
Galang berujung tergelak saat Anggita terlihat seperti macan betina yang hendak mengamuk. Atau seekor banteng yang siap untuk menendangnya jauh ke ujung dunia.
“Iya-iya. Kenapa? Kenapa kamu keluar dengan keadaan begini, hmm?” tanya Galang siap untuk mendengar ocehan Anggita yang panjang bak kereta api.
“Aku nggak mau pake alat pengering rambut itu. Di sini ada kipas anginkan? Aku mau pake itu aja untuk ngeringin rambut aku,” jelas Anggita dengan tatapan memohon.
Hanya sekejap mata, raut muka dan tatapan gadis itu bisa langsung berubah. Anggita yang begitu ekspresif membuat Galang semakin jatuh hati padanya. Ia kemudian menoleh ke arah Lila yang datang menghampiri mereka, dan berdiri beberapa langkah di belakang Anggita.
“Kalo pakai kipas angin, nanti kamu malah masuk angin. Udah nggak papa. Sekali-sekali pake hair dryer, nggak akan buat rambut kamu yang bagus itu rusak kok,” ucap Galang karena butik tersebut menyediakan AC, dan kipas angin pun hanya ada di ruang pribadi Galang. Jika Anggita masuk ke sana, sudah pasti gadis di hadapannya akan bertanya-tanya, dan akan tahu jika butik tersebut miliknya.
“Aku nggak biasa pake itu,” jujur Anggita lagi.
“Ya udah, kalo gitu biar aku yang keringin rambut kamu,” tukas Galang kemudian berjalan ke arah Lila.
“Tolong kamu cari kipas mini, atau kipas tangan, benda apa pun yang bisa digunakan untuk mengeringkan rambut dia,” bisik Galang.
“Siap, Bos,” jawab Lila cepat.
Laki-laki kemayu itu langsung mendapat sorot mata tajam dari Galang, karena ia hampir kelepasan memanggilnya dengan bos di hadapan Anggita.
“Ya sudah, cari sana,” suruhnya.
Lila langsung pergi mencari para karyawan untuk bertanya apakah mereka memiliki kipas angin mini atau tidak, meskipun sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan hal tersebut, karena tiap ruangan difasilitasi oleh AC.
“Ayo masuk. Nanti kamu menggigil di sini,” ajak Galang menarik tangan Anggita dan membawanya kembali ke ruangan Lila yang suhu AC-nya tidak sedingin di luar ruangan tersebut.
“Aku nggak mau pake itu,” kukuh Anggita berpikir jika Galang akan menggunakan alat yang sama dengan Lila.
“Iya, aku udah minta tolong dia cariin kipas,” jawab Galang dengan santai.
Mereka saling diam hingga saat Lila kembali, Galang langsung menghampiri bawahannya itu.
“Gimana? Ada?” tanya Galang.
__ADS_1
“Nggak ada, Bos. Adanya cuma kulit buku doang,” jawab Lola menyerahkan kulit buku double folio yang ia temukan dekat gudang.
“Kamu serius mau nyuruh saya ngeringin rambut dia pake ini? Kapan keringnya Lila,” gerutu Galang.
“Ya mau gimana, Bos. Nggak ada yang bawa kipas. Orang butik ini aja udah dingin banget,” ujar Lila tak mau disalahkan lagi.
“Ya sudah. Saya tanya dia dulu.” Galang berjalan ke arah Anggita. memperlihatkan kulit buku tersebut kepadanya.
“Pake ini mau?” tanyanya.
“Ya udah, nggak papa. Itu aja,” jawab Anggita.
Lila menghela napas lega karena Anggita akhirnya tidak lagi mencari kipas angin, setelah mendapat gantinya. Namun, Galanglah kini yang sengsara. Karena telah berjanji akan mengeringkan rambut Anggita, dialah yang harus mengipasi rambut mantan kekasihnya itu.
Satu dua menit, rasa pegal masih belum terasa, hingga semakin lama otot tangannya terasa kaku dan ia bolak balik pindah tangan untuk mengeringkan rambut Anggita.
“Udah?” tanyanya.
Galang mengembuskan napas lelah, dan terus melakukan pekerjaannya dengan baik.
“Kamu capek?” tanya Anggita saat merasakan angin di belakang kepalanya semakin lama semakin hilang dan tidak berasa.
“Nggak. Masa gini aja aku capek,” jawab Galang jelas berbohong.
Ia berusaha untuk kembali menikmati moment kebersamaan mereka saat ini. Tanpa ada seorang pun yang menganggu dan mengusik keduanya.
“Sudah. Aku ambilin sisirnya dulu,” pungkas Galang hendak menyisiri rambut Anggita.
Anggita langsung berbalik dan menahan tangan Galang.
“Nggak usah. Aku bisa sendiri,” tolak Anggita merebut sisir dari tangan Galang.
“Udah, nggak papa. Sekalian biar aku aja,” kukuh Galang, karena dengan itu ia dapat terus menikmati aroma rambut Anggita yang harum, serta halus dan lembut.
__ADS_1
“Nggak ada sekalian-sekalian. Kamu jangan curi-curi kesempatan ya,” ancam Anggita mengarahkan sisir di tangannya tepat di depan mata Galang.
“Pasti perasaan kamu aja. Aku cuma bantuin biar kita bisa cepet pulang aja,” jawab Galang.
“Kamu pikirin aja alasan apa yang mau kamu kasih di depan pacar kamu nanti. Biar aku yang rapiin rambut kamu,” kata Galang, berhasil merebut sisir dari tangan Anggita.
Gadis itu pun sadar jika dia menjawab semua dengan jujur, maka semua masa lalunya akan terkuak. Ia tidak dapat membayangkan hal itu akan terjadi. Hingga akhirnya ia berpikir mencari alasan yang tepat agar Alan dan keluarganya tidak curiga.
Anggita merias wajahnya seorang diri. Meskipun ia masih amatiran, setidaknya hasil yang terlihat cukup membuaskan, sampai membuat Galang terpana saat melihatnya.
“Udah? Sekarang ayo kita pulang,” ucap Galang karena tangannya sudah sangat pegal sekarang.
“Baju aku tadi gimana?”
“Besok aku ambilin,” jawab Galang langsung menarik tangan Anggita untuk ikut dengannya menuju mobil.
“Kamu udah siapin jawaban kalau nanti ditanyain?” tanya Galang menoleh sekilas ke arah Anggita yang duduk manis di sampingnya.
“Udah,” jawab Anggita singkat.
Galang mengangguk pelan. Keheningan pun kembali menemani perjalanan mereka. Aroma jalanan yang basah, bekas sisa hujan barusan, menyeruak masuk dari jendela mobil yang Anggita buka. Rambut gadis itu tersibak oleh angin dan kecepatan laju mobil Galang.
Pikiran gadis itu tertuju pada kejadian saat hilangnya Anggita. Dalam derasnya hujan, ia mencari adiknya itu, dan kekasihnya masih tak sadarkan diri di rumah sakit. Rasanya sangat memilukan saat ia harus menanggung semua itu seorang diri.
‘Dulu aku hampir menyerah dengan semua ini. Jalan di kegelapan malam, sambil nahan tubuh Jihan di punggung aku. Setelah aku berhasil melalui semua itu, dan kamu juga masih bertahan dengan cinta yang nggak pernah aku ungkapin. Tuhan pertemuin kita lagi, Lang,’ batin Anggita dengan tatapan kosong ke luar jendela.
Ia tidak takut dengan kehadiran Galang dalam hidupnya. Karena yang perlu ia lakukan hanyalah tetap bersikap seperti awal. Dulu karena orang tua Galang ia harus mengubur rasa yang ada dalam hatinya. Tetapi kini, hal itu kembali terjadi dengan alasan yang berbeda, dan itu karena dirinya sendiri yang telah membuka hati pada Alan. Membiarkan laki-laki itu mewarnai hari-harinya dengan harapan ia dapat melupakan Galang, dan menghilangkan semua sisa rasa yang ada.
Namun, Anggita sadar jika semua tidak semudah itu. Kembalinya Galang, seperti mengubah ruang usang dalam hatinya, menjadi sebuah ruang ternyaman yang ingin ia tempati.
“Apa hatiku goyah hanya dengan kejadian ini?”
***
__ADS_1