
Alan langsung mencari-cari alasan, agar ia tidak ketahuan tengah mencari tahu segala hal tentang gadis di sampingnya.
“Nggak papa, aku kan anak majikan kamu. Nggak boleh aku nanya-nanya?” tukas Alan dengan raut muka sedikit tegang.
“Iya, karena kisah cinta atau urusan percintaan saya, nggak ada hubungannya dengan kerjaan saya di rumah kamu,” jawab Anggita tanpa ada rasa takut. Ia hanya mengutarakan apa yang menurutnya benar.
Seorang pembantu juga memiliki ruang privasi sendiri, yang tidak perlu diketahui oleh siapa pun.
“Jelas ada, dong,” sanggah Alan.
“Dari mananya?” tanya Anggita asal.
Nada suaranya tetap rendah, tanpa ada rasa terintimidasi sedikitpun.
“Kalo misalnya kamu punya pacar, terus kamu lagi ada masalah sama pacar kamu, mood kamu jadi nggak stabil, jadi kerja kamu nggak sempurna,” terang Alan berusaha berpikir rasional. Ia sedikit bersyukur karena terkadang memperhatikan teman-teman kampusnya yang perempuan, atau kekasih temannya jika sedang ada masalah.
Mereka terlihat lebih mudah tersinggung, sensitif, dan tidak fokus dalam mengerjakan yang mereka lakukan.
“Saya pastikan itu semua tidak akan terjadi. Saya tahu bagaimana mengontrol emosi dan ego saya. Jadi kamu tenang aja. Kamu terlalu berlebihan menilai saya,” ucap Anggita kemudian, sebelum kembali menatap jalanan yang mereka lalui.
‘Dia percaya diri sekali. Apa jangan-jangan bener kalo selama itu dia nggak pernah pacaran, atau dekat gitu sama cowok?’ batin Alan semakin begitu ingin mencari tahu isi hati Anggita.
Sedang gadis di sampingnya diam dengan hati berkecamuk. Pembahasan singkat dengan Alan, membuka pintu yang sudah cukup lama Anggita tutup. Melihat semua kenangan beberapa tahun lalu, dengan rasa dan harapan yang masih sama.
‘Aku harap kepergian aku, buat kamu bahagia Galang. Aku harap kamu nggak terluka atau menderita lagi seperti saat kita sama-sama dulu,’ rapal Anggita dalam hati.
Ia hanya dapat menitipkan hati dan cintanya pada Yang Kuasa. Memasrahkan segalanya tanpa mengharapkan apa-apa.
Jangankan untuk kembali jatuh cinta, berharap dapat kembali melihat sosoknya saja Anggita tidak berani. Hingga ia memilih untuk terus bersembunyi di kota ini, dan semakin mengubur dalam-dalam cinta yang dulu sangat membara dan menggebu-gebu itu.
Suasana di dalam mobil kembali hening, sampai mereka tiba di rumah, Anggita langsung masuk membawa barang belanjaannya dan bergegas masak untuk makan siang.
Berbagai macam masakan ia buat, dengan penuh rasa percaya diri dan yakin jika makanannya mampu membuat putra sang majikan betah di rumah.
“Anggita, masaknya sepenuh hati ya,” pinta bu Ratih, meskipun selama ini hasil masakan Anggita tidak pernah mengecewakan.
“Pasti, Bu!” sahut Anggita dengan penuh semangat.
__ADS_1
Sesekali ia menyeka bulir-bulir keringat yang timbul pada dahinya.
Rambut gadis yang dikuncir kuda itu, terus bergerak terombang-ambing seiring langkah Anggita yang berjalan ke sana ke mari.
Gerakan tangan dan langkahnya cepat serta cekatan. Ia pun tidak ingin dibantu, meskipun ada banyak makanan yang hendak ia masak.
Uap dari panci kecil, berisi sop ayam itu mengeluarkan aroma lezat yang membuat Alan berjalan ke arah dapur, untuk melihat dirinya.
“Kamu ngapain ke sini?” bisik bu Ratih melihat putranya yang berjalan mendekat.
“Bau apa ini, Bu?” tanya Alan.
“Ya bau masakannya Anggita lah. Kenapa? Makin laparnya?” goda bu Ratih tanpa sengaja mendengar suara perut putranya.
“Aku lapar nggak ada hubungannya sama aroma masakan dia, Bu. Ini karena udah masuk jam makan siang,” kilah Alan tanpa berniat untuk memuji masakan Anggita sebelum ia mencicipinya secara langsung.
“Ya udah, kamu tunggu di ruang makan aja. Ibu tanya Anggita nya masih lama apa nggak,” jawab bu Ratih mendorong putranya agar berbalik, sedang ia berjalan memasuki dapur.
“Bagaimana Anggita? Udah semua?” tanya bu Ratih mendekati Anggita yang baru saja mencicipi sop buatannya sendiri.
“Nggak usah. Ibu udah tahu kalo masakan kamu itu enak pake banget,” tolak bu Ratih dengan wajah sumringah.
“Langsung bawa ke meja makan aja ya. Bapak juga sebentar lagi pulang,” pesan bu Ratih sebelum kembali berlalu meninggalkan dapur.
“Baik, Bu.”
Aroma masakan tersebut, tercium semakin dekat, menusuk indra penciuman Alan dan semakin membuat perutnya meronta-ronta.
“Apa masakan dia bakalan seenak aromanya?” tanya Alan lirih saat melihat Anggita berjalan ke arahnya.
Satu per satu makanan sudah terhidang, dan kini semuanya sudah berkumpul di ruang makan.
“Kamu makan di sini aja,” pinta bu Ratih saat Anggita hendak kembali ke belakang.
“Nggak usah, Bu. Saya di belakang aja. Dapurnya juga masih berantakan,” tolak Anggita diiringi gelengan pelan.
“Udah, bersih-bersihnya nanti aja. Kita makan dulu. Kamu juga pasti udah laper ‘kan?” bujuk bu Ratih menuntun Anggita agar duduk di samping Alan.
__ADS_1
“Tapi, Bu….”
“Sudah, nggak papa. Dari pada kamu makan sendirian,” ucap pak Galih.
Akhirnya Anggita pun nurut, dan ikut makan bersama keluarga majikannya.
“Gimana? Enakkan?” tanya bu Ratih menatap Alan yang makan dengan sangat lahap.
“Enak,” jawab Alan singkat.
Ia kembali fokus pada makanannya, tanpa melirik Anggita.
“Enak apa enak banget? Makannya pelan-pelan, Nak,” tegur bu Ratih melihat putranya yang seperti orang tiga hari tidak makan.
“Udah laper banget, Bu. Tadi pagi aku nggak sarapan,” elak Alan agar ia tidak ketahuan begitu menikmati masakan pembantu rumahnnya.
Baru saja ditegur oleh sang ibu. Alan mendadak tersedak oleh makanannya sendiri. Anggita yang baru hendak menyuap, langsung meletakkan sendok dan menyodorkan segelas air mineral pada Alan.
“Tuh kan! Udah ibu bilang makannya pelan-pelan aja. Jadinya tersedak,” omel bu Ratih melihat tingkah putranya.
“Ahhhh!” Menghela napas panjang, dan diam sejenak.
“Nggak sengaja, Bu,” jawab Alan dengan mata merah dan basah.
Wajah pria itu sedikit berkeringat, karena begitu menikmati sambal ulek buatan Anggita yang pedas sekaligus segar. Salah satu sambal yang sulit ia temukan, meskipun ada rasanya tidak ada yang pas di lidahnya.
Ia yang biasanya jika sudah tersedak tidak berselera makan, kini tetap melanjutkan makannya. Meskipun ia tidak secepat sebelumnya tetapi ia tetap makan hingga makanan di piring habis tidak tersisa.
“Sambelnya pedes banget,” seloroh Alan mengusap keringatnya dan beranjak meninggalkan meja makan.
“Namanya cabe ya pedes toh, Nak. Kalo mau manis makan gula,” sahut pak Galih yang juga penyuka pedas, dan menurutnya sambal buatan Anggita sangat lezat.
“Saya beresin ini dulu, Bu,” ujar Anggita saat melihat bu Ratih dan pak Galih sudah menghabiskan makanan mereka.
“Iya, Nak. Nanti kamu bungkusin juga ya untuk adik kamu. Sambalnya juga bawa aja semua, kan tadi kata anak saya terlalu pedas,” jawab bu Ratih dengan suara yang cukup kuat, agar Alan yang berada di atas sofa ruang santai mendengar suaranya.
***
__ADS_1