The Last Love

The Last Love
Nyatakan Saja


__ADS_3

Setelah mendapat dukungan dan saran dari Anggita, Alan tidak sabar untuk mengungkapkan perasaannya malam ini juga. Setelah mereka keluar dari kafe, Anggita meminta agar Alan mengantarkan ia pulang.


“Kenapa mobilnya berhenti?” tanya Anggita menatap Alan.


“Kita beli itu yuk,” ajak Alan menunjuk dagangan pedagang kaki lima yang berada tidak jauh dari tempat mereka berhenti.


Mau tidak mau, akhirnya Anggita pun mengikuti Alan keluar dari mobil. Mereka membeli bajigur. Alan sengaja memilih tempat tersebut, agar ia memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaannya.


“Anggita, aku cinta sama kamu,” ucap Alan membuat Anggita menghentikan gerakan tangannya, yang baru ingin meneguk bajigur di tangannya.


Perlahan gadis itu menatap laki-laki yang duduk di sampingnya. Mencari lelucon atau kebohongan di mata Alan.


“Aku udah lama berusaha ungkapin perasaan aku ke kamu. Setelah aku minta saran dari kamu, akhirnya aku berani untuk ungkapin perasaan aku. Kamu. Kamu gadis yang kita bahas di kafe tadi,” ungkap Alan dengan raut muka serius.


Tak ada sedikitpun terlihat candaan di kedua bola mata laki-laki itu.


“Sejak awal kita ketemu, aku mulai tertarik sama kamu. Sampai akhirnya aku kembali ke luar kota untuk nyelesaiin kuliah aku, saat itu juga aku yakin kalau perasaan aku kali ini nggak salah dan nggak main-main,” lanjutnya terus menatap manik mata Anggita.


Anggita bergeming. Pikirannya mendadak kosong. Ia tidak tahu harus memberi reaksi dan jawaban seperti apa. Ia pun tidak menyangka dirinya yang sejak tadi mereka bincangkan berdua.


“Kenapa kamu jatuh cinta sama saya?”


Bodoh! Anggita tahu pertanyaannya sangat bodoh dan terkesan konyol. Namun, ia butuh alasan kuat kenapa putra majikannya ini jatuh hati padanya, sedang ia tidak pernah berniat untuk menarik perhatian laki-laki itu.


Kandasnya cinta pertama ia dan Galang. Membuat Anggita takut untuk kembali mengenal dan menjalin cinta. Ia takut jika semua hal buruk itu terulang kembali, dan menghancurkan keluarganya.


“Anggita, cinta itu nggak butuh alasan. Hati aku yang memilih kamu,” jawab Alan sungguh-sungguh.


“Benar begitu? Pasti ada alasannya, Alan,” kukuh Anggita.


Laki-laki itu membasahi bibirnya sejenak dan kembali memberi jawaban.


“Alasannya adalah karena kamu. Karena kamu orangnya.”

__ADS_1


“Maaf, saya nggak punya niat untuk pacaran,” tolak Anggita langsung beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Alan.


Namun, laki-laki itu segera menahan dan menarik tangan Anggita agar tidak menghindar darinya.


“Ini yang aku takutin, saat aku mau ungkapin perasaan aku ke kamu. Tapi kamu ingat? Beberapa saat lalu, kamu yang buat aku yakin untuk nyatain perasaan ini. Aku nggak ngajak kamu pacaran. Aku mau serius sama kamu Anggita. Aku berharap kamu yang jadi makmumku. Jadi pendamping dan teman hidupku,”


Perlahan Anggita tidak lagi berusaha melepaskan genggaman tangan Alan, hingga perlahan laki-laki itulah yang melepaskan genggamannya, karena yakin jika Anggita tidak akan pergi melarikan diri.


“Alan, semua itu butuh proses dan pengorbanan. Kamu baru selesai kuliah. Kamu masih punya kedua orang tua dan adik. Bahagiain mereka dulu selagi mereka masih ada,” nasihat Anggita, berharap Alantidak terlalu menggebu-gebu mengejar cinta di saat sekarang.


“Salah satu kebahagiaan orang tuaku, lihat aku menikah. Dan kamu gadis yang aku pilih,” jawab Alan tanpa ada keraguan dalam setiap kata yang ia ucapkan.


Anggita kehabisan kata. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini. Ia tidak berpikir jika putra majikannya akan jatuh cinta pada dirinya.


“Maaf, tapi boleh kasih aku waktu untuk kasih kamu jawaban?” pinta Anggita tidak ingin memperkeruh suasana di antara mereka. Ia juga tidak ingin mematahkan hati laki-laki yang mencintai dirinya.


“Boleh. Kamu boleh pikir matang-matang semua ini,” ucap Alan memberi izin. Ia pun tidak ingin terkesan memaksa, karena ia ingin cintanya berbalas dengan rasa yang tulus pula.


Alan pun kembali meminta Anggita untuk menghabiskan minuman yang baru habis seperempat gelas itu, kemudian kembali pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan, Anggita lebih banyak diam.


“Jangan ngerasa terbebani gitu. Aku jadi ngerasa bersalah kalo kamu diem aja,” kata Alan melihat Anggita yang membisu.


“Nggak. Kamu nggak salah kok. Cuma rasanya ini mendadak aja,” jawab Anggita tidak ingin membuat Alan menjadi tidak nyaman karena reaksinya.


Setelah menjemput Jihan dan kembali ke kontrakan. Malam itu Anggita habiskan dengan merenung dan berbicara pada hati kecilnya.


Lagi-lagi Galang lah yang terbayang dalam benaknya. Cinta yang sudah lama ia kubur, masih terus membelenggu hatinya.


“Apa kamu juga sudah punya cinta yang lain di sana? Kuharap pahitnya kisah kita berdua, nggak akan terulang lagi Galang,” lirih Anggita terus termenung di depan meja belajar adiknya.


Lima tahun bukan waktu yang singkat, dan ada banyak hal yang mereka lalui. Namun, Anggita pun tidak ingin kembali merasakan patah hati.

__ADS_1


“Nggak Anggita. Mereka beda! Orang tua Alan, nggak seperti orang tua Galang. Mereka kenal sama aku, bahkan mereka tahu tentang hidupku, walaupun sedikit. Tapi mereka nerima aku dengan baik. Tapi, gimana kalo hubungan ini kembali nggak direstui?”


Ada banyak tanda tanya yang memenuhi kepala Anggita, ia berpikir jika keluar malam ini saja Alan memberikan alasan lain pada kedua orang tuanya untuk bisa pergi bersama dirinya.


“Aku harus tanya dia dulu,” putus Anggita.


Keesokan hari, ia pun mencari waktu yang tepat untuk bertanya langsung pada Alan. Kini mereka sudah berada di taman halaman rumah majikannya.


Alan tersenyum lebar, mendengar pertanyaan konyol Anggita.


“Kamu itu ada-ada aja nanyanya,” kata Alan di sela tawanya.


“Saya serius. Orang tua kamu tahu?” desak Anggita tanpa senyum di wajah.


Sambil menahan tawanya agar tidak kembali pecah, Alan mengangguk pelan.


“Bahkan sebelum keluar jemput kamu, aku minta restu dulu sama ibu dan bapak. Ya … berharap kamu nerima cinta aku,” jawab Alan sedikit malu-malu.


Kedua pipi Anggita bersemu, gadis itu memalingkan wajah dan kembali fokus menyiram bunga.


“Jadi gimana? Kamu mau nerima cinta aku?” tanya Alan semakin mendekatkan dirinya pada Anggita, membuat gadis itu terus bergeser menjauh, dan tidak sadar jika sudah berada di pinggir kolam.


“HUAAA!”


Anggita berteriak saat tubuhnya tiba-tiba terhuyung ke belakang. Bahkan wadah untuk menyiram bunga tersebut sudah lebih dulu jatuh ke dalam kolam. Membuat segerombolan ikan koi yang tengah makan itu langsung berhamburan pergi.


Beruntung ia tidak ikut tercebur ke dalam air, karena dengan sigap Alan menarik tangan Anggita.


“Sini aku bantu,” ucap Alan meminta Anggita agar mengulurkan tangan kanannya.


Jantung Anggita berdegup kencang. Bukan karena hampir jatuh ke kolam. Namun, karena ia kini dapat merasakan detak jantung laki-laki yang menolong dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2