The Last Love

The Last Love
Menghabiskan Malam Bersama part 2


__ADS_3

“Aku ingat waktu itu dia juga luka-luka,” ucap Anggita mengingat wajah Denis saat pria itu berusaha untuk membantu dirinya.


“Selama aku pergi keadaan kamu gimana?” tanya Anggita merenggangkan dekapan mereka, dan menatap Galang hingga manik mata mereka bertemu.


Dengan lembut Galang mengusap wajah Anggita yang basah.


“Selama kamu pergi, rasa cinta aku ke kamu terus tumbuh,” jawab Galang dengan kedua sudut bibir terangkat ke atas.


“Nyebelin!” gerutu Anggita mendorong kuat dada Galang, hingga rengkuhan mereka terlepas.


“Serius. Kamu tanya aja sama Ana,” ucapnya.


“Aku makin sering ngurung diri di kamar. Waktu mama sama papa udah nggak ada, aku jadi gila kerja, dan obat lelah aku cuma dengan inget wajah kamu, dan kenangan kita dulu,” jujur Galang.


Tak pernah sedikitpun ia menaruh rasa benci pada wanita yang telah berhasil menawan hatinya sejak pandangan pertama.


“Sampai akhirnya aku denger suara kamu. Bodohnya, bahkan aku masih hapal sama suara kamu,” ungkap Galang menatap Anggita dengan sorot mata yang begitu dalam.


Raut muka jenaka itu berubah serius bahkan tampak sendu.


“Aku pikir cuma suaranya aja yang sama, ternyata perempuan itu benar-benar kamu,” ucap Galang semakin terdengar berat.


“Udah berapa lama?” tanya Galang mulai tertarik membahas hubungan Anggita dan kekasihnya.


“Udah satu tahun lebih,” jawab Anggita perlahan mengalihkan pandangannya.


“Kamu bahagia sama dia?”


“Dia baik kok,” jawab Anggita asal.


“Aku tanya kamu bahagia apa nggak sama dia,” ulang Galang menangkup pipi Anggita agar kembali menatapnya.


“Iya, aku bahagia sama dia.”


Kata-kata Anggita terdengar seperti sebuah kebohongan. Sama seperti saat ia mengakhiri hubungan mereka dulu.


“Apa dia udah berhasil gantiin tempat aku di hati kamu?”


“Kamu nanya apa sih,” kritik Anggita tidak nyaman dengan pertanyaan Galang yang berusaha untuk mencari tahu isi hatinya.


“Aku cuma mau kepastian agar aku bisa pilih untuk ikhlasin kamu atau ngejar cinta kamu lagi,” ujar Galang hanya sebatas formalitas, meskipun ia lebih yakin pada hatinya sendiri jika Anggita masih mencintai dirinya.

__ADS_1


“Semua udah jelas, Galang. Aku dan kamu cuma masa lalu, dan Alan masa depan aku,” jawab Anggita dengan tegas.


“Kalo gitu biarin ini jadi malam terakhir kita,” pungkas Galang kembali mendekap Anggita dengan erat.


Anggita tidak membalas dekapannya. Gadis itu hanya diam membisu. Berusaha untuk menguatkan hatinya, karena kembali mematahkan hati laki-laki yang kini jelas masih mencintainya.


‘Aku yakin di hati kamu masih ada nama aku, Anggita. Kalau kamu memang nggak cinta, kamu pasti berusaha untuk pergi,’ batin Galang semakin mengeratkan dekapannya.


“Temenin aku malam ini, sebelum besok aku lihat kamu sama dia lagi,” pinta Galang dari hatinya yang terdalam.


Anggita bergeming. tidak menolak ataupun mengiyakan permintaan pria yang tengah menyalurkan kehangatan pada tubuh dan relung hatinya.


Cukup lama Galang melepas kerinduannya, sebelum akhirnya ia mengajak Anggita untuk duduk di atas sofa.


“Luka yang ada di dahi kamu waktu itu,” ucap Galang menyentuh dahi kanan Anggita yang ia ingat saat mereka bertemu sedang terluka.


“Pelakunya titip maaf sama aku, kalau aku ketemu sama kamu.”


“Memangnya pelakunya siapa?” tanya Anggita menatap Galang.


“Teman sebangku kamu,” jawab Galang.


“Aku serius Laras. Dia nyesel udah nyakitin kamu. Semua itu rencana dia, dan Denis berhasil mergokin dia,” tutur Galang dengan raut muka serius.


Melihat ekspresi Galang yang tidak berubah, perlahan Anggita mulai percaya.


“Dia beneran ngelakuin itu? Tapi dia baik sama aku,” ujar Anggita masih tidak menyangka jika teman sebangkunya yang ia percaya begitu tega merencanakan hal keji kepadanya.


“Itu cuma sandiwara dia aja. Aku harap setelah malam ini, kita berdua bisa berdamai dengan luka yang kita alami,” ucap Galang.


Dalam hati kecilnya, ia berharap setelah malam ini, ia dapat kembali mendekati Anggita dengan cara yang lebih baik, hingga membuat perempuan di hadapannya sadar siapa laki-laki yang ada di hatinya.


Anggita masih sangat terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui. Menangis terlalu banyak pun cukup menguras tenaganya, hingga ia tidak dapat mengendalikan suasana hatinya dengan baik, atau berpura-pura tegar.


“Setelah malam ini, jangan sering nangis lagi ya. Aku akan selalu ada di samping kamu, dan jangan pergi lagi, walaupun kamu sudah memilih dia,” pinta Galang mengenggam kedua tangan Anggita.


Tidak tahu kenapa, mendengar Galang merelakan ia bersama Alan, membuat hatinya sakit. Seakan hati kecilnya berharap Galang akan kembali memperjuangkan dirinya, dan mereka kembali bersatu.


Ada begitu banyak harapan dan impian saat mereka masih berhubungan dulu, dan Anggita berharap hal itu dapat terwujud dengan pria di hadapannya.


Egois memang. Namun, itulah yang hatinya inginkan sekarang, saat ia hanya bersama Galang. Pria yang berhasil meluluhkan hatinya yang begitu keras, dan perjalanan mereka membuat ia menjadi gadis yang semakin kuat dan pantang menyerah.

__ADS_1


“Mau aku buatin minuman?” tawar Galang setelah Anggita meredakan isakannya.


Gadis itu hanya mengangguk.


Galang kemudian berjalan menuju dapur. Membuat cokelat hangat untuk mereka berdua. Sekembalinya di ruang kerjanya, Anggita masih berada di tempat yang sama, saat ia meninggalkan gadis itu.


“Kenapa nggak kabur? Kan pintunya tadi nggak aku kunci,” kata Galang sengaja ingin menjahili Anggita, agar tidak larut dalam kesedihannya.


“Nggak papa,” jawab Anggita singkat.


“Aku tiupin dulu. Masih panas banget.” Galang mengambil alih mug besar dalam genggaman tangan Anggita, dan meniup minuman di dalamnya.


“Ini. Udah aku jampi-jampi tadi biar kamu cinta lagi sama aku,” ujar Galang menyerahkan minuman Anggita.


“Ih ngaco. Memangnya kamu dukun cinta?” balas Anggita balik mengejek Galang.


“Aku bisa jadi apa aja. Bukan dukun. Tapi dokter cinta,” koreksi Galang.


“Kamu mau tahu nggak mantranya apa?”


“Apa?” tanya Anggita.


“Ciee penasaran juga kan akhirnya. Kenapa? Kamu mulai ada rasa lagi ya sama aku? Hmm hmm?” goda Galang memperhatikan kedua pipi Anggita yang bersemu.


“Nggak! Ih kamu ngeselin banget. Kalo kamu masih ngomong gitu, aku keluar nih,” ancam Anggita beranjak dari duduknya.


“Ya udah. Besok aku tinggal ngomong aja sama pacar terbaik kamu itu,” jawab Galang mempersilakan Anggita untuk pergi.


Anggita yang kesal, menghentak-hentakkan kakinya, karena Galang terus mengancam dengan hal yang sama.


Galang kembali menuntun Anggita agar duduk dengan tenang dan kembali menikmati cokelat hangat spesial buatannya.


“Mantranya. Anggita milik Galang, Galang milik Anggita,” bisik Galang semakin membuat pipi Anggita memanas.


“Nggak nanya,” seloroh gadis itu meneguk kembali cokelat hangatnya.


“Manis ini.” Menunjuk cokelat hangat dalam genggaman Anggita. “Atau ini?” Galang menunjuk dirinya sendiri.


“Ya jelas cokelat hangatnya. Lihat kamu bikin cokelat ini pahit,” cetus Anggita.


***

__ADS_1


__ADS_2