
Setelah Jihan sendiri yang mengutarakan permintaannya, Galang pun menghubungi delapan orang yang sebelumnya sempat mereka temui.
“Ingat, kalian harus sudah rapi, dan tidak lagi memasang raut muka menyeramkan seperti waktu itu,” tegas Galang sebelum mengakhiri panggilannya.
Mereka kembali dikumpulkan di lapangan luas yang ada di belakang rumah Galang. Anggita berjalan dengan dipapah oleh Jihan, karena takut kakaknya itu akan jatuh.
“Kamu beneran nggak papa naik ke atas?” tanya Galang saat melihat wajah Anggita yang sedikit pucat.
“Iya, nggak papa. Udah kamu buruan jalannya,” suruh Anggita karena keberadaan Galang di depan mereka, menghalangi langkah keduanya.
“Jihan, kamu jalan duluan aja. Biar kakak yang bantu kakak kamu ya,” ujar Galang pada Jihan.
“Kamu satu langkah di depan kakak,” lanjut Galang saat melihat keraguan di mata Jihan. Akhirnya gadis itu mengangguk, meskipun kakaknya tidak ingin dibantu oleh Galang.
“Jangan keras kepala, Anggita. Kalo mereka pulang bisa bahaya,” kata Galang langsung mengangkat tubuh Anggita yang hangat. Kulit lengannya pun seketika terasa hangat saat bersentuhan dengan punggung Anggita yang terlapisi sweater rajut.
“Aku takut jatuh,” lirih Anggita seakan ia lupa jika ini bukanlah kali pertama Galang mengangkat tubuhnya.
“Badan kamu ringan kok. Jadi nggak akan jatuh,” jawab Galang dengan tenang.
Jihan memilih berjalan di samping Galang, sesekali ia melirik kakaknya yang begitu tenang dalam dekapan Galang. Hatinya menghangat. Ada perasaan senang saat Anggita bersama Galang.
Setelah sampai di hadapan para pelaku yang telah menyakiti mereka, Galang pun menurunkan tubuh Anggita dengan penuh hati-hati.
Kali ini keduanya tidak bereaksi berlebihan seperti waktu itu, karena penampilan orang-orang di hadapannya sedikit lebih terlihat seperti manusia normal. Bahkan mereka pun terlihat sedikit lebih putih dari sebelumnya.
‘Apa Galang nyuruh mereka perawatan dulu?’ pikir Anggita masih dapat memperjelas penglihatannya.
“Nona Anggita, Nona Jihan. Saya mewakili teman-teman saya, ingin meminta maaf pada nona karena telah menyakiti kalian berdua,” ucap pria yang menjadi ketua di antara mereka.
Anggita berusaha untuk menegapkan tubuhnya, meskipun kepalanya masih sempoyongan. Namun, ia tidak ingin mengabaikan orang-orang di hadapannya begitu saja.
“Saya dan adik saya sudah memaafkan kalian. Tapi, kami berdua berpesan agar kalian tidak lagi melakukan hal keji seperti yang kalian lakukan pada kami. Berjanjilah pada diri kalian sendiri,” tutur Anggita menatap mereka satu per satu.
“Kami berjanji tidak akan bertindak keji seperti dulu lagi!” sorak mereka serentak, dengan tangan terkepal di depan dada. Mereka terlihat sedang mengucapkan sebuah sumpah.
“Jihan, kamu mau ngomong apa sama mereka, Dek?” tanya Anggita menatap adiknya.
“Jihan nggak mau Om-Om semua nyakitin anak kecil,” ucap Jihan dengan suara menggemaskan.
__ADS_1
“Kami berjanji tidak akan menyakiti anak kecil lagi,” jawab mereka serentak.
Jihan terkikik geli mendengar respon mereka yang sangat kompak.
“Om-Om semua bisa senyum nggak? Jihan mau liat,” pinta Jihan menatap delapan pria dewasa di hadapannya.
Semuanya pun tersenyum lebar, sampai memperlihatkan deret barisan gigi mereka.
“Yang ikhlas senyumnya!” suruh Galang dengan keras.
“Hiiii!”
Satu barisan di hadapannya pun tersenyum semakin lebar, sampai mata mereka menyipit.
“Jihan, apa senyum mereka sudah cukup?” tanya Galang mencondongkan tubuhnya ke samping, karena Jihan berdiri di samping Anggita.
“Sudah, Kak,” jawab Jihan dengan senyum lebar, melihat pria dewasa di hadapannya.
“Satu hal lagi,” ucap Anggita saat para lelaki di hadapannya hendak pergi.
“Kalau bos baru kalian menyuruh kalian untuk melakukan hal yang jelek, tidak baik, atau semacamnya, jangan kalian turuti. Lawan saja,” lontar Anggita melayangkan tatapan tajamnya pada Galang.
“Kan kamu bos mereka,” jawab Anggita membuat para pria itu ingin tertawa. Namun, mereka hanya diam menyaksikan siaran langsung di hadapan mereka.
“Tapi kan aku nggak nyuruh mereka aneh-aneh, Laras. Aku malah nyuruh mereka bantu orang WO ngedekor rumah waktu resepsi pernikahan Ana kemarin,” jujur Galang membela diri.
Secara tidak langsung Anggita berpikir jika ia akan memanfaatkan kekuasaannya untuk hal yang tidak baik.
“Kan waktu itu. Nggak tahu kalo nanti, besok, lusa, atau suatu saat nanti kamu berubah pikiran,” balas Anggita menuding Galang.
“Aku nggak segila papa aku, Ras. Untuk dapetin cinta kamu lagi juga aku nggak akan pake cara kasar, yang ngerugiin orang lain,” terang Galang masih tidak terima dengan tuduhan Anggita.
“Ya bagus kalo gitu,” pungkas Anggita langsung menarik tangan Jihan agar mereka segera menghilang dari tempat tersebut.
“Anggita!”
“Aaakh! Kalian bersihkan lapangan ini sampai bersih! Karena kalian sudah berani untuk tertawa melihat saya!” perintah Galang pada delapan laki-laki di hadapannya, dan ia bergegas mengejar Anggita.
“Tunggu! Ada yang mau aku omongin juga sama kamu,” panggil Galang menahan pundak Anggita dengan cepat.
__ADS_1
“Ngomongin apa lagi, Galang? Kamu nggak lihat muka aku pucet?” gerutu Anggita ingin segera berteduh dan membaringkan tubuhnya.
“Aku tahu. Tapi aku juga tahu kamu nggak punya banyak waktu untuk tetap di sini,” jawab Galang.
“Pamitan kamu sama mbak Citra dan Farah,” lirih Galang dengan tatapan sendu.
Anggita memejamkan mata sejenak, berusaha untuk tetap bertahan dan tidak tumbang.
“Ayo aku bantu,” ucap Galang memapah tubuh Anggita, dan Jihan mengenggam tangan kakaknya.
“Jihan sudah makan?” tanya Galang saat mereka tengah jalan beriringan.
“Sudah, Kak. Kak Anggita yang belum makan,” jujur Jihan.
“Kakak tadi sudah makan, Sayang,” sanggah Anggita.
“Iya, tapi cuma dua sendok. Itu bukan makan namanya kakak,” bantah Jihan.
“Ya sudah, kita ke ruang makan ya,” kata Galang terus menuntun dan mendudukkan Anggita di kursi makan.
“Jihan, tolong bilang sama pelayan untuk buatin bubur, sama bawain kompres ya,” pinta Galang.
“Iya, Kak.” Jihan berjalan ke arah dapur, mencari pelayan.
Setelah Jihan menjauh dari mereka, Galang menjelaskan secara singkat tentang rencana yang telah disetujui oleh Citra dan Farah.
“Kamu cukup nurut aja ke mana pacar kamu mau. Aku akan saranin dia untuk bawa kamu ke tempat yang dulu adalah kafe tempat kamu kerja,” tutur Galang.
“Kenapa kamu harus repot-repot ngelakuin ini semua?” tanya Anggita dengan suara parau.
Suhu badannya yang meningkat, membuat tenggorokannya menjadi kering, dan mulutnya menjadi pahit. Namun, ia tetap ingin mengetahui semua alasan dari perhatian Galang yang menurutnya berlebihan, padahal sudah jelas ia menolak cinta pria tulus di hadapannya.
“Karena mereka juga berarti untuk kamu dan Jihan,” jawab Galang bersamaan dengan kembalinya Jihan dan seorang pelayan yang membawa peralatan kompres.
Dengan telaten, Galang memasukkan kain ke dalam baskom berisi air hangat, dan memerasnya sebelum ditempelkan ke dahi Anggita.
“Aku bisa sendiri.”
***
__ADS_1