
Belum lama Alan pergi dari rumah orang tuanya, laki-laki itu sudah sangat merindukan masakan rumah buatan Anggita.
“Aah! Apa jangan-jangan aku beneran mulai suka sama dia? Tapi dia kelihatannya biasa-biasa aja,” ujar Alan kala ia duduk di dekat jendela apartement yang ia tinggali bersama sahabatnya.
Laki-laki itu duduk termenung di sana, bertemankan secangkir kopi hangat. Pikirannya sedang bekerja sangat keras sekarang. Bukan perihal pelajaran tetapi perasaan. Perasaan Anggita pada dirinya. Ia sudah pesimis lebih dulu, sebelum mengungkapkan cintanya.
Selain untuk menyelesaikan studynya dan melanjutkan usaha perkebunan karet yang dikelola oleh ayahnya, kepergian Alan kali ini juga untuk mengetahui perasaannya sendiri pada Anggita. Dan kini ia membenarkan semua yang ibunya katakan.
Ia benar-benar sudah jatuh hati pada pembantu di rumahnya itu.
“Whats up, Bro?” sapa sahabat Alan menepuk pundaknya.
“Eh, ngagetin aja,” jawab Alan tersadar dari lamunannya.
“Ya habisnya dari tadi gue perhatiin lo diem aja di sini. Kenapa? Lagi ada masalah di rumah?”
“Nggak. Di rumah aman kok,” ucap Alan disertai gelengan kepala.
Ia tidak ingin memberitahu masalah yang sedang menganggu pikirannya, karena ia sendiri tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Selama dua bulan, akhirnya kini ia sudah berhasil mendapatkan gelas S1-nya seperti yang kedua orang tuanya harapkan. Kali ini, kedua orang tuanya datang tanpa membawa serta Anggita. Padahal dalam hati kecilnya ia berharap orang tuanya akan membawa serta gadis itu bersama mereka.
“Biar kamu punya alasan untuk cepat-cepat pulang,” ujar bu Ratih saat Alan bertanya alasan mereka.
“Ibu ini ada-ada aja. Aku pasti pulanglah, kan itu rumahku,” jawab Alan tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya.
“Iya pulang. Tapi kamu pasti bawa dia jalan-jalan di sini dulu,” celetuk pak Galih paham dengan isi kepala putranya.
Melihat Alan yang menyengir, pria yang berusia hampir setengah abad itu hanya menggeleng pelan, karena jelas tebakannya benar.
“Kita pulang hari ini,” tukas bu Ratih saat mereka dalam perjalanan menuju apartement yang ditinggali oleh putra mereka.
Bukan sok mewah, atau ingin menghamburkan uang orang tuanya, sesekali jika ia tidak punya uang, barulah Alan memakai uang pemberian orang tuanya. Jika tidak kepepet, maka uang tersebut akan ia tabung.
“Iya, Bu,” patuh Alan menuruti perkataan bu Ratih tanpa sedikitpun menentangnya.
Dalam hati ia begitu senang, karena dapat kembali mencicipi masakan Anggita yang begitu menggoda dan memanjakan lidahnya yang amat mencintai rasa pedas.
Dua hari kemudian, mereka akhirnya kembali tiba di rumah.
“Selamat datang Pak, Bu,” sapa Anggita menyalami tangan pak Galih dan bu Ratih. Gadis itu sudah menganggap mereka layaknya orang tua sendiri.
__ADS_1
“Gimana kabar kamu, Nak? Semuanya aman-aman aja?” tanya bu Ratih merengkuh Anggita.
“Aman kok, Buk. Semua baik-baik aja,” jawab Anggita tersenyum hangat.
“Ekhem!”
Anggita melirik laki-laki yang baru saja berdeham dengan kuat.
“Selamat datang kembali den Alan,” sapa Anggita tahu jika laki-laki di hadapannya merasa diabaikan.
“Hahah! Panggil namanya saja, Nak,” ujar pak Galih, terkekeh mendengar panggilan Anggita pada putra sulungnya.
“Baik, Pak,” patuh Anggita mengangguk pelan.
“Mari, saya bantu bawa kopernya, Bu,” ucapnya lagi mengambil alih koper milik bu Ratih dan Alan.
“Eh, aku bisa bawa sendiri,” tolak Alan menahan tangan Anggita.
Tanpa sadar jari mereka saling bersentuhan, menghantarkan sengatan listrik yang langsung mengenai jantung Aditya. Membuat jantungnya langsung berdebar kuat.
“Nggak papa. Biar sekalian saya bereskan kamar kamu,” ucap Anggita menarik cepat koper Alan dan membawanya menuju kamar.
Dari kejauhan, Alan terus memperhatikannya. Gadis itu tidak berubah. Ia tidak gugup sedikitpun, dan pembawaannya tetap tenang. Tanya tentang perasaan Anggita pada dirinya, kembali berputar dalam benak Alan.
“Kenapa, Nak? Melamun terus dari tadi,” tegur bu Ratih menepuk pelan pundak Alan. Membuat laki-laki itu sedikit berjingkat dan menoleh ke belakang.
“Ibu ngagetin aja,” jawab Alan mengembuskan napas kuat.
Bu Ratih menatap objek yang sejak tadi putranya perhatikan. Seutas senyum tipis terbit di wajah wanita itu. “Ungkapin aja. Diterima atau nggaknya, itu urusan belakangan. Kamu itu laki-laki, jangan lembek,” ujar bu Ratih sedikit mengejek putranya, agar Alan merasa tertantang. Paling tidak putranya harus menjadi laki-laki gentleman.
“Nanti aja, Bu. Aku masih capek,” sahut Alan langsung berlalu menuju kamarnya yang sudah rapi, bersih, serta harum.
Sepanjang hari, ia terus berpikir bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan perasaannya pada Anggita, hingga sebuah rencana terlintas dalam benaknya.
Anggita baru selesai menyiapkan makan malam, serta membersihkan dapur milik majikannya. Gadis itu bergegas pulang, karena sang adik dipastikan sudah menunggu kepulangannya.
Tak lupa Anggita mengirim pesan singkat pada Jihan, jika sebentar lagi dia akan kembali ke rumah, hingga mereka dapat makan malam bersama.
“Kamu udah selesai kerjanya?” tanya Alan langsung berhampiri Anggita yang sudah tiba di halaman rumah.
“Iya. Ini saya mau pulang. Permisi,” pamit Anggita sedikit membungkukkan badannya dan berjalan melewati Aditya.
__ADS_1
“Anggita, tunggu!”
Anggita kembali menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Aditya.
“Ada apa?” tanya gadis itu dengan suara pelan.
“Eum… nanti malam boleh aku jemput kamu di kontrakan?” izin Alan harap-harap cemas, jika ternyata Anggita menolak dirinya.
“Jemput?”
“I—iya, aku mau ajak kamu jalan-jalan keluar,” jawab Alan berusaha untuk menutupi kegugupannya.
“Maaf saya nggak bisa,” tolak Anggita kembali berbalik.
“Kenapa? Kamu udah punya pacar? Atau baru gebetan?” tanya Alan ingin mengetahui alasan penolakan gadis di hadapannya.
Anggita menggeleng pelan. “Saya nggak bisa ninggalin adik saya,” jujur Anggita kembali berlalu meninggalkan Alan yang masih terpaku di tempatnya.
Laki-laki itu sedikit merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang gadis yang baru meninggalkan dan menolak tawarannya.
“Ternyata kamu sebegitu perhatiannya ya sama adik kamu,” puji Alan meskipun Anggita tidak lagi mendengar suaranya.
Pak Galih yang sejak tadi memperhatikan putranya, langsung menghampiri Alan.
“Bawa adiknya sekalian, atau kamu minta aja adiknya di sini dulu, sampai kamu sudah kencan sama dia,” usul pak Galih langsung mengembalikan semangat Alan yang sebelumnya sudah memudar.
“Memangnya nggak papa, Pak?” tanya Alan.
“Ya nggak papa. Adik dia juga baik kok, sopan juga anaknya, sama kayak Anggita,” jawab pak Galih yang sejak awal tahu jika Anggita mendidik adiknya sangat baik.
“Ya udah, kalo gitu nanti aku coba, Pak. Makasih ya, Pak,” kata Alan kegirangan karena ada kemungkinan ia dapat mengajak Anggita pergi kencan malam ini.
Laki-laki itu tidak sabar menunggu malam, agar dapat segera pergi menemui calon kekasihnya.
“Mau ke mana, Kak?” tanya Kevin saat menjelang makan malam kakaknya sudah sangat rapi.
“Anak kecil nggak perlu tahu,” ucap Alan meremehkan adiknya.
“Halah. Bilang aja mau ke rumah pacar,” celetuk bu Ratih membuat Kevin melebarkan matanya.
***
__ADS_1