The Last Love

The Last Love
Keramaian yang Terasa Sunyi


__ADS_3

Ana mengangguk pelan, sembari memotong kue pemberian Anggita.


Anggita dan Jihan masih terperangah, setelah menghitung total pelayan yang mereka lihat.


“Itu diluar ahli gizi sama dokter yang rutin periksa keadaan aku,” terang Ana.


“Berarti di sini rame dong, Kak?” tanya Jihan mewakili salah satu pertanyaan yang hendak Anggita ajukan.


Ana tersenyum pahit mendengar pertanyaan Jihan. Terlihat jelas di kedua bola mata Jihan jika gadis itu tampak sangat kagum, karena Ana memiliki banyak pelayan yang senantiasa membantu dirinya.


Hanya dalam satu kali panggilan dan menyebutkan semua yang ia butuhkan, semua yang ia katakan datang dalam sekejap.


“Rame. Tapi lebih rame lagi kalo kamu sama Kak Anggita ada di sini,” jawab Ana tidak ingin mengatakan jika kakak dan suaminya terlalu berlebihan.


Anggita dapat melihat senyuman Ana yang dipaksakan, gadis itu yakin jika kebahagiaan itu tidak seperti yang Ana katakan.


Ana mulai mencicipi kue yang baru saja ia potong. Moodnya langsung membaik, dan senyumnya kembali tulus setelah rasa manis, gurih serta renyah dari kue buatan Anggita memenuhi rongga mulutnya.


“Eeuuum … kuenya enak banget, Kak,” puji Ana dengan manik mata berbinar. Ia kemudian menyuapi Jihan, dan langsung diterima baik oleh gadis itu.


“Makanan buatan Kak Anggita nggak ada yang gagal,” kata Jihan tersenyum hangat pada kakaknya.


“Iya, kamu bener banget. Selain kangen sama kalian, aku juga kangen sama makanan buatan Kak Anggita,” jujur Ana.


Mereka kemudian menikmati kue tersebut berdua, sedang Anggita hanya tersenyum melihat tingkah keduanya, yang makan hingga cream dari kue tersebut berlepotan di pinggir bibir mereka.


Dengan telaten, Anggita membersihkan bibir mereka berdua yang makan kue seperti anak kecil.


Setelah puas dengan makanannya, Ana meminta Anggita untuk menyantap hidangan yang telah pelayan sediakan untuk mereka.


Saat mereka tengah asyik saling bertukar cerita, tiba-tiba terdengar langkah kaki orang-orang yang saling bersahutan. Membuat ketiga perempuan itu langsung menoleh ke belakang, menanti siapa sosok yang datang.


“Lho, Kakak sama Kevin udah pulang?” tanya Ana melihat kakak dan suaminya datang bersamaan.


Galang mengangguk pelan.


“Ternyata kita kedatangan kamu. Kamu sudah siapkan minuman untuk mereka?” tanya Galang hanya menoleh sekilas ke arah Anggita.

__ADS_1


“Udah, Kak,” jawab Ana cepat.


“Ya udah, kalo gitu kakak ke kamar dulu,” ujar Galang langsung berlalu meninggalkan Anggita yang terus memalingkan wajah darinya.


Ia merasa tidak nyaman saat Galang dan Kevin telah kembali, membuatnya ingin segera pulang. Namun, film yang mereka tonton bersama belum selesai.


“Kak, hari ini Kakak sama Jihan nginep di rumah aku ya,” ajak Ana dengan tatapan penuh harap pada Anggita dan Jihan.


“Memangnya kenapa, Ana? Kan di sini sudah ada banyak orang,” jawab Anggita sekadar untuk menghindar.


“Malam ini aja, Kak. Please … mau ya….” Ana menyatukan kedua tangannya memohon pada Jihan dan Anggita.


Dengan senang hati Jihan akan menerimanya. Namun, semua keputusan tetap berada di tangan Anggita.


“Jihan mau nginap di sini?” tanya Anggita menatap adiknya.


“Mau, Kak. Jihan juga udah jarang banget ketemu sama Kak Ana. Mungkin habis ini juga kita jarang ketemu lagi,” jujur Jihan.


“Ya udah,” jawab Anggita beralih menatap Ana.


“Ana, boleh saya pinjam baju kamu untuk Jihan?” izin Anggita.


Ana kemudian berbisik pada Kevin, agar memanggil pelayan untuk mengantarkan baju agar dikenakan oleh Jihan.


“Ya udah, aku panggil mereka dulu,” ujar Kevin beranjak menjauh dari ruang tengah.


Setelah memberikan pakaian untuk Jihan, dan Kevin berpamitan untuk membersihkan diri, kini hanya tinggal Anggita dan Ana di ruang tengah.


“Ada apa, Ana? Semuanya baik-baik saja, ‘kan?” tanya Anggita melihat tatapan Ana yang berubah sendu saat mereka hanya tinggal berdua, dan kini bicara empat mata.


“Ana kesel sama Kak Galang, Kak,” adu Ana dengan mata berkaca-kaca.


Anggita lalu mendekatkan duduknya, dan mengusap pundak Ana.


“Kesel kenapa?” tanya Anggita penuh kelembutan.


“Karena dia banyak banget bawa pelayan di rumah ini, padahal mau sebanyak apa pun pelayan di sini, tetep aja aku ngerasa kesepian,” ungkap Ana mulai meneteskan air mata.

__ADS_1


“Aku itu butuhnya cuma Kakak sama Jihan aja. Kak Galang sama Kevin nggak ngerti kalo aku kesepian di rumah kalo mereka udah pergi kerja,” urai Ana seraya menyeka kasar air matanya.


Anggita yang tidak tega melihat Ana menangis, menurunkan tangan wanita itu perlahan, dan mengusap air matanya. Dalam hati kecilnya ia menyesal telah mengabaikan Ana yang jika ia menikah bersama Alan, artinya Ana pun akan menjadi adik iparnya.


“Maaf ya saya jarang mengunjungi kamu sejak kita kembali ke sini,” sesal Anggita mendekap Ana dengan erat.


Karena keegoisannya untuk menghindar dari Galang, ia sampai lupa jika ada seorang gadis yang juga mengharapkan kehadiran dirinya.


“Terus sekarang gimana? Ana mau saya ngapain?” tanya Anggita berusaha untuk menghibur gadis dalam dekapannya.


“Kakak nginep di sini. Nanti kita tidur bareng,” pinta Ana dengan suara parau.


“Terus suami kamu gimana?”


“Ya tidur sendiri aja. Kan cuma semalem juga,” jawab Ana cepat.


Karena Ana merengek seperti anak kecil, Anggita pun tidak tega untuk menolak permintaannya. Ditambah wanita dalam dekapannya pun tengah mengandung.


“Ana, dia itu suami kamu. Kamu izin dulu sama dia ya. Kalau boleh baru kita tidur bareng,” bujuk Anggita. Ia tidak ingin Ana menjadi istri yang durhaka, hanya karena menuruti ego semata.


“Kalo dia nggak izinin gimana, Kak?” tanya Ana mengangkat kepala menatap Anggita.


“Ya kamu harus nurut. Nanti coba bicarain sama Kevin ya,” pesan Anggita seraya merapikan rambut Ana yang berantakan.


Setelah menenangkan Ana, dan Jihan pun kembali berkumpul bersama mereka, saat makan malam pun Ana mengutarakan keinginannya di hadapan Kevin dan Galang.


“Bolehkan, Kak Anggita sama Jihan nginap di rumah kita malam ini?” tanya Ana menatap dua pria yang berada di samping, dan hadapannya.


“Kamu sama Jihan mau nginap di sini?” tanya Galang menatap Anggita.


Setelah sejak Galang pulang kerja, baru sekarang pria itu bertanya pada mantan kekasihnya. Jantung Anggita yang sejak tadi sudah berdetak kencang, semakin berdebar saat mendengar dengan jelas suara Galang yang bicara padanya.


“Iya, itu pun kalau boleh. Kalau tidak mendapat izin, kami berdua akan pulang,” jawab Anggita bicara dengan formal.


“Silakan saja. Kamar tamu banyak yang kosong,” jawab Galang dengan santai.


Anggita menoleh sekilas ke arah Galang yang terlihat begitu tenang, seakan selama ini tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Namun, Anggita pun tidak langsung tenang begitu saja.

__ADS_1


Ia telah menyiapkan permintaan lain, untuk memenuhi keinginan Ana.


***


__ADS_2