gambar bangunan di foto yang ada di Gmaps.
Begitu foto dan bentuk gedung yang ada di depannya itu cocok, Anggita mengulas senyum lega.
“Syukurlah, memang benar!”
__ADS_1
Langkah Anggita menjadi ringan.
Dia mengelap keringatnya dengan punggung tangan, merapikan penampilannya yang sudah hampir tak karuan, sebelum akhirnya masuk ke dalam gedung penerbit tersebut.
“Permisi,” sapanya.
Di sana, dia disambut salah seorang karyawan yang kemudian mengantarnya ke bagian penerimaan naskah. Saat semua proses itu selesai, Anggita pun pulang.
Tetapi, dalam perjalanan pulang itu, Anggita sempat bergumam pelan.
“Aku sepertinya nggak asing dengan gaya interior yang digunakan di gedung itu. Tapi apa ya yang bikin nggak asing sama konsepnya?”
Setelah berpikir lama tanpa mendapat hasil, Anggita lantas mengedikkan bahunya acuh tak acuh, enggan memikirkannya lebih jauh.
Hanya saja, dia berpikir lagi sejenak.
“Aku datang susah payah, padahal cuma begini aja prosesnya? Ya ampun!”
Anggita tidak habis pikir, tapi juga tidak berdaya.
Dia memutuskan untuk pergi mencari kedai es krim guna mendinginkan otak, hati, dan seluruh saraf emosinya.
“Semoga aja semuanya sepadan!”
***
Galang tidak bisa untuk tidak memuji dan mengapresiasi kerja kerasnya selama beberapa waktu ini dalam rangka membangun sebuah penerbitan secara diam-diam.
Meskipun tidak mudah, terutama saat awal-awal dia merintis bidang penerbitan ini, dia tetap berusaha keras untuk mewujudkannya.
Tidak peduli apa, usahanya tidak boleh sia-sia. Dan berkat kegigihan, kerja keras, doa, dan segala upaya yang dia lakukan, dia akhirnya berhasil.
Gedung yang tak terlalu besar ini berhasil dia sulap menjadi sebuah kantor penerbitan yang cakap!
“Aku harap, aku bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan usaha ini.”
‘Tok! Tok! Tok!’
Galang menolehkan kepalanya. “Masuk.”
Pintu ruangannya dibuka dari luar.
Seorang karyawan laki-laki datang dengan beberapa tumpuk kertas yang memiliki ketebalan bervariasi.
“Pak Galang, ini adalah naskah-naskah yang dikirim secara offline oleh para penulis yang sudah kami konfirmasi sebelumnya.”
__ADS_1
Sontak, Galang memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri karyawan laki-laki tersebut.
Dia mengamati baik-baik tumpukan itu, sebelum memberikan isyarat supaya sang karyawan meletakkannya ke atas meja kerjanya.
“Ada berapa banyak penulis yang tertarik bergabung dengan kita?”
“Sekitar 15 orang, Pak.”
“Aku mengerti. Kau bisa kembali,” ujar Galang setelahnya. “Biar aku mengeceknya terlebih dahulu.”
“Baik.”
Setelah karyawan laki-laki itu pergi, Galang mulai memeriksa satu per satu naskah yang ada di mejanya. Dia membacanya secara cermat namun singkat.
Dengan kepiawaiannya, Galang dapat menganalisis semua naskah yang ada di tangannya itu tanpa masalah.
Mana yang sekiranya menarik perhatiannya dan tidak mainstream, akan dia letakkan di sisi yang berbeda.
Sedangkan naskah yang isinya kurang menarik minatnya dan juga tidak memiliki prospek terlalu bagus di pasaran, akan dia singkirkan ke pinggir yang lain.
Dan di antara tumpukan itu, ada juga naskah milik Anggita yang tadi dia perjuangkan mati-matian.
Naskah itu akhirnya diambil dan dicek oleh Galang saat matahari tanpa dia sadari telah beranjak lengser ke barat.
“Ternyata memeriksa naskah tidak semudah dan sesepele itu,” ujarnya seraya membuka halaman demi halaman naskah milik Anggita.
Dibacanya secara cermat dari mulai judul, premis, outline, dan kemudian bab pertamanya. Untuk beberapa alasan, Galang terhenyak.
“Hmm, naskah ini tidak buruk. Tapi kenapa aku merasa bahwa aku kenal gaya tulisan seperti ini, ya? Apa aku pernah membaca karya si penulis ini sebelumnya?”
Saat batin Galang bertanya-tanya, dia memilih untuk terus lanjut membaca, dan mulai menemukan bahwa dirinya tertarik dengan cerita yang dituliskan di sini.
“Cerita ini bagus! Dan entah kenapa, memberiku kesan familier yang aneh. Sebenarnya siapa penulisnya?”
Berpikir dan berpikir, Galang akhirnya keluar sambil membawa naskah itu di tangannya. Tujuannya adalah mencari karyawan laki-laki yang sebelumnya mengantar naskah.
“Pak Galang!”
Sebuah kebetulan, baru saja Galang hendak mencarinya, karyawan itu sudah lebih dulu datang mencari dirinya!
“Iya?”
“Bagaimana, Pak? Saya ingin menanyakan mengenai naskah yang tadi saya berikan pada Anda.”
“Memang kebetulan.” Galang tersenyum tipis. Dia menyerahkan naskah di tangannya dengan santai.
__ADS_1
“Aku tertarik dengan naskah ini dan ingin membicarakan tentang kerja sama termasuk pembagian keuntungan dengan penulisnya. Tolong minta dia datang untuk menemuiku, bisa?”