The Last Love

The Last Love
Senjata Pamungkas


__ADS_3

“Aku nggak manfaatin mereka untuk bisa deket sama kamu Laras. Ini bener-bener dia yang pengen ketemu kamu,” ujar Galang merasa jika Anggita semakin curiga pada dirinya.


“Aku tadi itu habis antar klien aku yang nggak dijemput sama supir pribadi dia, dan arah rumahnya tadi selurusan dengan jalan ke pasar ini,” terang Galang sebelum Anggita semakin berpikiran yang tidak-tidak.


“Aku nggak nanya itu. Terserah kamu juga. jalanannya juga jalan umum,” jawab Anggita dengan santai.


Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun tiba, bersamaan dengan Jihan yang telah kembali dari toilet.


Mereka mulai menyantap pesanan mereka masing-masing. Sebelum menyantap makanannya, Anggita lebih dulu meneguk sirup dingin yang ada di hadapannya, hingga habis setengah.


Berbicara dengan Galang cukup menguras tenaga, dan membuat tenggorokannya kering. Padahal ia tidak banyak bicara. Tetapi hatinya selalu panas dan tidak tenang tiap kali berhadapan dengan mantan kekasihnya.


Setelah mereka menghabiskan makanan mereka masing-masing, Galang kembali bertanya perihal pekerjaan Anggita sekarang, yang sejak tadi belum dijawab oleh gadis di hadapannya.


“Kak Anggita udah nggak kerja di sana lagi, Kak,” jawab Jihan mewakili sang kakak.


“Memangnya kenapa?” tanya Galang berfokus pada Jihan.


Jihan menoleh ke arah Anggita, karena ia sendiri tidak tahu pasti kenapa kakaknya berhenti dari tempat tersebut.


“Mereka ngapain kamu?” tanya Galang bak seorang kekasih yang tidak terima jika wanita yang ia sayangi dilukai oleh orang lain.


“Mereka nggak ngapa-ngapain aku. Aku sendiri yang milih berhenti dari sana,” ujar Anggita sedikit terkejut melihat respon Galang.


“Iya, karena apa? Nggak mungkin kamu berhenti kerja tanpa sebab. Sekarang kamu kerja apa?”


Anggita semakin bingung mendengar pertanyaan Galang yang betubi-tubi. Namun, sikapnya memperlihatkan dengan jelas jika pria itu mengkhawatirkan dirinya, bukan sekadar ingin tahu saja.


“Kamu nggak perlu tahu alasannya. Lagi pula aku sama Jihan udah mau mulai rintis usaha sendiri,” ucap Anggita dengan tenang.


Ia lalu memundurkan kursinya, dan beranjak dari kursi tersebut.


“Ayo kita pulang. Makasih untuk bantuannya. Lain kali aku pasti ganti,” kata Anggita seraya menarik tangan Jihan agar ikut pergi bersamanya.

__ADS_1


Jihan pun langsung berdiri mengikuti langkah kaki Anggita. Galang yang melihat Anggita tiba-tiba pergi, bergegas menyusul dua wanita itu, karena barang belanjaan mereka masih berada dalam bagasi mobilnya.


“Laras, tunggu dulu!” panggil Galang mengejar langkah Anggita dan menarik tangannya.


“Ada apa? Kamu mau aku bayar makanan tadi? Aku nggak minta kamu bawa ke sini. Cukup makan di warung sederhana aja nggak papa,” terang Anggita membuat beberapa orang menatap mereka.


“Nggak. Dengar aku dulu,” ucap Galang berusaha untuk menahan Anggita yang berusaha untuk menjauh darinya.


“Iya, apa?” tanya Anggita.


“Biar aku anter kamu sama Jihan pulang. Barang-barang kamu juga masih ada di mobil aku,” jawab Galang dengan kedua sudut bibir terangkat ke atas.


“Ya udah, ayo kita ke mobil kamu sekarang,” tukas Anggita kembali melanjutkan langkahnya.


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Namun, saat Galang membukakan pintu mobilnya, Anggita justru menolak dan menggeleng.


“Buka bagasi mobil kamu. Aku mau ambil barang belanjaan aku,” kata Anggita melirik bagian belakang mobil Galang.


Perkataan gadis itu membuat Galang dan Jihan melongo, dengan kedua rahang bawah mereka turun serentak.


Kali ini Galang dibuat kesal bukan kepalang, akan penolakan Anggita yang jelas sedang mempermainkan dirinya.


“Nggak. Aku akan buka bagasi itu kalo kita udah sampe di rumah kamu,” kukuh Galang.


“Sekarang kamu masuk, dan aku antar kamu sama Jihan sekarang. Sore-sore gini jarang ada angkutan umum lewat, Laras. Bahaya juga kalo kamu cuma berdua sama Jihan,” urai Galang berusaha meluluhkan kerasnya hati Anggita.


Jihan pun turut membantu Galang untuk membujuk Anggita yang memilih jadi gadis keras kepala.


“Sama aja Jihan,” ujar Anggita tetap bersikeras tidak ingin masuk ke mobil.


“Jihan baru inget besok mau ulangan harian, Kak. Kan kakak sendiri yang nyuruh Jihan giat belajar. Kalo kita makin cepet sampai rumahnya, Jihan bisa cepet belajar juga,” bujuk Jihan dengan tatapan memelas pada kakaknya.


Akhirnya jurus pamungkas terakhir yang Jihan kerahkan berhasil meluluhkan hati kakaknya, meskipun terlihat sangat jelas jika Anggita sangat terpaksa pulang diantar oleh Galang.

__ADS_1


Kali ini, Jihan lebih memilih untuk duduk sendirian pada bangku kedua mobil, dan Anggita duduk tepat di samping Galang.


“Kamu mau mulai buka bisnis apa?” tanya Galang berusaha untuk memulai pembicaraan agar suasana di mobil tidak terlalu hening.


“Kamu nggak perlu tahu,” jawab Anggita asal.


Moodnya benar-benar hancur, dengan hati yang semakin berkecamuk. Hati kecilnya merasa terluka telah bersikap kasar dan tidak baik pada Galang. Namun, hanya dengan bersikap beginilah ia dapat menekan perasaannya pada pria yang kini terus berusaha mengajaknya bercengkerama.


“Aku cuma nanya Laras. Salahnya di mana?” tanya Galang sedikit frustrasi untuk mencari topik pembicaraan bersama gadis di sampingnya.


“Kamu nggak salah. Akunya yang nggak mau ditanya-tanya,” jawab Anggita dengan tatapan terus terarah keluar jendela mobil.


Setelah mendapat jawaban pasti dari Anggita yang menolak untuk bicara, Galang pun akhirnya memilih untuk diam.


Membisunya Galang membuat perasaan bersalah itu semakin menggerogoti hati Anggita, meski ia dapat melihat dengan jelas ketulusan di mata Galang yang sama sekali tidak pernah berubah.


‘Kenapa kamu terus-terusan bantuin aku?’ tanya Anggita dalam hati.


Ia pun bertekad untuk menggenapkan jumlah uang dari almarhum papa Galang secepatnya, dan langsung mengembalikannya pada Galang. Karena ia sadar cinta tulusnya pada Galang tidak sebanding dengan nominal uang yang telah mereka berikan pada dirinya.


Tanpa sadar matanya memanas, dan cairan bening itu mengalir begitu saja tanpa dapat ia cegah. Galang yang tahu jika Anggita menangis diam-diam, mengulurkan tisu tanpa mengatakan apa pun.


Ia pun tidak ingin Jihan yang duduk di belakang mereka menjadi khawatir melihat Anggita yang menangis.


Anggita langsung menerima tisu tersebut, dan menyeka air matanya perlahan. Berusaha keras mengontrol diri saat mereka sebentar lagi sampai di kontrakan.


“Tunggu di sini sebentar. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Nggak akan lama. Lima menit aja,” pinta Galang sebelum ia berjalan menuju bagasi mobil dan menurunkan barang belanjaan Anggita.


Baru melihat bahan dan alat-alat yang mereka beli saja, Galang sudah dapat menerka usaha apa yang akan kedua gadis itu rintis.


“Jihan, kakak mau ngobrol sama kakak kamu sebentar ya,” izin Galang langsung mendapat anggukan kepala dari Jihan.


Gadis kecil itu tidak lagi keluar rumah. Membiarkan sepasang orang dewasa itu menyelesaikan masalah mereka sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2