
Jihan mengangguk paham, lalu membantu Anggita memilih sayuran segar yang ada di hadapan mereka.
Usai berbelanja, mereka berdua kembali menunggu angkutan umum. Namun, cukup lama mereka menunggu, tidak ada satupun angkot ataupun tukang ojek yang ada di sekitar mereka.
Sebuah mobil hitam metalik perlahan berhenti tepat di hadapan mereka. kaca hitam gelap itu pun diturunkan, sehingga Jihan dan Anggita dapat melihat sosok yang mengemudikan mobil tersebut.
“Kalian ngapain di sini?” tanya Galang seolah pertemuan mereka memang tidak disengaja.
“Kamu sendiri ngapain?” balas Anggita ketus.
Pria itu terkekeh pelan, dan langsung keluar dari mobilnya menghampiri dua wanita yang berada di samping mobilnya.
“Lagi nunggu angkot, Kak,” jawab Jihan tersenyum lebar karena kehadiran Galang. Tetapi ia juga tidak enak pada Galang, melihat respon kakaknya yang jauh dari kata baik.
“Ayo naik mobil kakak aja, biar kakak antar pulang,” tawar Galang hendak membukakan pintu mobil untuk mereka.
“Nggak usah,” tolak Anggita jutek.
“Tapi kita udah nunggu dari tadi, nggak ada angkot yang lewat, Kak,” ujar Jihan berharap Anggita mau diajak pulang bersama Galang.
Jihan perlahan menunduk seraya memeganti perutnya. “Aahhh, perut Jihan sakit, Kak,” rintih Jihan dengan mata terpejam. Belanjaan yang sebelumnya berada dalam genggaman dia pun sudah tergeletak di sampingnya.
Anggita langsung menunduk dan menangkup kedua pipi adiknya. “Kamu kenapa, Sayang? Bukannya tadi kita udah makan?” tanya Anggita dengan perasaan cemas. Ditambah adiknya itu terus merintih dan mengatakan sakit.
Galang bergegas membuka pintu mobil, dan menuntun Jihan agar duduk di bangku belakang dengan posisi tertidur. Dengan sigap ia mengemasi semua barang belanjaan Anggita dan meletakkan ke bagasi mobil.
“Ayo naik, Anggita. Adik kamu udah kesakitan itu,” desak Galang saat mantan kekasihnya itu tampak masih ragu untuk meneirma bantuan yang ia tawarkan.
Akhirnya Anggita pun masuk ke mobil dan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk menyangga kepala Jihan.
“Mana yang sakit? Bilang sama kakak,” ujar Anggita mengusap anak rambut Jihan ke belakang, agar ia dapat melihat wajah adiknya dengan jelas.
“Di sini, Kak,” rintih Jihan memegangi area perutnya.
“Jihan, kamu ada riwayat penyakit lambung?” tanya Galang menoleh sekilas ke bangku belakang.
“Ada, Kak,” jujur Jihan dengan suara lirih.
__ADS_1
Galang menepikan mobilnya ke pinggir jalan, kemudian mencari kotak P3K yang ada di dalam mobilnya. Ia yakin masih menyimpan obat lambung yang terkadang ia gunakan.
“Kamu minum ini dulu ya, biar kakak cari tempat makan sekalian,” ujar Galang memberikan obatnya pada Jihan.
Anggita membantu adiknya meneguk obat tersebut, dan memberikannya air mineral.
“Udah, sini nyender aja sama kakak,” kata Anggita saat wajah adiknya terlihat sedikit pucat.
Galang kembali ke tempat duduknya, dan melajukan mobil menuju sebuah restoran terdekat.
Dengan penuh hati-hati, ia membantu Jihan turun dari mobil, dan Anggita mendampingnya saat mereka berjalan memasuki restoran tersebut. Galang langsung memesan privat room agar mereka Jihan lebih nyaman.
“Oh iya! Nasinya jangan pakai sambal,” ucap Galang dan Anggita serentak.
Jihan yang perutnya mulai membaik, menatap ke arah Galang dan Anggita bergantian. Ia merasa memiliki sepasang kakak yang kompak dan solid.
“Itu aja, Pak?”
“Air putihnya jangan yang dingin,” jawab mereka kembali bersamaan.
Galang dan Anggita saling bertukar pandang. Tidak menyangka jika mereka akan terus memberikan jawaban yang sama. Ada rasa hangat dalam hati Galang saat pikirannya sama seperti apa yang Anggita pikirkan.
“Kenapa?” tanya Anggita dengan nada ketus.
“Nggak papa. Heran aja, kenapa kamu jadi galak. Iya nggak Jihan?” tanya Galang tersenyum lebar ke arah Jihan yang kini tidak berani mengiyakan pertanyaan yang diajukan padanya.
“Terus kamu berharap aku ngomongnya gimana? Begini….” Anggita memperbaiki posisi duduknya, dan sedikit mencondongkan wajah ke arah Galang. “Kenapa, Galang? Gitu? Iya. Jangan mimpi,” cetus Anggita.
“Karena semuanya sudah selesai?” tanya Galang yakin jika Anggita akan mengatakan hal tersebut.
“Kakak sama Kakak ganteng jangan ribut-ribut. Nanti perut Jihan sakit lagi dengar kalian berdua,” protes Jihan dengan suara lembut dan menggemaskan.
“Iya, adik cantik. Kakak sama kakak kamu nggak ribut-ribut kok,” jawab Galang seraya mengusap puncak kepala Jihan.
Ia kemudian bertanya dengan serius pada Anggita, bagaimana maag Jihan bisa kambuh mendadak seperti tadi. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika dirinya tidak bertekad untuk menunggu dua perempuan itu di pasar. Sudah pasti Anggita akan sangat kesulitan.
“Sarapan yang kakak buat tadi pagi kamu makan, ‘kan?” tanya Anggita memastikan, karena ia terpaksa meninggalkan Jihan sebelum adiknya itu berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Jihan menggeleng pelan. “Tadi itu Jihan mau bawa bekal yang kakak siapin ke sekolah. Tapi pas di jalan Jihan ketemu anak kecil yang kelaparan. Jadi, Jihan kasih ke dia bekalnya,” jujur Jihan dengan raut muka sedih.
“Kakak nggak marahkan?” tanyanya saat Anggita hanya diam.
“Nggak. Kakak nggak marah, kok. Kakak cuma khawatir dan takut kamu kenapa-kenapa,” ucap Anggita mengenggam kedua tangan Jihan dengan penuh kasih sayang.
“Besok-besok jangan sampai telat sarapannya, ya,” pesan Anggita pada adiknya.
Jihan mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Galang yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi mereka berdua.
“Makasih ya, Kak obat,” ucapnya pada Galang.
“Sama-sama. Kalau kamu ngerasa cepet baikan minum obat tadi, kamu bawa aja obatnya,” saran Galang.
Akan tetapi Anggita menolak. “Aku akan berusaha biar maag dia nggak kambuh-kambuh lagi,” ujar Anggita.
Galang hanya dapat menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. Hingga Jihan berpamitan ingin ke toilet.
“Anggita, aku nggak ada niat terselubung tiap kali bantu kamu sama Jihan. Kamu kenapa jadi sensitif banget sama aku? Melebihi sikap kamu waktu kita baru kenal dulu,” heran Galang pada mantan kekasihnya.
“Memangnya kenapa kalo aku makin berubah? Ngerugiin kamu? Nggak, kan?” balas Anggita semakin sarkas.
“Memang nggak ngerugiin. Tapi, kamu itu jadi nggak bisa bedain mana perlakuan orang yang bener-bener tulus, dan yang cuma pura-pura baik aja,” tangkas Galang.
Anggita memutar bola matanya, seakan ia bosan mendengar ocehan Galang juga praduga pria itu padanya.
“Kamu kenapa bisa ada di pasar itu? Bukan harusnya kamu masih di rumah kekasih kamu itu?” tanya Galang semakin mengintimidasi Anggita.
“Bukan urusan kamu!”
Lagi-lagi Anggita mengucapkan kalimat yang amat menyakitkan, hanya agar Galang berhenti memberinya pertolongan.
“Oh iya aku hampir lupa. Ana nanyain kamu sama Jihan terus. Kamu ada waktu untuk ketemu dia?” tanya Galang berhenti membahas hal pribadi tentang mereka.
“Aku sibuk!”
***
__ADS_1