The Last Love

The Last Love
Tidak akan Sama


__ADS_3

“Aku juga nggak mau di sama-samain sama pacar kamu itu.”


“Kenapa, Laras? Aku sudah janji kalo aku nggak akan ngomong sama dia kalau kita pernah punya hubungan spesial. Kamu nggak percaya?” tanya Galang semakin dalam menatap kedua bola mata Anggita.


“Setelah bertahun-tahun, sekarang kamu balik ke kehidupan aku, dan kamu tanya aku percaya apa nggak sama kamu? Jelas nggak, Galang. Apa lagi setelah kamu ngomong sama aku,” jawab Anggita dengan tatapan terluka.


“Ngomong apa? Aku masih cinta sama kamu? Aku cuma ungkapin perasaan aku, dan aku nggak berharap kamu nerima cinta aku, atas dasar rasa kasihan, karena perasaan aku ke kamu itu tulus,” terang Galang.


Napas Anggita terasa tercekat. Ia ingin mengatakan jika perasaannya pun tulus, dan ia tidak pernah menerima Galang sebagai kekasihnya, hanya karena kasihan.


‘Apa kamu nggak lihat cinta di mata aku?’ tanya Anggita dalam hati, dengan selaksa air mata yang siap tumpah dalam satu kedipan.


“Maaf, aku nggak bermaksud buat kamu nangis ataupun marah,” sesal Galang tidak tega melihat Anggita.


“Mungkin aku aja yang terlalu berharap kamu bisa bersikap seperti dulu ke aku,” tutur Galang dengan suara rendah.


Ia kembali duduk ke posisi semula, dan melanjutkan perjalanannya. Bukan menuju tempat catering. Mereka hanya pergi berkeliling di temani kebisuan. Anggita terus menatap jalanan yang Galang lalui. Jalan raya yang dulu sering mereka lewati.


“Kamu mau ketemu sama temen-temen kerja kamu dulu?” tanya Galang setelah cukup lama mereka saling diam.


“Kamu tahu mereka ada di mana?”


“Tahu. Mau ketemu mereka?”


“Nggak ngerepotin? Kamu masih banyak kerjaan, ‘kan?”


“Nggak,” jawab Galang.


Ia kemudian memutar mobilnya menuju kantor utama tempat di mana Citra dan Farahkini bekerja.


“Ayo turun,” ajak Galang saat mobil yang ia kendarai berhenti di sebuah bangunan yang begitu tinggi.


“Mereka kerja di sini?”


Galang mengangguk pelan. Mereka pun berjalan memasuki kantor.


“Selamat siang, Pak,” sapa beberapa karyawan yang baru selesai makan siang.


“Siang,” balas Galang.


Ia kemudian pergi menaiki lift, dan meminta orang kepercayaannya untuk memanggil Citra dan Farah.

__ADS_1


“Mereka kenapa manggil kamu pake bapak?” tanya Anggita setelah ia dan Galang duduk dalam ruangan yang sangat besar, dengan banyak kursi, persis seperti ruang rapat yang biasa ia lihat di televisi.


“Permisi, Pak,” ucap Citra dan Farah bersamaan.


“Saya punya kejutan untuk kalian berdua,” ujar Galang mengalihkan pandangannya menatap Anggita.


“Anggita?”


Farah menutup mulutnya. Tidak menyangka jika setelah bertahun-tahun akhirnya ia dapat kembali melihat gadis remaja yang kini sudah tumbuh dewasa.


“Mbak Ratna! Mbak Citra!” sahut Anggita langsung berlari ke dalam dekapan mereka.


“Haaa aku kangen banget sama kamu,” ungkap Farah begitu erat mendekap tubuh kecil Anggita.


“Saya kasih waktu kalian setengah jam,” ucap Galang sebelum meninggalkan mereka bertiga dalam ruang rapat.


“Baik, terima kasih, Pak,” jawab Citra sedikit membungkukkan badan pada Galang.


“Mbak Citra kenapa hormat banget sama Galang?” tanya Anggita merasa aneh dengan tingkah orang-orang di kantor tersebut pada Galang.


“Dia itu pemilik perusahaan ini, Anggita,” jawab Farah melepas dekapannya dan mengajak Anggita untuk duduk.


“Dua rius. Ngapain juga Farah bohong,” timpal Citra.


“Pantesan aja dari tadi orang di sini manggil dia pake sebutan pak,” gumam Anggita, sebelum kembali berbagi cerita dengan dua perempuan yang cukup berarti dalam perjalanan hidupnya.


“Iya. Kafe tempat kita kerja dulu dijual. Terus nggak lama Galang minta kami berdua untuk kerja di kantor dia. Dengan syarat kami berdua harus cerita tentang kamu,” urai Farah.


“Kok bisa gitu? Aneh banget,” ujar Anggita berdecak pelan dengan syarat aneh yang Galang berikan pada dua sahabatnya.


“Itu semua untuk ngobatin rasa rindu dia ke kamu,” lontar Citra.


“Iya, Anggita. Semenjak kamu hilang, dia sering dateng ke kafe. Diam aja di sana sampe kafe tutup baru dia pulang. Sampe kita berdua nggak tega lihat dia,” tutur Farah.


Mereka berdua terus bercerita tentang kehidupan Galang semenjak Anggita pergi secara bergantian.


“Bahkan ada tetangga kamu yang lihat dia berdiri di depan pintu rumah kamu, sampe ada mobil dan orang-orang datang jemput dia,” kata Citra saat ia tidak sengaja berpapasan dengan tetangga lama Anggita.


‘Ternyata kamu semenderita dulu. Ternyata aku salah udah berpikir kalo kamu bahagia selama aku pergi, dan mulai bisa mulai kehidupan kamu yang baru,’ batin Anggita begitu sedih, setelah mengetahui banyak fakta tentang mantan kekasihnya.


Ia pun menyesal belakangan terus bersikap ketus dan galak tiap kali Galang mengajaknya berbicara. Padahal laki-laki tidak pernah menaikkan nada bicaranya, dan dialah laki-laki yang selalu berusaha untuk membuatnya tertawa sampai detik ini, meskipun responnya tidak seperti yang Galang harapkan.

__ADS_1


“Eh udah setengah jam aja,” ujar Citra melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Eh, aku minta nomor kamu dong. Kita berdua nggak mau kehilangan kamu lagi,” kata Farah menyodorkan ponselnya.


Anggita pun langsung memberi nomor ponselnya pada Farah dan keluar bersama mereka.


“Udah selesai?” tanya Galang saat tiga perempuan di ruangan tersebut keluar.


“Sudah, Pak. Kalo diturutin bisa sampe besok,” jawab Citra cepat.


“Ya sudah. Kalian boleh lanjut kerja,” ujar Galang mempersilakan kedua karyawannya untuk pergi.


“Mau pulang sekarang?” tanyanya menatap Anggita yang terus menatap kepergian Citra dan Farah.


“Kalo masih kangen, besok sebelum pulang kamu bisa ketemu sama mereka. Mereka juga aku undang ke pernikahan Citra,” ujar Galang melihat Anggita yang masih begitu berat untuk melepas kepergian mereka berdua.


“Ya udah,” ucap Anggita mengikuti Galang berjalan memasuki lift.


“Pak Galang,” panggil Anggita langsung mendapat tatapan tajam dari Galang.


“Kenapa? Kan semua orang di sini manggil kamu gitu,” ujarnya dengan nada sewot.


“Kamu nggak cocok manggil gitu. Cocoknya manggil Mas. Sayang juga boleh,” jawab Galang tersenyum sangat manis, membuat hati Anggita menghangat.


“Ngarep!” cetus Anggita mencebikkan bibirnya.


“Nggak kok. Aku cuma nawarin aja,” kilah Galang.


“Terserah Pak Galang aja,” kata Anggita tetap mengikuti panggilan orang-orang di kantor.


“Jangan buat aku nutup mulut kamu dengan cara lain ya,” ancam Galang karena Anggita terus mempermainkan dirinya.


Ancaman tersebut berhasil membuat Anggita mengunci mulutnya dengan rapat, sampai mereka kembali ke mobil, dan siap untuk pulang.


“Kamu nggak pusing ngurusin perusahaan kamu yang ada di mana-mana?” tanya Anggita tidak ingin Galang terus gila kerja, hingga nanti akan bersikap seperti papanya dulu.


“Nggak. Aku juga nggak sendirian. Awal-awal memang aku pikir aku nggak bisa urus semuanya. Tapi Ana percaya kalo aku bisa lewatin ini semua,” jawab Galang.


Saat hanya tinggal bersama Ana, tanpa ada orang tua yang mendampingi mereka. Saat itulah Galang paham arti sebuah keluarga, dan peran keluarga yang seharusnya.


***

__ADS_1


__ADS_2