The Last Love

The Last Love
Terlalu Terbuka


__ADS_3

“Kamu pikir saya akan membiarkan adik kamu menyentuh adik saya sebelum mereka resmi menikah?” tanya Galang balik. Sekaligus mengingatkan Alan bagaimana brutalnya ia memukuli Kevin sampai pria itu harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.


“Ya, saya percaya kamu akan menjaga mereka dengan baik,” balas Alan menepuk pelan pundak Galang, sebelum kembali masuk untuk mencari kekasihnya.


Kini meja makan sudah terisi penuh dengan beragam macam makanan. Semua anggota keluarga pun sudah berkumpul di sana. Sejak duduk di meja makan, Anggita lebih banyak diam karena tiap kali melihat Galang, ia teringat apa yang terjadi pagi tadi pada mereka.


Setelah sarapan, Galang mencari kesempatan untuk menarik Anggita agar mereka dapat bicara empat mata.


“Lepas, Galang. Kamu itu suka banget main tarik-tarik tangan aku sembarangan. Kalo ada yang lihat gimana? Aku nggak mau ya kalo Alan salah paham,” omel Anggita mengusap pergelangan tangannya.


“Kamu marah sama aku?” tanya Galang karena sejak tadi Anggita terus menatapnya dengan raut muka datar.


“Hari ini banyak yang harus diurus, Laras. Jadi, aku mohon pengertian kamu,” tutur Galang berusaha untuk meluluhkan hati Anggita.


“Kalo kamu mau berurusan tentang makanan. Nanti kamu bantu aku ketemu sama orang catering, soal makanan yang akan dihidangkan selama acara. Mau?” tawar Galang.


“Terserah kamu. Pokoknya aku nggak mau sampai harus ribut sama Alan gara-gara kamu,” pungkas Anggita langsung meninggalkan Galang tanpa menunggu ucapan pria itu.


“Aku nggak akan biarin hal itu terjadi,” ujar Galang meskipun Anggita tidak mendengarnya.


Benar saja. Hari ini semua orang terlihat sangat sibuk. Termasuk keluarga pak Galih, karena Galang meminta mereka untuk mencoba baju keluarga yang telah ia pesan. Beruntung semua ukurannya sudah pas.


Ia pun telah menyiapkan pakaian yang sama untuk Anggita dan Jihan.


“Kamu mau yang warna apa?” tanya Galang ia menghampiri Anggita dan Jihan yang sedang berdua.


“Memangnya beda dari dua warna ini apa?” tanya Anggita balik.


“Warna emas untuk keluarga perempuan, dan abu-abu untuk pihak laki-laki,” jawab Galang.


Dengan berat hati, Anggita tetap memilih warna abu-abu yang senada dengan baju yang akan Alan kenakan.


“Mbak, tolong ambilkan baju yang warna ini ya. Ada dua lagi tadi di depan,” pinta Galang pada perempuan yang berdiri di belakangnya.


“Baik, Pak.”


Tidak lama kemudian, perempuan itu kembali dan menyerahkan dua baju senada dan ia berikan pada Anggita dan Jihan.


“Kamu coba dulu. Kalo kurang nyaman kasih tahu aja,” ucap Galang sebelum Jihan dan Anggita mencoba yang diberikan pada mereka.


Dalam hatinya, Jihan begitu ingin kakaknya memakai baju yang sama dengan Galang. Tidak tahu kenapa, ia berharap kakaknya dan Galang dapat kembali bersama.

__ADS_1


Anggita menatap pantulan dirinya di cermin. Baju kebaya borkat tersebut sangat pas di tubuhnya. Tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil. memperlihatkan lekuk tubuhnya bagian atasnya dengan sempurna.


“Gimana, Dek?” tanya Anggita meminta pendapat adiknya.


“Cantik, Kak. Kak Anggita cantik banget,” puji Jihan.


Ia kemudian menarik tangan Anggita untuk keluar. Memperlihatkannya pada Galang yang menunggu di luar.


“Kakak ganteng, Kak Anggita cantikkan?” tanya Jihan, mengalihkan fokus Galang yang tengah menatap lantai pertama yang sudah disulap menjadi pelaminan kecil tetapi terlihat mewah.


Ia berbalik, dan netranya langsung menatap Anggita dengan balutan pakaian yang baru saja ia berikan.


Sempurna. Kulit putih Anggita, semakin terlihat kontras dalam balutan kebaya borkat tersebut. Ingin rasanya ia melihat Anggita mengenakan gaun pengantin, yang sudah dipastikan membuat gadis itu tampak seperti ratu.


“Kak!” panggil Jihan menyadarkan Galang yang masih terpesona.


“Ah iya, cantik kok,” jawab Galang berusaha menutupi kegugupannya dengan bertanya tentang kenyamanan mereka memakai pakaian tersebut.


Setelah urusan pakaian beres, Galang meminta Anggita dan Jihan untuk menemani Ana, yang sejak tadi berada di bilik tidurnya.


“Ana, kamu kenapa?” tanya Anggita melihat Ana yang hanya berdiam diri di atas ranjang.


“Nggak papa, Kak. Aku nggak boleh keluar sama Kak Galang,” jujur Ana.


“Biar Kevin penasaran katanya,” jawab Ana asal.


Padahal ia begitu ingin melihat calon suaminya.


Anggita tertawa lirih melihat Ana yang kesal pada kakaknya.


“Memang harusnya kalian nggak ketemu dulu. Mulai besok kamu bisa puas-puasin lihat dia dari pagi sampai ke pagi lagi,” ujar Anggita terus menyemangati Ana.


“Iya, Kak. Tapi aku pengen jalan-jalan,” ucap Ana sudah sangat bosan berada di kamar. Tetapi ia pun tidak ingin membantah perkataan kakak satu-satunya itu.


“Nurut aja ya. Semua pasti demi kebaikan kamu, dan dia,” kata Anggita mengusap perut Ana yang datar.


“Saya masih ada urusan, kamu berdua sama Jihan dulu nggak papa?”


“Iya, nggak papa, Kak.”


“Iya, Jihan aja yang temenin Kak Ana, Kak,” timpal Jihan tidak merasa takut berduaan dengan Ana.

__ADS_1


Ia justru sangat senang, karena mereka dapat bertukar cerita tentang kakak mereka satu sama lain.


Anggita berjalan keluar dari kamar Ana, dan mendapati kekasihnya dan Galang tengah berbincang.


“Tapi awas saja kamu macam-macam sama Anggita,” ucap Alan memperingati Galang.


“Saya akan jaga dia baik-baik,” jawab Galang menatap Anggita yang berada di belakang Alan.


Gadis itu berjalan mendekat. “Kalian ngomongin apa?” tanya Anggita terus was-was tiap kali Galang berbincang dengan Alan.


“Jadi dia mau minta ditemenin sama kamu ke orang catering. Kamu mau?”


“Dia tadi udah bilang sama aku. Tapi aku tergantung kamu. Kalo kamu nggak bolehin aku nggak akan pergi,” jawab Anggita menatap Alan.


Alan semakin senang karena Anggita begitu terbuka padanya.


“Ya udah, aku bolehin. Lagian ini juga untuk acara Kevin sama Ana. Tapi nanti kamu kabarin aku ya,” pesan Alan sebelum melepas kekasihnya pergi bersama Galang.


“Aku ambil tas sama hp dulu di kamar,” pamit Anggita menuju kamarnya, dan merapikan pakaian serta rambutnya yang sudah tidak beraturan.


Kini keduanya telah berada dalam mobil, dan siap untuk pergi menuju lokasi Galang memesan catering.


“Memangnya kenapa kita ke sana lagi kalo kamu udah pesan makanannya?” tanya Anggita tanpa menoleh ke arah Galang.


“Nggak papa. Cuma minta pendapat kamu aja,” jawab Galang begitu santai.


“Kalo aku nggak setuju dengan makanan yang kamu pesan gimana?”


“Ya tinggal suruh mereka ganti aja.”


Seketika rahang bawah Anggita turun. Dengan mudahnya Galang mengatakan hal itu.


“Kamu nggak tahu ya kalo nyiapin masakan yang banyak itu butuh waktu untuk buatnya?” marah Anggita.


Galang menepikan mobilnya dan mendekat ke arah Anggita.


“Kamu kenapa emosian terus kalau ngomong sama aku? Apa nada suara aku terlalu keras sama kamu? Atau aku harus bisik-bisik biar kamu jawab aku dengan lembut, seperti waktu kamu bicara sama pacar kamu itu?” tanya Galang kembali mengikis jarak di antara mereka.


“Aku harus ngomong di sini?” bisiknya tepat di dekat telinga Anggita.


Bahkan telinga Anggita terasa geli oleh embusan napas Galang.

__ADS_1


“Karena kamu dan dia beda,” jawab Anggita.


***


__ADS_2