The Last Love

The Last Love
Sepasang Singa


__ADS_3

Ucapan Galang sukses membuat Anggita langsung menyambar pakaian di tangannya.


“Ini aja,” ucapnya cepat.


Galang tersenyum tipis saat berhasil membuat Anggita menuruti dirinya. “Ya udah, ganti sana!” ujar pria itu menunjuk ruang ganti yang terletak di belakang Anggita.


“I—ya udah. Ka—kamu kenapa masih di sini? Nggak baik, lho,” usir Anggita dengan tatapan galak yang tak hilang dari wajahnya tiap kali berbicara dengan Galang.


Lila yang sejak tadi memperhatikan mereka, berusaha untuk tidak tertawa, karena selama ini Galang terkesan dingin dan galak, sekarang? Gadis yang ia bawa justru lebih galak dari bosnya.


Galang merupakan pemilik butik tersebut, tetapi hanya dia dan Lila yang mengetahuinya. Sehingga semua karyawan di sini berpikir jika Lila adalah pemilik butik, dan Galang hanyalah pelanggan di butik tersebut.


Alis Anggita menukik tinggi, dengan bola mata melebar dan tangan menunjuk pintu di hadapannya.


“Udah, sana pergi!” usirnya lagi saat Galang hanya bergeming.


“Coba yang lembut ngomongnya. Galang, kamu tunggu aku di luar ya, gitu,” ujar Galang terus menggoda mantan kekasih yang wajahnya kini sudah merah padam itu.


Anggita yang mulai kembali kedinginan, mengeratkan rahangnya, hingga giginya bergemelutuk.


“Kamu itu ngeselin banget,” desis Anggita seakan Galang merupakan musuhnya.


Tanpa menunggu Galang keluar, gadis itu langsung berbalik masuk ke ruang ganti. Tidak peduli Galang akan menunggunya di mana.


Baru saja tangannya hendak menutup pintu dari dalam, ia baru teringat jika tidak ada pakaian dalam yang ia bawa. Dengan terpaksa Anggita kembali mendekati….


Ia bingung harus meminta kepada siapa.


“Nggak usah liatin aku begitu,” tukas Anggita dengan lirikan setajam pisau saat merasa Galang terus memperhatikan dirinya.


“Kamu nyari apa?” tanyanya.


Kelopak mata Anggita tertutup rapat. Malu rasanya jika langsung mengatakan jika benda penting untuk menutupi aset berharganya tidak ada.


“Nggak perlu tahu,” jawab Anggita asal.


Manik mata gadis itu terus mengedar, hingga ia menangkap sebuah paper bag di atas ranjang, yang ada di belakang Galang.


“Awas!” suruh Anggita menyuruh Galang untuk minggir dari hadapannya.

__ADS_1


“Kok kamu ngusir aku?” tanya Galang tetap tidak berpindah tempat.


“Iiih, Galang minggir dulu,” desak Anggita berusaha untuk mendorong tubuh Galang yang sangat berat.


Setelah Anggita mengerahkan seluruh tenaganya, tiba-tiba Galang menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang begitu saja, membuat Anggita ikut terjatuh di atasnya.


Bruk!


Kelopak mata Lila langsung terbelalak.


“Pak Galang nggak papa, Pak?” tanya Lila hendak membantu Galang.


“Di bawah saya apa?” tanya pria itu saat punggungnya menindih sebuah paper bag.


“Barang untuk Princess juga,” jawab Lila.


“Aku kan udah nyuruh kamu minggir, kamu aja yang ngeyel dari tadi,” bisik Anggita di dekat telinga Galang.


“Awas!”


Anggita langsung mendorong tubuh Galang dan membuat pria itu terguling ke samping. Menyambar paper bag tersebut, dan bergegas berdiri.


“Huffh!” Anggita meniup anak rambutnya yang jatuh menutupi wajahnya dan melayangkan tatapan membunuh pada Galang karena sudah membuang-buang waktunya.


“Apa dia lagi pms?” tanya Galang karena Anggita lebih galak dari biasanya.


“Mana eike tahu, Bos. Bos tanya aja sama Princess langsung,” jawab Lila dengan suara gemulai.


Meskipun tingkahnya gemulai melebihi seorang perempuan, tetapi kinerja Lila sangat baik. Jika tidak, sudah lama Galang memecat Lila, karena ia sendiri geli melihat tingkah bawahannya.


“Ya sudah. Nanti kamu dandanin dia. Keringkan juga rambutnya,” suruh Galang sebelum meninggalkan ruangan Lila.


“Rambut bos nggak mau eike keringin juga?” tawar Lila sengaja menggoda bos dinginnya.


“Nggak! Saya bisa sendiri,” tolak Galang mentah-mentah.


“Dih, galak banget sih, Bos. Untung sekarang bos udah ada pawangnya,” gerutu Lila mengomeli Galang.


Dalam ruang ganti, Anggita membongkar paper bag berisi dalaman yang terdiri dari banyak ukuran. Mulai dari ukuran serta bentuk yang berbeda.

__ADS_1


“Ya ampun, banyak banget. Apa memang butik ini nyediain semuanya?” gumam Anggita saat melihat ada begitu banyak barang di dalam paper bag berukuran besar tersebut. Akhirnya ia mencari dalaman yang terasa nyaman saat ia kenakan, dan mulai memakai dress yang Galang bawa.


Panjang dress tersebut sangat pas dengan tinggi badannya. “Apa dia beneran milih dress ini untuk aku?” tanya Anggita mematut dirinya di depan cermin, dan bergegas mengenakan cardigan ala Korea tersebut.


Setelah berpakaian, gadis itu keluar dan langsung disambut dengan meriah oleh Lila.


“Woaaah! Princess cantik banget,” puji Lila terpana melihat perempuan di hadapannya. Meskipun Anggita belum memakai riasan wajah dan rambutnya masih tergerai serta awut-awutan, hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan alami, dan aura yang dipancarkan oleh Anggita.


“Ayo-ayo! Eike nggak sabaran untuk ngerias Princess,” ujar Lila melambaikan tangan dan menunjuk meja rias yang ada di dekatnya.


Ragu-ragu, Anggita berjalan ke arahnya. Ia sangat geli melihat gerak-gerik Lila yang kemayu, serta jalanannya yang berlenggang-lenggok.


“Saya mau diapain?” tanya Anggita saat melihat Lila mengeluarkan hair dryer dan catokan.


“Ya mau di make over dong Princess. Masa pangerannya udah ganteng gitu, tuan putri rambutnya awut-awutan,” jawab Lila mulai mengeringkan rambut Anggita.


“Tapi saya nggak bisa pake begituan,” jujur Anggita.


Anggita menjauhkan kepalanya, saat wajahnya terkena kibaran rambutnya sendiri.


“Nggak usah pake itu,” kata Anggita berdiri menjaga jarak dari Lila.


‘Ternyata Princess ini juga susah nurut ya,’ batin Lila saat Anggita semakin menghindar darinya.


“Terus mau pake apa Princess? Cuma pake ini aja yang bisa cepet keringin Princess,” jawab Lila mengangkat hair dryer di tangannya.


“Nggak. Kipas angin! Ya! Di sini ada kipas anginkan? Saya pake itu aja,” pinta Anggita cepat. Selama ini ia hanya mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk, yang dililit di kepalanya dalam waktu lama, hingga rambutnya menjadi lembab. Menurutnya kipas angin sudah cukup untuk mengeringkan rambutnya ketimbang benda yang ada dalam genggaman tangan Lila.


“Duh Princess. Kipas angin yang begindang yang Princess mau?” tanya Lila mulai dibuat pusing oleh tingkah Anggita.


Kehadiran Galang seorang diri saja kerap membuatnya sakit kepala. Dan Anggita justru membuat ia mengalami migrain dadakan. Kepalanya pun mulai cenat-cenut sekarang, saat melihat Anggita berjalan keluar dan terus merapikan rambutnya yang masih setengah basah.


“Galang! Kamu di mana?” tanya Anggita terus mencari Galang, dengan kaki tanpa alas.


Gadis itu kini terlihat seperti seorang putri yang kehilangan sepatu kacanya.


“Kamu kenapa keluar? Itu rambut kamu kenapa?” tanya Galang saat melihat Anggita dengan rambut yang setengah mengembang, dan setengah basah.


Pria itu bahkan ingin terbahak melihat keadaan Anggita l saat ini. Ditambah raut mukanya yang polos itu tampak cemas.

__ADS_1


“Nggak usah ngeledek aku!”


***


__ADS_2