
Alan yang gemas dengan adiknya, berakhir menyentil dahi Kevin, hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
“Ish! Sakit, Kak! Aku aduin Kak Anggita nih,” ancam Kevin hendak berteriak memanggil Anggita.
“Syuuut! Belum apa-apa aja udah ngadu,” ejek Alan.
“Kakak malahan nggak nyuruh kamu ganti uang itu, kalo kamu ngikutin dua syarat kakak ini,” ujar Alan dengan santai.
“Yaa, anggap aja sebagai hadiah dari kakak untuk pernikahan kamu,” lanjutnya.
Akhirnya Kevin pun penasaran dengan syarat yang ingin kakaknya ajukan.
Alan pun mendekatkan wajahnya, dan membisikkan Kevin.
“Kalo kamu masih nyembunyiin sesuatu, kakak nggak akan bantu kamu,” ancamnya balik.
Kevin tidak menyangka jika syarat yang Alan pinta sangat berat.
“Satu. Aku cuma bisa penuhi satu syarat kakak tadi aja,” jawab Kevin dengan tegas.
“Kenapa? Ini cuma antara kita berdua aja, Kevin.”
“Kalo Kakak nanti kenapa-kenapa gimana? Kak Anggita pasti sedih, Kak,” ujar Kevin mencemaskan calon kakak iparnya.
“Nggak. Kamu nggak percaya sama kakak? Kekuatan kakak untuk ninju kamu kemarin itu belum sepenuhnya, Kevin. Pasti kakak bisa ngalahin orang itu. Sekarang kamu cerita dulu sama kakak,” desak Alan.
Cukup lama mereka berbincang, hingga akhirnya mereka pun sepakat dengan dua persyaratan yang Alan berikan, meskipun ada terdapat sedikit revisi dalam syarat kedua.
Anggita begitu asyik berkutat dengan pekerjaannya di dapur. Setelah keluarga tersebut menjalani hari-hari yang berat, akhirnya mereka dapat menyelesaikan masalah yang tengah terjadi dalam keluarga tersebut.
Hanya tinggal menunggu Kevin memberitahu kedua orang tuanya, dan membawa perempuan serta keluarga perempuan itu ke hadapan mereka, untuk menuntukan tanggal dan lokasi pernikahan mereka.
Beragam macam masakan Anggita buat untuk merayakan kepulangan Kevin.
“Anggita,” panggil bu Ratih karena Anggita begitu lama di dapur.
“Kok tumben kamu masaknya banyak banget?” ujar beliau menatap masakan yang sudah tersusun rapi. Semua merupakan masakan kesukaan anggota keluarga tersebut.
“Iya, Bu. Eum… untuk merayakan kepulangan Kevin. Selama di rumah sakit juga, Ibu sama bapak makannya cuma sedikit. Semoga dengan masakan saya, semuanya dapat makan dengan nikmat,” jawab gadis itu tanpa menyinggung kejutan yang akan diberikan oleh Kevin nanti malam.
“Pasti dong, Nak. Masakan kamu itu nggak ada duanya,” puji bu Ratih tidak lagi meragukan masakan calon menantunya.
“Nanti selesai masak, kamu ajak adik kamu ke rumah ya. Kita makan malam bersama,” suruh bu Ida.
“Baik, Bu.”
Setelah semua masakan siap, Anggita pun pulang menjemput adiknya menggunakan sepeda kesayangannya. Dengan berboncengan ia bersama Jihan kembali ke kediaman keluarga pak Galih.
Saat tiba di ruang keluarga, ia mencari sosok yang sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya.
“Alan mana, Bu?” tanya Anggita pada bu Ratih.
__ADS_1
“Nggak tahu. Bapak lihat Alan nggak?” tanya bu Ratih pada suaminya.
Namun pak Galih justru menggeleng.
“Mungkin dia ada di kamar, kamu coba panggil aja,” usul pak Galih.
Anggita pun mengangguk dan meminta Jihan untuk tetap di ruang santai bersama bu Ratih dan pak Galih.
Ia berjalan menuju kamar Alan dan mengetuk pintu kamarnya.
“Alan, kamu tidur ya?” panggil Anggita.
“Alan, kita mau makan malam, kamu nggak lapar?” tanya Anggita sekian kalinya.
Karena tidak ada yang menyahuti, Anggita pun beralih menuju kamar Kevin, karena dia juga tidak keluar kamar sejak tadi.
“Kevin!” panggil Anggita.
“I—iya, Kak,” jawab Kevin dari dalam.
“Ayo turun, ibu sama bapak kamu udah mau makan. Kakak kamu ada di kamar kamu?” tanya Anggita, karena terakhir kali ia meninggalkan mereka dalam satu kamar.
Kevin bingung dan tidak berani untuk menjawab pertanyaan Anggita.
“Kevin!” panggil Anggita lagi.
Akhirnya pintu kamar Kevin terbuka, hanya dia saja yang terlihat, ranjang tidur Kevin pun bahkan kosong.
“Kak Alan … eum … dia pergi, Kak,” jawab Kevin terbata-bata.
“Pergi? Pergi ke mana?” tanyanya.
Anggita kemudian mengeluarkan ponselnya, karena sejak tadi ia tidak membuka ponsel. Namun, tak ada satu pun pesan maupun panggilan dari Alan.
“Nggak biasanya dia nggak kasih kabar,” lirih Anggita kembali menatap Kevin.
“Jawab, Kevin. Kakak kamu pergi ke mana? Bukannya tadi kalian berdua di kamar?” tanya gadis itu bertubi.
Melihat Kevin yang gelisah, Anggita yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan.
“Ada apa, Kevin? Kamu tadi sama Alan bicarain uang untuk pernikahan kamu, ‘kan? Dia juga setuju, ‘kan?”
Anggita berusaha untuk mencari tahu apa yang Kevin sembunyikan darinya.
“Oke, saya hubungi kakak kamu dulu,” putus gadis itu, mencoba untuk menghubungi kekasihnya.
“Diangkat nggak, Kak?” tanya Kevin yang juga mengkhawatirkan keadaan kakaknya.
“Nomornya nggak aktif,” jawab Anggita semakin gelisah.
“Jawab saya, kamu sama kakak kamu ngerahasiain apa? Orang tua kalian udah nunggu di bawah, sebentar lagi mau makan malam,” tuntut Anggita menatap dalam manik mata Kevin.
__ADS_1
“Kak Alan pergi, Kak.”
Lagi-lagi hanya kalimat itu yang Anggita dengar dari bibir pucat Kevin.
“Iya, saya tahu, tapi dia pergi ke mana? Kenapa jam segini dia belum pulang?”
“Kak Alan pergi ke tempat aku dipukulin waktu itu, Kak,” jawab Kevin.
“Maksud kamu?”
“Kak Alan nemuin orang yang mukulin aku. Dia kakak dari pacar aku, Kak,” jelas Kevin.
“Maksud kamu, Alan pergi untuk balas mukulin orang yang buat kamu masuk rumah sakit?”
Kevin mengangguk kaku.
“Ya ampun, kenapa kamu nggak jawab dari tadi? Di mana tempatnya? Jangan bohongi saya, Kevin. Kamu tahu? Saya nggak mau kalian berdua kenapa-kenapa,” tukas Anggita dengan mata berkaca-kaca.
Ia melewatkan semua itu. Sejak hari pertama Kevin di rumah sakit, Alan tidak sekali pun membahas hal tersebut, dan ternyata inilah yang dia rencanakan. Ia bahkan tidak tahu jika Kevin baru menceritakannya, karena Anggita pikir Alantidak akan mencari tahu semua itu, karena keadaan Kevin sudah membaik.
“Di gang yang nggak terlalu jauh dari komplek perumahaan dekat sekolahan aku,” jawab Kevin.
“Saya akan susul dia,” putus Anggita hendak berlari keluar.
“Jangan kasih tahu ibu sama bapak, Kak. Aku mohon,” pinta Kevin mengenggam tangan Anggita.
“Iya, saya nggak akan bilang sama mereka. Sekarang kamu turun, dan makan sama orang tua kamu dan Jihan ya. bilang aja kalo kakak kamu mau ajak saya makan malam di tempat teman dia,” jawab Anggita dengan cepat.
Ia tidak ingin membuang waktu lagi, karena takut jika terjadi hal buruk pada kekasihnya.
Dengan penuh ketegaran, Anggita berjalan menuju ruang santai, dan meminta Jihan untuk tetap di sini.
“Kakak mau ke mana?” tanya Jihan lirih.
“Ada yang harus kakak urus sebentar. Kamu makan malam sama bu Ida, pak Galih, sama Kevin dulu ya. Nanti kakak jemput kamu,” jawab Anggita mengusap lembut puncak kepala Jihan.
“Iya, Kak. Kakak hati-hati ya,” pesan adiknya.
Setelah berpamitan, Anggita langsung pergi mengayuh sepedanya menuju rute jalan yang Kevin sebutkan. Ayunan kakinya pada pijakan sepeda begitu cepat. Anggita berusaha untuk mempersingkat perjalanannya menemukan Alan, meskipun saat sampai di gang yang Kevin maksud, ia bingung gang mana yang Alandatangi.
“Nggak ada waktu, aku harus cari dia di semua gang ini,” ucap Anggita menyemangati dirinya sendiri.
Ia terus berlari memasuki dan keluar dari satu gang ke gang lain.
“Alan! Kamu di mana?” teriak Anggita tiap kali ia memasuki gang, hingga tenggorokannya kering, akhirnya hanya tersisa satu gang yang belum ia masuki. Gadis itu begitu yakin jika kekasihnya ada di sana.
Tanpa menghiraukan rasa lelah dan pegal di kedua kakinya, Anggita berlari memasuki gang tersebut.
“Alan!”
“Jangan!”
__ADS_1
***