
“Kak Adit punya pacar, Bu?” tanya Kevin masih tidak percaya jika kakaknya yang selama ini sibuk belajar sudah memiliki kekasih.
“Kenapa? Kok kamu kaget itu?” tanya Alan menatap Kevin dengan curiga.
“Nggak. Biasa aja,” elak Kevin langsung mencomot tempe goreng untuk menutup mulutnya.
Alan semakin mendekat ke arah Kevin, dan mencapit leher adiknya.
“Kenapa? Kenapa kamu sampe melotot gitu matanya?” Alan terus mendesak sang adik untuk menjawab pertanyaannya.
Laki-laki itu hanya mengedikkan bahu pelan dan berkata, “Ya, nggak nyangka aja, kakak yang gila belajar, ternyata udah punya pacar. Siapa? Kenalin dong,” pinta Kevin tidak takut sedikitpun.
Sedang ibunya sudah sibuk menyuruh Alan untuk melepas capitan tangannya, takut jika Kevin akan kesulitan bernapas.
Alan langsung melepaskan tangannya, dan merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut. “Untuk apa? Nanti juga kamu tahu sendiri,” jawabnya seraya mendudukkan diri di atas kursi tepat di samping Kevin.
Meskipun ia tampak tenang, jantungnya terus berdegup kencang. Takut jika Anggita tetap menolak ajakannya, meskipun Jihan akan dititipkan di rumahnya. Ia pun sedikit merasa aneh, karena Jihan sudah remaja, tetapi kenapa Anggita sangat takut meninggalkan dirinya, padahal gadis itu seharian sendirian di rumah, karena Anggita bekerja dan baru pulang sore hari.
Setelah makan malam dengan porsi yang sedikit, Alan langsung berpamitan serta meminta restu kedua orang tuanya, agar rencananya malam ini berjalan lancar.
Laki-laki itu melajukan mobil pribadi milik orang tuanya, menuju kontrakan Anggita. merapal doa sepanjang jalan, hingga akhirnya ia tiba di kediaman gadis tersebut.
“Assalamualaikum,” sapa Alan seraya mengetuk pintu rumah Anggita.
“Wa’alaikumsalam,” sahut gadis itu langsung membuka pintu. Ia sedikit terkejut melihat putra majikannya berdiri di ambang pintu dengan pakaian rapi serta wangi.
“Kamu nyari siapa?” tanya Anggita.
“Kamu. Aku tahu kamu nolak tadi karena kamu nggak mau ninggalin adik kamu sendirian. Kalo gitu, aku mau bawa dia ke rumahku, sebelum aku ajak kamu jalan,” ungkap Alan dengan jelas.
Anggita menoleh ke arah belakang, melirik kamar tempat Jihan berada dan sedang belajar.
“Nggak bisa dibicarain besok?”
“Nggak. Karena ada hal penting yang mau aku bicarain sama kamu,” jawab Alan cepat.
Anggita menimbang-nimbang ajakan Alan.
“Duduk dulu. Mau minum?” tawar Anggita sebelum menemui adiknya.
__ADS_1
“Nggak usah. Aku tunggu kamu di sini ya,” tolak Alan dengan senyum hangat terukir di bibirnya.
Anggita mengangguk pelan, dan berjalan menuju kamarnya. Meminta persetujuan sang adik, mau atau tidak jika ia berada di rumah bu Ratih untuk beberapa saat.
“Memangnya kakak mau ke mana?” tanya Jihan mengalihkan pandangannya dari buku pelajaran.
“Kamu ingat anak pertama bu Ratih?”
“Heem. Inget kok,” jawab Jihan.
“Nah, sekarang dia ada di luar. Dia mau ajak kakak pergi. Tapi kakak awalnya nolak karena kakak nggak mau ninggalin kamu sendirian di rumah. Jadi, dia nawarin untuk ajak kamu ke rumah dia menjelang kakak pulang,” terang Anggita meminta pengertian Jihan.
“Kakak mau kencan ya?” goda Jihan begitu senang. Setelah sekian lama, akhirnya kakaknya kembali membuka diri untuk dekat dengan laki-laki.
“Nggak. Cuma katanya ada hal penting yang mau dia bicarain. Kamu mau belajar di sana dulu?”
“Mau-mau. Nggak papa kok kalo kakak mau jalan sama Kak Alan itu. Tapi nanti kakak janji ya, jemput aku di sana,” pinta Jihan.
“Iya, Sayang. Nggak mungkin kakak ninggalin kamu di sana,” jawab Anggita mengusap lembut pipi Jihan.
“Ayo kita siap-siap dulu. Nanti kemalaman,” ajak Anggita.
“Ayo,” ucap Anggita membuat Alan langsung menoleh ke arahnya.
Rok panjang polos, serta baju kaos berbalut cardigan dan sling bag tergantung di lengan Anggita. Sederhana, tetapi Anggita terlihat cantik. Ditambah wajah gadis itu terpoles make up tipis. Membuat wajah gadis itu tampak cerah di bawah temaram lampu depan kontrakan.
“Ya udah, kita bisa berangkat sekarang?”
Anggita dan Jihan mengangguk. Mereka menaiki mobil Alan menuju kediaman laki-laki itu, kemudian kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi jalanan kota yang terlihat indah saat malam hari.
“Kita mau ke mana?” tanya Anggita menoleh sekilas ke arah Alan.
“Jalan-jalan. Udah lama aku nggak kelilingi kota ini,” jawab Alan dengan hati berbunga-bunga karena kini ada yang menemani dirinya menikmati angin malam.
Setelahnya Alanmengajak Anggita untuk masuk ke sebuah kafe yang bernuansa anak muda, karena banyak remaja yang mengunjungi tempat tersebut. Kafe ini tidak terlalu ramai, karena masih hari sekolah. sehingga Alan semakin bersyukur karena tempat tersebut cukup tenang dan lenggang.
“Kamu mau makan apa?” tawar Alan pada Anggita.
“Terserah kamu aja,” jawab Anggita enggan memilih.
__ADS_1
Akhirnya Alan memesan jus dan dessert terfavorit di kafe tersebut, karena ia juga baru pertama kali mengunjungi kafe tersebut.
“Kamu sering ke tempat-tempat begini?” tanya Alan mulai membuka perbincangan.
Anggita hanya menggeleng dan tersenyum tipis. “Kebanyakan makanan di tempat begini itu mahal, tapi nggak bikin kenyang,” lontar Anggita mengutarakan pemikirannya.
“Ya. Kamu bener banget. Tapi kalo sesekali nggak ada salahnya,” timpal Alan dengan tatapan terus tertuju pada gadis di hadapannya.
“Kamu mau bicarain hal penting apa?” tanya Anggita setelah cukup lama ia hanya menjawab pertanyaan laki-laki di hadapannya.
“Tapi hal yang mau aku bicarain tentang privasi, kamu nggak keberatan kalo aku nanya tentang diri kamu?” izin Alan tidak ingin membuat situasi di antara mereka berubah canggung.
Anggita menyunggingkan senyum. “Bukannya dari tadi kamu udah nanya tentang saya?” balas Anggita balik bertanya.
“Aha, itu beda. Ini tentang cinta dan perasaan kamu,” sanggah Aditya.
Anggita terdiam sejenak. Menutup rapat bibirnya, agar ia dapat berpikir sebelum merespon perkataan Alan.
“Memangnya kenapa? Kamu lagi jatuh cinta?” tanya Anggita dengan mimik wajah serius.
Alan.mengangguk pelan. “Iya, dan aku takut kalau aku nyatain cinta aku. Dia malah menjauh. Menurut kamu gimana?” Alan meminta saran dari Anggita.
Sejenak gadis itu berpikir jika pria di hadapannya meminta pendapat dirinya karena ia seorang wanita.
“Ya, tergantung orangnya. Kalau perkiraan kamu respon dia baik, kamu coba aja ungkapin perasaan kamu ke dia,” saran Anggita tidak ingin membuat Alan menjadi pesimis.
“Dia baik. Bahkan di mata aku sangat baik,” jawab Alan semakin bersemangat untuk membahas hal tersebut.
“Maksud saya respon dia saat kamu mendekati dia,” terang Anggita agar Alan tidak salah paham.
“Oh, itu. Ya, responnnya baik. Tutur katanya halus, sopan, dan rendah,” jawab Alan terlihat jelas membanggakan wanita yang dia suka.
“Kalo gitu, kamu coba aja ungkapin perasaan kamu,” usul Anggita.
Menurutnya itu merupakan cara terbaik, agar tidak semakin gelisah karena menahan rasa yang ada, serta ketakutan-ketakutan yang tidak ada ujungnya. Setidaknya ia tahu cintanya itu akan terbalas, atau tertolak.
“Beneran?” desak Alan mendekatkan wajahnya.
“Iya. Saya harap jawabannya seperti yang kamu harapkan,” doa Anggita mendukung asmara putra majikannya.
__ADS_1
***