
Perasaan gelisah dirasakan oleh Adel. Jemarinya bahkan sudah meremas kuat bajunya dan tangan kirinya masih memegang Noah yang berada dalam gendongan kain.
Sejak tadi rasa sesak menghampirinya setelah mendengar perkataan dari Sofia. Namun sebisa mungkin ia menahan jatuhnya air mata dan akan menagih penjelasan pada suaminya, Daniel.
Berkali-kali ia berjalan menggendong Noah, hingga terdengar knop pintu berbunyi dan menampilkan sosok pria yang sejak tadi ia tunggu kedatangannya dan kini menatapnya.
“Noah, nangis?” Tanyanya melihat Noah yang masih dalam gendongannya.
Adel menggelengkan kepalanya, ia mendekati Daniel namun nafasnya masih naik turun dan mulutnya masih tertutup, sangat sulit untuk menanyakan pertanyaan yang takut nantinya malah membuatnya makin sesak.
“Ada apa?” raut gelisah diwajah Adel sudah tampak jelas bahkan helaan nafas berat yang berulang kali ia lakukan membuat Daniel begitu penasaran.
“Mas, maaf tadi Adel ke taman mau panggil untuk bantuin buka ikatan kain ini biar Noah bisa ditidurin di ranjangnya.”
Daniel berjalan ke belakang punggung Adel hendak membantu melepaskan ikatan kain jarik yang tadi ia pasang. Namun Adel menolaknya dan membuat Daniel bingung.
“Kenapa, katanya mau turunin, Noah?”
Adel menatap mata Daniel, pria itu sudah terlihat penasaran dengan apa yang akan ia katakan saat ini.
“Tadi, Adel nggak sengaja dengar perkataan Mbak Sofia. Apa maksudnya perkataan kalau aja dulu dia sama Mas Daniel, apa kalian punya hubungan di masalalu?”
Tak ada perubahan dari ekspresi Daniel yang saat ini masih menatapnya istrinya, melihat wajah Adel yang makin menegang kini ia membawa istrinya duduk di tepi ranjang sedangkan dia duduk berjongkok di bawah dan menatap Adel.
“Saya minta maaf jika perkataan Sofia itu terlalu ambigu dan membuat salah paham. Maksud dari perkataannya tadi, jika saja dia dulu bekerja dengan saya di perusahaan Papah, mungkin dia tidak akan menyesal seperti sekarang.” Daniel masih berjongkok dibawah dan mengambil tangan kanan istrinya.
“Memangnya kenapa dengan sekarang? Bukannya Mbak Sofia juga sudah sukses dengan kariernya bahkan tinggal di Singapura?” Adel masih tak percaya.
“Dia menyesali keputusannya pindah ke Singapura dan meninggalkan semuanya di sini termasuk anaknya.”
Kening Adel mulai berkerut saat Daniel mengakatan soal anak, jadi Sofia sudah memiliki anak selama ini?
“Saya minta maaf terlambat untuk menceritakannya, Sofia ke sini setelah mendapat kabar soal anaknya yang di vonis terkena kanker otak dan sekarang di rawat di rumah sakit. Tadi saya pergi mengatarkan dia bertemu anak dan mantan suaminya.”
Adel kini benar-benar terkejut mendengar penuturan suaminya, mendengarkan soal anak Sofia yang divonis terkena kanker otak membuatnya sulit mempercayainya dan juga menerima tentang berita itu.
“Anaknya umur berapa, Mas?”
“Perempuan umur enam tahun, Sofia sudah meninggalkan anaknya sejak umur anaknya tiga tahun saat dirinya bercerai dan hak asuh anaknya sudah jatuh ke tangan suaminya karena Sofia belum siap membesarkannya. Dan seminggu lalu dia baru dapat kabar tentang anaknya itu dan langsung terbang ke sini.” Daniel mengelus tangan Adel yang terlihat begitu terkejut dengan perkataannya.
Hal ini juga yang sempat Daniel rasakan pada beberapa hari lalu, saat Mamahnya menelepon soal Sofia yang tiba-tiba kembali ke Bandung dan datang begitu mendadak dan hal yang tak pernah terlintas dan terpikirkan adalah mendengar suara isakan penyesalan Sofia tentang penyakit anaknya.
Karena itu Daniel dan Mamahnya meminta Sofia tinggal beberapa hari bersamanya karena wanita itu berencana akan membawa anaknya ke Singapura dan menjalani pengobatan di sana. Tapi tentunya itu tidak mudah, karena ia masih harus berurusan dengan mantan suaminya juga keluarganya.
“Terus gimana kondisinya sekarang, Mas.” Mata Adel sudah berkaca-kaca, dadanya terasa lebih sesak mendengar penyakit yang diidap anak dari sahabat suaminya itu.
Adel masih belum bisa memikirkannya, bagaimana anak sekecil itu sudah di vonis mengidap penyakit kanker otak, bahkan Adel tak bisa bayangkan dengan apa yang anak kecil itu rasakan sekarang.
“Kemarin saat kita jenguk, dia tunjukan gejala kebingungan saat Sofia datang dan mengobrol dengan dia. Mereka sering melakukan panggilan video call dan anaknya juga beberapa kali sering mengunjunginya tapi kemarin menurut dokter itu salah satu gejala yang dialaminya,” Daniel masih mengingat pertemuannya dengan anak dari sahabatnya itu.
Daniel mengerti apa yang dirasakan Sofia juga mantan suaminya saat ini, melihat tadi pertemuan mereka, ada sedikit ketegangan namun mencoba mereka coba sembunyikan karena bagaimanapun mantan pasangan suami-istri itu tetap harus kompak untuk kesehatan anak mereka.
Dan kemarin Sofia sudah menunjukkan niatnya untuk membawa anaknya ke Singapura dan menjalani pengobatan di sana. Tapi sampai saat ini mantan suami dan keluarganya masih belum memberikan keputusan untuk mengizinkannya dan hal itu yang membuat pikiran Sofia sedikit kacau dan tak tenang tapi meskipun begitu ia juga harus memikirkan kondisi anaknya jika dibawa pergi ke Singapura.
__ADS_1
“Kasihan Mbak Sofia, pasti ini berat untuk dia.”
“Sofia sudah cukup terpukul saat ini.” Daniel akhirnya berdiri dan duduk di sebelah Adel dan mengelus punggung istrinya.
Adel tak bisa lagi berkata-kata, ia bisa merasakan apa yang Sofia rasakan sekarang apalagi dia juga sudah memiliki anak. Perasaan Ibu manapun pasti ikut terpukul mendengar dan melihat anak mereka sakit apalagi kali ini adalah penyakit cukup serius.
Adel mengelus Noah dengan pelan, sekarang ia tahu kenapa Sofia begitu terampil mengajarkannya menggendong Noah dengan kain jarik juga bisa mengurusnya. Ternyata dia juga telah memiliki anak, terlepas dari keputusannya tak membawa anaknya pergi dan meninggalkannya di sini, tetap saja ia adalah seorang Ibu yang melahirkannya.
“Besok Mamah datang ke sini mau lihat Noah dan sekaligus jenguk anak Sofia.”
“Terus sekarang kita harus gimana, Mas. Kasihan Mbak Sofia takut kepikiran terus.”
“Dia masih terus komunikasi dengan anaknya dan besok pagi rencananya dia akan mulai menjaga anaknya bergantian.”
Percakapan mereka akhirnya terhenti, Noah sudah di tidurkan di ranjangnya dan Adel dan Daniel juga bersiap tidur. Tak ada lagi percakapan serius dari keduanya, setelah semuanya Daniel ceritakan, kini tak ada lagi kesalah pahaman soal Sofia tadi. Semuanya memang butuh waktu untuk mendinginkan kepala mereka dan berbicara baik-baik dan saling terbuka.
...***...
Tengah malam, Adel tiba-tiba terjaga dan tenggorokannya terasa kering. Sebuah tangan melingkar di pingangnya sudah ia angkat perlahan agar pria itu tidak ikut terjaga oleh pergerakannya.
Adel melihat Noah yang untungnya tidak menangis tengah malam ini, Adel berjalan keluar kamar untuk mengambil minum.
Lampu di dapur sudah ia nyalakan, Adel pun sudah mengambil gelas dan mengisinya dan kemudian meneguknya hingga kosong kembali.
Adel baru saja mematikan lampu dapur setelah selesai dengan tujuannya. Namun ia sedikit terkejut dan juga merinding saat mendengar sebuah tangisan kecil.
Rasa ingin cepat-cepat kabur ke kamarnya dan menutupu dirinya dengan selimut sudah akan ia lakukan, tapi melihat pintu kamar tamu yang di tempati Sofia sekarang sudah terbuka, rasa takut dan merindingnya sedikit menghilang. Apa mungkin suara itu adalah tangisan dari Sofia?
Satu pemandangan yang baru pertama kalinya ia lihat adalah Sofia sudah menangis menutupi seluruh wajahnya dengan tangan dan duduk bersandar di ranjang.
Melihat Sofia menangis tengah malam ini, mungkin dia ingin menumpahkan segala keluh kesahnya. Adel tak berniat untuk mendekati wanita itu karena takut menganggu waktunya yang mungkin ingin sendirian di sana.
Tapi, hati Adel merasa tak tega. Sebagai sesama perempuan dan juga statusnya sama-sama sudah menjadi seorang Ibu, tentulah ia merasa Sofia butuh dukungan dan teman.
Mungkin saat ini dia telah menganggu Sofia yang sedang menumpahkan kesedihannya, tapi Adel hanya ingin memberikan sedikit waktunya untuk wanita yang terlihat rapuh itu saat ini.
Ketukan kecil di pintunya terdengar oleh Sofia, wanita itu sempat terkejut dan menghampus jejak air matanya. Ia juga mengerutkan keningnya saat melihat Adel yang berdiri di depan pintu kamarnya saat ini.
“Boleh Adel masuk?” tanya.
“Aku beneran kaget, masuklah.”
Adel duduk di tepi ranjang Sofia, “Tadi kebangun karena haus jadi langsung ke dapur dan agak kaget dengar suara nangis. Maaf ya Mbak jadi masuk ke sini dan ganggu.” Kata Adel tak enak.
“Aku yang harusnya minta maaf bikin kamu keganggu ya.”
“Enggak kok Mbak, kalau memang ingin menangis yang sudah menangis aja jangan ditahan-tahan. Karena makin ditahan rasanya makin sakit.”
Sofia masih belum menghentikan tangisnya begitu saja, meskipun tidak ada suara tangis seperti tadi, tapi buliran air matanya terus mengalir membasahi pipinya dan berulang kali menghapusnya dengan tisu.
“Daniel pasti sudah cerita kan?” tanya Sofia menatapnya.
“Semua akan segera membaik, Mbak Sofianya harus kuat dan percaya semuanya akan lekas kembali pulih.” Tak ada kata yang bisa Adel katakan selain memberikan kekuatan meskipun ia tahu saat ini perkataannya tak sepenuhnya bisa menguatkan hati Sofia.
__ADS_1
“Aku ngerasa nyesel banget, dulu waktu Melodi lahir aku memang belum siap jadi Ibu dan istri karena itu terlalu cepat untuk aku. Setelah tiga tahun, kita bercerai Melodi aku serahkah ke Ayahnya karena aku belum bisa mengurusnya. Tapi komunikasi kami masih berjalan baik, sampai seminggu lalu, aku dikasih tahu soal penyakit Melodi,” Sofia sudah tak mampu menahan sesaknya.
Pelukan dari Adel sudah ia berikan untuk Sofia, ia tak meminta Sofia untuk menceritakan lagi soal kehidupannya. Ia tak bisa mendengar isakan sesak Sofia saat ini yang begitu merasa menyesal dan terpukul saat ini.
“Liburan akhir tahun ini, aku udah berjanji ajak Melodi jalan-jalan ke Singapura, seperti sebelum-sebelumnya kalau dia libur sekolah akan tinggal bareng aku. Tapi sekarang..,”
“Dia pasti akan sembuh dan membaik dan akan tepati janji untuk berlibur bareng Mamahnya.”
Kali ini Sofia tak lagi berbicara, ia hanya menangis di pelukan Adel yang mengelus punggung wanita itu memberikan kekuatan. Ya, Sofia memang sedikit cengeng malam ini setelah ia menahannya sejak tadi siang. Tapi ternyata Adel justru menemukannya yang terlihat dalam keadaan rapuh.
...***...
Sofia sudah berisirahat setelah mencuci mukanya terlebih dulu seperti saran Adel yang menunggunya di kamar sampai dirinya terbaring. Wanita itu juga menyelimuti dirinya dan mematikan lampu untuknya, kali ini hati Sofia terasa sedikit menghangat karena ada masih ada orang yang perhatian dan peduli padanya.
Adel menutup pintu kamar Sofia setelah melihat wanita itu mulai tertidur setelah menangis, mungkin saja mata Sofia besok pagi sudah terlihat sembab karena menangis ditengah malam.
Kini Adel kembali ke kamarnya dan tak lupa ia juga kembali membawa air putih ke kamarnya agar saat terjaga saat haus, ia tak harus berjalan keluar lagi.
“Habis dari mana?” Daniel mengucek matanya saat Adel masuk.
“Habis ambil minum, Mas. Kenapa bangun?”
“Hanya terkejut disebelah saya kosong.”
Adel tersenyum dengan jawaban dari suaminya, ia kira suaminya itu tidak akan menyadari jika disebelahnya sudah kosong tapi rupanya ia malah sampai terjaga.
Adel menyerahkan air putih di gelas yang ia bawa dan memberikannya pada suaminya itu yang langsung menenguknya hingga tersisa setengah.
“Kenapa bukan bangunin, biar saya yang ambilkan.”
“Nggak apa-apa lagian ada Mbak Sofia di kamar tamu jadi nggak takut keluar.” Adel meletakkan gelas yang diberikan Daniel ke atas nakas.
Jarum jam di dinding sudah menunjuk ke angka dua, Adel menengok ke ranjang Noah di sebelah kasur mereka dan melihat anaknya yang tertidur pulas.
Suara denyit kasur terdengar saat Adel menaikinya, tapi tentunya suara itu tidak terlalu besar dan membuat tidur anaknya terganggu.
Suaminya yang sempat mengecek ponselnya sebentar, kini kembali menyimpannya saat dirinya sudah kembali berbaring di kasur.
“Ayo tidur lagi, Mas.” Adel membalikan badannya menghadap Daniel.
“Kantuk saya hilang setelah sedikit terkejut waktu sadar kamu nggak ada.” Jujur Daniel.
“Yaudah merem aja matanya, nanti juga ngantuk lagi.” Adel meletakan jempolnya kanannya di kening Daniel dan mengelus-ngelusnya agar suaminya kembali tertidur.
“Kamu sudah ngantuk?”
“Mau merem juga biar bisa tidur lagi.” Adel tak paham arah pembicaraan dari suaminya itu.
Tanpa bertanya ataupun memberikan aba-aba, kini Daniel bangun dengan posisi berbeda karena nafas Daniel sudah mulai berhembus di wajahnya, tanpa aba-aba pria itu menempelkan bibirnya dari ciuman itu terasa makin dalam saat Daniel kini memulai aksi nakalnya.
Kancing bajunya sudah terlepas satu persatu oleh tangan Daniel yang sudah mulai lihai tanpa ada kesulitan. Seperti diburu waktu karena takut ada yang terjaga, Daniel sudah menyusup kebagian lainnya dan membuat ******* pada Adel mulai terdengar dan makin membuat Daniel semangat memulai aksinya sampai tuntas di pagi dini hari ini setelah hampir lama Daniel menahannya.
“Mas, jangan ikut ambil jatah, Noah!” Cegah Adel saat Daniel sudah lebih dulu melakukannya.
__ADS_1