The Last Love

The Last Love
BAB 39


__ADS_3

Ada hal yang tidak bisa untuk dikatakan namun cukup dengan tindakan, tapi ada banyak hal yang dilakukan dengan tindakan tapi tidak cukup tanpa ucapan.


Dan begitulah yang Adel rasakan saat ini. Meskipun Daniel sudah pernah mengatakan mencintainya tapi ada hal lain yang menurutnya belum cukup, ia masih ingin mendengar semuanya dari mulut manis pria dan menjelaskan bagaimana bisa mencintainya selama ini.


Bukan untuk menuntut atau terlalu berlebihan, tapi kisah perjalanan rumah tangganya bersama Daniel itu terjadi dengan tiba-tiba, pria itu melamarnya langsung ke rumah orang tuanya tanpa saling mengenal, dan tiga bulan sebelum menikah mereka mencoba berkenalan dan di saat-saat itu, Daniel memiliki sifat dingin tapi dirinya tetap memilih pria itu sebagai suaminya setelah keyakinan di dirinya.


Dan setelah menikah, banyak hal yang tak terduga terjadi seperti dirinya yang sempat dituduh tidak perawan oleh suaminya karena cerita sahabatnya, kemudian dirinya yang sempat diteror beberapa kali yang ternyata pelakunya sahabatnya sendiri, dan juga rahasia yang sampai saat ini masih membuat Adel bingung tentang Daniel yang mencintainya sejak lama.


“Kenapa diam?” tanya Daniel saat mereka berada di kamar.


Adel baru selesai merias wajahnya, ia juga sudah menggenakan gaun yang tiba-tiba Daniel berikan untuknya tadi pagi. Malam ini acara makan malam untuk perayaan ulang tahun Papah mertuanya akan di adakan.


Sejak satu jam lalu, Noah telah dibawa oleh kakak iparnya bermain bersama dua anaknya di luar. Sejujurnya Adel sedikit gugup jika berkumpul bersama keluarga Daniel saat ini, meskipun mereka semua sangat ramah padanya tapi Adel masih belum terlalu bisa berbaur dengan mereka kecuali Mamah mertuanya yang memang cukup dekat dengannya sejak hamil dulu.


“Noah nangis nggak?” tanya Adel menatap suaminya yang kini juga sudah tampil rapih dengan setelan kemeja senada dengan gaun yang ia pakai.


“Saya pikir kamu tidak sedang mengkhawatirkan, Noah.” Daniel berjalan mendekati Adel.


Wajah istrinya itu tampak tidak begitu tenang saat ini, beberapa kali ia menghela nafas seolah sedang menenangkan dirinya.


“Papah sama Mamah sudah di bawah, kita turun.” Daniel mengenggam tangan Adel yang kini terasa dingin.


...***...


Makan malam keluarga akan diadakan di halaman belakang agar suasananya lebih menyejukkan. Kolam renang di halaman belakang pun sudah dipenuhi oleh balon yang mengembang di atasnya.


Adel sedikit terkejut melihat orang tuanya juga ternyata datang malam ini, padahal tadi pagi Papah dan Mamahnya itu tidak mengatakan apapun.


Semua orang sudah menunggu kehadiran Daniel dan Adel di meja makan. Semua mata kini memandang pada mereka yang masih berjalan bergandengan.


“Mamah pikir Daniel ngunciin kamu di kamar karena kamu terlihat sangat cantik malam ini.” Ujar mertuanya.


Senyuman Adel mengembang, sebuah pujian dari mertuanya itu sedikit membuatnya malu.


“Mamah sama Papah juga datang.” Adel menatap orang tuanya.


“Undangan dari besan tidak mungkin kami tolak,” jawab Papah Adel.


Adel duduk di kursi yang sudah Daniel tarik dan disusul Daniel yang duduk di sebelahnya. Kali ini tak ada lagi percakapan apapun karena acara makan malam sudah di mulai.


“Noah, ke mana?” bisik Adel pada Daniel.


“Noah, sudah di jaga bibi bareng anak-anak.” Kirana—kakak Daniel yang mendengar perkataannya akhirnya menjawab.


“Tapi--, apa dia nggak nangis.” khawatir Adel.


“Ada om nya yang jagain juga di sana.” kata Mamah Adel.


Adel mengerutkan alisnya mendengar jawaban Mamahnya, jadi adiknya juga datang ke sini?


“Kenapa Dean nggak sekalian ikut makan aja di sini.” tanya Papah Daniel.


“Sudah kenyang katanya, dia nunggu potongan kue aja.” sahut Kirana.


Memang sudah menjadi kebiasaan Dean—adik Adel selalu menghindari acara makan malam bersama keluarga besar, pria yang saat ini sudah mengijak semester 6 itu memang jarang sekali ikut berkumpul keluarga apalagi saat ini. Makanya Adel pun terheran mendengar perkataan Mamahnya jika Dean datang dan sedang menjaga anaknya.


Acara makan malam mereka sudah selesai, makan dan piring-piring sudah di bawa ke dapur oleh asisten rumah mereka dan diganti oleh cake ulang tahun dengan empat tingkat berwarna putih dengan hiasan bunga di sisi atasnya.


Rasanya cake itu tidak cocok untuk papah mertuanya, doniman dengan warna putih ditambah hiasan bunga, apakah mereka salah memesan cake ulang tahun?


Tapi tak ada tatapan keheranan dari yang lainnya termasuk Daniel yang justru terlihat santai saat ini seolah tidak ada yang aneh.


“Sekarang cakenya sudah siap, tinggal kita tiup lilin.” Kirana sudah bersemangat saat cake tersebut kini justru diletakan di depannya.


Adel menatap terkejut saat cake yang dibawa dua pria berseragam itu kini diletakan di depannya dan bahkan Kirana sudah berjalan ke arahnya untuk menyalakan lilin.


“Mas, kenapa cake-nya di sini?” heran Adel.

__ADS_1


“Lah, yang ulang tahun kan kamu.” sahut Papahnya.


“Adel? Tapi kan Papah juga ulang tahun.” Adel menatap mertuanya.


Suara kekehan dari Papah mertuanya terdengar, tampaknya pria itu merasa lucu dengan siatuasi saat ini melihat Adel kebingungan di tengah-tengah keluarga.


“Ulang tahun Papah udah kelewat jauh-jauh hari, hari ini Daniel yang minta rayakan ulang tahun kamu,” jawab Papah mertuanya.


“Udah nggak usah kaget gitu, mending tiup lilin dulu biar bisa cepet-cepet makan cakenya.” Kirana sudah semangat setelah berhasil menyalakan lilinnya.


Masih dipenuhi kebingungan, pandangan Adel beralih pada suaminya yang berdiri di sampingnya, “Mas, kenapa jadi gini?”


“Hari ini ulang tahun kamu, saya sudah persiapakan ini jauh-jauh hari jadi sekarang buat permintaan dan tiup lilin.” kata Daniel yang kini tersenyum dan meletakan tangan dipinggang sang istri.


“Karena para tamunya sudah pada tua, kita nggak bisa nyanyiin buat kamu jadi langsung tiup lilin aja ya.” kata Mamah mertuanya yang membuatnya tertawa.


Melihat semua orang tengah menantinya, kini Adel memejamkan matanya membuat harapan di ulang tahunnya malam ini, setelah selesai ia langsung meniup lilin dan mendapat tepukan dari keluarganya.


Adel merasakan ada sesuatu bergerak di lehernya, dan ia menyadari jika Daniel sudah memasakan sebuah kalung di lehernya dan membuatnya makin terkejut.


“Happy Birthday,” Daniel mengecup dahi Adel sebentarnya yang membuat sorakan.


“Untung pasangan halal semuanya di sini, kalau enggak pasti bakalan ada yang nangis di pojokan.” kata Kirana.


Namun saat mereka menikmati momen momen malam ini, suara balon yang pecah terdengar di pintu dan membuat mereka semua menoleh pada sumber suara.


Suara tawa terdengar saat melihat Dean yang menggendong Noah dengan rambutnya yang sudah di kucir dua dengan pita dan kaki kanannya sudah di peluk anak perempuan Kirana yang berusia lima tahun dan di celana kirinya sudah ditarik-tarik anak lelaki Kirana yang bersuai empat tahun. Hal yang belum pernah Adel lihat itu membuat dirinya tak mampu menahan tawa melihat adiknya jadi korban anak-anak.


“Teh Adel, Noah nangis terus.” Kata Dean dengan nada suara terdengar berat.


Daniel yang merasa kasihan dengan penderitaan adik iparnya itu langsung menghampirinya dan mengambil Noah dari gendongnya. Namun tampaknya bantuan Daniel juga tidak bisa membuat Dean tenang, karena dua anak Kirana sudah menarik-nariknya.


Kirana yang merasa tak enak melihat adik dari iparnya sudah tersiksa oleh kelakuan anaknya pun langsung membawa kedua anaknya dari Dean. Pria itu hanya diam saja tak berbicara lagi mungkin sedang menahan kesal atau malunya.


Adel berjalan mendekati adiknya itu dan membantunya melepaskan pita yang dililitkan di rambutnya itu. Tak ada suara dari Dean karena pria itu malah diam saja.


“Kalau anak Teh Adel yang giniin, udah pasti aku kunciin di pintu.” katanya dengan pelan.


Adel tertawa melihat dengusan kesal dari Dean yang sejak tadi ditahannya, “Ayo gabung, kita makan cake?” ajak Adel menarik tangan adiknya itu.


Papah Adel menepuk punggung anaknya sambil tertawa, kali ini setidaknya ia lebih baik bergabung agar lolos dari para anak-anak yang membuatnya pusing.


...***...


Adel baru saja selesai menghapus makeup nya, Noah yang sejak tadi menangis akhirnya sudah tertidur pulas di ranjangnya yang sudah disediakan mertuanya. Katanya itu punya anak Kirana dulu dan mereka pindahkan ke kamar Daniel untuk Noah.


“Mas, kenapa nggak bilang-bilang karena acara tadi untuk rayain ulang tahun Adel?” tanyanya menalikan piyamanya.


“Namanya juga suprise, ya jadi tidak bilang.” Daniel meletakan ponselnya di nakas.


“Adel pikir, Mas Daniel lupa sama ulang tahun Adel.”


Daniel turun dari kasur dan berjalan ke ruangan walk in closet, seperti ada sesuatu yang pria itu ambil.


“Setelah saya menyukai kamu, saya selalu ingat hari ulang tahun kamu. Dan setiap tahunnya saya selalu menyiapkan hadiah, tapi saya tidak punya keberanian untuk memberikannya.” Daniel membawa satu box kotak hadiah dan menaruhnya di kasur.


Adel sedikit terkejut melihat kotak besar yang Daniel bawa, ia tak tahu apa isi di dalamnya karena suaminya itu tampak tanpa beban mengangkat barang tersebut.


Karena penasaran, ia pun membukannya dan melihat beberapa kado lainnya yang sudah dibungkus dengan ukuran yang berbeda-beda.


“Ini semua, hadiah yang ingin saya berikan di hari ulang tahun kamu. Tapi, baru hari ini hadiah-hadiah itu bisa saya berikan. Saya memang terlalu pengecut.” Daniel tersenyum samar.


Mendengar perkataan suaminya, kini Adel makin dibuat bingung, semua hadiah ini sudah di kumpulkan sejak lama oleh Daniel? Tapi baru diberikan hari ini. Adel sudah menghitung jumlahnya ada 7 hadiah yang ukurannya berbeda.


“Ada 7 hadiah, apa ini Mas Daniel siapkan semuanya sejak lama?”


“Seharusnya ada 8, tapi tahun ini hadiahnya sudah saya pakaikan di leher kamu.” Daniel ikut duduk diranjang.

__ADS_1


Rasa terkejut Adel tak bisa disembunyikan, 7 hadiah lainnya yang belum dibuka itu diberikan Daniel untuknya? Jadi apakah selama 7 tahun itu pria itu membeli semua hadiah ini tapi belum pernah sampai padanya?


“Kamu boleh buka satu persatu, saya juga lupa apa isinya.”


Karena terlalu penasaran, Adel pun membuka satu persatu hadiah yang Daniel beli sejak tujuh tahun lalu. Ada dompet, jam tangan, gelang, dream catcher, novel, gantungan kunci hingga parfum dan semuanya sangat Adel sukai.


“Dream cacther itu seharusnya saya berikan tahun kemarin untuk penangkal mimpi buruk, tapi saya juga gagal untuk berikannya, ” jelas Daniel saat Adel mengambil hadiah tersebut.


“Mas, kenapa bisa ada sebanyak ini?” Adel masih belum paham dengan perasaan pria itu.


“Semua itu saya belikan sejak 8 tahun lalu, saat kita masih anak sekolah.”


“Waktu sekolah, Mas Daniel benar-benar kenal Adel?” tanyanya penasaran.


Kini waktu yang tepat untuk Daniel mengungkapkan semua perasaannya pada Adel. Sejak lama ia tidak pernah berkata jujur pada istrinya itu karena ia memang sengaja menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


“Di tempat parkir, waktu saya siap-siap ambil motor mau pulang. Kamu berlarian ke arah saya dan menawari untuk membeli kerupuk yang kamu jual untuk bantu ibu-ibu di depan gerbang sekolah.”


Mendengar perkataan Daniel, kini Adel mencoba mengingat kejadian yang diceritakan suaminya itu. Apakah itu pertemuan pertama mereka yang Adel lupakan.


“Sejujurnya saya tidak begitu tertarik waktu kamu tawarkan jualan yang kamu bawa, tapi setelah saya berhenti di gerbang sekolah dan melihat wajah bahagia kamu memberikan uang pada ibu-ibu itu, saya sedikit tertarik dengan ketulusan dan senyuman itu.”


Memori lama Adel akhirnya kembali, ia mengingat kejadian lampau itu saat dirinya bertemu dengan ibu-ibu yang terlihat kelelahan menjual kerupuk yang dibawanya saat dirinya bersiap pulang, dan ia menawarkan diri menjual dagangan tersebut ke beberapa murid yang masih ada di sekolah.


Dan saat itu ia melihat pria dengan penampilan tampan dan rapih meski hari sudah siang dan ia berlarian padanya untuk menawari dagangannya. Ia masih ingat pria itu membeli semua kerupuk itu dan menggantungkannya di motor matic yang ia bawa. Jadi pria baik hati yang membantunya membeli dagangan tersebut adalah Daniel?


“Saya sudah memperhatikan kamu sejak lama, tapi saya pikir itu hanya sebatas rasa kagum. Sampai akhirnya saya benar-benar terpikat dengan pesona Adelia Monica yang sering jadi pembicaraan teman-teman saya dan saat itu, saya hanya bisa menjadi pengagum rahasia kamu,” ujar Daniel.


Mata Adel sudah berkaca-kaca mendengar pengakuan dari Daniel. Bagaimana bisa pria itu menjadi pengangum rahasianya bertahun-tahun bahkan juga sudah menyiapkan hadiah untuknya di setiap tahun tanpa mengajaknya berkenalan lebih dekat sebelumnya.


“Kenapa bisa, Mas suka Adel setelah lulus dan bertahun-tahun kita nggak ketemu?” tanya Adel penasaran.


“Kata siapa kita tidak pernah bertemu, setelah lulus sekolah sampai kamu kuliah saya masih memperhatikan kamu dari kejauhan, kita juga sering bertemu di tempat yang sama tapi kamu tidak pernah sadar. Dan waktu kamu pacaran dengan Bani, itu pun saya masih menyimpan rasa dengan kamu sampai kalian putus akhirnya saya beranikan diri melamar kamu,” jelas Daniel.


Tak ada kata-kata yang bisa Adel keluarkan mendengarkan kejujuran dari Daniel saat ini. Jadi selama ini, pria itu sudah memperhatikan dari kejauhan dengan perasaan kagumnya yang tidak pernah diutarakan? Tapi saat Adel benar-benar merasa trauma menjalin hubungan, Daniel langsung datang melamarnya. Jadi ia menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar bersamanya?


“Kenapa, Mas Daniel nggak pernah mau jujur dari awal atau berani dekati Adel dari dulu?”


“Saya takut kamu menghindar karena sifat dingin saya. Jadi saya putuskan lebih baik langsung melamar kamu dan jadikan kamu istri saya.”


Adel masih belum mengerti dengan pilihan Daniel, tapi satu kejujuran yang Daniel utarakan soal perasaannya untuknya itu benar-benar membuat Adel merasa senang. Ia pernah mengira jika suaminya menikahinya karena dendam pada ucapan Bani dulu, tapi ternyata pria itu sudah menyukainya sejak lama dan menahan perasaan itu sendirian.


Ia memang tahu maksudnya, karena awal pernikahan mereka memang Daniel sangat dingin padanya. Bahkan ia juga pernah sempat berpikir jika pria itu hanya ingin menikahinya untuk mengubah statusnya saja, tapi ternyata dibalik semua waktu yang ia jalani bersama Daniel saat ini adalah rahasia besar yang pria itu sembunyikan dan itu adalah perasaannya.


“Sikap dingin itu nggak akan bertahan lama kalau sudah nemuin orang tepat yang bisa mencairkannya, terima kasih Mas Daniel sudah mau bertahan mencintai Adel dalam diam.” kata Adel.


“Dulu saya benar-benar takut kehilangan kamu, makanya setelah kamu dan Bani putus akhirnya saya langsung lamar kamu supaya tidak ada lagi pria yang bisa mengambil wanita yang saya cintai.”


Adel kini mendekatkan dirinya pada Daniel, tangannya sudah mengantung di leher pria itu, tak ada rasa malu ataupun ragu kini Adel memulai lebih dulu mendaratkan ciumannya di bibir Daniel. Rasanya ia sendiri belum bisa membalas semua rasa cinta Daniel seperti itu tapi yang pasti ia sudah jatuh cinta berulang kali pada pria dingin yang kini menjadi suaminya.


Adel melepaskan ciuman mereka, semua hadiah yang diberikan Daniel sudah ditaruh di bawah dan wanita itu kini menempelkan keningnya di dahi Daniel dengan mata terpejam.


“Bagaimana Adel bisa membalas semua perasaan Mas Daniel?” tanyanya dengan posisi tangan masih memeluk leher suaminya.


“Menerima saya jadi suami kamu sudah cukup.”


“Tapi Adel masih merasa berhutang dengan semua hadiah yang sudah Mas simpan bertahun-tahun, Adel merasa belum pantas untuk dicintai seperti ini.” ada rasa ragu pada diri Adel saat ini setelah kejujuran dari Daniel.


“Tidak ada yang tidak pantas untuk dicintai, dan kamu adalah orang tepat yang punya tempat istimewa di hati saya, menerima saya jadi suami kamu, bertahan dengan segala sikap saya selama ini sampai melahirkan Noah lahir. Saya merasa bersyukur kamulah orangnya.”


Adel membuka matanya menatap mata Daniel, yang sudah menatapnya dengan tatapan menghangat. Pria itu tampak merasa bahagia hari ini setelah penyataan perasaanya yang terpendam bertahun-tahun akhirnya bisa diutarakan.


“Mau Adel buka sendiri tali piyamanya?” bisik Adel.


“Biar saya bantu malam ini.”


Dan malam ini tak ada lagi rahasia yang terpendam keduanya bertahun-tahun. Semua rasa cinta dan sayang itu tersalurkan satu sama lain. Dan di malam ini, Adel benar-benar merasa sangat beruntung dicintai bertahun-tahun oleh pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. Tak ada lagi rasa penasaran, kali ini hanya ada suara ******* yang terdengar dari kedua insan yang memadu rasa satu sama lain di kamar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2