
Usai makan malam keluarga, Galang memanggil Ana ke ruang kerjanya.
“Ada apa, Kak? Tumben banget manggil aku ke sini,” ujar Ana seraya mendudukkan diri di atas kursi Galang.
Pria yang tengah melihat ponselnya, dan menatap keluar jendela itu, lantas menoleh dan menatap Ana yang kini juga melihat dirinya.
“Kakak butuh bantuan kamu,” ucap Galang seraya menyimpan ponsel ke dalam saku celananya.
Dahi Ana berkerut, kedua ujung matanya mengecil. Sedikit heran karena selama ini sang kakak selalu melarangnya melakukan banyak hal. Namun, sekarang tiba-tiba Galang ingin meminta bantuannya.
“Ini bukan soal ngurusin perusahaan kita kan, ‘kan?” terka Ana karena ia sendiri tidak paham apa pun tentang perusahaan dan dunia perkantoran.
Galang menggeleng pelan. Pria itu berjalan ke arah sofa yang berada di sisi samping jendela.
“Kakak aja pusing kalau harus bahas soal perusahaan, apalagi kamu,” ledek Galang membuat Ana mencebikkan bibir.
“Iiih, aku serius lho. Kakak minta aku bantu apa?” desak Ana kini berpindah duduk ke samping Galang.
Raut muka pria itu berubah tegang, dan sedikit gugup. Sejujurnya Galang ingin memperjuangkan cintanya seorang diri. Namun, melihat fakta yang terjadi di lapangan, kini ia berpikir untuk meminta bantuan sang adik.
“Kamu nggak kangen sama calon kakak ipar kamu?” tanya Galang menatap Ana dengan serius.
Kedua alis Ana tertarik ke dalam. Satu sudut bibirnya terangkat ke atas, dengan lirikan mata begitu menintimidasi Galang.
“Biasa aja liatinnya,” ucap Galang meraup wajah Ana dengan satu tangannya yang besar.
“Iiih, aku itu tadi udah skincare-an,” gerutu Ana karena kini wajahnya menjadi kotor karena ulah sang kakak.
“Masih kecil udah gaya-gayaan skincare-an,” ejek Galang terkekeh pelan.
Ana langsung memberengut kesal, karena merasa kehadirannya hanya untuk menjadi bahan jahilan sang kakak.
“Udah ah, aku mau balik ke kamar aja. Kevin nungguin,” seloroh Ana hendak beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Galang langsung menahan tangan sang adik dan berkata, “Oke, kakak serius. Jawab dulu pertanyaan tadi,” pinta Galang dengan tatapan memohon.
“Maksud Kakak, Kak Anggita?” terka Ana.
Galang mengangguk pelan. Membenarkan tebakan adiknya.
Seketika Ana langsung kembali duduk, dan mendekatkan wajahnya pada Galang.
“Kakak kangen sama Kak Anggita?” tanyanya dengan bola mata yang semakin melebar.
Ana dapat melihat dengan jelas, jika saat ini kakaknya sedang bermasalah dalam hal percintaan, dan semakin yakin jika ia masih memiliki rasa pada mantan kekasihnya itu.
“Selalu,” jawab Galang singkat.
“Ih, serius dong jawabnya. Biar diskusi kita makin enak,” protes Ana menepuk lengan Galang, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
“Ya ini juga kakak serius, Ana. Kakak butuh bantuan kamu,” ungkap Galang dengan tatapan yang begitu dalam.
Wanita yang tengah berbadan dua itu, siap untuk mendengarkan curhatan sang kakak.
Galang pun mulai menceritakan semua hal yang telah ia lakukan untuk mendekati Anggita, dan meyakinkan gadis itu, jika mereka masih saling cinta.
“Serius Kakak ngelakuin itu semua?” tanya Ana dengan mata terbuka lebar.
Galang mengangguk cepat. “Memangnya yang kakak lakuin salah?” tanya Galang.
“Banget. Itu kelihatan jelas banget kalo Kakak ngejar-ngejar Kak Anggita. Kenapa harus sampe segitunya sih, Kak? Mana sampe bawa-bawa salah satu wali murid dari sekolah itu lagi,” celoteh Ana panjang lebar.
Ia mengusap rambutnya, dan menutup wajahnya dengan rapat. Tidak tahu ke mana IQ Galang yang begitu tinggi. Kakaknya menjadi bodoh dalam hal cinta.
“Ternyata bener ya, cinta itu bisa buat orang buta dan jadi bodoh tingkat dewa,” lirih Ana masih dapat terdengar dengan jelas di telinga Galang.
“Kamu nyindir kakak?” tanya Galang.
__ADS_1
“Nggak, orang lain,” sahut Ana dengan suara pelan.
“Kakak tahu kamu nyindir kakak,” ucap Galang dengan nada suara dingin.
Ana mengusap wajahnya, dan menatap Galang dengan raut muka sendu. Antara kecewa dan kesal dengan tindakan kakaknya itu.
“Gini, Kak. Mungkin Kak Anggita risih Kakak deketin dia secara langsung begitu. Kakak nemuin dia karena apa? Karena kangen sama dia? Nggak bisa gitu, cukup dengan lihat foto dia? Minta aja kirimin foto-foto dia sama Jihan?” berondong Ana membuat Galang bingung harus menjawab pertanyaan adiknya dari mana.
“Satu-satu nanyanya, kakak pusing,” potong Galang langsung membuat Ana mengunci rapat bibirnya.
Pria itu menarik napas dalam-dalam, dan mengingat semua pertanyaan yang adiknya ajukan barusan.
“Pertama, kakak itu berniat untuk bantuin dia kerja, sekalian ngelepas rindu karena bisa lihat dia. Kedua, karena kakak nggak mau dia sampai lupain kakak. Ketiga, foto-foto itu nggak cukup, Ana. Kakak mau lihat dia dengan mata kepala kakak sendiri,” jelas Galang menjawab satu per satu pertanyaan adiknya.
Ana berusaha untuk memahami apa yang tengah Galang alami saat ini. Namun, kedatangannya menemui Anggita dengan alasan tidak sengaja itu, membuat dia sedikit kesal. Siapa pun perempuan jika mereka terlalu sering bertemu, akan berpikir jika ‘ketidaksengajaan’ itu hanyalah satu alasan klasik.
“Kenapa Kakak nggak pake cara lain aja untuk bantu Kak Anggita? Misalnya nih, Kakak nyuruh sekretaris kakak pesan makanan buatan Kak Anggita, terus dibagi-bagiin ke karyawan kakak. Lebih bermanfaatkan? Masalah perkembangan usaha Kak Anggita, Kakak cukup pantau aja dari jauh, jangan terlalu kelihatan gitu. Ana juga nggak mau kalo misal nanti Kak Anggita nerima kakak lagi, karena rasa utang budi, ataupun kasihan,” papar Ana.
“Ana juga mau Kakak nantinya bahagia sama perempuan yang cinta dan tulus nerima Kakak. Bukan karena harta kita, dan kebaikan Kakak aja,” lanjutnya dengan tatapan berkaca-kaca.
Perempuan yang tengah berbadan dua itu memang ingin Anggita menjadi kakak iparnya. Namun, bukan dengan cara seperti ini. Bukan berarti pula ia bisa menutup mata melihat kakaknya meyakinkan jika rasa yang dia miliki tidaklah salah.
“Sama kayak waktu Ana sama Kevin sebelum menikah, Kakak mau dia nerima Ana karena dia memang cinta sama Ana. Ana juga mau Kakak kayak gitu,” jujur Ana dengan air mata yang mulai menetes di wajahnya.
Galang yang tidak tega melihat adiknya bersedih, langsung membawa Ana masuk ke dalam dekapannya.
“Maafin, kakak. Tapi kakak sebagai laki-laki harus perjuangin cinta kakak. Dia juga belum menikah, Ana. Kakak masih ada hak untuk perjuangin cinta kami berdua. Oke, mungkin saat ini cara kakak salah. Karena itu kakak butuh bantuan kamu,” tutur Galang seraya mengusap pundak Ana.
Ana masih terus menangis. Sejak hamil, ia lebih sensitif dan mudah sekali sedih hanya karena hal kecil, membuat Kevin dan Galang terkadang kebingungan mencari cara untuk menenangkan dirinya.
“Memangnya apa yang buat Kakak yakin banget kalo kak Anggita masih cinta sama Kakak?”
***
__ADS_1