The Last Love

The Last Love
Setelah Hujan Reda Bersama Air Mata


__ADS_3

“Ternyata sikap kepede-an kamu itu nggak pernah berubah ya,” jawab Anggita menoleh sekilas melihat Galang yang kini tergelak. Seakan apa yang sedang mereka bicarakan benar-benar lucu.


“Aku nanya lho. Kepedeannya dari mana coba?” sahut Galang begitu senang membuat raut muka Anggita mendadak berubah kesal. Gadis itu semakin cantik jika sedang ngambek atau marah padanya.


“Kamu nggak lucu sama sekali,” ucap Anggita.


Gadis itu kemudian melipat tangannya di depan dada, dan membuat selimut tebal yang menutupi tubuhnya ikut tertarik.


“Kita cari baju dulu, biar orang di rumah nggak semakin khawatir lihat kamu pulang basah-basahan begini.”


Anggita hanya menuruti perkataan Galang. Tahu jika Galang akan melakukan yang terbaik untuk dirinya dan Jihan. Adiknya pasti akan mengajukan banyak pertanyaan dan sangat sedih jika melihat keadaannya yang seperti sekarang.


Mereka pun akhirnya tiba di sebuah butik ternama. Membuat Anggita yang tidak pernah memasuki tempat sebagus tersebut, ragu untuk keluar dari mobil. Hujan deras yang semula mengguyur jalanan, kini kembali berubah menjadi rintik-rintik yang kian mereda.


Galang lebih dulu keluar dari mobil dan berjalan membukakan pintu untuk Anggita.


“Ayo turun,” ajaknya.


“Kenapa harus ke tempat ini? Nggak bisa pergi ke tempat laundry aja gitu?” tanya Anggita.


Ia berpikir Galang akan membawanya ke tempat laundry. Meminta orang di sana membersihkan pakaiannya, dan membuatnya kering dengan cepat, semacam menggunakan hair dryer atau sejenisnya. Bukan pergi ke butik mewah seperti yang ada di hadapannya sekarang.


“Nggak. Ayo aku gendong, kalo kamu malu, tutupin aja muka kamu pake selimut,” usul Galang. Dalam sekejap Anggita sudah berada dalam gendongan Galang. Membuat Anggita memekik tertahan karena terkejut.


“Turunin aku Galang!” pinta Anggita memelototkan matanya pada Galang.


“Nggak. Habisnya kamu lama. Tutup aja wajahnya, nanti ada yang lihat,” suruh Galang, tidak ingin pelayan laki-laki di butik tersebut melihat wajah Anggita.


“Selamat datang Pak Galang. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang karyawan butik yang datang menghampiri Galang.


Mendengar ada seseorang yang mendekat, Anggita pun menutupi wajahnya menggunakan selimut yang juga ikut terbawa saat Galang menggendong dirinya. Ia sangat malu jika orang-orang melihat wajah dan rambutnya yang acak-acakan serta basah, padahal Galang tidak jauh beda dari dirinya. Tapi laki-laki itu justru terlihat semakin tampan, ditambah kemeja putihnya ya yang basah, memperlihatkan bentuk tubuh dan otot-otot lengannya dengan jelas.


“Di mana Lila? Suruh dia menghadap saya sekarang,” ucap Galang pada wanita di hadapannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian seorang pria gemulai berjalan dengan cepat menghadap Galang.


“Ah Mas Galang . Ada yang bisa eike bantu?” tanya seorang pria gemulai berjalan menghampiri Galang.


“Hmm. Tolong carikan pakaian wanita saya dan saya. Sekalian keringin rambut dia, dan rias dia dengan natural,” ucap Galang melirik Anggita yang masih terpaku di atas pangkuannya.


WANITA SAYA?


Anggita meremas selimut yang menutupi wajahnya, dan mengintip Galang yang kini melihat ke arahnya.


“Enak aja kamu bilang aku wanita kamu,” desis Anggita dengan mata memicing, seakan siap untuk memberi hukuman pada Galang.


Sedang pria menyebalkan di hadapannya, hanya tersenyum lebar melihat ia marah.


Anggita akhirnya melompat turun dari atas pangkuan Anggita, dan melirik pria yang berdiri di hadapannya.


“Hai sis. Ayo ikut sama eike,” ucap Lila merentangkan tangannya, meminta Anggita untuk pergi bersama dirinya.


Melihat sosok yang ia yakini seorang laki-laki, tetapi bersikap seperti perempuan, membuat Anggita takut dan gugup. Ia kemudian menoleh ke arah Galang dengan raut muka memelas.


“Tapi dia?” Anggita ingin menangis saat Galang justru menyuruh orang seperti Lila untuk melayaninya.


Melihat Anggita yang tampak enggan, Galang pun mendekat ke arahnya.


“Nggak papa. Dia nggak akan ngapa-ngapain kamu. Nanti kalo aku udah tukar pakaian, aku langsung samperin kamu,” ujar Galang dengan lembut, menenangkan Anggita yang tengah dilanda resah gelisah.


“Nggak ada yang lain gitu?” bisik Anggita, berharap Galang memanggil perempuan yang menyapanya saat ia baru masuk tadi.


“Nggak. Cuma dia yang bisa aku andalin,” jawab Galang cepat.


Ia menuntun Anggita agar mengikuti ke mana Lila pergi.


“Beneran, aman?” tanya Anggita terus berbalik menatap Galang yang berusaha untuk menahan tawanya agar tidak pecah.

__ADS_1


“Iya, Laras. Kalo dia pegang-pegang kamu. Kamu langsung bilang aja sama aku,” jawab Galang.


Akhirnya Anggita pun mengangguk, dan berjalan di belakang Lila yang lebih dulu darinya.


Dengan selimut yang masih membalut tubuhnya, Anggita berjalan sangat pelan, hingga mereka memasuki sebuah ruangan.


“Nah, princess bisa bersih-bersih dulu di sini. Biar eike cari baju gantinya dulu,” ucap Lila saat mereka berdiri di depan kamar mandi yang ada di ruangan Lila.


Anggita mengintip kamar mandi yang akan ia masuki. Mencari handuk atau semacamnya, untuk menutupi tubuhnya nanti.


“Tenang aja. Di dalam eike sudah siapin shampo sama sabun ekstra harum dengan wangi semerbak. Sama bathrobe juga juga ada di lemari pojok,” jelas Lila.


“Oh. Oke. Makasih,” jawab Anggita tersenyum kaku dan berjalan memasuki kamar mandi di hadapannya setelah pria yang dipanggil Lila tersebut pergi.


Anggita mulai menyalakan shower dan mengatur suhu air yang keluar membasahi tubuhnya. Perlahan rasa dingin itu mulai menghilang dan tubuh Anggita mulai kembali segar.


Usai membersihkan tubuhnya, Anggita mengenakan bathrobe putih yang ia temukan. Kemudian keluar untuk melihat pakaian yang telah Lila pilihkan untuk dirinya.


“Maaf. Apa tidak ada baju yang mirip dengan baju yang saya pakai tadi?” tanya Anggita saat melihat deretan dress di hadapannya.


Lila menggeleng pelan. “Dress ini lebih cocok untuk Princess,” jawabnya terus memaksa Anggita untuk memilih salah satu dari lima dress yang ia bawa.


“Euum, apa ada yang lebih panjang dari ini?” Anggita menatap ngeri dress selutut tersebut.


Mungkin memang tampak indah saat ia memakainya. Namun, ia tidak lupa jika saat ini ia sedang bersama mantan kekasihnya dan takut jika Galang akan khilaf atau semacamnya.


“Pakai ini aja.”


Anggita dan Lila langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat Galang berdiri di depan sana dengan pakaian yang hampir serupa dengan pakaian yang ia kenakan sebelumnya. Hanya berbeda warna saja. Pria itu berdiri dengan kedua tangan menenteng hanger. Satu dress tanpa lengan dengan panjang sedikit di atas mata kaki Anggita, dan tangan kanannya memegang sebuah cardigan lengan panjang ala Korea.


Anggita masih terpaku di tempatnya saat Galang berjalan mendekatinya.


“Kalo kamu nggak mau juga. Kita pulang dengan kamu memakai bathrobe ini.”

__ADS_1


***


__ADS_2